Setelah berhasil dengan install Ubuntu Feisty, aku bermain – main dengan Beryl. Sebuah aplikasi desktop effect. Dengan aplikasi ini, desktop Linux anda yang kelihatan biasa – biasa saja akan menjadi wahh.., bahkan untuk beberapa hal bisa mengalahkan grafis dari Windows Vista. Alhasil setelah setting tampilannya disana – sini, desktop Ubuntu ku dah mirip – miriplah dengan grafis dari Mac OS X. (Abis pengen beli Apple gak punya duit.. :D). Setelah setting grafisnya berhasil, mulai deh tepe – tepe sana – sini. Dan memang temen – temen kampusku pada kaget, “Wah.. ini bener Linux? Kok keren banget?”. Atau ada juga yang dengan PD nya ngomong ke aku “Wah, notbuk mu bisa diinstal Mac yah..”. Dan kujawab “Bisa dong..”. Eittss.., aku gak bo’ong kok. Emang bisa kan.. Ya walaupun diriku tau kalo temenku ku itu ngira Linux ku ini Mac, habis tampilannya emang mirip. Tapi esoknya waktu ketemuan sama anak – anak Linux lainnya, ada salah seorang temenku yang komentar “Kenapa tampilannya dibikin mirip Mac? Kok gak pake tampilannya Linux itu sendiri?”.

Waktu itu sih aku santai jawab “Habis beli Mac asli gak kuat”. Tapi setelah beberapa saat aku kepikiran, iya ya.., kenapa musti dimirip – miripin dengan Mac, atau Windows? Bukankah Linux itu sendiri unik? Walaupun kita mau pakai kemampuan grafis desktop nya, ya dibikin dengan ciri khas Linux itu sendiri, atau malah dengan ciri dari kita sendiri.

Ya mungkin untuk para pengguna baru Linux, atau untuk orang yang baru diperkenalkan dengan Linux, tampilannya desktop Linux ini kadang menjadi masalah. Mereka harus terbiasa dengan struktur dari window manager Linux tersebut. Makanya seringkali beberapa distro Linux membuat tampilannya dari mulai booting, login, hingga window manager bahkan icon – iconnya disamakan dengan Windows, demi membuat pengguna baru tidak merasa asing. Tetapi untuk mereka yang sudah terbiasa, atau bahkan sehari – harinya menggunakan Linux, tentunya hal seperti ini tidak lagi menjadi patokan. Kecuali jika memang mereka merasa paling nyaman dengan desktop Linux dengan tampilan seperti OS lain itu.

Diriku sih saat ini sedang utak – atik tampilan Linux ku dengan rasa ku sendiri, tapi belakangan baru nyadar kok hasilnya mirip Windows XP malah ya? Kayanya emang si Windows ini betul – betul dah mengalir di darah orang Indonesia..