<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>online &#8211; The Labana Post</title>
	<atom:link href="https://labanapost.com/tag/online/feed/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<description>LabanaPost.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Jul 2026 07:47:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://labanapost.com/wp-content/uploads/2018/03/cropped-labanux_500px-32x32.png</url>
	<title>online &#8211; The Labana Post</title>
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membuat Paspor Online di Jakarta</title>
		<link>https://labanapost.com/1170/2012/07/membuat-paspor-online-di-jakarta/</link>
					<comments>https://labanapost.com/1170/2012/07/membuat-paspor-online-di-jakarta/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 02:32:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kanim]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[paspor]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=1170</guid>

					<description><![CDATA[Ini lanjutan dari cerita sebelumnya. Setelah gagal membuat paspor di kampung halaman, akhirnya saya memutuskan untuk membuat paspor di Jakarta saja, tapi baru terlaksana 6 bulan kemudian 😛  Saya mikirnya, kalau di kampung halaman sendiri saja ribet, apalagi di Jakarta. Belum lagi kalau cari &#8211; cari info di internet banyak juga cerita ribetnya ngurus paspor. &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img data-dominant-color="000000" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #000000;" decoding="async" class="wp-image-2767 alignleft size-full not-transparent" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/Read-more.gif" alt="" width="1" height="1" /><img data-dominant-color="708d8d" data-has-transparency="true" style="--dominant-color: #708d8d;" fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-2768 size-full aligncenter has-transparency" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/image.avif" alt="" width="1022" height="339" srcset="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/image.avif 1022w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/image-300x100.avif 300w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/image-768x255.avif 768w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2012/07/image-192x64.avif 192w" sizes="(max-width: 1022px) 100vw, 1022px" /></p>
<p>Ini lanjutan dari cerita sebelumnya. Setelah gagal membuat paspor di kampung halaman, akhirnya saya memutuskan untuk membuat paspor di Jakarta saja, tapi baru terlaksana 6 bulan kemudian <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />  Saya mikirnya, kalau di kampung halaman sendiri saja ribet, apalagi di Jakarta. Belum lagi kalau cari &#8211; cari info di internet banyak juga cerita ribetnya ngurus paspor.</p>
<p>Ok, jadi saya sebelumnya buka &#8211; buka lagi situs Imigrasi untuk mencari prosedur resminya. Dari beberapa teman ada cerita kalau daftar via online lebih cepat dan gak ribet, walaupun di internet banyak juga yang ceritanya kebalikannya.</p>
<p>Berikut langkah &#8211; langkah yang saya lewati kemarin :</p>
<ol>
<li>Dokumen wajib di scan dulu (inget, scan hitam putih.. dan ada maksimum size nya untuk tiap berkas, saya lupa berapa). Dokumen yang saya scan : Kartu Keluarga, KTP, Surat Rekomendasi Kantor, dan Ijazah kuliah.</li>
<li>Sebelum mendaftar online, pastikan dulu komputer yang anda gunakan terkoneksi dengan internet (ya eyalaaah..) + printer (!), karena di akhirnya ada bagian yang harus di-print.</li>
<li>Cari tahu juga tentang lokasi kantor &#8211; kantor imigrasi yang akan anda datangi, apa nama resminya (misal : Kanim I Kelas Khusus bla.. bla..). Nanti saya ceritain dibawah soal ini.</li>
<li>Masuk ke situs imigrasi (<a href="http://www.imigrasi.go.id/" target="_blank" rel="noopener">http://www.imigrasi.go.id/</a>) ada menu &#8220;Layanan Paspor Online&#8221;. Saat tulisan ini dibuat sih, linknya kesini : <a href="http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp">http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp</a></li>
<li>Pilih menu &#8220;Pra Permohonan Proposal&#8221;, isi formnya dan lanjutkan. Oh iya, saya membuat paspor yang 48 lembar. Kata beberapa teman ada negara yang tidak menerima paspor 24 lembar. Teman yang lain bilang, kalau paspor 24 lembar sekarang hanya untuk TKI. Saya enggak tahu juga kebenarannya.</li>
<li>Di bagian upload silahkan upload masing &#8211; masing dokumen yang diperlukan.</li>
<li>Nanti ada bagian untuk memilih kapan tanggal mau datang ke kantor Imigrasi dan pilihan kantor Imigrasinya. Tanggalnya itu H+1 lho. Wow.. cepat sekali ternyata via online. Kalau masukin manual kan harus masukkan berkas, datang lagi berapa hari kemudian.</li>
<li>Nah terakhir akan muncul halaman yang harus dicetak. Disini tertera tanggal dan lokasi Kanim yang harus didatangi. Surat ini harus dibawa waktu kesana.</li>
<li>Sebelum berangkat ke kantor imigrasi, pastikan anda membawa semua dokumen aslinya, bahkan yang tidak diupload. (Saya tetap bawa Akte Kelahiran, Ijazah SMP, sampe surat keterangan ijin dari ortu *<a href="https://labanapost.com/2012/07/general/membuat-paspor-di-kampung-halaman/">biar kantor Imigrasinya gak dimarahin ortu saya kalau saya kabur ke luar negri</a> #uhuk).</li>
<li>Tidak perlu bawa fotokopinya, fotokopinya nanti aja di kantor Imigrasi. Soalnya biasanya ada aturan soal fotokopi ini (diperbesar dua kali lah, bolak &#8211; baliklah, dsb..)</li>
<li>Saya pilih Kanim Jakarta Barat (di deket stasiun Kota, tepatnya deket lapangan Museum Fatahillah itu). Sampai disana sekitar jam 9 pagi.</li>
<li>Nanya petugas untuk yang online gimana, jawabannya : &#8220;Isi formulir dulu mas.., formulirnya di sebelah, gratis kok&#8221;. Sampai disini saya mulai skeptis.. Kan sudah input data online, kok ngisi form manual lagi? Wah.. jangan &#8211; jangan ini jadinya harus masukin manual. Saya telpon seorang teman, soalnya ceweknya pernah bikin paspor online. Ternyata jawabannya bikin lebih was &#8211; was. Setelah mereka datang ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan, petugasnya bilang kalau sistemnya lagi gak bisa diakses atau apalah gitu, intinya gak bisa aja. Jadi harus proses manual lagi.</li>
<li>Ya sudahlah, nanggung dah sampai situ. Jadi saya isilah formulirnya. Saya tanya ke satpamnya, dibilang harus beli map di koperasi. (Entahlah ya.., kayaknya urusan beli map ini sudah jadi protokol standar di kantor pemerintahan. Iya enggak sih? Atau enggak ya?) Tapi harganya masuk akal kok jadi no-problemo lah. Saya pikir juga biar yang ngurusin gak ribet. Bayangin aja kalau mapnya berwarna &#8211; warni, beda &#8211; beda ukuran. Kan alay &#8211; alay juga bikin paspor cuy..  <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></li>
<li>Map sudah, formulir sudah, lanjut ambil nomor antrian (antrian kaya di bank itu loh, yang pake LCD + suara mbak &#8211; mbak otomatis dari speaker, canggih juga disini).</li>
<li>Setelah menunggu sebentar (sekitar sejam), akhirnya saya dipanggil. Sejam ini cepet lho beneran.. Karena ternyata ada loket khusus untuk yang daftar online. Melihat loket ini semangat saya kembali menggebu &#8211; gebu (halah). Loket yang manual, antriannya ampuun deh. Ibu &#8211; ibu di sebelah saya sampai pergi ke museum dulu jalan &#8211; jalan (beneran&#8230;!).</li>
<li>Berkas saya diperiksa di loket khusus ini. Dokumen aslinya diminta untuk diperiksa.</li>
<li>Ternyata upload-an saya tidak bisa didownload sama petugasnya. Di sistem kosong. Jadi dia minta fotokopian berkas saya. Saya sempat bingung, hati saya gundah.. apakah.. ini artinya saya harus balik ke proses manual ?? Apakah saya harus antri lagi?? Oh tidakk.. apakah saya juga harus ikut ibu &#8211; ibu tadi jalan &#8211; jalan ke museum sambil nunggu antrian? *ehm!   Ternyata tidak, petugasnya nanti yang meng-scan dokumen saya itu, tapi harus menunggu lagi 1 jam. Memang sibuk banget sih sepertinya di dalam ruangan itu.</li>
<li>Kemudian ditanya mau langsung bayar,  foto dan wawancara hari ini atau hari lainnya? Saya bilang hari ini saja, tanggung biar beres sekalian. Saya duduk lagi, menunggu nama saya dipanggil.</li>
<li>Nama saya dipanggil, petugas minta saya menunjukkan KTP, lalu diberikan semacam kuitansi dan nomor antrian untuk pembayaran. Oh noo.., no antrian lagi. Dan saya lihat di monitor, jauh jaraknya. Saya ingat saya dapat nomor 302 A.</li>
<li>Menunggu lama, dan jam 12 istirahat. Jam 1 buka lagi, menunggu lagi. Setelah nomor antrian dipanggil, saya bayar, besarnya : Rp. 225.000,- saja.  Lalu dikasih nomor antrian lagi untuk foto dan wawancara. Oh noo.. not another nomor antrian.. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f610.png" alt="😐" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></li>
<li>Foto dan wawancara di gedung yang berbeda. Ada dua tempat foto dan wawancara. Ruang foto dan wawancara yang ber-AC (dekat loket pembayaran tadi) sepertinya khusus untuk yang rombongan, tour travel, dan.. &#8220;jalur khusus&#8221;  Mungkin ya, saya gak nanya juga sih. Bisa jadi juga karena memang penuh banget antriannya, jadi dibikin dua ruang.</li>
<li>Saya dapat nomor 74, dan antrian masih nomor 62, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang. Setelah bertanya ke salah satu petugas, diberi tahu nanti nomor akan dipanggil untuk foto. Saya main game Sea Empire dulu di Android, menunggu nomor saya dipanggil.</li>
<li>Sekitar pukul setengah 3, tiba &#8211; tiba seorang petugas keluar dari ruang foto, sambil berteriak ke penonton, &#8220;masih mau digoyang..?! Yang disanaaaah&#8230;!&#8221;  Enggak ding. Dia nanya &#8220;Siapa lagi yang belum foto?&#8221; Dan ternyata, untuk foto enggak usah ngantri, cepet &#8211; cepetan aja.. Pantes aja dari tadi ribut mulu di depan ruang foto. Damn.., 1 jam sia &#8211; sia.  (Tapi untuk wawancara tetap mengikuti nomor antrian)</li>
<li>Sekitar pukul 3 sore, break dulu, petugasnya sholat. Sebagian yang mengantri terlihat jenuh sepertinya, ada yang pesen bakso, ada yang merokok di luar. Sebagian ibu &#8211; ibu ribut dengan petugas yang katanya mendahulukan antrian tertentu setelah diberi uang rokok.</li>
<li>Syukurlah sebagian pengantri makan bakso, jajan, dan merokok di luar, jadi antrian jadi lebih sedikit. Akhirnya saya dipanggil. Cuma ditanya &#8220;Ohh.. kerja disini ya?&#8221; (sambil lihat surat rekomendasi kantor). Terus diminta menunjukkan dokumen asli lagi, lalu tanda tangan di atas paspor. Dan boleh pulang. Di kuitansi pembayaran tadi diberi catatan, waktu pengambilan paspor 5 hari kemudian, pukul 14.00 WIB. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, saya kembali ke tempat kerja.</li>
<li>5 hari kemudian saya datang lagi ke kantor Imigrasi Jakarta Barat ini. Saya sudah mempersiapkan mental jika harus mengantri lagi. Sampai disana pukul 13.30, nyoba ke loket sambil menunjukkan bukti pengambilan. Ternyata cukup menunjukkan KTP, tanda tangan, terus selesai, pulang dengan membawa paspor.. Aseekk.. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></li>
</ol>
<p>Nah soal kantor imigrasi tadi. Milih &#8211; milih kantor imigrasi ini agak ribet juga. Sering dengar dari beberapa teman, kalo kantor Imigrasi yang A ramai sekali, yang B enggak ramai tapi seringya daftar online gak bisa diproses, atau kalau yang C, banyak calonya, jadi suka dipersulit. Entahlah, saya enggak tahu juga mana yang benar informasinya.</p>
<p>Tapi saya tetap mengikuti informasi salah satu teman saya. Di Kanim Imigrasi Jakarta Barat (di dekat stasiun Kota itu), katanya tidak terlalu ramai, jadi kesitulah saya walaupun sebenarnya lokasi saya lebih dekat ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.</p>
<p>Nah waktu memilih kantor Imigrasi (sewaktu mendaftar online), perhatikan dengan detail nama dan alamatnya.  Gak lucu kan kalau sampai salah alamat. *eh.. lucu sih kalau salah, dicoba aja.. &gt;:D</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Akhirnya saya puas, karena bisa mengurus paspor tanpa perlu pakai calo (mengingat saya pernah <a href="https://labanapost.com/2012/07/general/membuat-paspor-di-kampung-halaman/">gagal membuat paspor</a> di kampung halaman saya sendiri).</p>
<p>Total biaya :</p>
<ul>
<li>Taksi (hari I) : 120.000 (pulang &#8211; pergi)</li>
<li>Biaya resmi : 255.000</li>
<li>Map + sampul paspor : 7.000</li>
<li>Taksi (hari II) &#8211; ke halte busway Ratu Plaza : 25.000</li>
<li>Busway (pulang pergi) : 7.000</li>
<li>Taksi (halte busway ke kantor) : 22.000</li>
<li>TOTAL : 436.000</li>
</ul>
<p><em>CATATAN</em> : <a href="http://andriesurya.com/2011/09/membuat-paspor-kanim-jaksel/">Ini tulisan lain</a> mengenai pengalaman membuat paspor online di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan (lengkap dengan foto &#8211; foto &amp; screenshot)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://labanapost.com/1170/2012/07/membuat-paspor-online-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Profil Tech-Biz (mobile, internet, games) di Indonesia dan China</title>
		<link>https://labanapost.com/1110/2011/12/profil-tech-biz-mobile-internet-games-di-indonesia-dan-china/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 01:55:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital & Tech]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[china]]></category>
		<category><![CDATA[games]]></category>
		<category><![CDATA[iphone]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=1110</guid>

					<description><![CDATA[Heboh dengan Blackberry dan iPhone padahal duit yang sebenarnya berasal dari featured phone, henpon &#8211; henpon dibawah 1jt-an, karena kelas &#8220;elit&#8221; ndak mau beli barang digital, udah pinter cari gratisan. Lagian persentasi pengguna henpon low-end &amp; featured phone itu 80% lebih dari seluruh pengguna henpon di Indonesia. Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari Andy &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Heboh dengan Blackberry dan iPhone padahal duit yang sebenarnya berasal  dari featured phone, henpon &#8211; henpon dibawah 1jt-an, karena kelas &#8220;elit&#8221;  ndak mau beli barang digital, udah pinter cari gratisan. Lagian  persentasi pengguna henpon low-end &amp; featured phone itu 80% lebih  dari seluruh pengguna henpon di Indonesia.</p>
<p>Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari Andy Zain sewaktu dia jadi  pembicara di salah satu seminar (CMIIW). Dan saya mengganguk setuju  dalam hati waktu itu.</p>
<p>Tadi ketemu tulisan ini, membahas tentang &#8220;dua sisi&#8221; tech-biz di China,  dan jika disandingkan dengan materi Andy Zain tadi, sepertinya memang  kondisi market Indonesia dan China mirip. Saya rasa kalau di Indonesia  ada yang menggali lebih dalam, hasilnya bakal sama seperti tulisan ini.</p>
<p>Enjoy : <a href="http://techrice.com/2011/06/07/the-story-of-wl-chinas-great-internet-divide/">http://techrice.com/2011/06/07/the-story-of-wl-chinas-great-internet-divide/</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kaskus di Sekitar Kita</title>
		<link>https://labanapost.com/860/2010/08/kaskus-di-sekitar-kita/</link>
					<comments>https://labanapost.com/860/2010/08/kaskus-di-sekitar-kita/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:22:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital & Tech]]></category>
		<category><![CDATA[kaskus]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=860</guid>

					<description><![CDATA[Dari jaman kuliah, saya sering bercerita kepada teman &#8211; teman saya tentang dunia online, mulai dari startup &#8211; startup di luar negri, sejarah Google, Facebook, eBay, Digg, Flickr dll sampai dengan situs &#8211; situs lokal. Saya bercerita tentang Detikcom, dan beberapa situs &#8220;startup&#8221; dari Indonesia (kala itu). Tapi saya tidak pernah bercerita tentang Kaskus. Tidak &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2010/08/Kaskus-logo.gif"><img decoding="async" title="Kaskus logo" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2010/08/Kaskus-logo.gif" alt="Kaskus Logo" align="left" /></a>Dari jaman kuliah, saya sering bercerita kepada teman &#8211; teman saya tentang dunia online, mulai dari startup &#8211; startup di luar negri, sejarah Google, Facebook, eBay, Digg, Flickr dll sampai dengan situs &#8211; situs lokal. Saya bercerita tentang Detikcom, dan beberapa situs &#8220;startup&#8221; dari Indonesia (kala itu). Tapi saya tidak pernah bercerita tentang Kaskus. Tidak ada orang dalam Kaskus, atau eks orang dalam Kaskus yang saya kenal kala itu, saya tidak punya informasi lebih jauh. Kala itu kebanyakan dari teman &#8211; teman saya cuma mendengarkan sambil lalu, beberapa cukup antusias (maklum kampus saya bukan kampus IT, isinya para calon engineer).</p>
<p>Kosakata di Kaskus memang sudah familiar dengan saya sejak tahun pertama masa kuliah saya. Sebutan Agan, Cendol, Repsol, dll cukup familiar, walaupun hampir tidak pernah saya gunakan, karena saya bukan kaskuser. Tapi tidak dengan FJB (Forum Jual Beli &#8211; Kaskus). Saya malah baru sadar keberadaan FJB sekitar tahun 2006.</p>
<p>Ketika saya mengisi sebuah sesi diskusi dengan mahasiswa informatika, di sebuah kampus di Jogja, saya bahkan tidak pernah menyebut Kaskus. Mereka yang sering saya sebut : Detik, Politikana, PortalHR, Penonton.com, DagDigDug, Asia Blogging Network, Cerpenista, dll.</p>
<p>Tapi lihat dan dengarkan sekarang. Tiga dari teman &#8211; teman kuliah saya yang bukan penggiat dunia online itu sekarang bekerja di Jakarta. Dan ternyata sudah pernah berbelanja di Kaskus. Dan anda tahu apa yang mereka beli? Ketiganya membeli sepeda motor di FJB !  Wow, saya cukup kaget mengetahui bahwa mereka ternyata sangat percaya dengan forum terbesar di Indonesia ini.</p>
<p>Itu masih untuk jual beli barang. Yang lebih terasa adalah faktor kultural. Di tempat saya dulu bekerja, saya dan teman &#8211; teman kantor bisa menyebut satu sama lain dengan panggilan standar : lu, gue. Tapi belakangan bergeser jadi : agan, ane, hingga sekarang. Saya tadi bertemu salah satu teman saya itu, dan tanpa sadar masih menggunakan : ane, agan. Uniknya, ini berlangsung di depan salah satu petinggi Kaskus.</p>
<p>Ok, mungkin ada yang berpendapat karena kami sama &#8211; sama aktif di jagad online, wajar kultur itu terbawa. Tapi, eitss.. nanti dulu. Barusan saya chatting dengan seorang teman lama. Dulu saya kenal teman saya ini di Jogja, waktu cewek ini masih duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan saya waktu itu sudah berada di ujung tanduk (baca: semester akhir).</p>
<p>Saya sudah cukup lama tidak kontak dengan cewek satu ini. Tadi, via YM, chit &#8211; chat berlangsung kesana kemari dengan gaya bahasa yang berganti &#8211; ganti, hingga sampai di gaya bahasa Kaskus, dan sejak itu tidak berganti lagi. Ajaib! Seakan &#8211; akan tanpa sadar kami mengamini bahwa gaya bahasa ini yang paling cocok. Walaupun dia bukan tipikal penggiat dunia online seperti saya. (Yes, even girl speak Kaskus now..)</p>
<p>Saya dan teman &#8211; teman kuliah saya dulu itu (yang sekarang sudah menjadi engineer beneran), juga sama. Waktu kami main billiard, satu sama lain menggunakan gaya bahasa Kaskus. Yang entah mengapa membuat hawa permainan menjadi lebih menarik.</p>
<p><em>&#8220;Gan.., ane mau masukin bola sembilan gak bisa tuh gan. Mungkin bawah ane bisa gan..&#8221;</em></p>
<p>Di Facebook pun saat mengisi komentar di profil teman, seringkali keluar gaya bahasa Kaskus ini. Hanya kebetulan? Atau memang kultur dari Kaskus ini sudah mewabah dimana &#8211; mana (dalam arti positif)?</p>
<p>DEWA aja bikin lagu buat Kaskuser :</p>
<p><em>Agankuu.. Kumohon.. Tetap disini..</em></p>
<p><em>Temaniii.. Hot trit ku.., yang baru naik.. </em></p>
<p>*kriukk..*</p>
<p>Link Terkait : <a href="https://labanapost.com/2010/01/website/slank-dan-kaskus/">Slank dan Kaskus</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://labanapost.com/860/2010/08/kaskus-di-sekitar-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Online Content Strategy untuk Awam</title>
		<link>https://labanapost.com/850/2010/07/online-content-strategy-untuk-awam/</link>
					<comments>https://labanapost.com/850/2010/07/online-content-strategy-untuk-awam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 18:44:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital & Tech]]></category>
		<category><![CDATA[content strategy]]></category>
		<category><![CDATA[media online]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[online strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=850</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa tahun lalu, sewaktu baru saja kenal dengan Pak Nukman, sering terlintas tulisan Online Strategy. Entah apa arti sebenarnya waktu itu, saya juga tidak begitu paham. Belakangan, istilah itu terlihat lebih jelas. Karena melihat begitu banyaknya pemain serius yang mau masuk ke dunia online, tapi tanpa strategi yang jelas. Dan walaupun mulai bergeliat, namun sangat &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun lalu, sewaktu baru saja kenal dengan Pak Nukman, sering terlintas tulisan Online Strategy. Entah apa arti sebenarnya waktu itu, saya juga tidak begitu paham. Belakangan, istilah itu terlihat lebih jelas. Karena melihat begitu banyaknya pemain serius yang mau masuk ke dunia online, tapi tanpa strategi yang jelas. Dan walaupun mulai bergeliat, namun sangat lambat geraknya.</p>
<p>Online Stragtegy sendiri tak lepas dari beberapa strategi yang sudah ada dan umum di dunia offline, misal : Content Strategy, Brand Strategy, dll.. Dan hal istilah &#8211; istilah ini &#8216;lagi laris&#8217; belakangan ini di dunia digital, khususnya dunia online.</p>
<p>Nah, berbicara tentang Content Strategy. Untuk yang awam dan mungkin blank tentang apa sebenarnya Content Strategy, silahkan baca <a href="https://labanapost.com/2007/03/website/develop-dan-content-dua-sisi-mata-uang/">disini</a>. Itu sebagian gambarannya. Dalam level yang serius tentu saja masih lebih luas dari situ. (Saya baru sadar kalau saya pernah menuliskan tentang hal ini tahun 2007)</p>
<p>Di tulisan tersebut saya menuliskan tentang salah satu contoh kasus yang saya alami, dan cukup sederhana. Untuk masa sekarang, Content Strategy nya tentu akan lebih rumit. User sekarang sudah paham cara menggunakan media website. Mereka juga sudah tahu lebih banyak situs, dan bagaimana mencari konten yang diinginkan. Dengan kata lain, peluang user untuk meninggalkan situs kita semakin besar, jika.. tanpa didasari Content Strategy yang sesuai.</p>
<p>*intinya.. saya baru nyadar pernah nulis itu tahun 2007.. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Terkait : <a href="https://labanapost.com/2010/01/website/membangun-media-online-yang-kasat-mata-dan-tidak/">Membangun Media Online &#8211; Yang Kasat Mata dan Tidak</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://labanapost.com/850/2010/07/online-content-strategy-untuk-awam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ide : HargaHarga.com ?</title>
		<link>https://labanapost.com/806/2010/04/ide-hargaharga-com/</link>
					<comments>https://labanapost.com/806/2010/04/ide-hargaharga-com/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 07:05:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital & Tech]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[web application]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=806</guid>

					<description><![CDATA[Setelah membaca tulisan Rama yang menyinggung Blippy.com saya jadi teringat tulisan saya beberapa waktu lalu tentang ide &#8211; ide website yang mau saya tulis disini. Karena toh saya tidak mewujudkannya, dan pasti ada juga yang kepikiran dengan hal yang sama, jadi di share disini mungkin bisa membantu mereka yang sedang mewujudkannya. Dari tulisan Rama tentang &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah membaca tulisan <a href="http://dailysocial.net/">Rama</a> yang menyinggung <a href="http://rampok.posterous.com/creative-ideas-are-cheap">Blippy.com</a> saya jadi teringat tulisan saya beberapa waktu lalu tentang<a href="https://labanapost.com/2009/05/website/ide-ide-website-yang-tidak-belum-terealisasi/"> ide &#8211; ide website</a> yang mau saya tulis disini. Karena toh saya tidak mewujudkannya, dan pasti ada juga yang kepikiran dengan hal yang sama, jadi di share disini mungkin bisa membantu mereka yang sedang mewujudkannya.</p>
<p>Dari tulisan Rama tentang Blippy.com tadi, konsepnya kurang lebih kaya Twitter. Kalau Twitter bertanya : &#8220;What are you doing?&#8221;, Blippy menanyakan : &#8220;What are you buying&#8221;.  Jadi nanti di situs ini kita bisa dapat informasi tentang barang &#8211; barang yang sedang laris dibeli, harganya, dimana membelinya. Rama sendiri dulu pernah ikut membangun situs yang punya ide dasar sama, walaupun tidak jadi diteruskan.</p>
<p>Saya pun dulu punya ide yang agak &#8211; agak mirip. Sekitar dua tahun lalu. Konsep saya dari dulu selalu sama untuk membuat website : Buatlah sebuah website yang membantu orang menyelesaikan masalah mereka, seperti saran dari errr&#8230; kalo gak salah Paul Graham dari <a href="http://ycombinator.com/">Y Combinator</a>. Nah waktu itu masalah yang paling kerasa buat saya : sulitnya menemukan informasi harga barang yang cukup akurat, untuk lokasi tertentu.</p>
<p>Terbersitlah ide untuk membuat sebuah website yang bisa mengakomodir hal itu. Kebetulan waktu itu saya baru ngulik CakePHP. Jadilah dibentuk dummy webnya dengan desain copy-paste plek.. dari delicious.com. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> (cuma di localhost kok).Waktu itu sempat terpikir akan dinamai HargaHarga.com *he..</p>
<p><strong>Cara Kerja</strong></p>
<p>Konsep webnya : Setiap orang yang sudah register, bisa memasukkan informasi sebuah produk (barang/jasa), lengkap dengan harganya (wajib) dan lokasinya (baik online ataupun offline). Dengan begitu ketika ketika mencari informasi harga sebuah produk di sebuah daerah, kita bisa mendapatkan kisaran harganya.</p>
<p>Tidak semua input user langsung publish, tapi dimoderasi. Awalnya tim dari web ini sendiri. Belakangan dengan mengangkat user yang aktif untuk menjadi moderator. Mungkin kaya Digg atau Kaskus kali ya?</p>
<p><strong>Masalah</strong></p>
<p>Masalah paling besar tentu saja SPAM. Website dengan user generated content itu adalah gula yang tertumpah dilantai dan siap diserang semut &#8211; semut SPAM. Terutama Human-SPAM. Selain itu masih disulitkan dengan akurasi. Bisa jadi kebanyakan user cuma akan memasukkan informasi produk, tidak dengan detail harga. Semata &#8211; mata untuk promosi dan berbagai alasan lainnya. Ya, lebih ke masalah teknis sih (walaupun sebetulnya masih bisa diatasi dengan upaya yang tidak super sulit).</p>
<p><strong>Model bisnis</strong></p>
<p>Tentu saja.., jawaban paling mudah dan paling gampang ditebak : Iklan. Selain itu kerjasama untuk penyediaan data, entah lewat API atau apapun. Masih banyak beberapa model lagi. Tapi yang paling masuk akal dan paling cepat direalisasikan, tetep : iklan.. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f641.png" alt="🙁" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><strong>Konsep</strong></p>
<p>Intinya, kalau orang &#8211; orang ingin nyari informasi harga sebuah produk (barang / jasa), datanglah ke web ini. Ah iya, situs ini ditujukan buat lokal Indonesia.</p>
<p>Lalu kenapa saya tidak jadi meneruskannya? Entahlah <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Ada yang mau merealisasikannya? Atau justru ada yang sudah mulai? Kalau iya tinggalin komentar di bawah yah..</p>
<p><em>[Update]</em></p>
<p>Dari info bung <a href="http://bennychandra.com/">Benny Chandra</a>, ternyata memang udah pernah ada situs sejenis, dan domainnya? HargaHarga.com ! Ha..ha.. Ini halaman webnya yang sempat terekam : <a rel="nofollow" href="http://web.archive.org/web/20030210191706/http://hargaharga.com/">http://web.archive.org/web/20030210191706/http://hargaharga.com/</a></p>
<p>Tapi sepertinya masih belum user generated content. Dan entah mengapa sekarang situs itu udah mati. (yang ada sekarang, domain parking)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://labanapost.com/806/2010/04/ide-hargaharga-com/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>10</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
