Macet-Macet Jakarta dan Kencing di Tangga Halte

bulha-haranWalau bergoyang-goyang kesana kemari, Bulha dan Haran tetap asyik bercerita di dalam bis TransJakarta koridor VIII yang penuh sesak di pagi hari. Begitu sesaknya hingga mereka berdua tidak mendapat kursi, dan harus berdiri. Tetapi berbeda dengan Bulha yang berpegangan dengan kedua tangan, Haran hanya berpegangan dengan satu tangan. Entah apa isi tas plastik di tangan satunya hingga ia tak rela melepasnya. Dan topik kemacetan pun menjadi pengisi obrolan pengalih rasa letih mereka.

Haran: Gue gak ngerti deh Bul dengan Jakarta ini, tiap hari makin macet aja gue lihat.

Bulha: Iya, ini cuma mau dari Lebak Bulus ke ITC Permata Hijau aja udah setengah jam gak sampai-sampai. Gak gerak gini.

Haran: Gue yakin, pasti ini karena makin banyak kendaraan baru. Terang aja makin macet jalanan.

Bulha: Ya.., gimana ya Ran. Itu kan hak orang juga mau beli kendaraan. Masa mau dilarang.

Haran: Ya gak dilarang Bul. Tapi kan mbok ya penduduk Jakarta ini punya kesadaran. Kalau semua orang satu-satu bawa mobil sendiri-sendiri ya terang aja gak gerak gini jalanan.

Bulha: Ya terus kalau gak punya kendaraan mereka mau naik apa Bul? Naik karpet gitu, kaya Aladin maksud lo?

Haran: Bukan Bul.. Ya naek kendaraan umum lah. MetroMini, Kopaja AC, atau kaya kita gini, naik TransJakarta. Kalau kata ahli-ahli di Eropa sono, negara yang maju itu bukan negara di mana penduduknya bawa mobil sendiri-sendiri, tapi justru negara yang penduduknya pada make transportasi publik.

Bulha: Ahh.., tapi kan lo tau sendiri Ran. Naik angkutan publik di Jakarta ini kan tersiksa. MetroMini banyak yang ngamen, copet, penodong, ugal-ugalan. Kopaja AC mendingan, tapi bisnya masih jarang-jarang. Bisa lumutan ditungguin. TransJakarta? Beuhhh.. Ya kaya kita gini, jadi ikan asin deh tiap pagi.

Haran: Ya.. memang gak super nyaman lah Bul. Tapi kan pelan-pelan dong. Ini masalah faktor kebiasaan aja kok Bul. Toh bisnya juga diperbanyak terus kok. Dasar mental penduduk nya aja yang egois.

Bulha: Ahh, entahlah Ran. Pemerintah juga aneh sih, malah ngeluarin “mobil murah” lagi. Aneh

Haran: Nah iya tuh.. Mobil harga normal aja masih rame yang beli, apalagi ada program mobil murah. Sakit jiwa nih pemerintah.

(terdengar suara pengumuman dari loudspeaker TransJakarta, “Pemberhentian selanjutnya, halte Permata Hijau. Perhatikan barang bawaan anda, dan hati-hatilah melangkah.” Bulha dan Haran pun buru-buru keluar.)

Haran: Ohh… kamprettt..! Tas plastik gue jatoh deh kayaknya pas rebutan keluar tadi. Arghh..! Kemana ya??

Bulha: Hah? Gak lihat tadi gue. Udahlah, tas plastik gitu doang.

Haran: Enaaak aja. Bukan masalah tasnya Bul. Itu isinya yang penting.

Bulha: Apaan emang isinya?

Haran: Semaleman gue begadang. Lagi ngebandingin spek mobil keluaran Suzuki, Toyota sama Honda. Program mobil murah itu looh. Kan sekarang sudah lumayan terjangkaulah lah cicilannya. Jadi gue mau beli Bul. Nah di tas plastik itu lengkap perbandingan spesifikasi sama detail hitung-hitungan cicilannya.

Bulha: (bengong, sambil melirik tas plastik Haran terselip di bawah tangga halte)

Haran: Ahhh.. sialan.. Mana nanti sore gue mau ke showroom lagi. Kamprettt, kamprett..!

Bulha: (membuka ritsleting celananya)  Ran..!

Haran: Hah. Kenapa? (belum sadar apa yang terjadi)

Bulha: (mengencingi tas plastik Haran) Dapat salam Ran dari “ahli-ahli di Eropa” ..

Haran: (melihat ke bawah tangga halte) #*=^)%~$ <#@ !!!!

 

Catatan:

Haran ini mewakili sebagian warga Jakarta yang getol teriak-teriak Jakarta makin macet, terlalu banyak mobil pribadi, kampanye penggunaan angkutan publik, dan terus menyalahkan pemerintah, tapi sambil memesan mobil idamannya di showroom.

Lihat dialog Bulha dan Haran lainnya.

5 Comments

  • At 2014.03.13 13:04, christin said:

    mending kita survei harga rumah di BSD aja yuuukkkk

    ((( KITA )))

    • At 2014.03.13 16:49, Okto Silaban said:

      *brb* bikin lagu tentang kita..

    • At 2014.03.17 09:31, galihsatria said:

      Saya mungkin termasuk orang seperti Haran, memaki-maki dan mengeluh macet, tapi tetap saja egois. Mungkin egois adalah salah satu cara bertahan hidup di Jakarta :mrgreen:

      • At 2014.03.17 10:27, Okto Silaban said:

        Sudah karakter wajib kali ya bro.. 😀

      • At 2014.03.18 14:22, Berbara said:

        Setuju gan, emang gitu, berpikir mengubah yang besar, padahal diri sendiri aja belum berubah

        (Required)
        (Required, will not be published)

        tomat