Alkisah sepasang suami istri sedang mencari TK untuk anaknya yang masih berumur 5 tahun. Sampailah dia di TK Tunas Layu Tak Mau Tumbuh. Kemudian mereka menemui kepala sekolah TK itu, namanya Tuan Labanux.

Si Bapak : “Jadi gini Pak Labanux..,  saya mau cari istri baru TK yang bagus untuk anak saya..”

Tuan Labanux : “Oh.., anda tepat sekali datang kesini. Disini TK yang spesial..” (tertawa ala koruptor licik di kantor pajak sinetron)

Si Ibu : “Ehmm.. begini Pak. Sebenarnya kami punya kriteria khusus untuk TK anak kami. Kami ingin agar anak kami bisa mempunyai kepribadian yang bijak. Jadi ketika mau melakukan sesuatu dia bisa mempertimbangkan dengan bijak.”

Si Bapak : (menambahi) “Ya intinya.., jadi pribadi yang dewasa gitu lho Pak..”

Tuan Labanux : “Ya.. ya.. ya.. Saya mengerti. Itu lah bedanya TK disini sama TK lainnya. Disini selain bayarnya mahal diajari kurikulum standar untuk anak TK, orang tua juga bisa memesan secara custom mata pelajaran untuk anaknya. Tahun lalu ada orang tua yang minta kurikulum Cisco Networking + RubyOnRails bagi anaknya.., ada juga yang minta diajarkan Socket Programming with Linux. Nah, dalam kasus anak Bapak ini, berarti pelajaran tambahan yang dibutuhkan adalah “Pelajaran Kedewasaan”.

Si Bapak : “Kurang lebih begitu Pak. Tapi apa materi seperti Cisco Networking dan RubyOnRails itu tidak terlalu berat Pak?”

Si Ibu : “Iya Pak.., saya takutnya anak saya justru jadi tertekan”

Tuan Labanux : “Oh.. jangan takut Pak, Bu. Walaupun materi yang diajarkan berbobot, tapi kita tetap mengajarkannya dengan cara anak – anak. Selain itu materi custom ini diberikan setelah waktu belajar formal selesai.. Jadi mereka tetap lancar mengikutinya.. ” (terkekeh – kekeh kaya nenek lampir)

Akhirnya, jadilah anak mereka sekolah disana.. Hingga tibalah hari pertama sekolah anaknya.

Anak : (dengan lidahnya yang cadel) “Caya pulang… !” (berlari – lari kecil,  dengan tas punggung berwarna biru tetapi sedikit kegedean)

Si Ibu : “Eh sudah pulang.. Sini sayang.. mmuah.. muah..” (cium pipi kiri – kanan)

Si Ayah :”Wah.. putri bapak dah pulang. Gimana tadi di sekolah..?” (sambil mengelur rambut si anak)

Anak : “Enak pak.. Selu.. Dedek senang cekolah di cana..” (pindah ke pangkuan bapaknya)

Si Ayah : (teringat tentang “Pelajaran Kedewasaan” yang dijanjikan Tuan Labanux) : “Eh iya tadi di sekolah belajar apa nak?”

Anak : “Banyak pa.. Ada membaca, menulis, nyucun kotak – kotak.. Ceneng pa..”

Si Ayah : “Ada pelajaran tambahan gak?”

Anak : “Iya ada pa.. Tadi ada tambahan habis pelajalan biaca. Gulunya bilang ini mateli yang cecuai pelmintaan olang tua..”

Si Ibu : “Oh gitu.. Terus apa yang diajarin tadi?”

Anak : “Kata gulunya ini “Pelajalan Kedewacaan”. Tadi nama pelajalannya “Mewalnai Gambal Polno“..”

Si Bapak dan Ibu : (gak berkata apa – apa.., bersama – sama mengasah clurit..)

Tampaknya Tuan Labanux benar – benar menepati janjinya : Memberi pelajaran kedewasaan dengan cara anak – anak..

NB: Polno != Dewaca