Tak Pindah Kota

[Ilustrasi: born1945 | flickr.com]
“Hubungan gue sama cowo gue itu ya sama aja kaya hubungan lo nyett”, ujar Irene sambil membereskan meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Sebagian besar karyawan di lantai ini sudah pulang. Tidak sampai 5 orang yang masih tersisa. Dengan hanya lampu penerangan di meja, wajah Haran hanya terlihat samar-samar di depan meja Iren.

“Kaya hubungan gue gimana? Gue gak punya pacar kok.” Haran mengarahkan wajahnya kepada Irene, sambil sesekali melirik layar laptopnya sendiri yang menampilkan tulisan “Windows is shutting down…”.

“Yee.. siapa yang bilang pacar?”
“Lah terus?”
“Kaya hubungan lo sama kota Jakarta. Kota yang lo bilang keparat. Gak ada kualitas hidup. Orang kecil cita-citanya jadi preman. Orang gede jadi makin kaya karena ngendaliin organisasi preman. Tapi nyatanya lo gak pindah kota juga kan? Tetap aja lo di sini.” Senyum di wajah Irene setengah mengejek. Seakan baru memenangkan lomba debat.

“Lo salah nyet. Gue gak pindah kota cuma karena satu hal aja sih.” Haran memasukkan laptopnya ke dalam laci. Dia tidak melirik Irene sama sekali kali ini.

“Apa?! Karir? Tempat hiburan? Bidang kerja lo gak ada di kota lain? Malu pulang kampung? Ahh.. basi nyett..” Irene menampikkan tangannya ke udara.

“Bukan nyet. Gue gak pindah kota, karena lo cuma mau tinggal di Jakarta.” Haran menatap lurus ke mata Irene.

“Ihh.. kenapa bawa-bawa gue?” Irene merasa dituduh. Raut wajahnya tampak tak suka. Makin terlihat jelas karena Irene sedang berusaha mengikat rambut panjangnya.

Haran terdiam, seperti baru menyadari apa yang dikatakannya. Ia menunduk, diam, seperti terdakwa yang baru divonis hukuman penjara. Tangannya kembali sibuk. Merapikan botol minum, logout Cisco, dan mengunci laci.

Lalu raut wajah Irene pun seketika berubah. Kedua tangannya melepaskan rambutnya yang belum terikat. Ia seperti baru mencerna apa yang dikatakan Haran.
“Eh.. Bentar..bentar. Maksud lo?” kali ini Irene yang berdiri kaku.

And the player gonna play..play..play..play.. –ponsel Irene berbunyi. Irene memang penggemar lagu Taylor Swift. Irene dan Haran melihat nama penelpon yang muncul. Sebuah nama pria. Pria yang belum pernah bertemu dengan Haran, dan memang tidak ingin Haran temui. Sesekali Irene menyinggung nama ini, walaupun Haran selalu tidak nyaman mendengarnya.

“Tuh cowo lo nelpon. Gue cabs ye nyet..” Haran mengambil ID Card karyawannya di atas meja, lalu berlalu bersama tas ransel dan laptopnya.

**akibat kebanyakan baca Short Story nya Billy K nih.

No Comments

(Required)
(Required, will not be published)

apel