Bekerja dari Rumah Tidak Selalu Lebih Baik

Kalau dengar pembicaraan orang-orang di kantor, sepertinya banyak sekali yang kepingin “work from home”. Ceritanya kerja remote gitu. Enak, gak perlu habisin waktu macet di jalan. Bisa sambil ngurus anak. Bisa bebas pake baju, gak pake baju pun bisa.

Untuk urusan komunikasi gampang. Ada Lync (kalau yang pake Microsoft-based), bisa chat, video maupun audio call, bisa share screen bahkan remote desktop juga. Katanya lagi, toh dalam satu gedung pun kenyataannya seringkali komunikasinya email-email-an toh. Jadi sama aja.

Menurut saya sih, ada banyak hal yang akan lebih cepat dilakukan jika orang-orangnya bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat di lokasi yang sama. Yah ini selalu jadi perdebatan sih. Mungkin kapan-kapan saya bahas jadi tulisan sendiri.

Tapi, saya lebih melihat dari lingkungan sosial. Kalau kerja remote terus dari rumah, lalu dalam sebulan cuma 4 kali ke kantor, saya rasa tidak bagus untuk hubungan sosial dengan sesama rekan kerja, apalagi dengan kultur Indonesia yang “sangat sosial” ini ya.

Karena momen-momen kerja bareng di kantor, atau sekadar makan siang bareng, atau kabur sebentar beli snack sore itulah yang membangun keakraban. Dari situ kadang berkembang jadi piknik bareng di akhir pekan rame-rame. Keakrabannya akan terbentuk secara natural, tanpa perlu dibuat kegiatan tranining khusus dari tim HR. Ya, walaupun mungkin tetap ya, di belakang diam-diam saling menggosipi. Hehe.

Betul memang keakraban antar karyawan, dengan “engagement” karyawan ke perusahaan itu bisa berbalik kondisinya. Tetapi, keakraban antar karyawan sendiri saja sudah membuat suasana kerja menjadi lebih baik.

Yahoo dan (kalau tidak salah Hewlett-Packard) dulu termasuk yang jadi pionir untuk pola bekerja dari rumah ini. Tetapi dari yang saya baca, belakangan mereka malah mengurangi secara signifikan jumlah karyawannya yang bekerja dari rumah. Alasannya klasik, lebih mudah koordinasi dan komunikasi.

Memang tidak semua jenis bisnis, dan skala perusahaan cocok menerapkan sistem kerja dari rumah ini menurut saya. Apalagi kalau yang motivasi karyawannya bekerja dari rumah adalah: biar bisa sambil masak, nonton TV, main game, bikin kue. 😀

3 Comments

  • At 2015.02.26 14:56, zam said:

    aku bekerja dari rumah. menurutku intinya sih di komunikasi. aku jarang bertememu langsung dgn rekan kerja, tapi kami tetep bisa akrab dan share banyak hal di grup Telegram.

    dalam pekerjaan, kami berkomunikasi dalam segala channel. email, skype, telegram menjadi riuh.

    tim di kantorku kecil sih, cuma 9 orang, dan kedekatan personal merupakan salah satu hal yang penting dalam pekerjaan.

    di satu sisi memang akan lebih menyenangkan dan cepat jika bertemu langsung. makanya dalam beberapa waktu, aku ke kantor dan bertemu dgn rekan-rekan sekantor.

    efek kurang baik lainnya, seringkali urusan kantor dan personal tercampur. ini sih selama enjoy ya bukan masalah, sih.

    • At 2015.02.26 15:06, Okto Silaban said:

      Betul Zam, makanya aku rasa skala perusahaan itu menentukan. Kalau ala corporate besar yang karyawannya ribuan, menurutku sih bakal kaya uraianku di atas. Tapi kalau timnya kecil, under 30-an, masih OK lah.

      Sama industri nya juga sih. Kalau industrinya kreatif, cocok banget. Coba bisnisnya banking (bank BPR misalnya). Walaupun timnya kecil, mungkin cuma 30 orang. Tapi work-from-home bakal ngerusak kepercayaan clientnya tuh.

      • At 2015.02.26 15:13, Okto Silaban said:

        Loh, ini plugin comment ku error toh? :O

    (Required)
    (Required, will not be published)

    sirsak