Di penghujung tahun 2011 lalu, mumpung sedang pulang ke kampung halaman di Sumatra, saya menyempatkan diri membuat paspor. Saya datang hari Sabtu ke kantor Imigrasi, cuma untuk cari info saja apa saja syaratnya. Bertemulah dengan seorang karyawan yang sepertinya sedang lembur, dan diberi tahu syaratnya : KTP, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, dan surat rekomendasi kantor (tidak wajib).

Percobaan I

Hari Senin ke kantor Imigrasi, langsung disuruh membeli ‘paket’, yang berisi : map kuning, sampul paspor (hijau), dan fotokopi dokumen – dokumen tadi. Setelah antri agak lama, kemudian dipanggil. Ketika berkas diperiksa, dibilang harus ada Surat Keterngan dari orang tua.*dhaaaaang..!*, udah kerja gini tetep diminta surat keterangan (ijin) dari orang tua. Saya gak tahu sih batasan umurnya berapa yang harus ada surat ini, petugasnya ngotot bilang “Pokoknya harus ada..!”.

Kenapa butuh surat keterangan ijin dari orang tua ? Kata petugasnya, karena sering ada yang bikin paspor tanpa sepengetahuan orang tuanya, lalu ke luar negri. Nah terus orang tuanya datang ke Imigrasi marah – marah kenapa dikasih ijin.  *Jujur sih, saya sebenarnya gak paham sih logikanya dimana. Entahlah, percuma berdebat. Jadi saya ambil suratnya, dan bawa pulang.

Percobaan II

Hari Selasa ke kantor Imigrasi lagi, kali ini dengan surat keterangan ijin dari orang tua (lengkap dengan materai). Antri lagi.

Ketika dipanggil, berkas saya pun diperiksa. Kali ini yang dibilang tidak lengkap adalah Surat Rekomendasi dari kantor. Entahlah ya, yang saya tahu sih ini tidak wajib. Saya pernah baca di PDF yang didownload dari situs Imigrasi, seingat saya tertulis “optional”. Ketika saya tanya ke petugasnya apakah memang wajib (masih orang yang sama dengan yang kemarin), dengan kasar dijawab “Eh… ini aja, dosen aja pakek surat rekomendasi dari kantor..!!” (sambil menunjukkan surat rekomendasi dari sebuah universitas).

Saya coba bernegosiasi, tidak berhasil juga. Di akhir negosiasi dia cuma bilang “Sudah.. saya sibuk ini, masih banyak kerjaan..!”, dengan nada ya yang jelas tidak enak. Karena yang sebelum – sebelum saya juga dilayani dengan nada yang tidak enak. (“Ibu ini gimana sih..?!! Ini lho di-copy dulu..”   “Bapak ini.., udah dibilang, ke kelurahan dulu, minta surat keterangan..!!”). Ya.., mungkin dia di rumah sedang ada masalah berat sih, jadi ya sudahlah.

Percobaan III

Setelah menghubungi seorang teman, ternyata dia punya teman di Imigrasi. (Bukan sogok lho ya.. Untuk meng-guide dengan lebih benar saja). Akhirnya saya masukkan lagi berkas saya. Dan kali ini.., ternyata nama tengah ibu saya tidak tertulis di Akte Kelahiran saya, tetapi di semua dokumen lain tertulis lengkap. Gagal lagi. Ada dua opsi :  Bawa surat keterangan dari kelurahan, bahwa itu benar nama ibu saya. Atau Akte Kelahiran diganti dengan Ijazah saja, karena di Ijazah kan tidak tertulis nama orang tua. Iya juga ya, untung ada temannya teman saya ini.

CATATAN : di petunjuk resmi kelengkapan dokumen untuk membuat paspor memang disebutkan “Akte Kelahiran atau Ijazah”, jadi memang bisa saling menggantikan.

Percobaan IV

Hari berikutnya, saya sudah persiapkan lagi berkas saya, dan siap – siap berangkat. Tetapi ini sudah mau akhir tahun, saya khawatir waktunya tidak cukup. Saya telpon temannya teman saya ini. Dan benar, agak beresiko, mengingat waktu cuti saya yang sudah mau habis, dan 31 Desember mereka tidak menerima aplikasi baru, karena saatnya tutup buku dan rekap. Ya sudahlah, memang belum saatnya.

Kenapa di Kampung Halaman? Kan bikin paspor sekarang bisa dimana saja?

Betul, beberapa teman saya membuat paspor bukan di kota asalnya. Cuma, saya pikir biasanya ada saja masalahnya. Asumsi saya itu saya rasa benar setelah melihat ternyata dibutuhkan surat keterangan dari orang tua. Bayangkan kalau beda propinsi, dan beda pulau lagi, makan waktu banget kan mengurusi surat begitu. (Walaupun belakangan saya tahu kalau surat ijin dari orang tua itu tidak berlaku di semua kantor Imigrasi. Mungkin di daerah asal saya saja sih).

Akhirnya saya memutuskan untuk dicoba di Jakarta saja.  Beberapa teman saya sih komentarnya (seperti diduga) : “Kenapa gak pakek calo aja broo… Yaelah, paling bayar 500 rebu, seminggu kelar..”. Sambil menambahkan “bukti” beberapa teman saya lain yang berhasil dengan cara itu. Hmm..

Bagaimana akhirnya percobaan saya membuat paspor di Jakarta? Silahkan ikuti di tulisan berikutnya…   😛