Bereksperimen dengan Logic Pro X Membuat Dance Music

Selama beberapa tahun saya terbiasa menggunakan Digital Audio Workstation (DAW) yang bernama Ableton. Ketika masih di Windows, ataupun ketika sudah berganti ke laptop Mac. Kekurangannya, hampir semua instrumen bawaan Ableton tidak pernah saya gunakan. Mentok saya cuma gunakan untuk membuat white-noise.  Jadinya sangat bergantung dengan VST.

Setelah install ulang Mac saya dengan OS terbaru (Sierra), saya memutuskan berganti ke Logic Pro X. Agak berat sebenarnya, karena Logic ini hanya tersedia di Mac. Jika suatu saat nanti saya berganti ke OS lain, otomatis program ini tidak bisa saya gunakan lagi.

Saya nyaman sekali menggunakan Ableton sebenarnya. Tapi selain kekurangan di atas, harga Ableton juga mahal, $799, kalau dikonversi ke Rupiah menjadi sekitar Rp 10 juta.

FL Studio saya tidak begitu familiar, cuma pernah coba sehari atau 2 hari jaman kuliah dulu. Harganya sama dengan Logic sebenarnya, itu sudah termasuk berbagai instrumen VST. Sayangnya FL Studio tidak tersedia untuk Mac. Dulu sih mereka pernah meluncurkan versi Betanya untuk Mac. Tapi entah mengapa gak lanjut.

Anyway, akhirnya saya akhirnya membeli Logic Pro. $199, dirupiahkan kemarin menjadi Rp2,99 jt. Tapi ini sudah dilengkapi berbagai instrumen dan sampler. Selain itu kita bisa download sekitar 80GB sound sample dan loop, gratis, free royalti, resmi dari Apple. Jadi enggak perlu beli sample sound seperti Vengeance dkk, yang harganya justru lebih mahal dari Logic.

Setelah coba-coba selama sebulanan (yes, this is my first time using Logic), akhirnya berhasil jadi 1 lagu, genrenya dance music. Saya juga gak tahu ini genre Electro House, atau apa. Saya cuma pehobi amatiran. Kalau suka silahkan didownload via situs-situs downloader YouTube itu. ūüėÄ

Gimana, enak lagunya?

Harga Gadget Tiada Batas

10 tahun lalu, kalau denger ada henpon seharga sepeda motor, orang-orang pasti komentar “Gila..!”. Orang-orang kelebihan duit aja tuh yang bakal beli segitu.

Sekarang, harga ponsel bahkan ada yang lebih mahal daripada harga sepeda motor baru. Tapi orang-orang biasa aja.

Iya, dulu sih memang ada juga ponsel harga selangit. Tapi itu karena casing-nya berlapis emas. Atau ada juga karena yang diberi hiasan berlian. Lah kalau jaman sekarang, emang ponselnya yang segitu. Harganya hampir 20 juta.

Coba aja cek harga resmi iPhone 7 dan iPhone 7 plus di Indonesia, rentang harganya di belasan juta. Tapi walaupun semahal itu, nyatanya pre-ordernya laris loh. Siapa bilang di “rezim” sekarang ekonomi Indonesia menurun? Tuh, buktinya. Mantaplah pokoknya Indonesia. Haha.

Dokter 5-Menitan

[Ilustrasi: pixabay.com]
Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta.

  1. Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit.
  2. Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik itu dokter umum, maupun dokter spesialis. Biasanya lapor dulu ke suster di poli tersebut lalu diukur berat badan dan tekanan darah. Nah di sini bisa nunggu sampa 30 menit lebih. Saya pernah sampai 1 jam lebih.
  3. Ketemu dokter, ditanya¬†apa keluhannya. Tapi ketika saya jawab, dia sibuk nulis-nulis, atau kalau rumah sakitnya udah modern, dokternya sibuk ngetik-ngetik sendiri di komputer, sambil jawab pendek “Ooh.. Hmm.. Gitu ya..” Terus lanjut disuruh¬†baring, atau “coba duduk, matanya lihat atas”, atau “coba buka mulutnya”. Dipegang bentar, atau disenter bentar, terus sudah. Kurang lebih cuma 5 menitan.
  4. Dokter balik ke mejanya. Sibuk lagi nulis, atau ketik-ketik di komputer. Bisa 5¬†menitan. Ujungnya bilang “Jadi, saya resepin ini ya.. bla..bla..bla. Diminum aja seminggu dulu, terus nanti kontrol lagi ke sini.” Sudah.
  5. Keluar ruangan, laporan ke suster. Disuruh ke kasir. Sampai kasir kadang nunggu lagi, kadang enggak. Tergantung rumah sakitnya, pengaturan kasirnya bagus atau enggak. Ada lho rumah sakit yang untuk bayar di kasirnya saya harus nunggu 30 menit lebih. Sebabnya? Karena hanya ada 1 orang kasir untuk SEMUA pasien di rumah sakit itu.
  6. Selesai bayar di kasir, ke bagian farmasi/apotek. Ada yang sudah pake sistem komputer, nomor antrian ada di layar, ada juga yang dipanggil manual satu-satu. Nah kalau obatnya racikan, siap-siaplah bawa power bank buat mainan henpon. Biasanya lama banget baru jadi obatnya. Bisa 1 jam, bahkan saya gak jarang sampe 2 jam.

Jadi kalau ditotal, saya bisa menghabiskan waktu 4 jam di rumah sakit. Kalau sakitnya berat sih ya sudahlah ya, demi sehat. Tapi kalau cuma flu, diare, rasanya kok lebih tersiksa kalau ke rumah sakit. 4 jam itu waktu di rumah sakitnya aja loh, belum termasuk waktu perjalanan.

Kalau saya sih yang paling bikin kesel, dari 4 jam itu, konsultasi dengan dokternya cuma 5 menit. Seringkali mereka gak menjelaskan apa-apa. Padahal tujuannya saya pengen tahu ini sakitnya apa, cuma sakit biasa atau lain, penyebabnya apa, gimana biar gak tambah parah, gimana jaganya biar gak terulang lagi, dll. Menurut saya itu basic yang sangat perlu.

Gak jarang juga diagnosanya ngaco. Saya pernah didiagnosa “punya tenaga dalam” oleh dokter di sebuah rumah sakit terkenal (dan mahal) di daerah Jakarta Selatan. Tenaga di dalam hati buat nonjok maksud lo? ūüėź

Dokter 5-menitan ini sih yang menurut saya layak digantikan bot Artificial Intelligence. Pengacara kan sudah mulai tuh diganti sama bot, dokter 5-menitan gini sekalian juga lah.

Catatan: Inget ya, gak semua dokter kaya gitu. Saya juga ketemu kok dokter yang baek. Yang mau menjelaskan dengan baik apa dan kenapa sakitnya. Terus menelaah satu-satu keluhan saya, sampai bisa kasih kesimpulan diagnosa yang meyakinkan.

Nekat Upgrade Ubuntu Natty (11.04) ke Yakkety (16.04)

Note: Ditulis Agustus 2016 lalu, tapi baru dipublish Februari 2017. Lupa kalau ada di draft. 

Sudah lama laptop pribadi saya berganti ke Macbook. Bukan ngikut trend sih, dan bukan karena alasan banyak “tech guy” yang pake Macbook juga. Tapi karena dulu sempat mau agak serius ngulik bikin music di komputer dengan software. Kinerja perangkat-perangkat pendukung proses nguliknya (MIDI Controller, External Soundcard, dll), serta kualitas hasil prosesnya jauh lebih baik di Macbook. Mungkin karena hardware dan sistem operasi Mac memang relasinya 1:1, jadi optimasinya tinggi.

Barusan saya ngebongkar laptop lama saya, Compaq HP, sistem operasinya masih Ubuntu Linux Natty 11.04. Ubuntu Natty 11.04 ini dirilis bulan April tahun 2011 silam. Sejak sekitar awal tahun 2012, laptop ini sudah tidak pernah saya sentuh lagi.

Sekarang Ubuntu terbaru sudah keluar, 16.04 dengan nama Yakkety Yak. Nah saya mau coba upgrade dari Ubuntu 11.04 (Natty) ini ke Ubuntu 16.04 (Yakkety). Beresiko jadi kacau balau sih OS nya kayaknya. Tapi ya bodo amat lah. Toh komputer ini sudah saya jadikan VM, sewaktu-waktu kalau saya butuh masih bisa saya jalankan via VirtualBox di Macbook saya.

Secara garis besar, saya rasa kalau langsung upgrade dari Natty ke Yakkety, pasti bakal broken sistemnya. Jadi saya kan upgrade per rilis. Dari Natty ke Oneiric, Prices, Quantal, dan seterusnya, hingga ke Yakkety.

Ini proses yang saya lakukan:

1. Update apt source list.

Ternyata repository Natty udah pada dihapus di beberapa repository lokal yang saya coba. Di “Kambing”, Gunadarma dan Repo UGM, semua udah gak ada. Tapi dari Ubuntu ternyata masih disediain: old-releases.ubuntu.com.

deb http://old-releases.ubuntu.com/ubuntu/ natty main restricted universe multiverse
deb http://old-releases.ubuntu.com/ubuntu/ natty-updates main restricted universe multiverse

2. sudo apt-get update

[email protected]:~$ sudo apt-get update
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Ign http://old-releases.ubuntu.com natty InRelease
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Ign http://old-releases.ubuntu.com natty-updates InRelease
Ign http://ppa.launchpad.net natty InRelease
Get:1 http://old-releases.ubuntu.com natty Release.gpg [198 B]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Get:2 http://old-releases.ubuntu.com natty-updates Release.gpg [198 B]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Get:3 http://old-releases.ubuntu.com natty Release [39.8 kB]
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release.gpg
Hit http://ppa.launchpad.net natty Release
Get:4 http://old-releases.ubuntu.com natty-updates Release [39.8 kB]

….

3. sudo apt-get upgrade

Ini ceritanya biar aman dulu. Ternyata yang perlu didownload banyak banget. Haha. Totalnya 171 MB. Sikatlah.

[email protected]:~$ sudo apt-get upgrade
[sudo] password for laban:
Reading package lists... Done
Building dependency tree
Reading state information... Done
The following packages have been kept back:
firefox firefox-globalmenu libsyncdaemon-1.0-1 linux-generic linux-headers-generic linux-image-generic
python-ubuntuone-client ubuntuone-client ubuntuone-client-gnome
The following packages will be upgraded:
bind9-host bluez bluez-alsa bluez-cups

4. uname -a dan liat versi

Mau ngecek aja

[email protected]:~$ uname -a
Linux labanux 2.6.38-15-generic #61-Ubuntu SMP Tue Jun 12 19:15:11 UTC 2012 i686 i686 i386 GNU/Linux

[email protected]:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 11.04 \n \l

5. Restart.

Sebenarnya katanya Linux gak butuh restart kalau habis install atau upgrade software. Cuma pengalaman-pengalaman dulu, tetap aja beda. Ada saja yang agak aneh kalau belum restart. Jadi, saya restart saja deh.

[email protected]:~$ sudo reboot

 

6. sudo do-release-upgrade

Tadinya mau jalanin “sudo apt-get dist-upgrade”. Tapi dapat notifikasi kalau mau upgrade ke versi Ubuntu berikutnya, pake “do-release-upgrade”. Walaupun saya pakai Ubuntu bertahun-tahun, bahkan dari sejak versi pertamanya, saya baru tahu ada command ini. Katrok.

[email protected]:~$ sudo do-release-upgrade
Checking for a new ubuntu release
Your Ubuntu release is not supported anymore.
For upgrade information, please visit:
http://www.ubuntu.com/releaseendoflife

54 installed packages are no longer supported by Canonical. You can
still get support from the community.

23 packages are going to be removed. 278 new packages are going to be
installed. 1344 packages are going to be upgraded.

You have to download a total of 818 M. This download will take about
24 minutes with your connection.

Fetching and installing the upgrade can take several hours. Once the
download has finished, the process cannot be cancelled.

Continue [yN]  Details [d]y

Hajarrrr….

Saya jawab Yes aja untuk semua prompt yang muncul.

7. Cek hasil

Sedari tadi itu saya lakukan via SSH dari Mac. Kali ini saya langsung ke laptop HP nya, liat desktopnya. Berasa aneh karena kaya semua font nya di zoom. Entahlah kenapa begitu.

[email protected]:~$ uname -a
Linux labanux 3.0.0-32-generic #51-Ubuntu SMP Thu Mar 21 15:51:26 UTC 2013 i686 i686 i386 GNU/Linux

[email protected]:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 11.10 \n \l

Nah saya bingung juga apalagi yang mau dicek di sini. Semua setingan server di sini (Nginx, Apache, Tomcat, SOLR, dll) saya sudah lupa. Port nya di mana aja juga lupa. Haha. Jadi selama desktopnya bisa ke-load, ya sudah asumsi saya beres.

8. sudo do-release-upgrade

Oke.., lanjut upgrade lagi ke Ubuntu Precise Pangolin (12.04)

Screen yang muncul miriplah sama yang pertama.

9. Cek lagi

[email protected]:~$ uname -a
Linux labanux 3.2.0-106-generic #147-Ubuntu SMP Tue Jun 28 21:27:50 UTC 2016 i686 i686 i386 GNU/Linux
[email protected]:~$ cat /etc/issue
Ubuntu 12.04.5 LTS \n \l

10. Upgrade langsung antar LTS

Nah di sini saya baru sadar kalau 12.04 itu versi LTS. Setelah googling, katanya versi LTS itu bisa langsung loncat ke LTS berikutnya. Versi LTS berikutnya adalah 14.04, lalu 16.04. Jadi seharusnya saya bisa langsung loncat dari 12.04 ke 14.04 terus ke 16.04. Gak perlu lagi “do-release-upgrade” dari 12.04 ke 12.10 ke 13.04 ke 13.10 dst.. sampai ke 16.04.

Tapi anehnya, by default upgrade yang ditawarkan adalah ke 12.10, bukan 14.04 (LTS).

Welcome to Ubuntu 12.04.5 LTS (GNU/Linux 3.2.0-106-generic i686)

* Documentation:  https://help.ubuntu.com/

New release '12.10' available.
Run 'do-release-upgrade' to upgrade to it

Setelah googling sebentar, dapat tips untuk menjalankan ‘sudo do-release-upgrade -c -d’.

[email protected]:~$ sudo do-release-upgrade -c -d
[sudo] password for laban:
Checking for a new Ubuntu release
New release '14.04.5 LTS' available.
Run 'do-release-upgrade' to upgrade to it.

Nah baru deh, kedetect 14.04 Trusty (LTS).

[email protected]:~$ sudo do-release-upgrade
Checking for a new Ubuntu release
Get:1 Upgrade tool signature [198 B]
Get:2 Upgrade tool [1,156 kB]
Fetched 1,156 kB in 0s (0 B/s)
authenticate 'trusty.tar.gz' against 'trusty.tar.gz.gpg'
extracting 'trusty.tar.gz'

Yes berhasil. Saya do-release-upgrade lagi ke 16.04.

Saya login ke Desktop. Cek sekilas sepertinya semua berjalan normal.

11. Matikan GDM (Gnome Display Manager) & Otomatis Terkoneksi ke Wifi
Karena laptop ini mau saya jadikan server saja, saya mau matikan desktopnya. Seingat saya ini bisa dilakukan dengan membuat GDM tidak otomatis dijalankan.

Googling sebentar, katanya ada konfigurasi Grub yang harus saya utak-atik. Pokoknya seingat saya bagian “splash” diganti jadi “text”. Lalu mengubah sedikit konfigurasi systemd agar GDM tidak diload.

Selain itu saya mengubah konfigurasi /etc/network/interfaces agar otomatis terkoneksi ke hotspot tanpa perlu login.

12. Semua Error

Setelah restart, ternyata malah booting gagal. Gak tahu kenapa. Saya coba pakai command ‘c’ di pilihan boot Grub untuk mengembalikan “text” ke “splash”. Tapi tetap gagal. Kayaknya karena systemd nya. Bubar sudah. Nyesel saya ngapain utak-atik setingan GDM.

13. Install Ulang via USB

Karena kesalah tadi, dan saya sudah males mikir, saya install ulang laptop saya. Saya pakai Unetbootin di Mac untuk membuat bootable USB. Saya pakai Ubuntu Desktop 16.04 yang versi amd64, karena mikirnya toh laptop saya sudah 64 bit. USB saya 4GB.

Gagal.

Saya pakai USB lain, 64 GB. Error juga. Padahal tipe filesystemnya sudah FAT. Tapi saya gak tahu ini FAT32 atau FAT yang lain, di Mac gak kelihatan.

Saya coba lagi pakai USB 2GB. Masih error juga.

Akhirnya saya kombinasi: 3 USB tadi, dengan iso Ubuntu 16.04, 14.04, 12.04, amd64, i386. Semingguan (di waktu agak lowong). Gagal semua. Termasuk akhirnya saya pakai iso Ubuntu 11.04 i386 (versi Ubuntu di laptop saya yang berjalan mulus sebelum saya utak-atik tadi). Tapi gagal juga.

Sampai akhirnya saya bawa laptop Windows 10 ke rumah. Format USB 4GB ke FAT32. Lalu dengan Unetbootin, bikin USB bootable Ubuntu 11.04 alternate. Akhirnya berhasil.

14. Upgrade lagi ke 12.04

Karena memang ini iseng saja. Setelah selesai install ulang 11.04, saya do-release upgrade lagi ke 11.10, lalu ke 12.04. Tapi kali ini stop sampai di sini. Saya curiga spesifikasi laptop tua saya sudah gak kuat untuk 14.04, apalagi 16.04.

 

Setelah ini, saya jadikan laptop saya server, biar bisa akses file pribadi di rumah darimana saya. Tapi belakangan malah ribet buka-buka FTP atau Filesharing. Jadinya saya malah pakai Box.com saja. Setelah semua perjuangan upgrade dan install ulang laptop ini, ujung-ujungnya nangkring di rak juga nih laptop.

Koneksi Ubuntu Server ke Wifi Hotspot dengan WPA Key

Sudah lama gak maenan dengan Ubuntu server. Ada komputer lama yang nganggur jadi mau eksperimen dijadiin server. Entah karena apa, tampilan dekstopnya error, jadi masuk ke konsol dengan Ctrl+F2.

Lalu saya bingung, gimana caranya koneksi ke WiFi di rumah dengan command line. Dulu jaman di kampus pernah sih, dengan iwlist + iwconfig. Tapi itu karena wifi hotspotnya gak berpassword. Dan ternyata iwconfig gak support koneksi ke hotspot dengan WPA Key (yang sudah jadi standar dimana-mana).

Ternyata caranya simpel saja, dikutip dari sini:

Edit file /etc/network/interfaces, isinya:

auto wlan0
iface wlan0 inet dhcp
wpa-ssid <nama hotspot wifi Anda>
wpa-psk <password wifi Anda>

*kalau nama hotspot anda ada spasi, gunakan tanda petik, misal: “Wifi Pangeran Cinta”

Setelah itu jalankan perintah untuk merestart wireless lan Anda:

sudo ifdown wlan0 && sudo ifup -v wlan0

Setelah itu coba lookup DNS:

nslookup google.com

Harusnya hasilnya kurang lebih begini:

Server:        8.8.8.8
Address:    8.8.8.8#53

Non-authoritative answer:
Name:    google.com
Address: 74.125.200.139
Name:    google.com
Address: 74.125.200.101
Name:    google.com
Address: 74.125.200.100
Name:    google.com
Address: 74.125.200.102
Name:    google.com
Address: 74.125.200.113
Name:    google.com
Address: 74.125.200.138

Selamat mencoba.

Dalam Blogging, Kuantitas Lebih Penting daripada Kualitas

Saya lupa kalimat di atas ditulis oleh blogger siapa. Yang jelas saya baca di blog salah satu seleb blog Indonesia circa 2007-an. Pernyataan ini bisa jadi kontroversial, karena “blogger sejati” biasanya mengklaim isi konten itulah yang paling penting, itu menunjukkan kualitas (atau jatidiri) penulisnya. Jumlah trafik itu gak penting.

Menurut saya bisa iya bisa enggak. Dewasa ini makin banyak yang “ngeblog” memang tujuannya cari duit. Kalau istilah teman saya dulu MfA (Made for Ads).

Kalau blog tujuannya sudah seperti ini, tentunya jumlah trafik kunjungan website sangat pengaruh (ini otomatis mempengaruhi ranking Alexa). Selain itu sejak PageRank tidak lagi diperbaharui, sekarang acuannya Domain Authority dan Page Authority (DA/PA).

Percaya gak percaya, untuk menaikkan trafik, kuantitas memang ngaruh banget sama trafik. Kualitas sih gak gitu-gitu amat. Contohnya blog saya ini. Begitu saya rajin ngeblog (nulis random aja) tiap hari, trafik (plus ranking Alexa) nya naik. Tapi kalau ditinggal lama (seperti saya lakukan beberapa bulan terakhir), ranking Alexanya turun. Walaupun kadang ada masa-masa tiba-tiba trafik naik signifikan beberapa hari. Biasanya karena beberapa konten lama saya mendadak banyak yang cari di Google.

Jadi, rajin-rajinlah menulis, tentang apapun. (Kalau gak gitu peduli dengan personal branding sih ya, kalau peduli sih tulisannya harus agak di-“setting-setting” sedikit). ūüėÄ

Orang-Orang Makin Sadis di Internet Walaupun dengan Identitas Asli

[Sumber: imgur.com]
Ini meme yang paling pas menggambarkan situasi bagaimana orang-orang berkomentar di internet sekarang.

Dulu orang-orang dengan identitas online (pseudonim) saja yang berkomentar sadis di internet. Maksud saya di sini komentar yang mem-bully orang lain, ujaran kebencian SARA, ataupun pernyataan jahat (misal: ngaku pengen membunuh orang lain). Kini orang-orang dengan identitas asli (di Facebook, Path, Twitter, Linkedin, dll) gampang saja berkomentar sadis di internet. Sebagian bahkan bangga.

Walaupun saya pernah baca yang terjadi di internet itu hanya mewakili tak sampai 5% yang ada di dunia nyata, tapi 5% dari 100 juta orang itu juga banyak sih.

Minor Redesign LABANA.id

Belakangan saya lebih banyak menulis di LABANA.id ketimbang di blog ini. Sudah lama memang saya kepingin memisahkan tulisan yang memang personal dengan tulisan yang rada serius. Setahun lalu, proyek eksperimen itu dimulai. Sempat berhenti, tahun ini eksperimennya berlanjut kembali. Belum tahu sampai kapan.

Dalam beberapa minggu saya bolak – balik mengubah desain blog LABANA ini (sambil tetap menulis tentunya). Tujuan akhir desain blog ini cuma 3:

  • Agar membaca blog ini (UI/UX-nya) nyaman, tidak terganggu elemen-elemen yang tidak penting.
  • Desainnya gak jelek-jelek amat.
  • Berlaku di desktop maupun di ponsel (kalau bisa tablet juga).

Hasilnya sementara ini seperti ini:

Halaman depan

Halaman detail artikel

Beberapa waktu ke depan, seiring bertambahnya konten, desain ini kemungkinan besar akan mengalami perubahan pula. Jangan kaget ya.

Oh iya, kalau ada yang sering baca tulisan saya yang rada-rada serius di sini dan masih kepengen baca tulisan lainnya, silahkan kunjungi LABANA aja.

Ini beberapa contoh tulisan saya di LABANA yang mungkin bisa dibilang rada-rada serius itu:

Selamat membaca.

Andrew Darwis Menanggapi Situasi Dunia Startup Indonesia Belakangan ini

Satu hal yang harus diingat, startup itu bukan “overnight success”, butuh pengorbanan waktu dan passion terhadap product tersebut.

Banyak startup yang baru dibuat (hanya bermodalkan) business plan, (lalu) “digoreng” -jual ke investor, jual lagi ke investor lebih besar, again… and again. It works and some startup doing it. Tapi gak semua bisa beruntung mendapatkan investor. Akhirnya startup yang tidak beruntung dan gagal harus gulung tikar. Dan (ini akhirnya) membuat kepercayaan terhadap industri startup kurang bagus.

~Andrew Darwis (founder Kaskus) menanggapi situasi startup di Indonesia belakangan ini.

Sumber: Techinasia