Tokopedia vs Koprol

Sekitar tahun 2009, sewaktu berkunjung ke Jogja, saya dan seorang sahabat lama ngobrol soal startup-startup di Indonesia. Waktu itu yang cukup hot adalah Koprol. Menarik, karena eksekusinya serius. Tapi dalam pandangan saya waktu itu Koprol bukanlah sesuatu yang akan bertahan lama. Tapi lebih kepada trend. Seperti film bioskop, heboh untuk beberapa waktu, setelah itu jadi pembicaraan, tetapi orang-orang tidak lagi mau membeli tiket untuk menonton film ini beberapa bulan kemudian.

Waktu itu sahabat saya berpendapat lain, menurutnya Koprol di masa depan tetap akan besar, tapi mungkin tidak di kota besar lagi, mungkin geser ke kota “lapis dua”. Yang di kota besar cepat bosan, yang di daerah lebih lama mengadopsi trend, kurang lebih begitu ujarnya. “Kalau menurutku sih Tokopedia yang kans nya bakal bertahan lama,” sanggah saya.

Tim Tokopedia yang (setidaknya di mata saya) terkesan low-profile, tidak gembar gembor di media, jarang “show-off” di acara-cara startup yang ramai kala itu, membuat saya justru yakin dengan potensi mereka.

Akuisisi Koprol

Pada Mei 2010, Koprol diakuisisi Yahoo. “Tuh kan bener, potensinya besar. Yahoo aja bisa lihat itu.” ujar sahabat saya itu sumringah. Saat itu saya juga jadi agak ragu. “Ahh, mungkin memang saya salah melihat potensi Koprol.” Belum ada berita heboh dari Tokopedia yang saya dengar kala itu.

Lalu di penghujung tahun 2010, dalam sebuah acara di Kempinski, tersebut kabar kalau transaksi perbulan yang terjadi di Tokopedia sudah mencapai sekitar 3 Miliar Rupiah per bulan. Yang kemudian dikomentari oleh CMO Kaskus kala itu, “Sori ya, di Kaskus kita sudah 6 Miliar per bulan.” sambil setengah bercanda. Tapi tetap tidak ada kesan gembar-gembor berlebihan yang dilakukan oleh Leon maupun William (para pendiri Tokopedia). Entahlah kalau tidak sampai ke telinga saya.

Di sekitar kuarter ketiga tahun 2011, di sebuah kafe di Grand Indonesia, saya berdiskusi dengan salah satu pendiri startup (yang akhirnya mendapatkan investasi sekitar 3,5 Miliar dari venture capital asal Jepang). Dia menanyakan ke saya, dari segitu ramainya startup Indonesia, mana yang kira-kira bakal bertahan lama atau berkembang pesat. Jawaban saya tetap sama, Tokopedia, walaupun saya sudah lama tidak mendengar kabar tentang Tokopedia. Oh, pilihan teman saya ini? Ya startup dia sendiri pastinya. Haha.

Magud

Lalu Agustus 2012, terjadilah kegemparan. Koprol akhirnya magud. Ya banyak faktor sih tutupnya. Faktor utamanya sepertinya karena CEO Yahoo kala itu (Carol) memutuskan untuk mengarahkan Yahoo menjadi perusahaan media, bukan lagi perusahaan teknologi. Walaupun akhirnya Carol pun dipecat, tapi nasi sudah jadi bubur. Koprol sudah ditutup. Founder asli Koprol waktu itu kabarnya mau meluncurkan ulang Koprol. Tapi sampai hari ini masih tidak kelihatan tanda-tandanya.

1,2 T

Dan, pada Oktober 2014, setelah dunia startup Indo lama senyap, terjadi kegemparan lagi. Tokopedia membukukan investasi senilai 1,2 Triliun Rupiah ! Nah, ramalan saya tahun 2009 jadi kenyataan. Koprol tidak bertahan lama dan Tokopedia masih bertahan. Kalau waktu itu saya dan sahabat saya itu taruhan, saya sudah menang nih. Hehe.

Tapi itu dulu. Sekarang saya tidak lagi melihat Tokopedia sebagai perusahaan yang akan dijalankan jangka panjang (seperti eBay, atau Amazon). Sepertinya Tokopedia sekarang mengincar exit (ala Instagram, WhatsApp, dkk). Atau memang dari dulu targetnya exit ya?

Eh iya, Taobao kan belum masuk Indonesia tuh. Di China sana, eh.., Tiongkok kalau kata Pak SBY, Taobao kan besar banget. Ntar kalau dia nyusul “saudaranya”, Baidu, masuk pasar Indonesia, kan lebih masuk akal kalau dia akuisisi aja ketimbang bikin baru. Nah, apa itu target Tokopedia sekarang? 😀 Toh, role model nya William memang Jack Ma sih.

[UPDATE]

Tanggapan langsung dari William bisa dibaca di komentar di bawah.

2 Comments

(Required)
(Required, will not be published)

apel