<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dokter &#8211; The Labana Post</title>
	<atom:link href="https://labanapost.com/tag/dokter/feed/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<description>LabanaPost.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Apr 2024 17:08:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://labanapost.com/wp-content/uploads/2018/03/cropped-labanux_500px-32x32.png</url>
	<title>dokter &#8211; The Labana Post</title>
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dokter 5-Menitan</title>
		<link>https://labanapost.com/2240/2017/03/dokter-5-menitan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Mar 2017 07:36:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=2240</guid>

					<description><![CDATA[Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta. Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit. Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><figure id="attachment_2241" aria-describedby="caption-attachment-2241" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-2241 size-full" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2017/03/img_58db63d174af9.png" alt="" width="750" height="440" srcset="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2017/03/img_58db63d174af9.png 750w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2017/03/img_58db63d174af9-300x176.png 300w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-2241" class="wp-caption-text">[Ilustrasi: pixabay.com]</figcaption></figure>Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta.</p>
<ol>
<li>Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit.</li>
<li>Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik itu dokter umum, maupun dokter spesialis. Biasanya lapor dulu ke suster di poli tersebut lalu diukur berat badan dan tekanan darah. Nah di sini bisa nunggu sampa 30 menit lebih. Saya pernah sampai 1 jam lebih.</li>
<li>Ketemu dokter, ditanya apa keluhannya. Tapi ketika saya jawab, dia sibuk nulis-nulis, atau kalau rumah sakitnya udah modern, dokternya sibuk ngetik-ngetik sendiri di komputer, sambil jawab pendek &#8220;Ooh.. Hmm.. Gitu ya..&#8221; Terus lanjut disuruh baring, atau &#8220;coba duduk, matanya lihat atas&#8221;, atau &#8220;coba buka mulutnya&#8221;. Dipegang bentar, atau disenter bentar, terus sudah. Kurang lebih cuma 5 menitan.</li>
<li>Dokter balik ke mejanya. Sibuk lagi nulis, atau ketik-ketik di komputer. Bisa 5 menitan. Ujungnya bilang &#8220;Jadi, saya resepin ini ya.. bla..bla..bla. Diminum aja seminggu dulu, terus nanti kontrol lagi ke sini.&#8221; Sudah.</li>
<li>Keluar ruangan, laporan ke suster. Disuruh ke kasir. Sampai kasir kadang nunggu lagi, kadang enggak. Tergantung rumah sakitnya, pengaturan kasirnya bagus atau enggak. Ada lho rumah sakit yang untuk bayar di kasirnya saya harus nunggu 30 menit lebih. Sebabnya? Karena hanya ada 1 orang kasir untuk SEMUA pasien di rumah sakit itu.</li>
<li>Selesai bayar di kasir, ke bagian farmasi/apotek. Ada yang sudah pake sistem komputer, nomor antrian ada di layar, ada juga yang dipanggil manual satu-satu. Nah kalau obatnya racikan, siap-siaplah bawa power bank buat mainan henpon. Biasanya lama banget baru jadi obatnya. Bisa 1 jam, bahkan saya gak jarang sampe 2 jam.</li>
</ol>
<p>Jadi kalau ditotal, saya bisa menghabiskan waktu 4 jam di rumah sakit. Kalau sakitnya berat sih ya sudahlah ya, demi sehat. Tapi kalau cuma flu, diare, rasanya kok lebih tersiksa kalau ke rumah sakit. 4 jam itu waktu di rumah sakitnya aja loh, belum termasuk waktu perjalanan.</p>
<p>Kalau saya sih yang paling bikin kesel, dari 4 jam itu, konsultasi dengan dokternya cuma 5 menit. Seringkali mereka gak menjelaskan apa-apa. Padahal tujuannya saya pengen tahu ini sakitnya apa, cuma sakit biasa atau lain, penyebabnya apa, gimana biar gak tambah parah, gimana jaganya biar gak terulang lagi, dll. Menurut saya itu basic yang sangat perlu.</p>
<p>Gak jarang juga diagnosanya ngaco. Saya pernah didiagnosa &#8220;punya tenaga dalam&#8221; oleh dokter di sebuah rumah sakit terkenal (dan mahal) di daerah Jakarta Selatan. Tenaga di dalam hati buat nonjok maksud lo? <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f610.png" alt="😐" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Dokter 5-menitan ini sih yang menurut saya layak digantikan bot Artificial Intelligence. Pengacara kan sudah mulai tuh <a href="https://www.labana.id/view/robot-ai-ini-dijadikan-pengacara-oleh-baker-hostetler/2016/05/17/">diganti sama bot</a>, dokter 5-menitan gini sekalian juga lah.</p>
<p><em>Catatan</em>: Inget ya, gak semua dokter kaya gitu. Saya juga ketemu kok dokter yang baek. Yang mau menjelaskan dengan baik apa dan kenapa sakitnya. Terus menelaah satu-satu keluhan saya, sampai bisa kasih kesimpulan diagnosa yang meyakinkan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mampu Bayar Pun Belum Tentu Bisa Konsultasi dengan Dokter Terkenal</title>
		<link>https://labanapost.com/2152/2016/04/mampu-bayar-pun-belum-tentu-bisa-konsultasi-dengan-dokter-terkenal/</link>
					<comments>https://labanapost.com/2152/2016/04/mampu-bayar-pun-belum-tentu-bisa-konsultasi-dengan-dokter-terkenal/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2016 04:44:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=2152</guid>

					<description><![CDATA[Suatu waktu saya pernah diberi saran yang bertolak belakang dari dua dokter spesialis di sebuah rumah sakit terkenal di daerah Jakarta Selatan. Anehnya, kedua dokter ini ruangannya hanya bersebelahan. Dokter yang pertama langsung suruh operasi, lengkap dengan penjelasan biaya-biaya dan opsi paket yang tersedia. Sementara dokter yang kedua bilang tidak apa- apa, rileks aja. Bahkan &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><figure id="attachment_2153" aria-describedby="caption-attachment-2153" style="width: 568px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-2153 size-full" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2016/04/img_570493d165b5a.png" alt="" width="568" height="349" srcset="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2016/04/img_570493d165b5a.png 568w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2016/04/img_570493d165b5a-300x184.png 300w" sizes="(max-width: 568px) 100vw, 568px" /><figcaption id="caption-attachment-2153" class="wp-caption-text">[Foto: aeu04117 | flickr.com]</figcaption></figure>Suatu waktu saya pernah diberi saran yang bertolak belakang dari dua dokter spesialis di sebuah rumah sakit terkenal di daerah Jakarta Selatan. Anehnya, kedua dokter ini ruangannya hanya bersebelahan. Dokter yang pertama langsung suruh operasi, lengkap dengan penjelasan biaya-biaya dan opsi paket yang tersedia. Sementara dokter yang kedua bilang tidak apa- apa, rileks aja. Bahkan cuma dikasih obat beberapa butir saja.</p>
<p>Tentu saja saya tidak datang ke kedua dokter itu secara bersamaan. Saya datang ke dokter kedua untuk mencari pendapat kedua (second opinion) setelah dokter pertama tanpa blabliblu dengan super excited bilang mau memberikan tindakan operasi.</p>
<p>Lepas dari dokter yang kedua, rasanya lebih plong tentunya. Tapi gara-gara itu saya jadi kepikiran cari dokter yang lebih ahli lagi (third opinion). Dari hasil Googling sana-sini dapatlah nama seorang dokter yang sudah senior. Dokter ini pernah mengurusi orang yang sangat penting di negara ini. Jadi ketuanya malah kabarnya.</p>
<p>Saya tahu, biaya konsultasi dengan dokter ini pasti tidak murah. Tapi siapa takut, saya bisa bayar kok. Maksudnya, asuransi kantor yang bayar. Hehe.</p>
<p>Saya akhirnya dapat jadwal konsultasinya. Di RS.X, hari Selasa jam 8 pagi. Ya sudah saya telpon untuk membuat jadwal konsultasi.</p>
<p>Setelah basa-basi pembukaan pembicaraan.</p>
<blockquote><p>Saya (S): Oo oke, kalau gitu saya mau daftar untuk konsultasi selasa jam 9 ya.<br />
CS: Maaf, Pak. Tidak bisa. Untuk reservasi jadwal harus di hari H. Mulai jam 8 pagi.<br />
S: Ok deh.</p></blockquote>
<p>Selasa minggu depan. Sekitar pukul 8.30.</p>
<blockquote><p>S: Saya mau reservasi konsultasi untuk hari ini paling 30 menit lagi saya sampai sana.<br />
CS: Wah sudah penuh, Pak. Dia emang cepet banget penuh, Pak. Jadi harus cepat-cepat.<br />
S: Ya sudah. Ok.</p></blockquote>
<p>Minggu depannya lagi. Hari Selasa, pukul 7.55 saya telpon tidak ada yang angkat. Saya beres-beres sebentar. Pukul 8.05 saya telpon kembali.</p>
<blockquote><p>CS: Maaf, Pak. Hari ini tidak ada jadwal konsultasi. Jadwalnya visit pasien.<br />
S: Waduh.. Terus gimana dong, jadwalnya kan cuma Selasa?<br />
CS: Kalau mau Sabtu, Pak. Waktu dan prosedurnya sama.</p></blockquote>
<p>Sabtunya saya ada urusan lain. Jadi Sabtu minggu depan baru saya telpon lagi. Kali ini tepat pukul 8.00</p>
<blockquote><p>S: Mau bikin jadwal konsultasi dengan dokternya hari ini. Mbak.<br />
CS: Hah? Dokter X hari ini gak ada jadwal, Pak. Adanya Selasa.<br />
S: Loh? Kemarin kata CS nya ada di hari Selasa dan Sabtu.<br />
CS: Sabtu enggak ada Pak. Selasa doang.</p></blockquote>
<p>Ya sudah. Ngapain saya adu argumen. Selasa minggu depannya saya telat bangun. Sekitar pukul 8.10 saya telpon.</p>
<blockquote><p>CS: Wah. Udah penuh, Pak. Bapak kurang cepat. Sabtu aja Pak.<br />
S: Kata CS Sabtu dia gak praktek? Mana yang bener nih?<br />
CS: Bener Pak. Ada kok Sabtu.</p></blockquote>
<p>Sabtunya.</p>
<blockquote><p>CS: Ooh. Kalau Sabtu gak ada konsultasi, Pak.<br />
S: Laaaah.. Ini udah dua kali loh, CS nya bilang dokternya ada hari Sabtu.<br />
CS: Ohh. Kalau ada sih memang ada Pak. Tapi khusus visit pasien, gak ada konsultasi.</p></blockquote>
<p>Selasa depan. Pukul 7.57. Telpon gak diangkat.<br />
Coba lagi Pukul 8.05.</p>
<blockquote><p>CS: Hari ini khusus visit Pak. Konsultasi ditiadakan.</p></blockquote>
<p>Errrrr&#8230;</p>
<p>Ok. Sekarang saya curiga sebenarnya dokternya sudah meninggal. Semoga arwahmu tenang, dok.</p>
<p>**</p>
<p>Tapi seriusan deh. Ini bikin saya mikir. Ternyata mampu bayar dokter terbaik (red: dengan asuransi kantor), bukan berarti serta merta dapat akses. Sudah kaya ngurus calo ke pemerintah aja. Kalo gak punya koneksi khusus, ya sabar aja.</p>
<p>Kenapa gak coba ke RS lain tempat si dokter ini praktek? Sudah. Kurang lebih intinya sama, gak dapet-dapet. Ya sudahlah.</p>
<p><iframe src="http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=188c9ee27533156bed9c100646c30372b2a37033&amp;_host=labanapost.wordpress.com" width="1" height="1" scrolling="no"></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://labanapost.com/2152/2016/04/mampu-bayar-pun-belum-tentu-bisa-konsultasi-dengan-dokter-terkenal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
