
Saya ingat waktu itu saya kesulitan menemukan buku fisik novelnya yang berjudul Rencana Besar di toko buku, sehingga akhirnya saya beli versi digitalnya di Google Play Book.
Karena sulit ditemukan, saya punya dua prasangka saat itu. Bukunya sangat laris hingga sulit ditemukan di toko buku, atau memang peminatnya tidak banyak, sehingga tidak dicetak ulang. Walaupun memang saya lebih condong ke prasangka kedua.

Saya baru tahu belakangan ini kalau tsugaeda punya akun X (Twitter). Lebih kaget lagi melihat cuitannya beberapa waktu lalu (tangkapan layar di atas). Prasangka saya ternyata benar. Sedih juga. Ternyata karya bagus seperti itu (yang sepertinya juga diakui banyak orang) tidak berbanding lurus dengan penjualan novelnya.
Kenapa Tidak Laris?
Selain memang karena peminat genrenya yang mungkin tidak terlalu besar, bisa jadi besarnya pengguna internet saat ini menjadi bumerang bagi penulis buku.
Internet memang membuka akses ke bombardir konten (tulisan, gambar dan video). Selain itu perbandingan jumlah penulis (konten kreator) dan pembaca menjadi sangat berbeda dengan 20 tahun lalu, saat saya masih baru baca novel Supernova karya Dee Lestari. Dulu penulis sedikit dan pembaca melimpah, sekarang pembaca pun penulis. Istilah kerennya kalau tidak salah prosumer (producer+consumer).
Sayangnya bombardir konten ini sepertinya membuat mayoritas orang punya psikologis bahwa semua konten itu gratis, yang perlu bayar cuma kuota internet.
Karena memang banyak pula konten yang menarik dan berkualitas, disajikan tanpa sepeser Rupiah pun. Ketika harus mengeluarkan uang, mungkin banyak orang lebih memilih mencari alternatif konten lain.
Kalau dulu mungkin orang menikmati secangkir kopi sambil membaca novel, biayanya setidaknya ada dua, beli novel dan beli kopi. Sekarang dengan alternatif konten yang gratis ini, uangnya dibelanjakan untuk dua hal berbeda, beli kopi dan beli kuota internet.
Bagi penulis, tentu lebih sakit hati lagi memang jika uangnya untuk beli kopi dan beli novel bajakan.
Menurunkan Harga Novel
Kadang-kadang saya berpikir, apa jangan-jangan harga jual novel itu kemahalan ya untuk ukuran Indonesia?
Coba kita bandingkan ya.
Hitung-hitungan kasar, UMR (upah minimum) di New York itu sebulan (8 jam per hari, 22 hari kerja) kira-kira USD 3000. Harga novel popular (John Grisham, Murakami) sekitar USD 15. Artinya secara kasar harga novel itu sekitar 0.5% dari UMR. Kesimpulan bodoh saya, orang-orang di Amerika (New York), rela mengeluarkan 0,5% penghasilannya untuk membeli novel.
Coba kita pakai analogi yang sama di Indonesia. UMR di Jakarta itu sekitar IDR 5,7 juta. Kita genapkan IDR 6 juta deh. Dengan perbandingan yang sama, bisa jadi orang-orang bakal “rela” membeli novel jika harganya 0,5% dari UMR, yaitu sekitar IDR 30ribu saja. Psikologis saya sih setuju. Apalagi mengingat buku-buku bajakan dengan harga di sekitar segitu juga laris kan di platform online itu?
Tentu saja ini oversimplifikasi ya. Selain itu, saya juga tidak tahu apakah hitung-hitungan bisnisnya penerbit jadi masuk akal atau tidak dengan harga segitu. Apakah ini akan menghilangkan bajakan? Tidak. Seperti juga software, yang maunya gratisan akan tetap mencari gratisan. Tapi paling tidak menurut keyakinan saya, ini bisa menaikkan jumlah penjualan buku (novel) yang berkualitas. Paling tidak tsugaeda ataupun penulis-penulis lain tidak perlu lagi sampai berkecil hati seperti di atas.