Ulasan Novel Negeri Para Bedebah dan The Circle

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye. Saya suka genre nya. Saya bahkan baru tahu ada genre seperti ini di novel Indonesia. Saya bukan pembaca novel aktif sih, jadi harap maklum kalau kurang update. Bayangkan saja, novel ini sudah terbit 3 tahun lalu, dan saya baru tahu beberapa hari lalu. Teman-teman saya sudah tahu lama. Ada yang sudah baca sejak awal terbit. Ada yang malah kenal dengan penulisnya, Darwis (nama asli Tere Liye). Darwis dulu menjadi asisten dosen teman saya ini sewaktu kuliah.

Beberapa bulan sebelumnya saya juga membaca novel, setelah 6 tahun lebih tidak membaca novel. Novel yang saya baca berbahasa Inggris, judulnya The Circle, karya Deve Eggers. Itupun tertarik baca karena diceritakan oleh seorang teman saya.

Berawal dari ngomongin digital communication buat internal company, lalu ngalor ngidul ngomongin startup, internet dan privasi di internet lalu tersebut lah buku ini. Akhirnya teman saya itu meminjamkan novel bersampul pink ini. *Belakangan saya malah baru tahu dari internet kalau teman saya itu ternyata penulis novel juga. :O

The Circle ini berlatar belakang cerita tentang privasi di dunia internet, atau tepatnya di “Internet of Things” (IoT). Novelnya agak mengecewakan bagi saya karena alurnya terlalu lambat di depan. Saya paling malas kalau sudah baca bagian si Mae (tokoh utama) bergalau-galau ria, apalagi saat bergalau plus berkayak di teluk. Entahlah, bagi sebagian pembaca mungkin ini bagian yang disebut “pendalaman tokoh”, bagi saya sih membosankan aja.

The Circle menurut saya benar-benar mengambil Google sebagai latar perusahaan yang jadi cerita utama. Saya mengikuti cerita The Circle ini dengan membayangkan kantor Google yang sering saya lihat di foto-foto, video dan cerita-cerita. Mungkin Googleplex (kantor pusat Google di Mountain View, California) itu bukan visualisasi yang dimaksud Dave Eggers. Tapi saya memilih begitu saja. Jadi saya bisa tidak terlalu serius membaca detail deskripsi setiap bangunan yang diceritakan.

Kalau The Circle berbasis cerita tentang ribut-ribut soal privasi di Internet (yang masih sering mencuat sampai sekarang), Negeri Para Bedebah menurut saya benar-benar mengambil latar kejadian kisruh Bank Century yang heboh di sekitar 2009 itu. Untungnya saya cukup familiar dengan berbagai konsep dan istilah di dunia perbankan, ekonomi, investasi -setidaknya dalam cakupan yang disebut di novel ini. Dengan begitu saya cukup lancar mengikuti alur cerita ini.

Plot cerita Negeri Para Bedebah cukup memuaskan bagi saya, walaupun sejak awal saya sudah bisa menduga siapa tokoh pengkhianat dan musuh besarnya. Tokoh utamanya si Thomas pun to good to be true.

Tetapi tidak demikian dengan plot cerita The Circle. Tokoh utamanya sih realistis. Tetapi terlalu banyak bagian yang membuat jalan ceritanya menjadi banyak lubang. Tetapi saya cukup senang endingnya tidak seperti yang diharapkan sebagian besar orang.

Dalam Negeri Para Bedebah, menurut saya Tere Liye banyak menitipkan opini-opini pribadinya. Atau lebih tepatnya agak menggurui. Berbeda dengan Dave Eggers, yang menurut saya (tentu saja) ikut menyampaikan opini pribadinya, tetapi membuat pembacanya untuk berpikir sendiri. Singkatnya Eggers membuat kita jadi bertanya-tanya, sedangkan Darwis seperti sedang ceramah. Dan dari yang saya baca-baca di GoodReads.com, novel lanjutan Darwis itu -judulnya “Negeri di Ujung Tanduk”- lebih kental lagi dengan “ceramah” Tere Liye. Saya belum baca sih.

Nah, ada yang tahu gak novel Indonesia yang isinya bukan soal cinta-cintaan, dan plot twist-nya “sesadis” Game of Thrones? Boleh dong tinggalin komentar kalau ada ide.

Ulang Tahun ke 17 – Detik.com Generasi Baru

Hari ini Detik.com merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Arifin Asydhad, pimred Detik.com menyatakan di usia Detikcom ke 17 tahun ini, mereka akan mulai melakukan serangkain perubahan dan perbaikan. Namun, secara sekilas (saya bukan pengunjung regular Detik), selain meluncurkan tampilan barunya, saya kurang tahu inovasi signifikan baru apa yang dikeluarkan Detik.com.

Arifin mengatakan bahwa sekarang adalah era generasi baru Detikcom, dNewGeneration istilahnya. Generasi baru detikcom yang lebih menonjolkan hal-hal yang positif, inspiratif, inovatif, kreatif, dan solutif. Dengan pernyataan ini, mungkin mayoritas perubahan signifikannya adalah di sisi konten kali ya. (dibanding Okezone yang meluncurkan Warkop, Rubik, dan Metube)

Setidaknya pernyataan alumni Fakultas Peternakan UNPAD ini menguatkan itu:

Ini mungkin semacam reaksi atas maraknya konten-konten ala BuzzFeed yang menyembah pageviews dan visitors itu kali ya. Apalagi media-media online yang mencari sensasi dengan membuat berita-berita seolah-olah benar, judul kontroversial, dengan sarat muatan SARA dan partisan. Namun, karena saya bukan pengunjung reguler Detik, saya gak bisa tahu perubahannya. Mungkin yang sering ngunjungin Detik bisa ngerasain ada perbedaan dari konten-kontennya? Karena sebenarnya perubahan ini sudah dilakukan sejak 1 tahun terakhir katanya.

Saya dulu pembaca reguler Detik. Tetapi (di sekitar tahun 2007/2008), saya merasa kontennya makin lama makin sering data dan faktanya gak akurat. Isinya pun pendek-pendek. Tapi memang kecepatan pemberitaannya (buat saya) nomor satu dibanding yang lain. Menurut saya, buat apa beritain cepat-cepat kalau isinya “serampangan”. Apalagi kalau beritanya sensitif (menyinggung SARA), bisa berabe akibatnya kalau gak cek silang dan dapat info dengan benar.

Saya sempat menduga itu terjadi karena operasional yang kurang terkontrol. Tapi ternyata ini memang diamini oleh petinggi Detikcom kala itu. Menurut bos Detik kala itu, memang itu lah positioning mereka. Sebagai portal berita yang paling cepat memberitakan. “Detik ini juga!” Kalau memang gak akurat, tinggal di-update di -sepotong- berita berikutnya saja. Sementara saya penganut aliran kuno jurnalisme, “Get it first. But first, get it right..” Saya merasa Kompas.com (kala itu) lebih mendingan. Jadilah saya berpindah ke Kompas.com hingga sekarang. Nah, sejak itu saya kurang tahu lagi apakah Detik.com masih seperti yang dulu, atau sudah berubah. **I know, Kompas.com sih gak segitunya juga sebenarnya.

Disclosure: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan Kompas Gramedia. Tapi cerita di atas terjadi sebelum masa hubungan kerja saya dengan Kompas Gramedia.

Persaingan portal-portal berita masih berlangsung ketat. Sejauh ini, Detikcom masih memang posisi puncak. Tapi mudah-mudahan tetap bisa makin berkualitas dan berinovasi. Di US, media-media online sedang bergumul habis-habisan untuk mencari cara mendapatkan revenue tanpa mengorbankan idealisme jurnalismenya. Di Indonesia cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Bersiaplah sebelum itu terjadi. Atau sebenarnya di Indonesia juga sudah terjadi?

Happy sweet seventeen Detik.com.

Shopious.com vs Jualio.com

Shopious.com adalah tempat para penjual di social media (Instagram) mengiklankan barang jualannya. Kalau si penjual di Instagram tersebut sudah menjadi member di Shopious maka barang dagangannya akan otomatis masuk ke dalam listing di Shopious. Semua transaksi jual beli terjadi di luar Shopious.

Jualio.com pada dasarnya adalah marketplace (seperti Tokopedia dan OLX). Para penjual mengunggah barang dagangannya di Jualio, lalu secara otomatis barang dagangannya ini juga akan ditampilkan di social media yang sudah dihubungkan oleh si penjual ke akunnya di Jualio. Semua transaksi jual beli terjadi di dalam Jualio. Jadi pada dasarnya ini Tokopedia+ (karana ada fitur auto-post ke socmed).

Nah, kalau saya lihat ini dua bisnis di sekitar “jualan online” yang saling berkebalikan. Yang satu dari socmed ditampilin ke website, yang satu lagi dari website ditampilkan ke socmed.

*entahlah kalau ternyata pengertian saya mengenai Shopious dan Jualio salah ya. Begitulah pemahaman saya ketika mengunjungi website mereka dan membaca satu per satu page-page nya.

Model Bisnis – Shopious

Pada awal didirikan oleh Aditya Herlambang sih, sebenarnya model bisnis Shopious sama dengan Tokopedia. Mereka bahkan awalnya yakin 1 tahun setelah didirikan bakal bisa menarik 3% dari tiap  transaksi yang terjadi di Shopious.

Tetapi 8 bulan kemudian mereka berganti arah. Tidak lagi jadi marketplace. Startup yang didirikan oleh mantan iOS developer di Pulse ini menggantinya menjadi website tempat ol-shop di Instagram untuk mengiklankan produk-produknya. Keputusan yang tepat menurut saya, marketplace general sudah terlalu ramai. Isinya pemodal dengan duit tak berseri semua. -_-

Dari yang saya baca-baca, ketika mendaftar di Shopious pertama kali, para “sista” di Instagram tidak perlu bayar. Kalau nanti ada pelanggan yang menghubungi dari Shopious, baru deh diminta bayar. Kalau gak mau bayar? Bye bye sist..

Bayarnya berapa? Paling murah Rp 60.000/bln untuk 10 foto produk.


Saat ini kalau saya lihat dari daftar tokonya, paling enggak ada 1.000 toko yang terdaftar. Kalau semuanya ini sudah berbayar, berarti dalam satu bulan paling enggak Shopious mendapatkan revenue Rp 60.000.000,-. Ya, lumayanlah. Buat nggaji “rockstar-full-stack-ninja-RoR-Django-NoSQL-Docker-etc-engineer” masih cukup lah. 😀

Model Bisnis – Jualio

Kalau bicara Jualio, pasti inget Juale.com. Keduanya diprakarsai oleh  Nukman Luthfie, pemain lama di dunia digital Indonesia. Nukman Lutfhie sempat menjabat Direktur di Detik.com, membangun digital agency Virtual Consulting (sekarang berganti nama jadi Virtuco), membangun Musikkamu.com (bersama operator XL), Niriah.com (tutup), PortalHR.com, dll. Saya sendiri belajar banyak dari beliau sejak dari jaman kuliah.

[UPDATE] Sedikit koreksi. Versi asli tulisan ini disebutkan Shopious didirkan oleh Nukman Luthfie. Yang tepat adalah dirikan oleh Fahmi Bafadhal dengan endorser Nukman Lutfhie.

Juale.com adalah layanan pembuat toko online. Tinggal daftar, bayar, maka kita sudah punya “engine” toko online sendiri, dengan domain sendiri. Dan semua toko-toko yang menggunakan engine Juale, produknya akan dikumpulkan semua di Juale.com. Ya kaya Tokopedia, cuma masing-masing penjual punya alamat website sendiri-sendiri dan tampilannya pun masing-masing. Semua penjual ini harus membayar untuk menjadi member di Juale.com.

Sayang Juale akhirnya magudTM. Target market Juale saat itu adalah UKM-UKM yang baru mau masuk ke online. Menurut saya mungkin fokusnya ke UKM-UKM itu salah satu penyebabnya. Sebagai perbandingan, Tokopedia (setahu saya) dibangun dengan target market awal adalah para penjual-penjual di forum KafeGaul.com (tutup). Jadi isinya penjual-penjual yang memang sudah terbiasa dengan dunia online. Plus di Tokopedia penjual tidak perlu membayar untuk membuka toko.

Kembali ke Jualio. Jualio ini menurut saya malah versi mini Juale. Kalau di Juale penjual mendapatkan “website masing-masing”, dan domain masing-masing, di Jualio malah enggak. (Setahu saya sih gitu. Sekarang masih beta, jadi belum bisa kelihatan final nya). Bedanya, di Jualio produknya otomatis di post ke socmed para penjual.

Di Jualio penjual bisa upload informasi produk-produknya. Produknya bisa fisik, maupun digital. Semua transaksi jual beli terjadi di dalam Jualio. Pembayaran bisa via online payment, kartu kredit, maupun transfer bank. Jualio akan mengambil 5% dari produk fisik yang terjual, dan 30% dari produk digital yang terjual.

Target Market

Kalau Shopious sih sudah jelas target marketnya: mereka-mereka yang jualan di Instagram ini, umumnya sudah paham bagaimana cara berjualan via online. Maksudnya cara berjualan online ala Indonesia ya. Yang seringnya nanya-nanya mulu, nawar-nawar mulu, belinya kapan-kapan. Baru order 15 menit yang lalu, udah bolak-balik nge-buzz nanya barang udah dikirim atau belum. Ya gitu lah. Para sista di Instagram lebih pahamlah ini.

Dengan target market seperti itu, Shopious tidak perlu capek mengajari mereka bagaimana berjualan online –ini yang dulu dilakukan Juale.

Selain itu, dengan melepas transaksi di luar Shopious, mereka juga tidak perlu pusing dengan urusan ala-ala rekber (escrow), legalitas pengumpulan dana, refund, dll. Cuma, soal apakah target market ini bisa scale-up atau enggak, itu masih jadi pertanyaan. Kemudian, jika nanti trend nya berubah, para sista tidak lagi jualan di Instagram dan memilih ke marketplace seperti Tokopedia, bagaimana strategi Shopious berikutnya?

Kalau Jualio, saya enggak bisa membaca target marketnya. Selain masih belum dibuka tampilan finalnya, informasi yang saya dapatkan juga terbatas. Mudah-mudahan kali ini “kesalahan” target market di Juale tidak terulang di Jualio.

Dengan fitur otomatis upload ke socmed dari Jualio saya tidak melihat keunggulan signifikan-nya. Kalau socmed para penjual tersebut tidak banyak follower/fans/friends-nya, jadinya gak efektif. Tapi kalau socmednya sudah ramai, buat apa perlu Jualio? Karena ini malah merepotkan penjual. Upload harus ke Jualio, transaksi di Jualio, tawar-menawar (kemungkinan) juga harus di Jualio. Entahlah, saya masih kurang informasi untuk bisa membaca kemana arah Jualio sebenarnya.

Dan.., pertanyaan saya sama dengan soal Go-Jek kemarin. Apakah Shopious dan Jualio mengincar exit? Atau mau long term? 😉

Pesan Wired.com kepada Startup Media

[Ilustrasi: Ahmad Hammoud – ahmadhammoudphotography | flickr.com]

So startups out there listening—if you want to fizzle, like Circa, or have a slim chance of being acquired, like Wavii, Summly, and Pulse, do more or less the same. But if you can solve the real  problems that have faced news organizations since news first made its way online, you may have a  chance of making it on your own. Do what no one else can do: find new ways to profit off the news. Otherwise, you’re in it with the rest of us.

~Wired.com

Wired membahas tentang Circa yang akhirnya menyatakan akan magudTM. Circa adalah startup penyedia berita dalam bentuk mobile application. Berbeda dengan ala-ala BuzzFeed, UpWorthy, dll yang fokus ke gimana caranya dapat trafik sebanyak-banyaknya, Circa fokus ke isi berita yang straightforward, fokus ke fakta dan informasi yang penting. Well, sayangnya Circa salah melihat peluang. Bukan bagaimana cara menyampaikan konten yang jadi masalah, tapi gimana cara mendapatkan uang dari konten tersebut.

Kalau di Indonesia sih, pasarnya belum seperti di US. Makanya portal-portal berita itu juga masih lincah bermain-main headline ala-ala BuzzFeed demi mengejar trafik. Kalau trafik sudah tinggi (Alexa tinggi), tinggal jualan ads banner atau “native-ads” a.k.a advertorial deh.

Saya setuju dengan Wired. Kalau ada startup yang tahu cara memonetisasi media online dengan tidak bergantung pada “tweaking” headline dan konten ala BuzzFeed, niscaya akan jadi “disruptor” bisnis media online.

Investor Go-Jek dan Sejarah Para Pendirinya

[Foto: kompas.klasika | flickr.com]
Saya baca di blog ini, di salah satu paragrafnya kurang lebih disebut, “Sampai sekarang Go-Jek belum mau membuka siapa investornya.” Saya baru kepikiran. “Hah, masak sih?”. Di era startup rame-rame ngomongin siapa investor mereka, atau diakusisi siapa, beberapa bahkan menyebutkan nominalnya, saya juga baru sadar kalau Go-Jek sepertinya tidak ramai dibicarakan siapa investornya.

Sejauh yang saya dapatkan informasinya baru Northstar Group, via NSI Ventures, yang menginformasikan Go-Jek sebagai portofolio investasi mereka. Ini tercantum di situs resmi Northstar, maupun NSI Ventures.

*Northstar adalah perusahaan private equity (sejenis Saratoga, TRG gitu kali ya kalau di Indonesia). Kalau NSI Ventures adalah perusahaan venture capital. Beda private equity sama venture capital apa? Googling aja ya. Haha.

Kalau melihat awal-awal Go-Jek launching dulu tahun 2010, sebenarnya liputannya cukup lumayan. Mereka sempat diliput oleh The Labana Post The Jakarta Post. Di situ disebutkan nama Arthur Benjamin sebagai angel investor Go-Jek. Tapi anehnya, salah satu petinggi Go-Jek yang sekarang bahkan gak tahu nama itu. Perkiraan saya sih, Arthur sudah tidak lagi menjadi investor di Go-Jek. Kok bisa? Mungkin yang berikut ini bisa jadi penjelasannya.

Para Pendiri Go-Jek

Go-Jek, didirikan oleh Nadiem Makarim, Brian Cu and Michaelangelo Moran. Sebelum mendirikan Go-Jek, Nadiem bekerja di McKinsey, Brian Cu bekerja di BCG, sementara Michaelangelo bekerja sebagai Web Interactive Designer freelancer.

Nah ini yang menarik. Go-Jek itu dari berbagai liputannya, disebut bahwa mereka didirikan di sekitar Juni 2010. Hingga 2011, beritanya masih keluar di media. Termasuk artikel di The Jakarta Post tadi. Tapi, sejak 2011 akhir, bisa dibilang Go-Jek agak meredup dari pemberitaan.

Penyebabnya? Saya gak tahu persis. Yang jelas, setelah mendirikan Go-Jek di 2010, Nadiem dan Brian justru bekerja di Rocket Internet untuk membangun Zalora.com. Nadiem bergabung ke Zalora di November 2011, dan Brian bergabung di Januari 2012. Mereka direkrut oleh Rocket Internet untuk membangun Zalora Indonesia (fashion e-commerce).

*Sudah bukan rahasia lagi memang kalau Rocket Internet gemar mengambil tim dari mantan karyawan perusahaan konsultan manajemen. Nadiem ex-McKinsey, dan Brian ex-BCG. Dua nama besar perusahaan konsultan.

Saya enggak tahu pastinya ketika Nadiem bergabung ke Rocket Internet, Go-Jek statusnya bagaimana. Apakah memang vakum atau malah dibangun ulang. Kalau beneran dibangun ulang gak heran kalau akhirnya Arthur Benjamin sudah tidak lagi tercatat sebagai pemilik saham.

Lalu setelah keluar dari Zalora, gimana kelanjutannya? Nah ini menarik juga. Setelah keluar dari Zalora, Nadiem juga belum memilih fokus dengan Gojek-nya. Di April 2013 lulusan MBA Harvard ini malah bergabung ke Kartuku, menjabat sebagai CIO. Setahun di Kartuku, barulah Nadiem kembali fokus ke Gojek.

Brian Cu? Setelah keluar dari Zalora, lulusan National University of Singapore ini memilih berkarir di GrabTaxi sejak Juni 2013. Iya, GrabTaxi yang itu.., yang juga meluncurkan GrabBike, pesaing utama Go-Jek.

Ini menarik. Melihat timeline catatan karir mereka di Linkedin, sepertinya Brian Cu juga tidak lagi memiliki saham di Go-Jek.

The New Go-Jek

Di 2015 ini, Go-Jek mulai ramai lagi. Kalau dulu pesannya harus via telpon, sekarang sudah bisa via aplikasi, ala-ala Uber. Walaupun aplikasinya menurut saya kualitasnya masih jauh dari Uber.

Mengapa aplikasinya kualitasnya masih jauh? Beberapa kali saya gunakan, aplikasinya suka error sendiri. Pesen Gojek, nunggu agak lama, terus muncul notifikasi pengemudi sudah dapat, sedang dalam perjalanan. Tapi informasi pengemudinya kosong. Gak ada nama maupun nomor telpon. Posisinya? Di laut. Tapi pernah juga berhasil dengan mulus sih.

Lalu ini yang paling parah, seringkali (dapat cerita) aplikasinya bisa diakali sendiri oleh pengemudi Gojek-nya, maupun oleh pengguna jasanya. Pengemudi Go-Jek nya bisa dapat 800rb sehari dengan ngakalin aplikasinya. Ini abang-abang Go-Jek nya sendiri lho yang cerita. Penumpangnya? Well.., gitu deh. Biar jadi PR orang teknologinya Go-Jek lah ini.

Soal investor, seperti disebutkan tadi, strateginya Nadiem agak beda dengan kebanyakan startup lainnya. Di beberapa media, Nadiem menyatakan kalau enggan membuka informasi investor Gojek. Bukan soal nominal saja, tapi soal siapa investornya. CFO nya Gojek pun waktu saya tanya tidak bisa memberikan informasi, confidential katanya.

Pertumbuhan Gojek sepertinya luar biasa tahun ini. Download aplikasinya sudah lebih dari 500rb. Jumlah mitra abang ojeknya pun sudah 10rb lebih, tersebar di 4 kota.

Pertanyaan dasar saya cuma satu, ini Gojek mau ngincer exit, atau memang mau dijalankan long term ya? 😉

PS: Terus, Michaelangelo Moran gimana? Well, kata info user di Wikipedia (ini saya quote ya) “Michaelangelo Moran is a son of a bitch and janitor based currently in San Francisco”. Saya yakin ini pasti becandaan sih. Entah oleh dia sendiri (yang memang pekerja kreatif), atau temen-temennya. 😀

Ulasan 10 Tahun Blog Ini

2 tahun lalu saya bikin janji, sekarang waktunya saya penuhi.

Blog ini dimulai sejak November 2004, jadi usinya sudah 10 tahun lebih. Tetapi Google Analytics-nya baru dipasang sejak 2007. Jadi data yang saya punya hanya statistik kunjungan blog ini 8 tahun terakhir.

Apa saja yang yang bisa dilihat dari data 8 tahun terakhir? Begini.

Mobile

Seperti terlihat di chart di atas, awalnya pengunjung blog ini di dominasi pengunjung yang menggunakan desktop (desktop users -warna biru). Lalu sejak penghujung tahun 2012 perlahan-lahan pengunjung yang menggunakan perangkat ponsel naik (mobile users –warna hijau). Dan menyusul di bawahnya, pengunjung pengguna tablet (tablet users –kuning). Sekarang, mayoritas blog saya ini dikunjungi menggunakan ponsel.

Minggu lalu sewaktu iseng membuka Google Analytics, saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa 60% lebih pengunjung blog saya ini adalah mobile users. Bulan sebelumnya sekitar 53%, bulan sebelumnya lagi juga 50-an persen. Setelah melihat overview secara keseluruhan jadilah chart di atas. Desktop user yang mengunjungi blog ini persentasenya turun drastis. Juni 2014 jadi titik balik perubahan profil pengunjung blog ini. Di Juni 2014, mayoritas pengunjung blog ini berubah, dari desktop users ke mobile users.

Agak mengejutkan buat saya, karena di Juni 2014 saya tidak melakukan perubahan apapun di blog ini. Bahkan, saya gak nulis satu artikel pun di Juni 2014.

Tadinya saya menduga karena jumlah pengguna smartphone di Indonesia sudah lebih besar daripada pengguna feature phone. Nyatanya tidak, dari data di swipe.to/9646k, di Juni 2014, pengguna smartphone di Indonesia masih 23% dari total pengguna ponsel se-Indonesia. 77% sisanya masih menggunakan feature phone. Kalau dilihat dari jenis browser & OS nya (sejak Juni 2014 hingga Juni 2015), pengguna Opera Mini jumlahnya cukup signifikan, sama besarnya dengan jumlah pengguna browser Chrome (Android). Jadi mungkin selain jumlah pengguna smartphone memang meningkat (walaupun belum mayoritas), pengguna smartphone ini juga lebih sering browsing -daripada sekadar menggunakan media sosial. Mungkin ya.

Tulisan Terpopuler

Inilah 10 tulisan saya paling populer di blog ini selama 8 tahun terakhir:

  1. http://labanapost.com/2008/02/website/imediabiztv-nonton-tv-dari-internet/
    Untuk beberapa tahun, sepertinya banyak sekali orang yang mencari cara menonton TV via internet. Dan ternyata blog saya ini muncul di top 5 hasil pencarian di Google untuk beberapa lama.  Tapi beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi sih.
  2. http://labanapost.com/2005/08/general/wawancara-kerjamenjawab-dengan-cerdas-taktis-dan-optimis/
    Setahun terakhir ini jadi tulisan paling populer di blog ini. Padahal ini ditulis tahun 2005, hampir sepuluh tahun yang lalu, copy paste pulak. Saya dapat dari sebuah milis. Gak ingat lagi sumber aslinya. Dari data Google Analytics, banyak yang menemukan tulisan ini dengan kata kunci “contoh wawancara kerja” (dan variasinya) di Google. Walaupun saya coba googling dengan kata kunci itu (dan variasinya), blog saya gak muncul di 20 top resultnya. Hmm..
  3. http://labanapost.com/2007/10/general/mengetes-dominasi-otak-kanan-atau-otak-kiri/ Ini juga image nya dari milis. Saya gak tahu sumber aslinya dimana.
  4. http://labanapost.com/2008/01/general/20-gambar-yang-luar-biasa-dari-google-map/
  5. http://labanapost.com/2008/06/linux/hati-hati-buat-pengguna-indosat-im3/ Mudah-mudahan yang baca tulisan ini di tahun 2015 paham ya kalau tulisan ini dibuat tahun 2008.
  6. http://labanapost.com/2015/03/website/seperti-inilah-sulitnya-membuat-halaman-website/
    Nah ini agak-agak fenomenal buat saya. Setelah menulis ini, saya share link-nya di Twitter dan Facebook saya. Responnya sedikit. Di Twitter yang re-twit gak sampai 4 orang seingat saya. Di Facebook juga comment nya gak sampai 10 kayaknya. Tapi dalam 2 hari, ada 2 ribu orang lebih yang share tulisan saya ini di Facebook mereka. Di Twitter ada beberapa juga yang share ternyata (tapi tanpa mention saya @labanux). Hampir semua saya gak kenal siapa. Selama hampir sebulan tulisan ini sangat populer. Bahkan sampai bulan ini (sudah 3 bulan), tulisan ini masih mendatangkan banyak kunjungan. Mungkin memang banyak sekali yang merasakan apa yang saya tulis itu ya. Masih misteri bagi saya, darimana berawalnya “viral” ini.
  7. http://labanapost.com/2007/11/website/facebookcom-terancam-ditutup/
    Ditulis tahun 2007, tetapi populer di tahun 2010 kalau gak salah. Waktu jaman-jaman ada wacana dari Kominfo untuk menutup akses ke Facebook. Orang menemukan tulisan ini sebagian besar dari Google, dengan kata kunci “facebook tutup” dan variasinya.
  8. http://labanapost.com/2007/11/general/internet-berbayar-im3-vs-internet-gratisan-three/
  9. http://labanapost.com/2008/02/linux/download-video-youtube-tanpa-downloader-di-linux/
  10. http://labanapost.com/2007/11/general/lion-air-atau-wings-air-sih/

Oh iya, di bulan ini (Juni 2015), tulisan paling populer adalah http://labanapost.com/2014/03/general/silverqueen-gede-sih-tapi-rela-bagi-bagi-sama-ulat-bukan-hoax/ Entah kenapa, tiba-tiba banyak yang mencari “ulat silverqueen” di Google. Dan blog ini masuk salah satu top resultnya. Padahal tulisan itu dibuat setahun yang lalu.

Perubahan

Blog ini hampir 7 tahun tidak berubah themenya. Selama 7 tahun itu hanya perubahan-perubahan minor saja yang dilakukan. Tapi akhirnya di 2014 saya memutuskan untuk menggantinya dengan theme WordPress yang responsive, jadi lebih ramah di mobile. Di 2015 saya sempat ganti lagi beberapa kali, hingga akhirnya menggunakan theme yang sekarang ini. Tentunya dengan modifikasi minor di sana – sini.

Tahun 2015 ini saya memutuskan untuk mengganti tempat hosting. Tadinya betahun-tahun hostingnya di DreamHost, disediakan secara cuma-cuma oleh saudara saya, Charly Silaban. Thanks amang Charly..!

Bersamaan dengan ganti hosting, saya juga mengganti domain blog ini dari okto.silaban.net ke LabanaPost.com, dengan “branding” lucu-lucuan, The Labana Post.

Rutin

Tahun 2015 ini saya kembali rutin menulis (setidaknya 4 bulan terakhir). Bahkan saya sempat bereksperimen dengan membuat blog baru, Labana.ID. Ini jadi tahun ke-3 saya menulis paling aktif (54 tulisan sejak Januari 2015). Kalau frekuensi menulis saya tetap seperti 4 bulan terakhir, bisa jadi tahun ini bakal jadi tahun teraktif saya menulis, mengalahkan tahun 2008 (147 tulisan).

Eh iya, jadi inget. Dulu, tahun 2009, sempat ada rame-rame di kalangan para blogger, perdebatan apakah blog itu cuma trend sesaat atau tidak. Sampai sekarang saya gak tahu kesimpulan dari perdebatan itu. Kalau kata Christin sih -mengutip dari @chiw-, “Namanya trend ya mesti sesaat sih. Kalo berkepanjangan namanya habit”. Padahal kita sama-sama tahu, namanya yang berkepanjangan itu, pasti ujung-ujungnya minta kepastian status. Iya kan?

Mudah-mudahan 10 tahun lagi blog ini masih ada.

RPP E-Commerce Memang Separah Itukah? Mari Kita Ulas

[Ilustrasi: Álvaro Ibáñez – alvy | flickr.com]
Beberapa hari ini dunia e-commerce Indonesia ramai. Musababnya Daniel Tumiwa, ketua idEA (Asosiasi E-commerce Indonesia) menyatakan bahwa dalam RPP E-commerce yang dirancang oleh Kementrian Perdagangan disebutkan bahwa pemerintah mewajibkan para pelaku industri melakukan pendaftaran yang dikenal dengan istilah Know Your Customer (KYC).

Menurut banyak pihak, ini akan mematikan industri e-commerce lokal. Karena ini tidak hanya mempersulit penyelenggara e-commerce (termasuk classified-ads), tetapi juga pelanggan. Seperti diutarakan oleh Rama (DailySocial): “Ketika anda ingin menjual barang di situs seperti Tokopedia, Bukalapak, Kaskus atau OLX, anda harus terlebih dahulu terverifikasi sebagai warga negara yang sah dengan memberikan nomor KTP/NPWP anda.”

Sayangnya artikel-artikel di Detik, CNN Indonesia, maupun DailySocial itu tidak menyertakan link ke dokumen RPP E-Commerce yang diperdebatkan ini. Saya coba cari, yang ketemu dari situs resmi Ditjen PDN Kemendag cuma ini: NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH (RPP) TENTANG PERDAGANGAN ELEKTRONIS (E-COMMERCE). Mari kita ulas.

*Disclaimer: Saya gak tahu ya apakah ini sudah versi terupdate -yang diributkan itu- atau bukan. Dan saya bukan ahli hukum, jadi ini interpretasi pribadi saya.*

Penelitian naskah akademik Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) perdagangan secara Elektronis dilakukan melalui kombinasi studi kepustakaan (aspek teoritis dan tujuan komparatif penerapan RPP e-commerce negara lain) dan metode pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif melalui objek penelitian secara langsung dengan menggunakan metode penyebaran kuisioner, indepth interview, focus group discussion (FGD), tabulasi dan analisis data secara statistik kepada stakeholders utama yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Bank Indonesia (BI), PPATK, YLKI, dan Penyedia web media jejaring sosial seperti Toko Bagus dan Kaskus.

-Page 16

TokoBagus (yang sebenarnya sudah ganti nama jadi OLX) enggak masuk kategori jejaring sosial pastinya. Kalau Kaskus, ya.. masih bisa lah.

Kesimpulannya, e-commerce adalah suatu transaksi komersial melalui jaringan komunikasi yang dapat berupa fax, email, telegram, telek, EDI (Electronic Data Interchange), dan sarana Elektronis lainnya meliputi kegiatan tukar menukar informasi, iklan, pemasaran, kontrak dan kegiatan perbankan melalui internet.

-Page 22

Ini telek yang mana yang dimaksud ya?

Mengapa diperlukan upaya legislasi untuk e-commerce (electronic commerce)? Ada beberapa hal yang mendasari pentingnya hal tersebut:

  1. dari aspek legal, yaitu untuk mengintegrasi berbagai peraturan dan perundang-undangan yang telah ada dan seharusnya ada, kemudian untuk mempromosikan persaingan usaha yang sehat di ranah dunia maya.
  2. dari aspek kontrak online, yaitu standar verifikasi legalitas e-document dan tandatangan elektronis, kemudian proteksi terhadap keamanan dan keandalan informasi, serta untuk membangun tugas dan tanggung jawab iklim usaha e-commerce. Dari sisi aspek pembayaran elektronis (e-Payment), yaitu: bagaimana melindungi konsumen dalam transaksi online dan pengaturan sistem pembayaran yang baru.
  3. aspek terakhir adalah Aspek Promosi e-commerce itu sendiri, yaitu untuk mempromosikan keuntungan dari e-commerce: keterbukaan (transparency), pengurangan biaya dan national competitiveness.

-Page 33 (saya edit sedikit biar jadi poin-poin)

Soal 3 aspek ini, menurut saya oke-oke aja sih. Dari aspek-aspek yang disebut ini, RPP E-Commerce ini “harusnya” niatnya emang baik.

 

Badan Hukum Penyelenggara Perdagangan Elektronis
RPP Perdagangan Elektronis akan menitikberatkan kepada bentuk badan hukum yang dapat menyelenggarakan perdagangan Elektronis. Bentuk yang akan dianut bukanlah sebuah mandatory (kewajiban), melainkan lebih kepada perlindungan dari negara (state guarantee) terhadap mereka yang menundukkan dirinya kepada pengaturan Badan Hukum pada RPP Perdagangan Elektronis ini.

Hal ini didasarkan kepada fakta bahwa perkembangan perdagangan secara Elektronis tidak (akan) dapat diatur secara penuh (total control) oleh pemerintah, mengingat perkembangan web yang sangat dinamis dan lebih bersifat self-regulatory. Dalam RPP Perdagangan Elektronis akan dikembangkan sikap state guarantee bagi mereka yang menundukkan diri kepada RPP ini, yang mana akan terkait dengan Lembaga Sertifikasi Keandalan dimana RPP akan mengatur lebih ke aspek ekonomi, mengingat aspek teknis telah dijabarkan dengan detil pada hukum positif lain.

-Page 42-43

Ini dia. Kalau dari interpretasi saya, di sini kuncinya. Tidak ada keharusan/kewajiban bagi penyelenggara e-commerce lokal untuk mengikuti ini. Tetapi jika ingin dilindungi -sesuai implikasi dari RPP E-Commerce ini-, barulah perlu mengikuti peraturan ini ketika disahkan nanti.

 

4. Perlindungan bagi Penyelenggara Perdagangan Elektronis
Verifikasi Identitas Pelanggan
Untuk memastikan bahwa perlindungan terhadap merchant juga memadai, perlu adanya sebuah mekanisme yang memastikan kebenaran identitas pelanggan. Hal ini sebenarnya akan dapat diselesaikan dengan adanya Single Identity Number(SIN) yang masih dalam taraf perencanaan tender oleh Kemeterian Dalam Negeri.
Dapat pula diusulkan penggunaan tanda tangan Elektronis untuk mempermudah integritas verifikasi pelanggan. Hanya patut dipertimbangkan mengenai populasi dari tanda tangan Elektronis ini (digital signature/DS) dan penetrasi penggunaannya dalam komunitas pengguna media Elektronis di Indonesia.

-Page 50

Intinya, diperlukan adanya sebuah mekanisme yang memastikan kebenaran identitas pelanggan. Seperti apa bentuknya? Masih belum pasti. Tapi kalau merujuk ke kutipan di atas, sekali lagi, ini harusnya tidak mandatory. Tidak wajib.

Mungkin akan ada yang berpendapat: Loh, kalau gak mau ikut RPP ini, berarti gak bakal dilindungi oleh peraturan yang berlaku ini dong? Ntar kalau ada penipuan, transaksi ilegal, dll, gimana dong?

Jawabannya: Ya sama aja kalau kita pake layanan dari luar negri. Misal, akhirnya pake Craigslist. Terus kalau ada kasus hukum gimana? Craiglist adanya di US, gak terikat juga sama peraturan di Indonesia. Sama aja sih jadinya. Intinya, kalau mau bebas ya bisa, tapi ya implikasinya jadi sama seperti layanan dari luar negri.

Kemudian soal Know Your Customer (KYC) yang diributkan itu. Saya tidak menemukan satu bagian pun di RPP ini yang menyebutkan istilah KYC ini. Paling dekat ya bagian “Verifikasi Identitas Pelanggan” di atas tadi. Apa ini yang dimaksud ya?

Membela Pemerintah ?

Saya bukan serta merta membela pemerintah. Dari 3 aspek yang disebutkan di RPP di atas, saya sih setuju. Nyatanya pemerintah pun tidak mewajibkan untuk ikut RPP ini, saya juga setuju. Artinya boleh pilih mau ikut atau tidak. Tapi kalau ujung-ujungnya ini membuat layanan e-commerce lokal posisinya sama saja dengan e-commerce dari luar, nah itu yang saya tidak setuju. Buat apa bikin peraturan yang bikin industri e-commerce enggan untuk mengikuti, lalu akhirnya gak ada manfaatnya. Ujung-ujungnya 3 aspek yang disebutkan di atas gak tercapai juga.

Sekali lagi, saya membahasnya dari dokumen RPP yang saya dapatkan (link di atas). Saya tidak tahu kalau ada versi yang lebih baru dari ini tapi belum diupload oleh Dirjen BPN Kemendag di situsnya.

Satu catatan penting. Dari pernyataan idEA, pemerintah katanya baru ngajak ketemu idEA 1 hari sebelum pengumuman RPP ini. Ini memang aneh sih. Bikin regulasi tanpa mengundang pihak yang pasti kena impactnya, bahkan draftnya pun katanya gak di-share. Ini harus diperbaiki.

Selain itu, RPP ini masih banyak typo di sana-sini. Dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara kok ya kaya gitu sih. Malu ah.

Semoga ketemu titik temu deh. Biar pemerintah bisa melindungi, idEA bisa jualan lebih nyaman lagi, dan konsumen pesta diskon belanja online lagi… *walaupun stocknya kosong. 😛

Geliat Okezone.com – Redesign, Platform Citizen Journalism dan Forum, serta Performa Bisnisnya

Okezone.com kembali tampil dengan desain baru. Gak baru-baru banget sih, desainnya di akhir 2014 hampir-hampir mirip ini juga sepertinya. Tapi ini jelas udah jauh beda dengan desainnya di tahun 2008.

Ketika mengunjungi Okezone.com, di bagian atas kita pertama kali akan disuguhkan dengan banner raksasa. Eye catching. Tapi menurut saya terlalu besar malah. Emang lebar yang pas itu seperti di Kompas.com, Detik.com dan Liputan6.com ya. (Ini juga saya baru sadar, mereka hampir sama semua dimensi ukurannya). Tapi saya curiga mereka bisa kompak ukuran banner image-nya segede itu bukan semata-mata demi kenyamanan mata deh.

Sepanjang karir saya, saya mengurusi website. Membuat layout foto dengan ukuran wide itu tantangannya lebih ke operasional. Seringkali susah menemukan image yang cocok yang wide kaya gitu. Sampai hari ini saya pun masih kerepotan dengan hal itu. Curiga nih portal-portal berita lain juga mengalami hal ini, makanya kompak pakai ukuran banner foto segitu.

Contoh screenshot di atas itu misalnya Kenapa foto ayam (apa tikus ya?) ada 2? Karena kalau fotonya satu aja dan wide, jadinya kepotong. Atau misal Okezone sendiri deh mau beritain desain barunya. Kan harus masang screenshotnya dong. Pusing deh tuh bikin image nya biar wide gitu. Hehe.

Lewat dari banner gede itu, scroll ke bawah, tampilannya seperti di atas. Saya suka sih. No comment untuk ini. Well done. Taste designer nya oke nih.

Cuma saya belum tahu. Apakah Okezone sudah mempersiapkan satu slot khusus untuk berita yg super-breaking-news. Kalau di Kompas.com, ada tuh di bawah menu yg atas. Kalau lagi ada breaking news, akan ada satu bar baru. Di bar baru ini breaking news nya akan di post.

Kalau di salah satu portal berita di US (aduh saya lupa apa namanya), lebih gila lagi. Layoutnya bisa diatur suka-suka, besar kecil, sampai urutan kontennya. Jadi jika ada berita yang lagi mau di highlight, atau ada breaking news, bisa segera ubah layout. Dan itupun dengan layoutnya tetap “responsive”. Mumet dah front end developernya. Haha. Ini kalau bang Roy Simangunsong (bos Okezone, -ex Yahoo) denger, bisa jadi dia pengen juga tuh bikin kaya gitu. 😀

*catatan: Semua screenshoot di tulisan ini saya buat saat mengaktifkan plugin AdBlock. Jadi saya gak tahu aslinya apakah ada banner iklan berjejal di sana-sini atau tidak.

Rubik

Nah ini nih salah satu platform baru dari Okezone, namanya Rubik. Eh, beneran baru kan ya? Atau saya yang kuper?

Apa itu Rubik? Singkatnya: Kompasiana-nya Okezone. Kalau Detik kan sudah punya DetikBlog, DagDigDug punya Politikana.com, Kompas cukup sukses dengan Kompasiana-nya, maka Okezone pun gak mau ketinggalan.

Ini layoutnya dan desainnya oke sih menurut saya. Belum explore lebih dalam sih. Tapi ada satu hal yang mengganggu banget. Ketika klik salah satu tulisan, tidak akan ke load halaman baru. Tapi artikelnya ditampilkan dengan pop-up. Mungkin terinspirasi dari Beritagar.com.

Gak tau ya, kalau saya sih gak suka model begini. Gak nyaman aja. Salah satu alasannya, kalau internet sedang lambat, atau mungkin server webnya yang sedang ngadat, loading artikelnya kan jadi keputus. Terus kalau sudah gitu, mau refresh halamannya susah. Kalau kita refresh, ya yang di-reload keseluruhan halaman depannya tadi. Karena pop up gak bisa di-refresh. Alasan lain? Err.. saya lupa. Dulu beberapa kali saya alami waktu buka-buka Beritagar.com.

Platform Rubik ini sudah sewajarnya dibangun Okezone. Situs-situs di luar juga melakukan ini. Kompasiana terbukti rame (rame juga fitnah di dalamnya). Mudah-mudahan gak jadi tempat ajang fitnah seperti Kompasiana di masa pilpres kemarin. Apalagi bos besarnya MNC (pemilik Okezone) terafiliasi dengan partai.. Eh, apa sih partai dia sekarang? Udah pindah lagi kemana sekarang? Atau bikin baru ya?

Warung Kopi

Apa itu WarungKopi Okezone? Singkatnya: Kaskus-nya Okezone. Tapi Kaskus++ kali ya. Karena ada fitur yg cukup menarik yang di Kaskus (setahu saya) gak ada: Kongkow. Ntar saya bahas ya.

Mirip seperti Kaskus, di sini bisa bikin New Thread, atau istilahnya mereka “Pesen Meja”. Ada sub-sub forum. Lalu ada FJB (forum jual beli) ala Kaskus. Namanya? FJB juga. Di FJB Okezone ini nominal harga ditampilkan dengan dua digit di belakang koma. Jadi misal 1 juta, jadinya: Rp 1.000.000,00. Entah kenapa. Karena selain nyaru di mata, toh di Indonesia gak ada nominal di bawah 1 Rupiah.

Oh iya istilah buat membernya: Warkoper.

Kalau di Kaskus ada cendol, di WarungKopi adaa.. Kopi Master. Jadi kalau di Kaskus orang sering minta “ijo-ijonya dong gan”, di sini mungkin nanti jadi “minta coklat-coklatnya dong bree..”, atau “bre.., jangan lupa Torabika nya ya bree..”.

*Itu profil Sutan Bathoegana saya dapat di halaman official Tour nya Warkop ini. Nekat juga nih. Hehe. Awas.., jangan sampai nanti “Kenaaaak barang tuu…”.

Salah satu fitur di Warung Kopi ini adalah Kongkow – “Tempat Ngobrol bareng bersama artis idola secara live”. Tapi halaman Tour nya (screenshot di atas), tertulis “Hangout with Chelsea Islan”. Kenapa bukan “Kongkow bersama Chelsea Islan” aja ya? Biar align gitu.

Di Kongkow ini, bisa live chat dengan idola/artis. Nanti Warkop akan menginformasikan kapan ada sesi Kongkow (eh Hangout?) dengan idola/artis yang sudah mereka jadwalkan. Kita bisa ikutan join. Plus ada video chat juga. Tapi untuk video chat ini, kalau gak salah nanti cuma dipilih beberapa orang saja. Entahlah, saya lupa detailnya. Males buka lagi tournya, panjang cuy.. Haha.

Tour Rubik dan Warung Kopi

Nah dari tadi saya sebut soal Tour. Nah ini harus saya beri big applause buat Okezone. Di Rubik dan Warung Kopi, pertama kali kita kunjungi akan keluar pop up yang mengajak kita Tour ke dalam, melihat apa-apa saja fitur yang disajikan di dalam. Ala-ala Facebook kalau ngeluncurin fitur baru gitu. Ini bagus banget sih untuk memperkenalkan produk/platform baru. Good job.

Cuma tetep ada catatan, hehe. Di Rubik, kalau selesai Tour, terus kita pengen ngulang, saya gak nemu gimana caranya bisa ikut Tour lagi. Kalau di Warkop, menunya selalu tersedia di samping kiri.

Satu lagi, di Warkop, sewaktu saya coba, di akhir tour URL-nya malah salah, masuk ke nomor rumah paling legendaris, 404. Entahlah sekarang sudah diperbaiki atau belum.

Okezone di Masa Pilpres

Salah satu momen yang saya ingat, setelah KPU mengumumkan pemenang pilpres -breaking news paling heboh malam itu. Okezone sama sekali enggak memberitakan lho (entah kalau 1 jam berikutnya atau besoknya). Malam itu saya lihat dari atas sampai bawah, gak ada beritanya yang menyinggung soal ini. Vivanews sih masih memberitakan, tapi gak di highlight. Sayang saya gak screenshot waktu itu.

Ahh jadi inget tragedi Vivanews yang berujung manajemennya sampai pada cabut. Itu loh tragedi “sebelum ayam berkokok..” 😉

Itu memang masa-masa kelam media massa di Indonesia.

 

Okezone.com Secara Bisnis

Dulu saya pernah dengar Okezone.com secara bisnis belum begitu bagus. Kalau melihat laporan tahunan 2014 MNC Media Investment (Linktone), sepertinya masih, karena penghasilannya turun.

Revenue Okezone.com tahun 2014 (sudah termasuk VAS business-nya) adalah US$ 3,1 juta (sekitar Rp 41 miliar). Ini turun dibandingkan revenue nya tahun 2013, US$ 3,9 juta (sekitar Rp 51 miliar). Padahal laba bersih Detikcom tahun 2010 saja sudah Rp 20 miliar (laba bersih lho, bukan revenue). Target laba bersih Detikcom 2011 lebih gila lagi, Rp 40 miliar. Tapi saya gak tahu, ini akhirnya terealisasi atau tidak. Jadi gak heran kalau saya dengar kabar bang Roy mau merebut posisi Liputan6.com sebagai portal berita nomor 2 saat ini (peringkat di Alexa hari ini).

Secara kepemilikan, saya agak bingung dengan Okezone.com ini. Di laporan tahunan MNC disebutkan kepemilikannya atas Okezone adalah 99,90%. Tapi di laporan tahunan Linktone, disebutkan kepemilikannya 49,9% dipegang oleh JPMorgan Chase Bank, N.A. Sedangkan MNC International Ltd. hanya memiliki 47,7% sahamnya. Jadi sebenarnya gimana sih?

Portal Berita di Indonesia

Sampai saat ini, klasemen liga portal berita di Indonesia masih diisi tim-tim lama. Memang posisinya berganti-ganti, namun Detikcom tetap nomor satu. Sisanya diisi oleh Liputan6.com (yang belakangan melesat masuk ke top 3), Kompas.com, Tribunnews.com (juga milik Kompas, tapi kualitas beritanya menurut saya masih di bawah Kompas). Lalu ada Merdeka.com (grup KapanLagi, yang baru diakuisi grup MediaCorp dari Singapura), Okezone, Viva.co.id, Suara.com (nah ini pendatang baru), disusul Tempo.co dan KapanLagi.com (mm.., ini bukan portal berita sih).

Suara.com ini luar bisa. Dulu, dalam hitungan bulan, dia sudah berhasil melesat masuk dalam 40 situs paling top di Indonesia. Kemudian saya sempat lihat kayaknya mereka pernah masuk top 10 atau top 20 juga sih. Tapi hari ini saya lihat sudah keluar dari top 20. Apa dugaan saya dulu mungkin benar, trafik mereka kebanyakan disumbang dari digital-ads. Jadi ketika ads placement nya sudah berkurang, ya trafiknya menurun juga. Dulu Vivanews gosipnya pernah melakukan strategi ini juga. Dalam seminggu posisinya di Alexa bisa melesat jauh. Gosip sih.

Merdeka.com (atau tepatnya KapanLagi Networks-nya), dulu sempat diduga bakal jadi akuisisi dengan nominal yang luar biasa. Hampir diakusisi oleh EMTEK (pemilik KMK -yang menaungi Liputan6.com). Tapi di tengah jalan berbelok, merapat ke MediaCorp. Akhirnya 52% sahamnya dilepas ke MediaCorp.

Nilai akuisisinya? Dari sumber yang cukup dekat dengan mereka, valuasi untuk 100% saham KapanLagi Network adalah US$ 87 juta. Ya.., naik dikit lah dibanding akusisi Detikcom oleh CT Corps tahun 2010, US$ 60 juta. Kalau itungan bodo-bodoan, dengan inflasi 7% setahun, maka “harga” Detikcom kalau diakusisi tahun 2014 jadi sekitar US$ 78jt.

Jadi siapa yang bakal berhasil menggeser posisi Detik sebagai No.1? Apa yang dibutuhkan biar bisa mengejar no.1? Jawabannya: duit (pastinya) + konten. Tapi dibelakang konten itu, sebenarnya kuncinya teknologi. Seperti apa maksudnya teknologi di belakang konten? Ya pikirin sendiri lah. Kalau mau masukan gue, bayar..! LHO? Hahahahahaha..

Penyidikan atau Penyelidikan ?

Hampir tiap hari baca berita. Seringkali menemukan kata penyidikan dan penyelidikan. Tapi sebenarnya gak pernah benar-benar nangkep apa bedanya. Jadi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ini bedanya:

penyidikan /pe·nyi·dik·an/ n serangkaian tindakan penyidik yg diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti pelaku tindak pidana; proses, cara, perbuatan menyidik

penyelidikan /pe·nye·li·dik·an/ n 1 usaha memperoleh informasi melalui pengumpulan data; 2 proses, cara, perbuatan menyelidiki; pengusutan; pelacakan

Cukup jelas kan?

Anak Ahensi dan Client-nya

[Ilustrasi: wetwebwork | flickr.com]
Karyawan di Digital Agency, atau biasa disebut juga “anak ahensi”, harusnya memang exist lah ya di media sosial. Client nya? Belum tentu.

Jadi, tak jarang sejak dulu saya menemukan anak ahensi suka post di medsos mereka tentang client-client mereka (#nomention pastinya).

“Eh begoo.. kalau kirim email jam 3 pagi, ya siapa yang bacaaa gembel..”

“Oh dear client, kamu kenapa ganteng banget sih hari ini *kiss kiss* ”

“Kelar meeting jam. enam. sore. Hari. Jumat. Terus mintak live website nya Senin. Bunuuhh aja gueee…!”

..dsb

Di jaman itu sih, tak banyak client yang beredar di media sosial. Punya akun Twitter aja sudah oke. Jadi sangat kecil kemungkinan post-post itu kebaca sama clientnya. Amanlah bree..

Tapi makin kesini, baik client maupun anak ahensinya, sama-sama eksis di media sosial. Kenapa? Karena banyak juga yang di client-client itu tadinya juga anak ahensi. Kebalikannya juga ada sih, yang tadinya di client, sekarang di ahensi. Ada yang malah bener-bener pindah dari client ke ahensi nya sendiri. Ini agak-agak epic sih. Saya gak sempat cek, tapi harusnya ada lah yang post begini ya:

“Si gembel mantan client, sekarang.. jadi.. BOS GUE..!! *icon nangis*”

Nah, karena keduanya (client dan anak ahensi) sama-sama beredar di media sosial, apakah postingan-postingan seperti di atas hilang? Ya gak lah. Namanya juga medsos, tempat mengumpat, nyinyir, atau berbagi momen bahagia ketemu sama si client yang cantik jelita. *ehm*.

Jadi sekarang apakah client-client nya itu gantian bakal post tentang ahensi-ahensinya tadi? Di Path sih ada, tapi itu kan private. Kalau di Twitter saya belum lihat.

Seru sih ya kalau clientnya ex anak ahensi, selebtwit pulak, terus anak ahensinya juga eksis di medsos. Terus keduanya saling ngomongin. Jadi twitwar nomention-nomention gitu deh. Kaya sesama selebtwit yang baru putus gitu.. *eh*

“Client gembel minta gw dtg k kantornya jam 4 sore. Harus. Pakek ASAP. Tp mintanya via email. Sapa yg baca coba.”

“Ahensi ngehek, yakin mobile appsnya udah diupdate, malah ngupload versi alpha. Gk baca email pulak.”

“Emang ada sih tipe2 org yg ngasih approval tanpa ngecek dulu. *sigh..*”

“Ada loh orang yang kerjanya cuma nyicip masakan, tapi gak tau kalau makanannya mentah.”

Gitu aja terus, sampai Farhat Abbas jadi presiden.

**kalau ngerasa nyambung dengan tulisan ini, mungkin cocok juga baca ini.