Media-Media Online Penyebar Fitnah

Semarak pemilu dan pilpres 2014 kali ini menyisakan satu bagian yang sangat mengganggu saya: media online penyebar fitnah.

Media-media jenis ini, sering membuat cerita narasi yang kontroversial. Dengan menghubungkan beberapa kejadian nyata dan fakta, dibumbui beberapa imajinasi dan cerita fiktif, dibuatlah artikel yang seolah-olah benar. Tidak lupa media abal-abal ini mendiskreditkan media-media besar yang sudah belasan atau puluhan tahun dianggap kredibel.

Biasanya media-media ini isinya sangat kental dengan nuansa provokasi berbau SARA. Tokoh-tokoh dengan latar belakang SARA tertentu diangkat profilnya dan dihubung-hubungkan dengan cerita fiktif lainnya. Kadangkala mereka melakukan rekayasa pengubahan gambar (image editing) demi memuluskan fitnah dan provokasi ini. Sambil tak lupa menuduh pihak lain lah yang melakukan rekayasa gambar.

Mereka yang Terpelajar

Saya maklum kalau mereka yang “termakan” tulisan-tulisan seperti ini adalah mereka yang secara pendidikan kurang, atau akses mereka ke media informasi yang akurat kurang. Jadi kemampuan mereka menyerap, mencerna dan memverifikasi informasi terbatas.

Yang sangat menyedihkan, mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, sarjana dari kampus ternama, bahkan pernah melanjutkan studi tingkat tinggi di negara maju, menempati posisi tinggi di institusi ternama.. –pun ikut “termakan” cerita dan tulisan-tulisan abal-abal ini. Sedih sekali saya.

Sebenarnya, seringkali hanya dengan sedikit googling pun kita sudah bisa mengetahui bahwa tulisan tersebut nyata-nyata bohong. Dan lebih parah lagi, media yang sudah beberapa kali terbukti nyata-nyata berbohong, tetap dijadikan referensi oleh mereka yang dikatakan “terpelajar”.

Ada juga yang lucu, ada saja orang yang aktif menyuarakan di social media agar jangan termakan cerita HOAX (berita / tulisan fiktif dan fitnah), padahal selama ini orang tersebut sering membagikan tulisan dari media-media HOAX di akun social medianya. Lucu.

Saya tidak menyangkal kalau ada media besar dan kredibel yang condong ke pihak-pihak tertentu. Tetapi setidaknya mereka tidak “ngarang-ngarang berita yang nyata-nyata bohong”. Dan ini bukanlah pembenaran untuk menebar fitnah membabi buta.

Yang saya khawatirkan, jika propaganda fitnah seperti ini terus berlangsung, bahkan skalanya semakin masif, tidak menutup kemungkinan sebagian warga negara kita yang mentalnya masih “labil” itu akan bergerak liar. Akan banyak penumpang gelap jika hal ini terjadi.

Batasi Kebebasan Pers?

Di sisi lain.., saya juga tidak setuju jika kebebasan pers kembali dikungkung seperti jaman Orde Baru. Mungkin memang ini harga yang harus dibayar untuk kebebasan pers, tetapi janganlah kita mundur.

Semoga masyarakat kita semakin dewasa. Punya kemampuan mencerna dan memverifikasi tulisan dengan lebih baik.

2 Comments

  • At 2014.07.14 16:12, Maridjan Kartosoewirjo said:

    Ga sekalian dikasih contohnya Mas?
    Biar pada tahu samplenya gitu…

    • At 2014.07.14 16:42, Okto Silaban said:

      Gak perlu dicontohkan lagi sih.

    (Required)
    (Required, will not be published)

    pepaya