Logo DebianAkhirnya.., memantapkan langkah untuk pindah ke Debian 4.0 (Etch), dan diupgrade ke Lenny (Testing). Semalaman berkutat dengan instalasi Debian dan paket – paket lain yang biasanya aku butuhin di Ubuntu.

Beberapa proses berjalan gagal. Seperti install OpenOffice, tetapi akhirnya berhasil diatasi. Untuk menginstall OpenOffice membutuhkan paket ttf-opensymbol. Error di /usr/share/fonts. Gagal untuk membuat file cache di direktori tersebut. Bisa diatasi dengan “menyentuh” semua direktori font tersebut : “touch /usr/share/fonts”.

Oh iya, ini bukan pertama kalinya aku install Lenny. Sebelum Feisty keluar aku sudah coba pakai Etch, juga Lenny. Tetapi ada beberapa masalah yang bikin aku cukup jengah : driver wireless defaultnya tidak ada, harus download manual dulu, dan yang kedua jack out speaker notebukku (Compaq v3000) tidak berfungsi, sementara di Feisty keduanya bisa berfungsi, walaupun untuk soundcard tidak sempurna.

Di Ubuntu berikutnya, Gutsy, soundcardku akhirnya bekerja sempurna. Tetapi ini harus dibayar mahal dengan error yang aku dapat di Gutsy (baca postingan sebelum ini).

Berhubung di Ubuntu aku sudah tahu paket apa aja yang dibutuhkan agar hardware ku bisa berjalan baik, akhirnya sekarang pindah lagi ke Debian. Driver soundcardku ternyata baru tersedia di Debian Testing (Debian punya tingkatan Stable, Testing, Unstable, dan Experimental, untuk tingkat Testing, saat ini diberi nama Lenny). Jadi akhirnya Debiannya ku upgrade ke Testing. Prosesnya berjalan baik. Dan akhirnya, soundcardku pun berjalan sempurna di Debian.

Tetapi masalah tidak habis disitu. Ternyata penyakit di Gutsy juga ikut – ikutan muncul. Sesekali setelah booting, Debian nya hang (sebelum GDM keluar). Sepertinya ini masalah kernelnya, berhubung aku upgrade ke Testing (Lenny), maka aku dapat kernel baru (2.6.22- 2), yang seingatku sama dengan kernel nya Ubuntu Gutsy. Soalnya di Debian dengan kernel aslinya (2.6.18-4) error ini (sampai saat ini) tidak terjadi.

Kembali aku harus dihadapkan dua pilihan, kalau aku mau menggunakan jack out speaker, maka harus pakai kernel terbaru. Tetapi konsekuensinya kadang – kadang bootingnya gagal. Sementara jika ingin desktop yang lebih stabil, harus pakai kernel sebelumnya, yang juga berarti jack out speaker ku tidak bisa digunakan.

Ya sudahlah, setidaknya aku masih punya pilihan. Di Ubuntu Gutsy pilihan ku cuma satu, harus siap berhadapan dengan gagal booting. Ok, saatnya kembali bekerja kuliah..