Minor Redesign LABANA.id

Belakangan saya lebih banyak menulis di LABANA.id ketimbang di blog ini. Sudah lama memang saya kepingin memisahkan tulisan yang memang personal dengan tulisan yang rada serius. Setahun lalu, proyek eksperimen itu dimulai. Sempat berhenti, tahun ini eksperimennya berlanjut kembali. Belum tahu sampai kapan.

Dalam beberapa minggu saya bolak – balik mengubah desain blog LABANA ini (sambil tetap menulis tentunya). Tujuan akhir desain blog ini cuma 3:

  • Agar membaca blog ini (UI/UX-nya) nyaman, tidak terganggu elemen-elemen yang tidak penting.
  • Desainnya gak jelek-jelek amat.
  • Berlaku di desktop maupun di ponsel (kalau bisa tablet juga).

Hasilnya sementara ini seperti ini:

Halaman depan

Halaman detail artikel

Beberapa waktu ke depan, seiring bertambahnya konten, desain ini kemungkinan besar akan mengalami perubahan pula. Jangan kaget ya.

Oh iya, kalau ada yang sering baca tulisan saya yang rada-rada serius di sini dan masih kepengen baca tulisan lainnya, silahkan kunjungi LABANA aja.

Ini beberapa contoh tulisan saya di LABANA yang mungkin bisa dibilang rada-rada serius itu:

Selamat membaca.

Andrew Darwis Menanggapi Situasi Dunia Startup Indonesia Belakangan ini

Satu hal yang harus diingat, startup itu bukan “overnight success”, butuh pengorbanan waktu dan passion terhadap product tersebut.

Banyak startup yang baru dibuat (hanya bermodalkan) business plan, (lalu) “digoreng” -jual ke investor, jual lagi ke investor lebih besar, again… and again. It works and some startup doing it. Tapi gak semua bisa beruntung mendapatkan investor. Akhirnya startup yang tidak beruntung dan gagal harus gulung tikar. Dan (ini akhirnya) membuat kepercayaan terhadap industri startup kurang bagus.

~Andrew Darwis (founder Kaskus) menanggapi situasi startup di Indonesia belakangan ini.

Sumber: Techinasia

Saling Berbagi Perusahaan Teknologi di Indonesia

[Foto: adders | flickr.com]
Saya pernah tahu ada acara-acara sharing session tentang topik spesifik yang disponsori oleh perusahan “teknologi” di Indonesia. Misal topik tentang NodeJS, PHP atau Python misalnya. Tetapi saya jarang mendengar sharing session tentang bagaimana teknologi di perusahaan itu sendiri. Baik tentang arsitektur teknologinya, cara mengatur orang dan fungsi-fungsinya, atau perangkat lunak/keras apa saja yang dipakai.

Kalau di luar negri ini seperti sudah jadi kegiatan rutin. Di YouTube banyak video-videonya. Jaman saya masih senang otak-atik dunia pemrograman, saya sering lihat video-video ini.

Blibli.com salah satu contoh yang baik. Minggu lalu mereka mengadakan acara sharing session. “Buka-bukaan” tentang teknologi yang digunakan mereka. Silakan baca detailnya di LABANA.ID.

Dengan acara seperti ini, efeknya bagus juga bagi para pelaku industri ini. Selain mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak, paling tidak mereka bisa mendapatkan informasi untuk peluang karir berikutnya. ūüėÄ

Nilai Akuisisi Startup Media di Indonesia

Rangkuman akuisisi yang saya ingat:

  • Detikcom (berdiri tahun 1999) dulu dibeli Trans Corp dengan harga sekitar Rp 500 M.
  • Kaskus (berdiri tahun 1999) gosipnya dibeli GDP (Djarum Group) dengan harga sekitar Rp 500 – 600 M.
  • KapanLagi (berdiri tahun 2003), valuasinya (gosip juga) sekitar Rp 1 T ketika sebagian sahamnya dibeli MediaCorp.
  • Hipwee (berdiri tahun 2014), nilai akuisisinya oleh Migmee adalah Rp 5,4 M. Situs ini sering disebut-sebut sebagai BuzzFeed nya Indonesia.

Semua contoh di atas adalah startup yang kriterianya didirikan di Indonesia, dan target pasarnya juga Indonesia. Hanya saja mereka masuk dalam kategori industri media online. Khusus 3 teratas, mereka didirikan di sekitar waktu tahun 1999 – 2003, sekitar 13 tahun lalu.

Sekarang lihat startup dengan dengan kriteria yang sama, tetapi bukan media online, alias mereka yang disebut “startup teknologi”.

Tokopedia (didirikan tahun 2009, 7 tahun lalu) – Pertama didirikan digelontorin dana Rp 2,4 M untuk 80% saham. Artinya valuasinya waktu baru berdiri sudah Rp 3 M. Sekarang? Dengan suntikan dana baru hampir Rp 2T, tentunya valuasinya sudah di angka triliunan Rupiah.

Go-Jek (berdiri tahun 2010, tapi baru aktif kembali sekitar tahun 2012 akhir) – Dikabarkan mendapatkan investasi ratusan juta dollar oleh Bloomberg.

Kesimpulannya, startup media di Indonesia memang angkanya gak bombastis kayaknya ya.

Startup Kecoa dari Indonesia

[Foto: stevebethell | flickr.com]
Kebanyakan startup lokal (yang baru berdiri) yang saya baca atau temui masih versi idealis. Jadi startupnya dibangun “mungkin” setelah banyak menelan cerita di media yang kurang lebih mengatakan: “Startup X itu awalnya cuma produk iseng. Terus dikembangkan aja pokoknya. Marketnya belum ada siih bukan masalah, justru dia yang bikin marketnya. Urusan ntar duitnya dari mana, belakangan. Yang penting growth-nya bagus. Growth hacking, bro!”

Seringkali mereka lupa, startup itu (seharusnya) adalah perusahaan. Bukan proyek akhir pekan, iseng-iseng berhadiah, atau sekadar mengisi waktu luang -kaya blog saya ini.

Tapi di Echelon 2016 kemarin, saya ketemu 2 startup yang berbeda. Konsepnya jelas, tim pendirinya juga kompeten, dan ini yang paling menarik, bisnisnya memang sudah jalan dan memiliki penghasilan. Ini kalau kata saya startup dengan paket lengkap. Mereka adalah NATAProperty, dan InsanMedika. (InsanMedika bisnis offline nya sudah jalan lama sih sebenarnya).

Di Sillicon Valley kan fokus investor sudah mulai bergeser dari “startup unicorn” ke “startup kecoa”. Startup kecoa itu artinya: realistis, tidak perlu besar-besar banget growthnya, tapi sustain terus dan bisa bertahan melewati berbagai situasi ekonomi. Kaya kecoa beneran, habis perang nuklir pun kemungkinan masih bisa hidup. Bahkan kepalanya dipotong aja masih bisa hidup lama. Dan kedua startup tadi masuk kriteria startup kecoa ini menurut saya.

Kalian mau jadi yang mana? Kecoa atau Unicorn?

6 Pelajaran dari Transfer Domain Antar Registrar

[Foto: pgs| flickr.com]
Baru-baru ini saya mentransfer domain saya ke registrar lain. Diperpanjang di sana untuk 10 tahun, lalu saya transfer balik ke registrar saya.

*Ngapain sih domainnya ditranfer ke registrar lain cuma untuk perpanjang 10 tahun?

Karena di registrar itu ada voucher yang gak kepakai.

Tetapi setelah berhasil diperpanjang 10 tahun,¬†ternyata domain itu tidak bisa ditransfer balik begitu saja.¬†Saya baru tahu kalau dalam transfer domain antar registrar itu ada yang namanya “Initial 60 Days“. Jadi sebuah domain tidak bisa ditransfer jika baru diregister atau diperpanjang dalam 60 hari terakhir.

Oh iya, ini beberapa hal yang perlu diketahui untuk transfer domain antar registrar:

  1. Whois Privacy (Protected Whois) harus dimatikan.
  2. Pastikan alamat kontak email di Whois domain tersebut masih aktif dan bisa diakses. Karena konfirmasi akan dilakukan ke alamat email tersebut.
  3. Unlock domain tersebut (biasanya secara default domain itu di-lock agar tidak bisa ditransfer).
  4. Pastikan anda tahu Auth Code / EPP Key domain tersebut. Kode ini akan diminta di registrar yang baru.
  5. Setelah proses transfer, akan ada proses konfirmasi ke email pemilik akun sebelumnya. Ini bisa memakan waktu beberapa hari. Dalam kasus saya kemarin, butuh waktu hampir seminggu.
  6. Selama proses transfer, konfigurasi Nameserver masih menggunakan registrar lama.

Perlu diingat, tentu saja akan tetap ada resiko transfernya gagal.

 

Tantangan Besar bagi MindTalk / Digaku

Beberapa waktu lalu Abang Edwin menulis¬†di blognya¬†perihal pengunduran dirinya dari jabatannya sebagai CEO Ansvia (PT yang menaungi MindTalk.com / Digaku). Saya melihatnya di Linkedin. Kami sempat sedikit “berdiskusi” juga di Linkedin soal MT ini.

*mungkin ada yang masih ingat, di tahun 2011 saya pernah mengulas MindTalk.com saat awal-awal baru diluncurkan. Secuplik sejarahnya ada di sana. Mungkin bagus juga baca dulu detailnya, lalu kembali ke sini.

Slack

Seperti saya sebutkan di review saya dulu, konsep awal MT/Digaku sebenarnya cenderung lebih mirip MIRC ketimbang Facebook Group. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mereka akhirnya memutuskan untuk berubah menjadi social media interest-based. Kalau menurut saya sih pada dasarnya ini adalah Kaskus versi modern.  Read more Tantangan Besar bagi MindTalk / Digaku

Founder Startup yang Tidak Meyakinkan

[Ilustrasi: motivatinggiraffe.com]
Saya sepaham dengan Paul Graham, dalam membangun startup itu founder punya faktor kuncian lebih signifikan dibandingkan ide startup itu sendiri.

Ini bukan soal foundernya lulusan kampus ternama dari Amerika, pernah bekerja di perusahaan konsultan manajemen kelas dunia, atau pernah bekerja di Silicon Valley. Tapi kombinasi dari semuanya. Bisa soal faktor tadi maupun soal karakter, intuisi, koneksi yang dimiliki, pengalaman, dll sampai soal latar belakang keluarga.

**

Sekitar setahun lalu seorang teman pernah mengenalkan seseorang kepada saya. Orang ini mempunyai ide startup yang menarik. Bukan ide baru sih sebenarnya, di Singapore, China dan Australia bisnis ini terbukti sukses, hanya saja di Indonesia belum ada yang memulai. Saya bahkan tidak ada tahu ada bisnis seperti ini. (Maaf, tidak bisa saya sebutkan apa nama startup dan detail bisnisnya.)

Saya sebenarnya tidak ada urusan dengan startup ini. Diskusi ini adalah antara si founder dan teman saya tadi. Mereka sedang menjajaki kemungkinan kerjasama. Saya ikut diskusi hanya untuk brainstorming, second opinion dan men-challenge ide-ide yang ada.

Keraguan

Singkatnya, setelah meeting itu selesai, saya mengatakan kepada teman saya, “Jujur aja bro, gue sih gak yakin bakal jalan startupnya. Bukan soal ide-nya sih, tapi momennya terlalu cepat untuk di Indonesia. Selain itu dia gak punya background technical dan gak punya orang technical, sementara¬†startupnya sangat related sama technical. Lagian kayaknya orangnya kurang fokus ya. Sepertinya bisnis keluarganya masih jadi fokus utama dia.”

Tidak adil sih memang mengambil kesimpulan seperti itu, karena saya cuma pernah ketemu sekali saja. Namun pembenaran saya waktu itu, toh biasanya founder startup hanya dapat kesempatan satu kali untuk membuat impresi pada calon investor.

Kenyataan

Fast-forward ke akhir 2015, ternyata startupnya berjalan juga. Dia mendapatkan pendanaan dari VC yang cukup populer di Indonesia. Kemudian dia berhasil mengukuhkan kerjasama startup-nya dengan pebisnis besar lainnya.

Lebih hebatnya, di awal 2016, saya mendengar startupnya hendak diakusisi oleh salah satu grup konglomerat Indonesia dengan angka yang cukup luar biasa. Namun investornya tidak memberikan lampu hijau. Menurut investornya, setelah valuasinya naik paling tidak 3000 kali lipat, barulah bisa dijual (exit). Saya enggak tahu akhirnya jadi diakuisi atau enggak.

Faktor X

Jujur saja, saya kaget. Ternyata saya terlalu meng-underestimate si foundernya. Mungkin dia memiliki faktor X yang tidak bisa saya lihat waktu itu. Atau (lebih mungkin) memang karena saya juga tidak (belum) mempunyai intuisi yang bagus untuk menilai karakter founder.

Intinya, kalau kalian sedang membangun sesuatu, entah itu startup, yayasan, komunitas, dll, jangan langsung down ketika ada yang mengatakan ide kalian itu tidak bakal jalan. Siapa tahu anda sama seperti founder yang saya ceritakan di atas. Atau siapa tahu yang memberi anda komentar itu cuma orang seperti saya, atau.. emm.. bisa jadi memang beneran perlu dipertimbangkan lagi sih idenya. ūüėÄ

Sekarang Saya Baru Paham Apa itu Storial.co

Baru saja kemarin saya nulis tentang Wattpad. Dan ini beneran loh, saya itu bener-bener baru tahu tentang Wattpad beberapa hari lalu. Sementara itu, lucunya, saya sudah tahu (dengar) Storial dari beberapa waktu lalu.

Jauh sebelum saya tahu Wattpad,¬†saya mendengar kabar ada “startup” baru lagi di Indo, namanya Storial.co. Sekilas baca deskripsinya ada kata “penulis” dan “online”. Langsung saja saya teringat NulisBuku.com. Dan benar ternyata, Ollie (pendiri NulisBuku.com) ternyata juga adalah pendiri Storial.co.

Sekilas baca, saya gak benar-benar ngerti detail apa sebenarnya Storial.co itu. Yang tertangkap di kepala saya adalah “Ini tempat penulis¬†cerita untuk bisa dapatkan uang. Jadi kaya NulisBuku.com, bedanya¬†di sini bacanya bener-bener online, bukan beli PDF dulu.”¬†Hingga akhirnya saya ketemu Wattpad (ya seperti ulasan saya kemarin).

Nah, tadi sebenarnya saya sedang mencari komunitas/grup pengguna Wattpad Indonesia. Dan ketemu lagi lah sama Storial. Nah.., sekarang saya baru paham apa itu Storial. Setelah kemarin beberapa hari menggunakan Wattpad, bagi saya, pada dasarnya Storial.co ini adalah versi Indonesia nya Wattpad. Seriusan, UI/UX nya aja mirip banget.

Di satu sisi saya cukup gembira, karena ternyata sudah ada Wattpad versi lokal, sehingga gak pusing cari tulisan-tulisan original dari penulis lokal. Tapi di satu sisi agak sedih karena mirip banget sama Wattpad. Tapi.. yaaa.., saya cuma pengguna aja. Terserah daaah..

Politik & Jualan

Kekhawatiran saya cuma satu. Di Indonesia itu, platform media UCG (User Generated Content) seringkali berubah wujud jadi 2 jenis: Tempat Jualan dan/atau Tempat Kampanye Politik.

Facebook, Whatsapp, Twitter sudah jadi contoh nyata. Di Storial, saya beberapa kali melihat tulisan yang menjurus ke politik. Karena isinya bukan lagi karangan fiksi, tapi potongan-potongan dari artikel dari media lain. Entahlah, apa tujuannya. Mudah-mudahan Ollie dkk bisa antisipasi ini.

***

Eh iya, ini dia tulisan cerpen pertama saya di Storial. 10 menit sebelumnya baru saya publish di Wattpad juga sih. ūüėõ Judulnya “Rumah Siapa”.

P.S: Ini gak ada yang mau bikin SoundCloud versi lokal juga sekalian? Saya dukung looh. Susah tau cari karya-karya musik original dari Indonesia.

Wattpad.com – Tempat Komunitas Penulis Cerita Berkumpul dan.. Ya Menulis Cerita

Beberapa waktu lalu untuk pertama kalinya saya mencoba membuat tulisan panjang. Ala-ala novel. Karena ide tulisan kadang muncul di mana saja, saya memutuskan untuk meletakkannya di online. Tepatnya di hosting blog ini, dengan engine MediaWiki. Tujuannya agar saya bisa menulis kapan saja di mana saja.

Tapi ini membuat saya penasaran, jangan-jangan sebenarnya di internet sudah ada tempat / platform untuk kebutuhan seperti ini. Tempat yang memang ditujukan untuk menulis dan berbagi cerita original secara online.

Googling bentar, akhirnya ketemu Wattpad.com. Kaget juga, saya sama sekali belum pernah dengar tentang ini. Padahal Wattpad termasuk startup yang dapat investment dengan angka yang tidak kecil loh. Selama ini saya tahunya cuma GoodReads -yang mana tujuannya untuk review buku, bukan tempat menulis dan berbagi.

Awalnya saya coba aplikasi Androidnya. Belakangan saya mengunjungi versi website nya. Singkatnya Wattpad ini seperti SoundCloud nya para penggemar cerita. Bisa cuma baca-baca saja, atau bisa juga membuat karya tulisan sendiri. Persis seperti yang saya cari.

Isinya sejauh ini sesuai harapan saya. Di sini kita bisa menemukan cerita-cerita original buatan penulis-penulis yang tidak (belum) terkenal. Desain tampilannya membuat cukup nyaman. Logis dan memudahkan.

Awalnya saya kira Wattpad ini hanya ramai bagi penulis luar negri. Tetapi setelah saya atur setelan bahasa ke Bahasa Indonesia, ternyata banyak sekali penulis-penulis dari Indonesia. Tapi sama seperti di toko buku, genre ceritanya memang kebanyakan cinta-cintaan sih. Bukan genre kesukaan saya.

Kekurangannya? Saat ini (setahu saya) belum bisa cari (search) cerita khusus yang berbahasa Indonesia. Tapi mungkin ke depannya bakal ada. Setidaknya begitu kata halaman resmi Wattpad Indonesia.

Cerita buatan saya? Err.. nanti deh di-post. Sekarang baru 5 part, dan masih di-set private. ūüėÄ

Catatan: