
“Carilah dia di punggung gunung, udaranya dingin, ramai orang makan, banyak ular bersembunyi.”
Menyan itu belum habis terbakar ketika Datu Omba mencelupkan jarinya ke mangkuk batok kelapa, lalu menoreh setetes darah babi ke tanah di antara kaki Nai Ria. Bau anyir bercampur asap cendana memenuhi ruang tamu yang sempit itu — ruang tamu rumah kontrakan, dengan foto keluarga berjejer satu dinding, dan berbagai ornamen khas orang pintar di dinding satunya. Bekerja sebagai staf rendahan pemda tidak cukup menghidupinya, membuatnya mendadak jadi “orang pintar”. Seragam cokelat khaki Datu Omba masih melekat di badannya, lengkap dengan tanda pengenal yang menggantung di saku dada, seakan ritual itu bisa dijalankan sambil menunggu jam balik ke kantor demi absensi.
“Punggung gunung,” ulang Datu Omba, matanya terpejam, suaranya berat-berat mendayu seperti orang mengaji tanpa hafal. “Udaranya sangat dingin, tapi ramai orang makan di situ. Tapi hati-hati, banyak ular bersembunyi di sana.”
Nai Patar, yang duduk di sebelah Nai Ria dengan lutut rapat dan tangan mencengkeram tas kecilnya, menoleh cepat. Ia tahu tempat itu. Semua orang Jogja yang sering piknik ke atas tahu tempat itu, Kaliurang atas, daerah Batranan, hawanya dingin menusuk, ada hutan bambu yang gelap kalau sudah lewat magrib, di mana penduduk sekitar sering cerita ular menclok di rumpun-rumpun bambu itu. Dan di depan hutan bambu itu, ada rumah makan yang selalu penuh, parkirannya sampai meluber ke bahu jalan. Di belakang rumah makan itu, deretan rumah petak kecil-kecil, disewakan bulanan, biasa dihuni mahasiswa atau pasangan yang datang untuk sembunyi.
Nai Ria menahan senyum yang nyaris lolos dari sudut bibirnya.
Ia lega Datu Omba cuma seorang pembual.
—
Dua minggu sebelumnya, Nai Sondang berpapasan dengan Pak Ria di Pasar Bantul, di lapak ikan mujair langganan mereka berdua. Nai Sondang, dengan kresek isi terong dan cabai rawit menggantung di kedua tangan, menghentikan langkah begitu melihat sosok yang dikenalnya sejak belasan tahun lalu, sesama perantau dari sisi utara Sumatera.
“Pak Ria,” katanya, agak berbisik meski tak ada yang mengenal mereka di pasar itu selain sesama perantau. “Gimana, jadi ke Datu Omba? Nai Ria sudah cerita, katanya mau, tapi masih belum ke sana juga.”
Pak Ria mengangkat sekantong ikan asin, seolah itu jawaban yang cukup. “Iya, nanti ya.”
“Sudah sebulan lebih lho ini, Pak Ria”
“Iya, ntarlah,” potong Pak Ria lagi, lebih pendek. Ia menyelipkan kembalian ke saku celana, lalu berjalan pergi tanpa menoleh, meninggalkan Nai Sondang berdiri di antara bau amis ikan dan tumpukan es yang mulai mencair.
Nai Sondang pulang dengan perasaan yang tidak enak dikunyah. “Anak gadisnya hilang, kok santai banget ya,” gumamnya.
—
Arisan bulan itu diadakan di rumah Nai Patar, di gang sempit dekat Kweni, tidak jauh dari rumah Nai Ria, rumah dengan teras berlantai semen yang selalu digelari tikar pandan setiap ada acara. Ibu-ibu duduk melingkar, kaki dilipat ke samping, piring kecil berisi kacang rebus dan pisang goreng berpindah dari satu pangkuan ke pangkuan lain. Arisan ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun. Wadah bagi mereka yang datang dari sisi Utara Sumatera, lalu tersebar di Jogja. Dengan arisan ini, mereka bisa terus menjaga tali persahabatan tetap terikat, sejauh apa pun rantau membawa mereka.
Nai Jeges menyandarkan punggung ke tiang teras, suaranya direndahkan tapi tidak cukup rendah. “Aku dengar dari warung dekat rumah Nai Ria. Sebeluma dia hilang, katanya si Ria itu, tengah malam, suka dibonceng cowok naik motor pergi. Bukan cuma sekali.”
“Siapa cowoknya?” Nai Ema menyahut, matanya berkilat penasaran, jarinya berhenti mengupas kacang.
“Nggak ada yang tahu. Tapi kalau sudah begitu, biasanya…” Nai Jeges tidak menyelesaikan kalimatnya, cukup mengusap perutnya sendiri dengan telapak tangan, gerakan kecil yang tidak butuh penjelasan lagi.
“Kasihan Nai Ria kalau benar,” Nai Ema membalas, suaranya turun jadi bisikan murni. “Umur segitu belum nikah, terus…”
Nai Sondang, yang duduk paling dekat pintu, melihat sosok Nai Ria muncul dari balik pagar, menenteng termos teh panas yang tadi sudah disiapkan dari rumah. Nai Patar buru-buru menggeser badan mendekati Nai Jeges dan Nai Ema, memotong dengan suara agak keras, “Eh, sudah ambil arisannya belum ini, kertas kocoknya di mana?” sambil matanya melirik cepat ke arah pintu, memberi kode.
Nai Sondang, Nai Jeges dan Nai Ema langsung diam, seperti anak sekolah yang ketahuan mencontek.
Nai Ria duduk di antara mereka, meletakkan termos, tersenyum seperti biasa. Senyum yang menurut Nai Sondang belakangan ini agak terlalu rapi mengingat putrinya yang belum kembali ke rumah.
“Nai Ria,” Nai Sondang memulai lagi setelah kocokan arisan selesai dan uang sudah berpindah tangan, “aku kepikiran soal Ria. Jangan tersinggung, ya. Ini karena aku perduli, lho. Jadi, sudah coba ke Datu Omba belum? Kemarin sudah kuingatkan Pak Ria.”
“Ke Datu Omba?” Nai Jeges menyela, kening berkerut. “Ih, ngapain ke situ. Ke kantor polisi saja, lapor orang hilang. Itu yang benar.”
“Betul,” Nai Ema menimpali. “Sudah lebih sebulan, lho, Nai Ria. Ini bukan main-main.”
Nai Patar, yang dari tadi diam memperhatikan sambil menuang teh ke gelas-gelas kosong, akhirnya bersuara. “Kalau menurutku, kita aja yang bantuin. Kita bareng-bareng cari. Kita kan kenal daerah sini, tinggal tanya-tanya warga, teman-temannya, bagi-bagi tugas siapa cari ke mana.”
Ibu-ibu lain mengangguk setuju. Nai Ria tersenyum lagi, kali ini sambil mengangkat kedua tangan seperti mau berdoa.
“Terima kasih ya, semua,” katanya, suaranya hangat, dibuat sehangat mungkin. “Tapi aku yakin, Ria nggak akan kenapa-kenapa, kok. Dia itu anak yang kuat,” ujarnya dengan senyum.
“Pikirin masa depannya, Nai Ria. Masih panjang lho perjalanan Ria putrimu itu,” Nai Sondang mengingatkan. Nai Ema dan Nai Jenges mengangguk cepat, mengamini kekhawatiran teman mereka itu.
“Aku percaya, masa depannya juga akan baik-baik saja. Bisa baik kok itu nanti.” jawab Nai Ria tenang.
Hening sebentar. Nai Sondang saling pandang dengan Nai Ema, lalu dengan Nai Jeges. Semua sama-sama bingung dari mana keyakinan itu datang, ketika anak gadisnya sendiri sudah hilang lebih dari sebulan tanpa kabar.
Hanya Nai Patar yang tidak ikut bertanya. Ia menatap Nai Ria lama, matanya tajam, menahan bibirnya untuk tidak mengutarakan isi kepalanya. “Waktunya tidak tepat.” ujarnya dalam hati.
—
Seminggu setelah arisan itu, Nai Ria mengetuk pintu rumah Nai Patar sore-sore, meminta ditemani ke rumah Datu Omba. “Biar Nai Sondang sama yang lain berhenti nanya-nanya,” katanya ringan. Nai Patar mengangguk saja, mengambil kunci motor, dan mereka berboncengan menyusuri gang menuju kampung sebelah, daerah rumah kontrakan para pegawai pemda.
Dan di situlah mereka sekarang, di ruang tamu bau menyan dan darah babi, mendengar Datu Omba menyebut punggung gunung, udara dingin, rumah makan yang ramai, dan persembunyian ular. Deskripsi yang cukup gampang ditebak bagi siapa pun yang tinggal di Jogja dan sering lewat daerah Kaliurang.
Setelah membayar dua ratus ribu rupiah sesuai janji di awal sebelum ritual dimulai, Nai Ria dan Nai Patar pulang dengan sepeda motor dalam diam. Nai Ria dibonceng di belakang.
Di tengah jalan, baru Nai Ria membuka suara, nyaris tersenyum.
“Tukang bohong Datu Omba, itu ternyata. Tidak mungkin Ria ada di sana. Terlalu ramai, terlalu mudah diketahui.”
Nai Patar melirik dari spion. “Kau yakin bukan di situ?”
“Aku yakin,” jawab Nai Ria pendek, matanya lurus ke depan, ke jalan aspal yang mulai retak-retak dimakan panasnya matahari. Ia tidak menambahkan apa-apa lagi, dan Nai Patar tidak bertanya lebih jauh, meski di dalam dadanya ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang sudah beberapa waktu ini ia simpan tapi belum saatnya dikeluarkan.
—
Esoknya, rumah Nai Sondang penuh sesak. Bukan arisan, tapi rapat kecil persiapan pernikahan putrinya, Sondang. Rencananya akan digelar di kampung calon suaminya, tiga bulan lagi. Di tengah rapat itu, Nai Sondang tidak tahan untuk tidak bertanya, matanya berbinar penasaran seperti anak kecil menunggu jawaban ujian.
“Gimana, Nai Ria, kemarin jadi ke Datu Omba? Apa katanya?”
Nai Ria terlihat enggan menjawab. Nai Patar seperti paham, meletakkan gelasnya lalu mengambil alih memberi jawaban. Ia lalu bercerita soal prosesi yang dilakukan Datu Omba hingga kode lokasi yang diberikan. Tapi ia menutup rapat mulutnya soal Datu Omba yang dibilang tukang bohong oleh Nai Ria.
Nai Sondang sumringah mendengar cerita Nai Patar, “Apa kubilang. Memang hebat orang itu, langsung bisa tahu kan dia!”
Nai Jeges langsung menepuk paha. “Itu Kaliurang atas! Di Batranan situ, kan? Ada rumah makan yang rame itu, di belakangnya banyak rumah petak disewakan. Pasti di situ si Ria.”
“Betul! Ada hutan bambu dekat situ, yang banyak ular itu,” Nai Ema menimpali cepat. “Kita samperin saja yuk. Aku bisa ikut. Mumpung ada waktu nih.”
Semua mata beralih ke Nai Ria, menunggu responnya.
“Tidak usah, tidak apa-apa kok aku urus sendiri,” kata Nai Ria, tersenyum lagi, senyum yang mulai terasa seperti dinding. “Nai Sondang pasti sangat sibuk perlu banyak bantuan kalian. Lagian kan ada Pak Ria, biar kami saja yang urus.”
Mereka terdiam, seperti bicara dengan tembok.
Nai Patar menahan rasa penasarannya. Kalau Nai Ria bilang Datu Omba tukang bohong, mengapa dia tidak bilang ke mereka semua.
Di sudut ruangan, dekat pintu, Pak Ria duduk agak menjauh dari kerumunan ibu-ibu, memegang gelas kopi yang sudah dingin. Ia mengamati istrinya dari jauh tanpa ekspresi, tanpa suara.
—
Sore harinya, setelah tamu-tamu pulang satu per satu dan rumah Nai Sondang mulai sepi, Nai Ria masih tinggal, membungkusi sisa daging babi kecap dan ayam pedas ke dalam kantong-kantong plastik kecil untuk dibawa pulang. Nai Patar mendekat dari belakang, berdiri diam sebentar sebelum akhirnya membuka mulut, suaranya turun jadi bisikan yang hanya bisa didengar mereka berdua.
“Aku tahu Nai Ria,” katanya pelan. “Dulu kau juga seperti Ria, kan?”
Tangan Nai Ria berhenti di tengah melipat plastik kantong makanan.
“Waktu di kampung, kau punya anak, entah dari siapa. Makanya kau merantau jauh-jauh ke sini.”
Nai Ria berdiri kaku, seperti tersambar petir di siang bolong tanpa mendung sebelumnya. Ia tidak tahu, sungguh tidak pernah tahu, bahwa Nai Patar sudah menyimpan rahasia itu bertahun-tahun.
Nai Ria melangkah cepat ke belakang dapur, ke tempat gelap di antara tumpukan kayu bakar dan panci besar bekas masak untuk tamu. Di situ ia menangis, tangannya menutupi mulut, bahunya bergetar bak orang menahan batuk yang tak boleh terdengar.
Nai Patar mengikutinya, berdiri di ambang pintu, membiarkan Nai Ria menangis sampai reda sendiri. Nai Patar akhirnya bercerita bagaimana ia tahu rahasia Nai Ria.
Hampir sepuluh tahun lalu salah seorang saudara dekat Nai Patar, yang dulu sekampung dengannya, pernah mampir ke rumahnya di Bantul. Perempuan itu datang tepat ketika Nai Ria baru saja meninggalkan rumah Nai Patar. Walau hanya berpapasan dari atas sepeda motor, perempuan itu mengenalinya seketika. Tanpa diminta ia bercerita panjang lebar soal masa lalu Nai Ria di kampungnya, desa Hutaling.
Dia pernah tinggal di Hutaling sebelum ia menikah dan pindah ke kampung suaminya. Tidak banyak penduduk di kampung di atas bukit itu, dan kebanyakan penduduk di situ masih punya ikatan darah. Itulah sebabnya rahasia sebesar itu tetap tertutup rapi, semua saling jaga. Perempuan itu minta itu jadi rahasia berdua mereka saja. Ia berani cerita ke Nai Patar karena mereka saudara dekat.
“Debora,” ucap Nai Ria, suaranya serak, hampir tak terdengar. “Sempat kunamai dia Debora setelah lahir. Terus… besoknya aku langsung disuruh pergi dari kampung. Kata mereka biar aku masih punya harapan. Masa depan. Aku pun tidak tahu Debora setelah itu dititipkan lagi ke siapa.” Air matanya semakin tumpah.
Nai Patar menunduk, matanya basah tapi tidak sampai jatuh, nama itu punya arti lain buatnya. Tapi ia menghiraukannya sejenak.
“Jangan diulang lagi kisah itu, Nai Ria,” katanya pelan.
“Kalau bisa memutar waktu, pasti kau juga tidak mau kejadiannya seperti itu. Carilah Ria, kalau memang dia memang hamil seperti kau dulu, jangan jadi seperti orang tuamu dulu,” lalu Nai Patar memeluk Nai Ria.
—
Pak Ria muncul di ambang dapur beberapa menit kemudian, penasaran melihat istrinya tak kunjung kembali ke ruang tamu. Ia menemukan Nai Ria masih terisak pelan, matanya sembab, dan Nai Patar berdiri di sampingnya dengan wajah yang berat menahan sesuatu.
Nai Patar akhirnya menceritakan semuanya. Soal Debora, soal rahasia yang disimpannya bertahun-tahun. Pak Ria mendengarkan tanpa memotong, rahangnya mengeras, tapi ia tidak terkejut sama sekali. Nai Patar sudah menduga, pasti Pak Ria sudah tahu juga jejak kelam Nai Ria ini.
Lalu, setelah cerita itu selesai, Nai Patar akhirnya mengeluarkan apa yang sedari kemarin mengganjal di dadanya. “Kalian sebenarnya tahu di mana Ria, kan? Kenapa nggak dijemput saja?”
Kali ini giliran Nai Patar yang terdiam, karena jawaban yang keluar dari mulut Pak Ria bukan yang ia duga.
“Kau sudah tahu soal cerita kelam itu, kan,” kata Pak Ria, suaranya datar, seperti orang membaca daftar belanjaan. “Dulu aku juga jadi laki-laki bajingan. Menghamili perempuan, cuma buat pelampiasan. Waktu itu, orang tuanya cari ke mana-mana, dan semakin mereka cari, semakin jauh kubawa perempuan itu pergi. Kuancam dia, biar diam, biar nurut. Sampai dia yang sadar sendiri setelah keguguran lalu kabur dari aku. Makanya aku juga menghilang. Sampai ke sini.”
Pak Ria memberikan alasannya, “Iya, kami tahu di mana Ria dan pacarnya itu tinggal. Tapi kalau kami datangi mereka, bakal seperti Mak Ria ini dia nanti. Dia masih merasa laki-laki itu dunianya. Sementara laki-laki itu akan berbuat seperti aku. Tunggu sebentar lagi, pasti Ria sadar dan pulang.”
Pak Ria malu-malu menyeka air matanya yang entah kapan mulai turun. “Tidak apa-apa. Biarlah kami bayar dosa kami,” sambungnya dengan suara bergetar. Sementara Nai Ria masih termenung. Semakin banyak jejak kelam masa lalu yang bangkit dari kubur.
Susana hening seketika di belakang dapur. Bau kayu bakar dan aroma makanan yang masih tersisa di udara terasa campur aduk untuk cerita sepahit itu.
“Mak!”
Teriakan yang memecah keheningan itu datang dari jarak cukup jauh. Patar, anak satu-satunya Nai Patar muncul, bercelana pendek dan berjaket hitam berdiri di samping jemuran di ujung pekarangan belakang rumah Nai Sondang. Ia mengitari rumah mencari ibunya untuk menjemputnya pulang.
“Ayo pulang, Mak, keburu gelap.” sambungnya. Nai Patar mengusap wajahnya lalu bergegas menyusul Patar ke motornya yang masih menyala, helm tergantung di setang. Nai Ria dan Pak Ria pun segera membereskan bungkusan makanan dan ikut pulang. Rumah mereka memang berdekatan.
—
Mereka berempat -Nai Patar, Patar, Nai Ria dan Pak Ria- berjalan beriringan menyusuri gang, melewati got kecil yang airnya masih bening sisa hujan sore. Tak ada yang bicara sepanjang perjalanan itu.
Sampai di depan rumah Nai Ria, mereka semua berhenti mendadak.
Di teras, di atas bangku bambu tua yang biasa dipakai Pak Ria duduk sore-sore sambil merokok, Ria duduk sendirian. Tas pakaian tergeletak di sampingnya, kusut, salah satu talinya putus dan diikat asal-asalan. Wajahnya kuyu, bekas air mata masih membekas kering di pipinya, rambutnya lepek menempel di dahi. Kancing depan jaket jeansnya dibiarkan terbuka. Dan di balik daster longgar yang dipakainya, perutnya membuncit, jelas sekali.
“Ria!” Nai Ria berteriak, suaranya pecah, berlari kecil menuju teras.
“Ria, sudah pulang kau nak?!” Pak Ria menyusul dari belakang, suaranya juga pecah, entah sejak kapan terakhir kali ia berteriak seperti itu.
Mereka berdua memeluk Ria, yang hanya bisa menangis lagi, lebih keras kali ini, wajahnya dibenamkan ke bahu ibunya. Tidak ada yang peduli lagi siapa yang menghamilinya, ke mana laki-laki itu pergi. Yang penting anak itu pulang.
Nai Patar menahan Patar yang hendak turun dari motor untuk ikut mendekat. “Sudah, kita lanjut saja pulang,” katanya pelan, menariknya menjauh. “Mereka butuh waktu sendiri.”
—
Sampai di rumah, sambil melepas helm dan menggantung jaketnya di paku dinding, Patar bertanya, suaranya penasaran tapi juga hati-hati, “Ria itu hamil, ya, Mak? Tapi bapaknya nggak jelas siapa?”
Nai Patar tidak menjawab, sibuk melepas sandal jepitnya di depan pintu.
“Kayak Bapak dulu, ya, Mak?” lanjut Patar, lebih pelan, lebih hati-hati lagi, seolah tahu ia menginjak tanah yang rapuh. “Habis tahu Mamak hamil aku, terus kabur?”
Nai Patar menghela napas panjang, jauh lebih berat dari sekadar kelelahan seharian. “Yang penting,” katanya akhirnya, pendek, “kamu jangan jadi laki-laki kayak gitu, ya.”
Patar mengangguk, tidak bertanya lagi, masuk ke rumah untuk mengganti baju.
Nai Patar masih berdiri di teras sebentar, matanya melayang ke arah perbukitan kecil di belakang rumahnya, siluetnya gelap ditelan senja yang nyaris habis.
Lamunannya kembali ke malam itu, hampir dua puluh tahun lalu, ketika ia menyeret tubuh yang sudah tak bergerak lagi menyusuri jalan setapak berbatu, napasnya memburu, tangannya gemetar bukan karena takut tapi karena marah yang belum juga reda. Ada lubang besar di bawah bukit sana, bekas galian mahasiswa KKN UGM yang dulu membangun proyek biogas, ditinggal begitu saja setelah program mereka selesai, ditumbuhi semak dalam hitungan bulan. Lubang itu cukup besar dan dalam. Cukup untuk menyimpan bangkai sapi, apalagi bangkai manusia.
Malam itu laki-laki itu datang seperti malam-malam sebelumnya. Nai Patar sedang memotong buah untuk kudapan ketika laki-laki itu bilang semua harus disudahi. Istri sahnya akhirnya hamil dan anaknya laki-laki, jadi dia tidak perlu lagi cadangan. Paling tidak dia mau berhenti dulu main-main sampai bayinya lahir.
Nai Patar hampir jatuh pingsan. Tapi dia tidak mau jatuh dan keguguran. Ia juga sedang hamil, anak laki-laki juga. Harusnya malam itu dia bisa merebut laki-laki itu dari istri sahnya. Setelah kudapan buah potong, dia mau memberikan kejutan itu. Dia akhirnya bisa berikan apa yang istri sah laki-laki itu tadinya tidak bisa berikan.
Nai Patar mengedipkan matanya, berusaha menyudahi lamunan masa lalunya itu.
Angin dari perbukitan berembus pelan, membawa bau tanah basah dan rumput yang baru dipangkas. Nai Patar bersiap menutup pintu rumahnya. Tapi dadanya sesak, perasaan setengah menyesal itu kembali datang. Ingatannya memaksa membawanya kembali melanjutkan peristiwa gelap itu.
Malam itu pisau dapurnya tidak jadi memotong buah. Pisau di tangannya berganti arah setelah laki-laki itu berani-beraninya meminta “jatah” terakhir. Setelah itu “jatah” berikutnya hanya bisa didapat dari istri sahnya, Debora.