Siapa yang Tertawa Terakhir

“Lihat saja nanti siapa yang tertawa terakhir”. Itu salah satu kalimat yang sering diucapkan teman saya dari semasa kami masih kuliah. Dalam konteks : saat ini kita berada di bawah, dan orang lain berada di atas. (Bisa dalam hal akademis, karir, jodoh, rumah tangga, panjang kelamin *eh*, ya apapunlah).

Awalnya saya mengangguk saja mendengarnya (bukan berarti setuju, bukan berarti juga saya menolak). Tetapi entah kenapa, beberapa waktu lalu kalimat itu muncul begitu saja di kepala saya, dan jadi kepikiran.

Kehidupan adalah fungsi waktu, dan kita tidak tahu batas akhir waktunya. Jadi “Siapa yang tertawa terakhir ” itu juga tidak bisa diketahui. (tahunya ya pas mau mati).

Nah, di dalam kalkulus, fungsi waktu masih bisa didekati dengan Transformasi Fourier. Dengan begitu fungsi waktu bisa menjadi fungsi frekuensi. Dalam konteks di atas, jika kalimat di atas ditransformasikan dengan fungsi Fourier, mungkin menjadi “Siapa yang paling sering tertawa.”. Hmm.., agak masuk akal juga. Lebih sering tertawa, seharusnya hidupnya lebih bahagia gitu ya. Seharusnya sih… 😉

2 Comments

  • At 2012.08.28 13:22, Meita said:

    like it! specially “Fourier” thingy. it seems someone did graduated from Engineering School. 🙂

    • At 2012.08.28 17:34, Okto Silaban said:

      Luckily I did.. 😀

    (Required)
    (Required, will not be published)

    jambu