<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>saham &#8211; The Labana Post</title>
	<atom:link href="https://labanapost.com/tag/saham/feed/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<description>LabanaPost.com</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Aug 2025 04:03:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://labanapost.com/wp-content/uploads/2018/03/cropped-labanux_500px-32x32.png</url>
	<title>saham &#8211; The Labana Post</title>
	<link>https://labanapost.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ringkasan Berbagai Metode Valuasi Saham Menurut Aswath Damodaran</title>
		<link>https://labanapost.com/2676/2025/08/ringkasan-berbagai-metode-valuasi-saham-menurut-aswath-damodaran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2025 04:00:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Financial]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investment]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<category><![CDATA[stock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=2676</guid>

					<description><![CDATA[Di buku Aswath Damodaran yang berjudul Investment Valuation, kita bisa temukan berbagai metode valuasi saham. Ada beberapa yang general, ada juga yang spesifik untuk kondisi tertentu. Mengetahui mana metode valuasi saham yang paling sesuai tentu sangat penting, karena hasil perhitungannya akan menjadi lebih akurat dan berdasar. Berikut rangkuman metode valuasi dan variasi-variasinya: Kategori Metode Variasi &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di buku Aswath Damodaran yang berjudul Investment Valuation, kita bisa temukan berbagai metode valuasi saham. Ada beberapa yang general, ada juga yang spesifik untuk kondisi tertentu. Mengetahui mana metode valuasi saham yang paling sesuai tentu sangat penting, karena hasil perhitungannya akan menjadi lebih akurat dan berdasar.</p>
<p>Berikut rangkuman metode valuasi dan variasi-variasinya:</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<th>Kategori</th>
<th>Metode</th>
<th>Variasi</th>
<th>Kelebihan</th>
<th>Kekurangan</th>
</tr>
<tr>
<td>Generalist</td>
<td>Discounted Cash Flow (DCF)</td>
<td>FCFF (Free Cash Flow to Firm)</td>
<td>Paling fundamental dan teoritis. Fokus pada kemampuan operasional perusahaan menghasilkan kas untuk semua penyedia modal (ekuitas &amp; utang).</td>
<td>Membutuhkan banyak asumsi (tingkat pertumbuhan, WACC, nilai terminal) yang sangat sensitif.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>FCFE (Free Cash Flow to Equity)</td>
<td>Lebih langsung untuk investor saham karena fokus pada arus kas yang menjadi hak pemegang saham setelah membayar utang.</td>
<td>Sulit diterapkan jika struktur utang perusahaan sering berubah. Tetap membutuhkan banyak asumsi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Dividend Discount Model (DDM)</td>
<td>Sangat sederhana dan intuitif karena menggunakan dividen, yaitu arus kas yang benar-benar diterima oleh investor.</td>
<td>Tidak bisa digunakan untuk perusahaan yang tidak membagikan dividen atau rasio pembayarannya tidak stabil.</td>
</tr>
<tr>
<td>Generalist</td>
<td>Relative Valuation</td>
<td>Multiples (P/E, P/B, EV/EBITDA, dll.)</td>
<td>Cepat, mudah dipahami, dan mencerminkan sentimen pasar saat ini. Sangat berguna untuk mengukur seberapa mahal/murah saham relatif terhadap pesaingnya.</td>
<td>Sangat bergantung pada asumsi bahwa pasar menilai perusahaan pembanding secara benar. Jika seluruh sektor sedang overvalued, maka valuasi akan ikut overvalued.</td>
</tr>
<tr>
<td>Specialist</td>
<td>Asset-based Valuation</td>
<td>Net Asset Value (NAV)</td>
<td>(Properti/Holding Company): Sangat akurat untuk perusahaan yang nilai utamanya terletak pada aset neraca yang dapat dijual (seperti tanah, gedung, atau saham di perusahaan lain), bukan dari arus kas operasionalnya.</td>
<td>(Dalam Spesialisasinya): Sulit untuk mendapatkan nilai pasar wajar yang akurat untuk setiap aset. Pasar seringkali memberikan &#8220;diskon terhadap NAV&#8221; yang sulit ditentukan besarannya.</td>
</tr>
<tr>
<td>Specialist</td>
<td>Excess Return Model</td>
<td>(Tidak ada variasi umum)</td>
<td>(Bank &amp; Jasa Keuangan): Metode paling superior untuk bank karena mengatasi masalah definisi &#8220;arus kas&#8221;. Fokus pada kemampuan bank menghasilkan laba (ROE) di atas biaya modalnya (ke?).</td>
<td>(Dalam Spesialisasinya): Sangat bergantung pada keakuratan nilai buku akuntansi dan sulitnya memproyeksikan ROE jangka panjang secara konsisten.</td>
</tr>
<tr>
<td>Specialist</td>
<td>Contingent Claim Valuation</td>
<td>Option Pricing Models</td>
<td>(Aset Opsi): Satu-satunya metode yang bisa menilai aset yang memiliki karakteristik seperti opsi, contohnya: paten, konsesi tambang yang belum dikembangkan, atau bahkan ekuitas di perusahaan yang di ambang bangkrut.</td>
<td>(Dalam Spesialisasinya): Membutuhkan input yang kompleks dan seringkali sulit diestimasi (misalnya, volatilitas nilai aset, jangka waktu, dll). Sangat rumit secara matematis.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kemana Parkir Budget Investasi Saham Ketika Menunggu Koreksi Pasar?</title>
		<link>https://labanapost.com/2626/2024/06/kemana-parkir-budget-investasi-saham-ketika-menunggu-koreksi-pasar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Jun 2024 15:42:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Financial]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[deposito]]></category>
		<category><![CDATA[financial]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=2626</guid>

					<description><![CDATA[Untuk para pelaku investasi saham jangka panjang seperti saya, kadangkala ada masa kita harus sabar menunggu. Ketika kita punya bidikan misal 5 emiten, tetapi semuanya sedang overvalued (harga sahamnya masih kemahalan). Di situasi begini, waktu tunggunya bisa jadi berbulan-bulan. Di masa itu jadinya dananya &#8220;nganggur&#8221;. Di rekening sekuritas sih ada return-nya, tapi yaa kecil banget. &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><figure id="attachment_2628" aria-describedby="caption-attachment-2628" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img data-dominant-color="a7c6d7" data-has-transparency="false" style="--dominant-color: #a7c6d7;" fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-2628 size-full not-transparent" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2024/06/image.png" alt="" width="750" height="475" srcset="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2024/06/image.png 750w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2024/06/image-300x190.png 300w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2024/06/image-192x122.png 192w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-2628" class="wp-caption-text">[Image Source: Public Domain]</figcaption></figure>Untuk para pelaku investasi saham jangka panjang seperti saya, kadangkala ada masa kita harus sabar menunggu. Ketika kita punya bidikan misal 5 emiten, tetapi semuanya sedang overvalued (harga sahamnya masih kemahalan).</p>
<p>Di situasi begini, waktu tunggunya bisa jadi berbulan-bulan. Di masa itu jadinya dananya &#8220;nganggur&#8221;. Di rekening sekuritas sih ada return-nya, tapi yaa kecil banget. Nah supaya gak nganggur-nganggur banget (intinya optimized return), bisa diakali dengan ini:</p>
<ul>
<li>Switch sementara ke Reksadana Pasar Uang/RDPU.
<ul>
<li>Kalau kalian pake sekuritas kaya Ajaib atau Stockbit, nah ini tinggal pilih aja reksadananya, pakai dana di RDN sekuritasnya untuk beli. Kalau saham incaran lagi murah, tinggal jual RDPU nya, terus beli sahamnya. Gak perlu repot transfer-transfer.</li>
<li>Risiko: Kurang Liquid. Perhatikan waktu penyelesaian jual reksadananya. Setiap penjualan reksadana itu secara peraturan maksimal waktu penyelesaiannya adalah T+7 (seminggu). Kalau bisa cari yg penyelesaiannya T+0 (gak tau sih ini ada atau enggak, gak hapal semua RDPU, haha). Intinya, kalau saham yang Anda incar harganya mendadak murah, bisa jadi Anda telat beli karena dananya nyangkut di reksadana.</li>
</ul>
</li>
<li>Switch sementara ke rekening bank yg returnnya tinggi:
<ul>
<li>Deposito digital bank. Biasanya bank-bank digital punya produk simpanan (Kantong Simpan di Bank Jago misalnya), yang returnnya lumayan (4.75% gross), dan ini tanpa denda pencairan lebih awal. Jadi ketika saham inceran sedang murah, tinggal tarik, pindah ke RDN sekuritas. Ini memang sangat memudahkan kalau beli saham di Stockbit, beli reksadana di Bibit, dan rekeningnya di Bank Jago karena saldo RDN nya terpusat dan semua saling terintegrasi.</li>
<li>Parkir di rekening Superbank. Ini adalah digital bank baru besutan Grab, EMTEK (group holding SCTV, Bukalapak) dan Singtel. Saat ini rekening biasa returnnya 6%. Hampir sama dengan RDPU, bedanya ini bener-bener liquid. Gak ada lock, kapan saja bisa ditarik dan ditambahkan. Agak repot memang, tapi worth it menurut saya. Haha. Kalau belum punya akunnya silakan download di App/PlayStore, dan gunakan referral saya: <strong>J8ELXV</strong>.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Selamat mencoba&#8230;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghitung Valuasi/Harga Saham dengan DCF</title>
		<link>https://labanapost.com/2371/2021/05/menghitung-valuasi-harga-saham-dengan-dcf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Okto Silaban]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 May 2021 10:14:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[dcf]]></category>
		<category><![CDATA[fundamental]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://labanapost.com/?p=2371</guid>

					<description><![CDATA[Di sini saya bukan mau bahas rumusnya. Udah banyak yang bahas di blog ataupun di YouTube. Cuma mau bahas soal 1 detail yang mengganggu. DCF itu adalah Discounted Cash Flow. Dalam perhitungan DCF yang digunakan adalah Free Cash Flow. Nah, Free Cash Flow (FCF) ini ada 2 jenis, FCFF dan FCFE. FCFF: Free Cash Flow &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><a href="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2021/05/image.png"><img decoding="async" width="439" height="273" src="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2021/05/image.png" alt="" class="wp-image-2372" srcset="https://labanapost.com/wp-content/uploads/2021/05/image.png 439w, https://labanapost.com/wp-content/uploads/2021/05/image-300x187.png 300w" sizes="(max-width: 439px) 100vw, 439px" /></a><figcaption>Rumus DCF (Discounted Cash Flow)</figcaption></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini saya bukan mau bahas rumusnya. Udah banyak yang bahas di blog ataupun di YouTube. Cuma mau bahas soal 1 detail yang mengganggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">DCF itu adalah Discounted Cash Flow. Dalam perhitungan DCF yang digunakan adalah Free Cash Flow. Nah, Free Cash Flow (FCF) ini ada 2 jenis, FCFF dan FCFE.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>FCFF</strong>: Free Cash Flow to Firm (Cashflow yang bisa diklaim seluruh &#8220;claim holder&#8221; baik pemilik saham maupun pemilik obligasi/surat hutang dari perusahaan tersebut)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>FCFE</strong>: Free Cash Flow to Equity (Cashflow yang bisa diklaim pemilik Equity/saham)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah yang saya maksud detail yang mengganggu tadi adalah banyak tutorial yang mengajarkan soal menghitung DCF, tapi kurang detail soal Discount Rate/Interest nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita menghitung DCF dengan <strong>FCFF</strong> maka Discount rate yang digunakan seharusnya adalah Cost of Capital atau WACC (Weighted Average Cost of Capital).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi, jika menghitung dengan <strong>FCFE</strong>, maka Discount rate yang digunakan seharusnya adalah Cost of Equity. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya menemukan beberapa tutorial yang terbalik. Menghitung FCFF tapi dengan menggunakan Cost of Equity sebagai Discount Rate, ataupun sebaliknya menghitung FCFE tapi dengan WACC. Jadinya tidak tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi inget-inget ya nanti kalau itung DCF, jangan kebalik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
