
Sejak kembali main-main ke Medium, saya jadi iseng membandingkan platform menulis Medium, Substack, X (dulu Twitter), dan blog biasa (anggap saja WordPress). Muncul pertanyaan sederhana: kalau mau serius menulis di platform online, platform mana ya yang paling masuk akal?
Awal-awal saya lebih memperhatikan soal fitur. Substack punya newsletter dan sistem pembayaran (paywall) yang rapi. Medium punya Partner Program yang katanya bisa “menghasilkan”. X punya potensi mendapatkan jangkauan pembaca yang lebar berkat algoritmanya, plus sekarang malah ada skema bagi hasil iklan buat kreator. WordPress? Betul, gratis, sih tapi soal jangkauan pembaca mungkin harus lebih mandiri.
Semakin saya gali datanya, pertanyaannya jadi bergeser. Sebelum mikir soal “bisa nggak ya cuan dari nulis di platform ini”, saya rasa kita perlu jujur dulu soal satu hal: sebenarnya yang bayar di sini siapa, sih? Pembaca, atau justru penulisnya sendiri?
Medium: Penulis yang Bayar Duluan
Ini yang menurut saya paling jarang disadari orang. Untuk bisa ikut Partner Program dan dapat penghasilan dari Medium, penulis wajib jadi member berbayar dulu USD 5/bulan (atau USD 15/bulan untuk tier “Friend of Medium”). Jadi sebelum satu rupiah pun masuk dari pembaca, penulisnya sudah keluar uang duluan ke Medium.
Medium mengklaim membayar lebih dari USD 2 juta per bulan ke seluruh penulisnya. Kedengarannya besar, tapi kalau dibagi rata ke ratusan ribu penulis yang aktif publish di sana, kita bisa tebak hasilnya: banyak penulis pemula cuma dapat USD 20–200 sebulan, itu pun kalau rajin dan tulisannya cukup dibaca member berbayar lain.
Kurang lebih (dari yang saya pahami) alurnya begini: penulis bayar membership ke Medium -> menulis -> berharap dibaca member berbayar lain -> baru dapat bagi hasil. Uang penulis keluar duluan, dan itu pasti. Uang yang masuk? Belum tentu, dan biasanya kecil. Apalagi bahasa Indonesia.
Substack: Gratis untuk Penulis, tapi Cuma Segelintir yang Panen
Substack sedikit berbeda, penulis tidak perlu bayar apa pun untuk mulai. Substack ambil potongan 10% dari setiap subscription berbayar, jadi mereka baru untung kalau penulisnya untung juga.
Tapi lihat angkanya: per awal 2026, Substack punya sekitar 50 juta active subscriptions, dan cuma 5 juta yang berbayar, sekitar 10% saja. Dari hampir 100 ribu publikasi yang “monetized” di Substack, cuma sekitar 17 ribu penulis yang benar-benar punya pelanggan berbayar rutin yang menghasilkan pendapatan berulang. Total pendapatan kotor semua penulis di Substack sepanjang 2025 sekitar USD 450 juta (angka yang besar di atas kertas), tapi begitu dibagi ke jutaan orang yang mencoba nulis di sana, distribusinya sangat timpang. Sebagian kecil penulis populer menyapu mayoritas pendapatan, sisanya nulis nyaris tanpa penonton berbayar.
Poin saya, model Substack memang tidak mewajibkan penulis bayar di depan. Tapi kenyataannya, mayoritas penulis di Substack pada akhirnya “membayar” dengan cara lain (waktu, tenaga, dan harapan) — tanpa hasil finansial yang sepadan.
Saya cukup kesulitan menemukan data spesifik Indonesia. Dugaan saya sih lebih suram lagi.
X (Twitter): Penulis yang Bayar, Bukan Cuma Berharap Dibayar
Nah, ini yang menurut saya paling terang-terangan. X Premium sekarang punya sekitar 14,2 juta subscriber. Tapi menariknya, riset menunjukkan sekitar 70% orang subscribe X Premium bukan karena mau baca konten premium orang lain, melainkan demi centang biru dan dorongan algoritma untuk akun mereka sendiri. Artinya mayoritas yang bayar ke X itu justru para kreator/penulis yang pengin cuitannya lebih dilihat, bukan pembaca yang mau mengakses tulisan tertentu.
Di sisi lain, X memang membayar kreator lewat bagi hasil iklan — totalnya USD 415 juta di 2025, naik dari USD 260 juta di 2024. Kedengarannya menjanjikan. Tapi begitu dibedah, konsentrasinya ekstrem: 1% kreator teratas bisa meraup lebih dari USD 52 ribu setahun, sementara akun yang termonetisasi secara median cuma dapat kurang dari USD 400 per tahun. Jauh di bawah biaya subscription Premium yang mereka bayar sendiri untuk bisa eligible ikut program itu.
Jadi di X, alurnya makin jelas: penulis bayar dulu ke platform (biar dilihat, biar eligible), platform untung dari situ, dan cuma segelintir penulis yang akhirnya balik modal dari sisi pendapatan kreator.
Bagaimana dengan Indonesia dan Asia Tenggara?
Konteks regional ini yang menurut saya makin menguatkan argumen di atas. Indonesia adalah pengguna X terbesar keempat di dunia, dengan sekitar 17,65 juta pengguna. Tapi soal newsletter berbayar ala Substack, konsep ini masih sangat asing buat kebanyakan pembaca Indonesia. Bahkan penulis-penulis lokal yang mulai coba Substack pun mengakui pembaca Indonesia belum terbiasa bayar untuk newsletter. Penulis berbahasa Indonesia di Medium pun jumlahnya makin menyusut beberapa tahun terakhir.
Ini nyambung dengan apa yang pernah saya bahas soal penulis novel tsugaeda dan novelnya yang berkualitas tapi kurang laris. Mayoritas orang Indonesia (dan mungkin Asia Tenggara secara umum) sudah terbentuk psikologisnya bahwa konten itu seharusnya gratis, yang perlu dibayar cuma kuota internetnya. Kalau pembaca aslinya saja enggan bayar buku fisik atau newsletter, bagaimana caranya platform-platform ini berharap ekosistem “pembaca bayar penulis” bisa jalan mulus di pasar kita?
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Jadi “Customer”?
Kalau kita tarik garis lurus dari tiga platform di atas, polanya cukup konsisten: penulis lebih sering berperan sebagai pembayar ketimbang penerima bayaran. Di Medium, penulis bayar membership duluan. Di X, mayoritas yang subscribe Premium adalah kreator yang pengen dilihat, bukan pembaca yang mau baca. Di Substack, walau tidak ada biaya di depan, cuma segelintir penulis yang benar-benar dapat penghasilan berarti, sisanya menyumbang waktu dan konten gratis yang bikin platform makin ramai dan makin menarik buat pembaca baru (dan calon penulis baru yang juga akan coba peruntungan).
Dengan kata lain: Justru penulis-lah yang jadi salah satu sumber pendapatan utamanya, baik lewat membership langsung, subscription untuk fitur visibilitas, maupun lewat konten gratis yang menjaga platform tetap hidup dan menarik trafik iklan. Bukan pembacanya.
Lalu Kenapa Tidak Nulis Gratis di WordPress Saja?
Ini pertanyaan yang jujur saya kepikiran juga, kalau misal nantinya saya mau menulis dengan “serius”, bukan sekadar ngeblog seperti yang sudah saya jalani lebih dari 20 tahun. Kalau toh peluang dapat bayaran dari pembaca kecil, dan yang lebih sering bayar justru penulis sendiri, bukannya lebih rasional publish gratis saja di platform yang kita kendalikan penuh, tanpa potongan, tanpa membership fee?
Jawabannya, menurut saya, tergantung bagaimana kita memaknai platform-platform berbayar itu. Kalau dilihat murni sebagai “tempat jualan tulisan ke pembaca”, datanya di atas cukup menunjukkan itu jalan yang berat, apalagi untuk pasar Indonesia/SEA. Tapi kalau dilihat sebagai marketing engine tempat membangun distribusi, algoritma, dan audiens yang tidak bisa kita bangun sendiri secepat itu di WordPress maka biaya membership atau subscription itu sebenarnya lebih mirip biaya iklan atau biaya akuisisi audiens, bukan investasi untuk “dibayar pembaca”.
Bedanya krusial: kalau niatnya jualan tulisan, ROI-nya harus dihitung dari pendapatan pembaca, dan itu kelihatan berat berdasarkan data. Tapi kalau niatnya membeli jangkauan dan distribusi, ROI-nya harus dihitung dari pertumbuhan audiens dan reputasi, bukan dari uang yang masuk langsung dari pembaca. Banyak penulis yang salah menempatkan ekspektasi ini . Berharap dibayar pembaca, padahal yang sebenarnya mereka beli adalah panggung.
Jadi sebelum bertanya “bisa nggak cuan dari nulis”, mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah: platform yang saya pakai ini sebenarnya jualan apa ke saya? Jualan panggung atau jasa pemasaran karya saya? Terus, saya beli itu dengan sadar atau tidak?
Saya penasaran gimana pengalaman teman-teman yang nulis di Medium, Substack, atau X. Ada gak yang benar-benar “balik modal” dari sisi penulis?
Sumber data-data: Substack Statistics (Backlinko), Medium Partner Program membership requirement, X Creator Monetization Statistics 2026, Pengguna X Indonesia (Dataloka), Substack Indonesia panduan.