Tawaran Asuransi dari Telemarketer Bank, Untung atau Rugi?

Beberapa kali saya mendapatkan tawaran asuransi (ehm, istilah mereka sih “Perlindungan Diri”) dari beberapa telemarketer bank, entah bank yang saya jadi nasabahnya, ataupun bank lain. Pada umumnya tawarannya kurang lebih sama seperti ini:

  • Biaya premi tetap selama 10 tahun
  • Di tahun ke 10 seluruh premi yang kita bayarkan akan dibayarkan 100% (tanpa potongan biaya apapun)
  • Melingkupi asuransi kesehatan, termasuk kematian. Bahkan ada yang bahkan kematian yang disengaja, alias bunuh diri (setelah 13 bulan jadi nasabah). Jadi kalau di bulan ke-14 stress, mau mati aja, bisa bunuh diri, nanti ahli warisnya dapat duit. Setidaknya begitu kata marketer nya.
  • Komitmen harus 10 tahun, jadi dibawah 10 tahun gak bisa menarik dananya.

Nah selain itu point-point di atas detailnya bervariasi. Misal, besar premi, detail cakupan yang masuk dalam asuransi, term pembayaran kembali premi, dan lain-lain.

Kalau anda kerja sebagai karyawan tetap di perusahaan, dan dari kantor sudah mendapatkan jaminan asuransi kesehatan, lalu karena UU yang baru, pasti juga mendapatkan asuransi BPJS, kira-kira untung atau rugi kalau mengambil tawaran asuransi seperti di atas? Mari kita ulas.

Biaya Tetap

Anggap biaya preminya 200rb per bulan. Jadi setahun 2,4 juta, atau 10 tahun 24 juta. Dengan asuransi di atas, maka kita membayar premi per bulan 200rb. Si marketer pasti akan bilang “Enak lho Pak, preminya tetap selama 10 tahun. 5 tahun lagi, bayar 200rb perbulan pasti tidak terasa sebesar sekarang”. Kelihatannya iya juga ya? Biaya obat-obatan kan dalam 5 tahun pasti naik lebih mahal. Anggap aja inflasi 7% per tahun, maka 5 tahun lagi biaya pengobatan bisa naik 35%, sementara premi kita tetap 200rb/bulan.

Nah, jangan senang dulu, cek lagi. Apakah tanggungan kesehatan kita juga naik? Misal batas tanggungan jika kita sakit adalah 150 juta. Kalau 5 tahun lagi batas tanggungannya juga tetap sama, berarti sebenarnya nilai 150juta nya juga sudah berkurang. 150 juta sekarang, 5 tahun lagi itu, nilainya sudah berkurang 35%. Sebagai contoh aja, sekarang dengan 150juta, mungkin bisa mengganti ruas tulang leher yang rusak dengan bahan sintesis, tetapi 5 tahun lagi bisa jadi 150juta sudah tidak cukup.

Sementara di satu sisi, tidak penting-penting sekali cover tanggungannya itu. Karena dalam contoh ini, sudah ada asuransi kesehatan dari kantor, plus dari BPJS (BPJS cover nya malah luas sekali dan biayanya sangat murah). Oke, sebagian orang akan bilang “Kan bisa double claim bro..”. Contohnya begini: Saya kecelakaan dan patah tangan. Pengobatannya menghabiskan biaya 10juta. Dari BPJS atau asuransi kesehatan dari kantor kan sudah ditanggung, jadi kita gak keluar duit. Nah, katanya sih.. kita bisa klaim lagi ke asuransi dari bank ini. Jadinya malah untung. Dapet duit 10juta. Tapi ya.. gitu deh.., pada dasarnya kita baru dapet duit kalau celaka. Agak sulit menyatakan ini sebagai untung ya.

Dana Utuh

Nah satu lagi yang dijual adalah, kalau asuransi biasa, kita tiap bulan bayar premi, tapi uang premi ini (biasanya) tidak bisa kembali. Sementara kalau penawaran yang saya ulas ini, setelah 10 tahun uangnya kembali. Dengan contoh di atas, artinya kita naruh duit 24 juta selama 10 tahun, dan setelah 10 tahun, duitnya dikembalikan 100%, gak ada potongan apapun. “Duitnya utuh mas bro..!” Yakin?

Kalau ditanya apa gak mending 24 juta itu ditabung aja selama 10 tahun? Marketernya sudah siap dengan jawabannya : Rugi mas bro..! Bunga tabungan itu paling 2% setahun. Masih potong pajak, dan biaya administrasi. Jadinya bisa-bisa malah rugi. Di tahun ke-10 duitnya jadi berkurang. Biasanya gitu jawaban mereka.

Keliatan masuk akal kan? Ya.., karena dibandingkan dengan tabungan biasa. Padahal tabungan biasa itu, kapan saja (dalam periode 10 tahun itu), bisa diambil, dan digunakan. Sementara dengan asuransi ini, selama 10 tahun, uangnya mengendap gak bisa diapa-apain. Harusnya kalau mau adil, dibandingkan dengan deposito aja. Bunganya sekitar 5% per tahun, setelah potong pajak jadinya bunga efektif sekitar 3% per tahun. Ya gak besar-besar amat sih, masih kalah dengan inflasi yang sekitar 7% per tahun. Jadi totalnya nilai uang kita masih berkurang sekitar 4% per tahun (nilai inflasi – bunga efektif deposito).

Dibanding yang katanya “100% kembali” sih, ya deposito masih mending sih. Karena yang 100% itu belum memperhitungkan inflasi. Yang artinya, nilai uang kita berkurang sekitar 7% per tahun, alias di tahun ke-10 berkurang 70% nilainya. Duitnya utuh.., tapi nilainya jauh berkurang mas bro..!

Detail

Kalau secara penjelasan dan contoh sederhana di atas sih, saya tidak tertarik ikut. Uang yang bisa saya bayarkan untuk premi itu, lebih baik saya masukkan reksadana saham. Di reksadana saham (ini rata-rata kasar aja ya), kenaikan per tahunnya bisa 10% lebih. Ada yang bisa lebih dari 15% per tahun (kalau dirata-rata). Jadi dibandingkan inflasi pun tetap masih untung.

Tapi ya itu tadi, saya sih belum melihat detail-detailnya. Siapa tahu, ternyata biaya premi ada yang tetap selama 10 tahun, tetapi cover nya naik tiap tahun. Ini kan lumayan. Atau misalnya semua jenis penyakit dan penyebab kematian ditanggung, dengan waktu reset tiap 3 bulan. Hehe.

“The devil is on the detail”, begitulah kesimpulannya.

1 Comment

  • At 2015.02.26 15:15, Okto Silaban said:

    Test comment. Pluginnya sepertinya error.

    (Required)
    (Required, will not be published)

    pir