Tokopedia vs Koprol

Sekitar tahun 2009, sewaktu berkunjung ke Jogja, saya dan seorang sahabat lama ngobrol soal startup-startup di Indonesia. Waktu itu yang cukup hot adalah Koprol. Menarik, karena eksekusinya serius. Tapi dalam pandangan saya waktu itu Koprol bukanlah sesuatu yang akan bertahan lama. Tapi lebih kepada trend. Seperti film bioskop, heboh untuk beberapa waktu, setelah itu jadi … Continue reading Tokopedia vs Koprol

Direktur, CEO, Komisaris, Pemilik Saham dan Nasib Karyawan

Di sela waktu yang sedikit senggang menjelang jam pulang kantor, Bulha dan Haran ngabur sebentar buat jajan siomay di gang sempit sebelah kantor mereka. Seperti kelas menengah lainnya di Jakarta, obrolan tentang karir sering keluar di waktu – waktu seperti ini. Bulha: Ran, gue pikir jadi karyawan di perusahaan gede bakal enak. Ternyata gak ya. … Continue reading Direktur, CEO, Komisaris, Pemilik Saham dan Nasib Karyawan

Mengapa Bulha Menjadi Anggota DPRD

Berikut profil Bulha: Profesi: Pemilik saham di berbagai bisnis kecil dan menengah (ternak lele, toko handphone, developer rumah, warnet, dll). Non-Profesi: Aktif di berbagai organisasi keagamaan, dan kepemudaan. Status : Beristri, anak 1. Lingkaran sosial: Dekat dengan berbagai tokoh penting di berbagai lapisan (berkat kemampuan bersosialisasi dan keaktifkan di berbagai organisasi). Singkat cerita, Bulha akhirnya … Continue reading Mengapa Bulha Menjadi Anggota DPRD

Tentang Twitter Satu Arah

Saya sering membaca tulisan dari orang – orang yang berkecimpung di dunia digital, yang “mengecam” maraknya perusahaan yang menggunakan asset digital (Facebook, Twitter, YouTube), dll tetapi hanya satu arah. Menurut mereka, social media itu harusnya dua arah. Penggunaan satu arah itu, salah kaprah.. Perusahaan – perusahaan ini harusnya aktif menggunakan Facebook, Twitter dan YouTube nya … Continue reading Tentang Twitter Satu Arah

Is It Worth It ?

Magdalena T: Magda kelas berapa, dek? J: 2 SMP.. T: Kok sore gini masih nongkrong di tempat kursus musik? J: Sopir Papa belum jemput. Katanya lagi nganterin papa meeting dulu. T : Kursus musik dari jam berapa emang? J: Jam 4 sore mulainya. Tapi sebelum kursus musik, Magda kursus bahasa Inggris dulu.. T: Oh gitu.. … Continue reading Is It Worth It ?

Masa Tiba – Tiba Pulang Kampung terus Ternak Ayam ?

Beberapa Minggu lalu tak sengaja bertemu teman lama di Jogja yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan lokal di bidang makanan di Jakarta. Walaupun ini perusahaan lokal, tapi produknya udah jadi salah satu top brand di Indonesia, bahkan sudah mendunia. Ekspansi nya sudah ke mancanegara. Setelah bincang – bincang ngalor ngidul, mulailah sesi keluhan. Teman saya … Continue reading Masa Tiba – Tiba Pulang Kampung terus Ternak Ayam ?

Programmer Sukses

Bulha sedang menunggu pesanan sego kucing dan es tehnya ketika seorang gadis yang membawa kamera DSLR, dengan tas ransel di pundak, kaos oblong, dan celana jins pendek mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Lokasi mereka nongkrong memang cocok untuk mengabadikan apa yang terlihat di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret, yaitu di depan Kantor Pos perempatan … Continue reading Programmer Sukses

Tak Bisa Bahasa Jawa dengan Bahasa Jawa

Selama saya di Jogja, saya sudah cukup terbiasa dengan “tounge switching” ala masyarakat Jawa. Tongue Switching itu maksudnya, berganti bahasa ketika berbicara dengan orang yang lebih tua / lebih dihormati. Jika tadinya berbicara dengan Jawa Ngoko, maka ketika berbicara dengan orang tua, atau orang yang dihormati, bahasanya berganti ke yang lebih halus (tapi sepertinya masih belum Kromo Inggil). *Tongue Switching* itu istilah saya sendiri, jadi gak usah cari di Wikipedia yah..

Hari Sabtu tanggal 20 lalu, saya justru terjebak sendiri dengan Tongue Switching ini. Waktu itu saya, ditemani Yodi mengirimkan sekotak kardus ganja kering ke kampung halaman saya. Selesai mengurus berkas administrasi dengan mbak – mbak di Kantor Pos, paket saya itu dibungkus dengan karung oleh seorang ibu – ibu. Karung itu juga di jahit setiap sudutnya agar lebih rapi. Setelah itu saya menuliskan alamat rumah saya di karung itu dengan spidol. Gratis? Hooo.. tentu saja.., kalau dia ibumu.. Kalau enggak, ya bayar.

[Updated – 1 Jan 2009 : Si Gilingan Cabe itu ternyata mengambil fotoku]
Kantor Pos
Karena dia adalah seorang ibu, maka saya pun otomatis melakukan Tongue Switching.

Saya : “Sampun Bu?” (*Sudah Bu?)

Si Ibu : “Inggih Mas” (*Iya Mas)

Saya : “Pinten Bu?” (menanyakan biayanya)

Si Ibu : “Sedhoso mawon mas..” (*sepuluh aja mas)

Saya : (saya bingung, sedhoso itu dalam bahasa Indonesia berapa ya? Maka saya pun bertanya) “Sedhoso niku pinten Bu?” Continue reading “Tak Bisa Bahasa Jawa dengan Bahasa Jawa”