
Salah satu constant challenge dari product management adalah trade off dari working on hard problems yang punya impact besar jangka panjang tapi butuh investasi waktu (misal: migrasi services atau arsitektur sistem) vs working on short term problem yang langsung berasa impactnya tapi seringkali meninggalkan tech debt. Mana yang harus jadi prioritas?
Di awal karir, saya cenderung fokus ke hard problem nya. Karena melihat secara jangka panjang, balik-baliknya akan ke issue ini lagi. Data yang berantakan, sistem yang kurang stabil, insiden yang terjadi di jam-jam tidak wajar, dst.
Begitu idealisnya saya untuk fokus solve foundational problem, salah seorang senior di perusahaan lama bahkan sampai pernah mengatakan ke saya “Man, that is not your problem, it’s engineers problem. Remember, you’re no longer an engineer.“
Saat itu saya mengambil point of view sebagai seorang product builder yang mau membuat produknya seideal mungkin, dan gak mau bikin “masalah” yang akan menahan laju perusahaan nantinya. Saya mau pistol yang saya bikin sesempurna mungkin. Tembakannya akurat, daya tembaknya kuat, load pelurunya bisa banyak dan cepat, serta pelatuknya juga ringan. Sehingga pasukan tempur bisa pergi berperang dengan keyakinan tinggi untuk menang. Saya merasa, kalau pelurunya cuma sedikit dan pelatuknya berat ditarik bagaimana mungkin bisa menembak musuh yang jaraknya jauh dan jumlahnya banyak. Jadi pistolnya harus dibenerin dulu, kalau perlu bikin pistol yang baru.
Tetapi seperti halnya di dalam perang, kadangkala kita tidak punya waktu untuk memperbaiki pistol yang masih ala kadarnya. Ketika musuh sudah di depan mata, walaupun pelatuk macet, kapasitas peluru sedikit dan daya ledaknya pelan, mau tidak mau harus segera dikokang dan ditembakkan. Kita tidak punya waktu untuk memperbaiki magazine peluru. Tembak saja sudah! Apalagi ketika kita tahu musuh datang dengan tangan kosong. Pistol yang tidak sempurna pun sudah cukup menaikkan peluang kita untuk menang.
Begitu juga di dalam dilema product management di atas. Kita perlu tahu terlebih dahulu di mana posisi musuh, berapa banyak jumlahnya, apa saja senjata mereka, kapan kita perlu menembak. Kalau musuh posisinya masih di seberang samudera, kita masih punya waktu untuk bikin pistol yang lebih canggih. Bahkan bikin senjata otomatis dulu kalau perlu. Tapi kalau musuh sudah lebih dekat, mungkin cukup fokus gimana latihan menggunakan pistol yang tidak ideal itu, memastikan supply amunisi tersedia cukup, dan latihan mengisi ulang peluru.
Bagaimana jika musuh datang dalam beberapa gelombang? Ada yang sudah dekat, tapi kita tahu masih ada pasukan musuh susulan di belakang yang masih agak jauh posisinya?
Tentunya perlu analisa (semampu yang kita bisa). Misal kita tahu ada 2 gelombang, tetapi gelombang pertama hanya menggunakan 1 pistol kecil dan pedang, sedangkan gelombang kedua (yang masih jauh) bakal datang dengan senapan mesin. Respon kita harus sesuai. Mungkin tim engineer hanya perlu fokus membuat senapan mesin. Tambahkan jumlah pasukan tempur. Gunakan pistol apa saja yang tersedia. Paling tidak supaya kita bisa bertahan menghadapi musuh gelombang pertama. Di saat yang sama engineer fokus membuat senapan mesin (sebaik yang mereka bisa) yang bisa digunakan saat musuh gelombang kedua tiba. Karena inilah penentuan kemenangan perang yang sebenarnya.
Nah inilah pentingnya strategi dan roadmap. Tidak ada benar dan salah, karena peranglah yang nantinya akan membuktikan. Tetapi paling tidak kita bisa memperbesar kemungkinan untuk bisa menang menghadapi musuh.
Lalu apakah ini adalah problem engineer dan bukan product? Well, saya sih tidak mau kalah perang dan mati karena pasukan tempur gagal menembakkan pistol yang macet total, atau bahkan meledak sendiri di muka mereka. Saya akan duduk bersama tim engineer membuat spesifikasi pistol yang sesuai dengan perang yang akan dihadapi, memberikan masukan dan support saat proses pembuatan, lalu mengajak pasukan tempur untuk menguji beberapa kali tembakan ketika sudah selesai. Dengan bekerja bersama engineer, mereka tidak akan membuat pistol yang macet dan tidak bisa ditembakkan, ataupun justru membuat pistol yang terlalu canggih sehingga tidak siap digunakan saat musuh telah tiba.
Jadi, menyambung pertanyaan di paragraf pertama, apakah kalian sudah tahu di mana posisi musuh? Kalau sudah, apakah pasukan di tim lain setuju dengan Anda?
*Ini adalah tulisan lama saya di Linkedin, saya posting ulang di sini.