Aku, Linux, dan Kawin CeraiSekitar libur Lebaran, aku cerai dengan Feisty, terus kawin dengan Gutsy. Ternyata rumah tangga kami tidak harmonis.., seringkali terjadi cekcok sebelum kami bisa “bercinta”. Akhirnya, terpaksa aku ceraikan juga si Gutsy. Aku cari pasangan yang emosinya lebih stabil, terbukti tangguh. Akhirnya pacaran dengan Debian, sampai akhirnya nikah dengan Debian.

Ternyata Debian ini terlalu tua untukku. Banyak “sifat – sifat”-ku yang belum dikenali oleh si Debian. Akhirnya aku kawin dengan adiknya yang lebih muda, Lenny namanya. Rumah tangga kami berjalan mulus untuk beberapa saat, sampai akhirnya aku khilaf dan selingkuh dengan si Unstable dari keluarga Debian juga. Akhirnya rusaklah hubungan kami.

Sadar aku khilaf, akhirnya aku mulai lagi hubunganku dari awal dengan Lenny. Mungkin udah keburu sakit hati, di tahap kedua ini Lenny justru seringkali gagal memahami beberapa “sifat”-ku. Saat sifatku yang satu dia “pahami”. Sifatku yang lain tidak dikenalinya. Puffhh.., saatnya cari istri baru sepertinya. Aku belum mau menyerah membina rumah tangga.

Seorang teman, Willy SR, yang sudah bertahun – tahun membina rumah tangga dengan salah seorang dari keluarga Slackware mengenalkan pada salah satu keluarga istrinya tersebut. Jadilah aku dan Slackware berkenalan. Slackware yang kuajak berkenalan ini adalah “keturunan” ke-12. Tanpa basa – basi dan pacaran kami langsung nikah. Belum sampai malam pertama, kami sudah cekcok. Banyak sifat – sifat kami yang tidak cocok. Bahkan untuk “penampilannya” saja aku harus “mendandani” nya satu – satu agar terlihat pas dengan gaun Presario ku. Dengan diiringi air mata, akhirnya aku ceraikan juga Slackware. Ini demi kebaikan kami bersama.

Petualangan cinta ku belum selesai. Aku masih mencari pasangan ku yang sejati. Sewaktu main ke markas KMTF, aku melihat Mint. Pandangan pertama sih tidak begitu menarik perhatian. Tapi ya gak apa – apalah. Siapa yang tahu mana yang bakal jadi jodoh anda kalau anda tidak memulai berkenalan.

Perkenalan berlangsung singkat, kami sempat berpacaran beberapa saat sebelum memutuskan untuk menikah. Pada saat “pernikahan” ada sedikit gangguan, hingga ritual pernikahan harus diulang.

“Bersedia kah kamu menemani Labanux dalam kondisi normal, error, connect, disconnect, sampai waktunya upgrade?”, ujar pak Pendeta.

“Ya, saya bersedia”, jawab Mint.

Dan kulingkarkanlah cincin GRUB di partisi pertama jarinya. Kami resmi jadi suami istri. Hari – hari baru akan segera kami lalui.. Doakan agar kami langgeng terus sampai saatnya upgrade ya.. 🙂

*Susah ya membina rumah tangga, gak heran banyak orang pada kawin cerai.

Bagaiman dengan istri – istri atau suami – suami kalian? Setiakah..?