I am a programmer, and I have no life

imageKalimat ini beberapa kali saya temui di gambar – gambar lucu yang disebarkan teman – teman saya. Ini setengah bercanda setengah serius sih ya. Karena memang ada beberapa orang yang begitu cinta dengan programming. Sehari – hari bekerja sebagai programmer. Kemudian karena batas waktu proyek, seringkali harus bergadang hingga larut malam untuk meneruskan coding.

Ketika tiba waktunya akhir pekan ataupun hari libur, si programmer ini menikmatinya dengan menekuni hobinya, yaitu : programming. 

**gambar diambil dari sini

Python HTML Parsing

Lama tak update blog ini. Tak terasa sudah 6 tahun usia blog ini, tepatnya bulan November tahun lalu.

Saya cuma mau masang code ini aja 😀

from lxml.html import parse
doc = parse('http://www.google.com').getroot()


for link in doc.cssselect('div.metadata h1 a'):
print '%s: %s' % (link.text_content(), link.get('href'))

Cari Developer Itu Susah Kawan !

Masih berkaitan dengan Indonesia di TechCrunch. Ada banyak poin yang bisa dijadikan catatan. Saya menyoroti satu hal : Ternyata yang sulit di Indonesia itu adalah mencari developer, bukan pendanaannya !

…Instead, the pain point is finding developers. In Indonesia, developers are considered an entry level position, not a lucrative career path. Most companies have to invest six months or so in training the talent they need, making scaling up a challenge.

Hah?! Dengan sekian banyak website bertema programming dan development (khususnya web), belum lagi milis – milis. Ternyata susah mencari developer?!!

Oohoo.. Bukan berita baru sebenarnya. Tanyakan pada mereka yang mencari programmer, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan programmer berkualitas? Sebuah perusahaan dari grup bisnis yang sangat besar di Indonesia, dalam waktu 6 bulan pun masih belum bisa mendapatkan satu orang programmer web, dengan spesifikasi standar.

Lalu apa penyebabnya ? Saya coba rangkum. (silahkan tambahkan di kolom komentar kalau anda punya masukan baru)

Gaji

Isu sangat sensitif ini. Dan seringkali jadi pertimbangan utama (ya sama lah dengan lowongan kerja lainnya). Ada yang menawarkan standar salary yang tidak masuk akal untuk standar hidup di Jakarta. Tapi berhubung perusahaan ini punya label nama yang mentereng, banyak yang rela mengantri (sebelum akhirnya pun mengantri untuk resign).

Ada juga yang minta minimal requirement kaya dewa (yah.., para developer pasti tahulah), tapi dengan gaji standar UMR.

Nama Besar

Lalu, apa tidak ada yang menawarkan gaji besar? Ohh ada.. Tapi minimal requirement nya tinggi ya? Tidak juga..  Tapi kok gak dapet – dapet programmernya?

Nah sama juga seperti lowongan kerja lainnya. Nama besar penting. Kalau perusahaan ini masih baru (khususnya startup) mereka yang punya kualitas tinggi pun tetap akan membandingkannya dengan lowongan sejenis dari perusahaan yang punya nama besar. Apalagi kalau multinational company. Apalagi kalau oil & gas company.. (jujur..!) Read more Cari Developer Itu Susah Kawan !

Hati – hati Dengan Source Code Web Anda

Pagi ini saya melakukan googling dengan kata kunci nama seseorang. Saya cuma penasaran orang ini bidang keahliannya apa. Dan secara tidak sengaja, hasil search di Google menampilkan sebuah link ke alamat SVN (Subversion) repository.  Ditilik dari domainnya, saya ketahui kalau itu adalah sebuah situs penyedia layanan SVN Repository komersial.

Tapi yang membuat mata saya tak berhenti berkedip adalah link subfolder yang namanya kebetulan sama dengan nama salah satu portal yang cukup besar di Indonesia. Ok, saya klik. Dan benar saja isinya adalah source code PHP. Satu demi satu saya jelajahi berkas script yang ada di repository SVN tersebut. Saya semakin yakin kalau ini memang script dari portal tersebut. Dan bohong kalau saya bilang saya tidak mendownload script tersebut.. (tapi cuma untuk referensi pribadi saja, bukan untuk yang aneh – aneh kok..).

Dan… heii…. Ini memang source code portal yang saya duga di awal tadi!  Lengkap dengan file SQL nya, patch SQL nya, bahkan password root di database MySQL server nya..!  (mantap..).

Karena source code webnya sudah di laptop, ndak ada salahnya dicoba dijalankan di localhost toh? Dengan sedikit penyesuaian akhirnya web itu jalan di localhost. Walaupun memang ada bagian – bagian yang error, karena berkas SQL tadi hanya berisi structure saja, tidak dengan datanya. Dari bentuknya, versi online portal tersebut tidak ada yang berbeda. Apa memang ini versi terakhirnya ya?

Jadi buat anda, mereka, dia maupun saya.. Berhati – hatilah meletakkan source code web kita. Mungkin kalau script nya diambil orang tidak begitu masalah. Mau dipakai buat apa juga? Bikin portal serupa? Ahh.. ndak masalah kalau itu. Yang menurut saya menjadi masalah adalah keamanan data di website (atau server web) itu sendiri. Kata orang bijak: “Laptop boleh saja hilang, tapi jangan datanya..”

Ya.., lumayanlah sekarang saya jadi tau dikit – dikit tentang (ehm..) Fusebox 😉

Eh tadi dah sempat mau nyanyi gini :

“..daripada cuma dapet di Google..

Mendingan tak commit toh.., enak toh.., mantep toh..

Tak commit.. kemana – mana.. 2x”

– mbah SVN