Adegan-adegan yang biasanya ada dalam film-film Indonesia tahun 1970-an dan 1980-an:

1. Makan bersama keluarga. Entah maksudnya apa, pamer apa yang dimasak
sama pembantu rumah tangganya, atau pamer peralatan dapur. Dan
biasanya minumannya selalu jus jeruk.

2. Cinta yang tidak disetujui orang tua. Entah sudah berapa judul film
Rano Karno yang temanya beginian.

3. Ayah yang selalu berbaju safari. Biasanya warnanya coklat muda,
dengan 2 bolpen di kantongnya, membawa koper, dan biasanya ke kantor.

4. Polisi yang selalu datang terlambat. Seperti biasa, polisi selalu
terlambat untuk menangangi masalah dalam film Indonesia, dengan
kalimat yang kaku dan khas: “Ini memang buronan yang sedang kami cari,
Pak!”

5. Adegan pub/bar/nightclub. Scene ini biasanya lampu remang-remang
warna kemerahan, diiringi musik-musik kaya’ ABBA, Beegees, Kool and
The Gang. Lalu minuman diberi Continue reading “Adegan-adegan yang biasanya ada dalam film-film Indonesia tahun
1970-an dan 1980-an:”

Wawancara Kerja: Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis

Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua  pintu perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab kenyataannya, para tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam wawancara. Alasannya ? tidak smart dan taktis dalam menjawab pertanyaan.

1. Ceritakan tentang diri anda

Erina Collins, seorang agen rekruitmen di Los Angeles menyatakan seringkali ada perbedaan yang mengejutkan antara ketika kita membaca lamaran seseorang dengan saat berhadapan dengan si pelamar.

“Pengalaman menunjukkan, surat lamaran yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa pelamarnya juga sama optimisnya,” kata Erina. Ketika pewawancara menanyakan hal yang sederhana seperti “Di mata anda, siapa anda?” atau “Ceritakan sesuatu tentang anda”, banyak pelamar menatap pewawancaranya dengan bingung dan lalu seketika menjadi tak percaya diri.
Continue reading “Wawancara Kerja: Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis”

Balik ke Jogja

Hmm…, akhirnya balik lagi ke Jogja. Kembali lagi dengan rutinitas yang kadang menjemukan, kadang menantang, dan tak tak jarang kadang mengecewakan. Perbedaan besar yang terasa adalah “kebebasan”, he..he.. Kebebasan disini ada dua nih. Pertama bebas mo kemana aja, dan kapan aja (sssst….!! jangan bilang – bilang ortuku yah..), terus yang kedua nih : BEBAS INTERNETAN..!! he..he.. Kalo di Jambi internet mahal rata – rata 5000-an per jam. Ada juga sih yang murah.., 3000-an. Tapi kecepatan aksesnya itu lho.., beda banget. Buka Yahoo! aja bisa sampai 2-3 menitan. Gila gak tuh.. Sedangkan disini udah cepat, gratis lagi! (yang no 2 sebenernya paling penting sih, he.he.. :D).
Continue reading “Balik ke Jogja”

Setting Proxy untuk APT repesitory Ubuntu Linux

Mungkin ada beberapa dari kita yang koneksi internetnya berada dibelakang proxy, nyebelin sih emang. Jadi repot, tiap buka aplikasi yang butuh koneksi internet musti setting proxy dulu. Walaupun ada sisi bagusnya juga.

Nah sebagai contoh misalnya kalian mo make apt (apt-get update : misalnya), maka perlu setting proxy kan. nah settingnya di sini /etc/apt/apt.conf. Lah terus kok gak ada apt.conf di direktori /etc/apt?? Hmm.., emang sih defaultnya gak ada. Aku sendiri gak tau kenapa defaultnya gak dikasih. Gini nih, copy aja dari “/usr/share/doc/apt/examples/apt.conf”. Di copy ke /etc/apt.conf.
Continue reading “Setting Proxy untuk APT repesitory Ubuntu Linux”

Install Java di Ubuntu

Dulu aku sempat ngasih artikel tentang Java di Fedora 2 Linux. Nah berhubung sekarang aku pake Distro Ubuntu Linux, jadi sekarang make java di Ubuntu. Secara umum sih sama cara installnya dengan waktu di Fedora 2 dulu (coba baca deh tutorialnya di situs ini), hanya ada sedikit perbedaan sih.

Enaknya sih aku jelasain aja yah.
Gini nih Continue reading “Install Java di Ubuntu”

JAVA di Fedora Core 2

Wuah…, kenapa ya kadang hidup ini terasa begitu kebetulan. Beberapa waktu lalu aku netapin buat belaajar JAVA (bahasa program). Ternyata selang beberapa hari ada seminar JAVA Technology di Magister Teknologi Informasi (MTI) – UGM. Ya udah.., akhirnya aku ikut. Dan hasilnya sangat memuaskan. Sejauh ini yang kutahu JAVA itu udah memenuhi apa yang kuinginkan. Antara lain :

  • Bahasa yang bisa lintas berbagai platform OS
  • Bisa juga lintas device (semisal di PDA, ato HP)
  • Open Source dan gratis (jadi gak perlu jadi pembajak.. < --- ini masuk yang paling penting
  • Headernya (package nya) standar.., gak beda – beda kayakn headernya C/C++ di Windows, Linux, UNIX, AIX, FreeBSD..

Yah.., sekitar itu deh pokoknya. Oh ya mo sedikit bagi – bagi pengalaman nih dengan cara instal JAVA di Linux (Fedora 2) :
Continue reading “JAVA di Fedora Core 2”