Apakah Menjadi Pengusaha Lebih Mulia?

Beberapa kali saya membaca tulisan yang menyebutkan bahwa menjadi pengusaha itu lebih mulia. Kenapa? Karena pengusaha itu membuka lapangan pekerjaan, yang berarti secara tidak langsung dia ikut membantu kehidupan keluarga para karyawannya. Jadi kalau karyawannya ada 10, dan masing-masing karyawan menghidupi 3 orang di rumahnya, dia sudah berjasa membangun kehidupan 30 orang.

Alasan lainnya, pengusaha itu harus mati-matian berurusan sama pajak, pemerintah, hukum, preman (terorganisir maupun tidak), dll. Karyawan gak tahu itu. Mereka tahunya kerja, terima gaji.

Lalu apakah ini berarti karyawan itu kurang mulia? Atau justru hina?

Jadi apakah pengusaha dengan 30 karyawan itu lebih mulia daripada guru-guru di pelosok desa yang hanya mengajar 10 orang, yang gajinya belum tentu dikirimkan, yang untuk makan sendiri pun susah?

Apakah pengusaha juga lebih mulia daripada buruh pabrik batu bata di desa-desa di Sumatra sana? Yang harus berjuang agar anak-anaknya sekadar bisa lulus SMP agar bisa kerja jadi office boy di kota?

Berarti Nazaruddin (yang ditangkap dan dipenjarakan oleh KPK) itu juga mulia dong. Berapa banyak proyek ajaib yang dia buat. Tiap proyek ini (contoh membangun rumah sakit), saja bisa menyerap 100 orang lebih tenaga kerja. Dan proyek dia bukan cuma ini. Bayangkan berapa ribu orang yang dia bantu dengan bisnis-bisnisnya ini.

Urusan hukum, pajak, pengadilan, preman, dll. Wahh.., Nazarudin kurang menderita apa coba. Belum lagi diadili di media. Persepsi publik. Keluarganya yang dibenci masyarakat. Karyawannya enak, cuma tahu kerja dan terima gaji. Jadi dia mulia sekali, begitu ya?

Saya masih enggak mengerti logika kalau jadi pengusaha itu lebih mulia.

Saya sendiri pengen juga jadi pengusaha. Tapi yang jelas bukan karena saya ingin jadi lebih mulia.

Tangan boleh di atas, tapi hati jangan.

9 Comments

  • At 2014.04.23 10:08, prabuwardhana said:

    “Tangan boleh di atas, tapi hati jangan.” Apik iki…

    • At 2014.04.24 19:02, ariesusanto said:

      Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Menurut saya, pengusaha itu mulia. Setidaknya dibanding karyawannya.

      • At 2014.04.25 14:09, Okto Silaban said:

        Walaupun pengusahanya bermain proyek kotor?

      • At 2014.04.25 04:48, jual jaket kulit pria said:

        mulia bila bisa memberikan lowongan pekerjaan bagi yang membutuhkan..

        • At 2014.04.25 14:09, Okto Silaban said:

          Walaupun perusahaannya didirikan dari proyek korupsi?

          • At 2014.06.05 15:01, Vavai said:

            Lha kalau contohnya yang negatif, mau jadi pengusaha atau pekerja sama saja lae. Contoh, apakah jadi pengusaha yang proyeknya dari korupsi, maka usahanya jadi mulia? Ya tentu saja tidak. Sama juga, kalau jadi pekerja tapi korupsi melulu, juga sama nggak mulianya.

            Apapun jenis pekerjaannya, yang penting adalah positif dan bermanfaat secara positif. Benar kata guru saya kang Dudi Gurnadi 😉

            • At 2014.06.06 01:26, Okto Silaban said:

              Iya saya juga setuju dengan kang Dudi. Jadi yang bikin seseorang mulia itu bukan dia pengusaha atau bukan. Sayangnya banyak orang yang merasa kalau dia jadi pengusaha pasti lebih mulia. Ini yang logika saya gak masuk.

        • At 2014.04.28 09:34, dudi said:

          sebagus-bagusnya posisi apapun tidak ada gunanya jika gak bermanfaat buat orang banyak.

          • At 2014.08.25 01:20, Emanuel Setio Dewo said:

            Rasanya “mulia” harus dilihat dari niat & caranya. Kalau “mulia” hanya diukur dengan berapa karyawan dan keluarga yg bisa dihidupi, itu tentu tidak benar.

            (Required)
            (Required, will not be published)

            pir