Xiaomi Redmi Note 3 – Tidak Perlu Earphone atau Headset untuk Mendengarkan Radio FM

Beberapa alasan sederhana membuat saya pindah dari Asus Zenfone 2 ke Xiaomi Redmi Note 3. Tentunya alasan selain 7x bolak-balik ke service center Asus sih.

Belakangan saya menemukan alasan lain kenapa saya menyukai ponsel ini. Ternyata tak saya tidak perlu mencolokkan headset/earphone ke ponsel ini untuk mendengarkan radio FM. (Bukan radio internet loh ya). Bukan fitur penting sih, tapi kadangkala saya ada di situasi di mana headset, earphone ataupun colokan speaker dengan jack 3.5mm susah dijangkau. Di saat seperti ini fitur ini sangat berguna.

Saya tidak tahu kalau fitur ini ada atau tidak di ponsel lain, tetapi pengalaman saya beberapa kali menggunakan Android, baru kali ini yang nemu begini. Bahkan di masa-masa jaya Nokia, semua yang saya temui harus menggunakan headset baru bisa dengerin radio FM nya.

Cuma emang tampilannya super polos gitu sih aplikasinya. Aselik.

Pengemudi Uber Ini Ternyata Ayah dari Siti Saniyah (Kontestan The Voice Indonesia)

Hari ini Taksi BlueBird gratis 24 jam. Tapi tadi di Kuningan saya sulit sekali menemukan taksi yang kosong. Akhirnya kembali lagi naik Uber, tak sampai 5 menit sudah dijemput.

Singkat cerita. Setelah ngobrol soal heboh demo pengemudi taksi kemarin, tiba-tiba si pengemudi (namanya Pak Medi) loncat ke topik lain.

Pak Medi (PM): Suka nonton The Voice, Pak?

Saya: Nonton awal-awal doang sih, Pak. Di YouTube. Saya inget ada tuh yang nyanyi-nyanyi seru sama Agnez Mo pas audisi.

PM: Nah, anak saya lolos tuh, Pak. (Ujarnya dengan bangga)

Saya: Hah?! Serius, Pak? Siapa namanya? Read more Pengemudi Uber Ini Ternyata Ayah dari Siti Saniyah (Kontestan The Voice Indonesia)

Google Keep – Aplikasi Pencatat Sederhana Terbaik di Android

Selama beberapa tahun, saya menyimpan catatan-catatan pendek di ponsel Android saya di dalam sebuah file text. Setiap ada yang mau dicatat, diubah atau dilihat, saya membuka file itu dengan aplikasi teks editor. Ketika saya berganti ponsel, atau me-reset ponsel saya, file text ini saya pindahkan terlebih dahulu ke komputer, lalu saya transfer balik. Terus begitu.

Saya tahu ada aplikasi Evernote dan lain-lainnya yang bisa digunakan untuk fungsi ini. Canggih-canggih pula. Auto-sync ke cloud, bisa dibuka di mana saja. Sayangnya justru dari beberapa aplikasi yang saya coba, kebanyakan malah overkill. Kebanyakan fitur.

Sampai akhirnya suatu hari saya upgrade sistem operasi di Nexus 4 saya. Setelah restart, muncul aplikasi baru di Android saya. Google Keep. Saya buka, dalam hitungan detik saya langsung bisa menebak ini adalah aplikasi pencatat. Saya coba sedikit. Lalu saya tinggalkan. Entah mengapa saya masih tidak percaya dengan penyimpanan cloud, auto-sync, bla..bla..bla nya.

Sampai akhirnya saya pernah eksperimen mengganti ROM Nexus 4 saya ke MIUI. Dan apesnya, saya lupa membackup file catatan saya tadi itu. Hilanglah sudah. Di desktop saya backup terakhir adalah 3 bulan sebelumnya.

Dan sejak saat itu saya tobat, dan menggunakan Google Keep. Dan setelah rutin menggunakan saya baru sadar begonya saya, kenapa gak dari dulu pakai aplikasi ini. Karena fungsinya persis seperti yang saya butuhkan.

[Sumber: Google Play]
Di Google Keep hal-hal yang membuat saya betah:

  • Antarmuka nya sederhana dan gampang dipahami. Mau dipakai dengan sederhana (cuma nyatet teks), bisa banget gak keganggu. Tapi mau dipake ribet (ganti background warna, set reminder, kasih label, title, dll) juga bisa.
  • Karena dari Google, jadi gak usah khawatir lah dengan potensi server down, data hilang, dll.
  • Aplikasinya ringan dan ringkas.
  • Ada versi webnya: keep.google.com. Dan di web pun bisa digunakan seperti di aplikasinya langsung.
  • Bisa di-share (saya menggunakan akun Google yang berbeda untuk Android dan GMail)

Tips:

Saya sering menggunakan Google Keep ini untuk copy-paste teks dari ponsel Android saya ke desktop dan sebaliknya. Gampang sekali, copy teks yang anda mau (entah itu URL, tulisan, dll), paste di Google Keep. Langsung tersedia deh di ponsel maupun di website (desktop).

Oh iya, tidak semua ponsel Android menyertakan Google Keep secara default. Kalau anda memerlukan aplikasi seperti ini, jangan lupa install dulu dari Play Store.

7 Kali ke Service Center Asus, Akhirnya Berganti ke Xiaomi

[Foto: cheshireeastcouncil | flickr.com]
Saya sempat pakai Asus Zenfone 2 (yang RAM 4GB, memori 32 GB). Saya cukup puas dengan ponsel ini. Selain harganya tergolong lumayan (saya beli gak sampai 4 juta rupiah), spesifikasinya juga mumpuni. Layar lega tapi gak gede-gede amat, performa dan baterai pun menunjang. Puas lah.

Singkatnya, ponsel saya ini jatuh, dan layarnya retak parah. Jadi saya harus ke service center untuk mengganti layarnya.

Ke Service Center – I

Hari Sabtu (kalau gak salah ini di Agustus 2015), saya ke service centre Asus di STC Senayan (sebelahan sama Mall Plasa Senayan). Ternyata Sabtu mereka cuma buka dari jam 10 sampai jam 1 siang. Saya sih datangnya sekitar jam 12 siang. Masalahnya, kita harus ambil nomor antrian dulu, dan jumlah antriannya dibatasi, kalau gak salah cuma 30 orang deh. Kecuali nanti pas semua nomor antrian kelar dipanggil, tapi masih belum jam tutup, mungkin masih bisa dilayani. Sewaktu saya datang, semua nomor antrian sudah habis.

Ke Service Center – II

Sabtu minggu depannya saya datang lagi sekitar jam 10 lebih 15. Lah, nomor antriannya kok sudah habis lagi? Dengar cerita dari orang-orang, ternyata nomor antriannya itu diletakkan di luar dari Jumat malam. Jadi orang-orang sudah pada ambil dari Jumat malam sebelumnya. Selain itu ada yang ngaku dia masih bisa dapat pagi itu karena dikasih nomor antrian dari satpam, tentunya dengan “imbalan seikhlasnya.” Entahlah ini beneran atau cerita-cerita mereka saja. Read more 7 Kali ke Service Center Asus, Akhirnya Berganti ke Xiaomi

Yang Wajib Dilakukan Ketika Mengganti Alamat Email

[Foto: dskley | flickr.com]
Ada 2 media komunikasi jaman sekarang ini yang punya pengaruh besar ketika berganti. Setidaknya menurut saya, yaitu: Nomor Ponsel dan Alamat Email. Saya kebetulan baru melakukan yang terakhir ini.

Jadi apa saja yang perlu dilakukan ketika kita mengganti alamat email?

  1. Bikin email baru (pastinya ya). Untuk kasus saya, saya pakai GMail.
  2. Import semua isi inbox email lama ke email baru. Ini terlihat sederhana tapi sebenarnya agak rumit. Nanti saya ceritakan di bawah.
  3. Di email lama, jangan lupa nyalakan fitur forwarding message. Jadi setiap ada email baru yang masuk ke email lama, otomatis dikirimkan juga ke email baru kita. Caranya? Cari aja di bagian setting, terus googling sendiri ya. He..
  4. Di email lama nyalakan fitur Auto-Reply. Isinya? Intinya ngasih tahu kalau kita sudah ganti ke alamat email yang baru. Jadi jika suatu saat ada orang yang masih mengirimkan email ke alamat email yang lama, dia tahu alamat email kita sudah ganti.
  5. Update semua akun yang menggunakan alamat email lama kita. Beberapa prosesnya tidak semudah yang saya kira. Nanti saya ceritakan juga di bawah.

*Yang paling penting sih sebenarnya poin no 3 dan 4.

Lalu bagaimana jika ternyata alamat email kita yang lama sudah tidak bisa diakses ketika mau ganti ke alamat email yang baru? Ya apes sih. Mau gimana lagi. Berdoa yang banyak aja.

Import Email Lama ke Email Baru

Email saya yang lama sebenarnya di Google juga, cuma menggunakan custom domain. Dan email saya yang baru adalah email GMail generic. Tapi ternyata mengimpor email sesama Google ini tidak semudah yang saya duga. Ini beberapa opsinya:

  1. Download semua email lama saya via Outlook, Thunderbird, atau aplikasi mail clientnya. Terus upload lagi ke email baru. (Googling aja tutorialnya). Tapi ini gak mungkin buat saya. Gila, itu isi email berapa tahun. Besarnya udah belasan GB. Padahal internet saya cuma modal TelkomselFlash. Ok, skip.
  2. Di GMail saya yang baru, saya setup import POP Mail account dari akun email lama saya. Kelihatannya ini paling gampang. Toh sesama Google, pasti cepat harusnya. Kenyataanya? Enggak. Proses import nya berhenti di sekitar email saya tahun 2011. Entah kenapa. Sudah coba beberapa kali, masih gagal juga. Ok, skip.
  3. Kebetulan saya punya domain nganggur. Akhirnya domain ini saya pakai buat bikin email temporary di ZohoMail, pake custom domain (Free loh). Ternyata Zoho nyediain fitur mail migration. Nah cocok. Saya import deh email lama saya ke akun email temporary ini.
  4. Dari GMail (email baru saya), saya import lagi email di Zoho tadi via POP3. Anehnya, di sini gak ada masalah. Ok, done.

*poin no 3 ini butuh pengetahuan teknis. Anda harus setup nameserver, MX record, dll. Jadi silahkan googling aja untuk pastinya ya. (Iya.., saya males bikin tutorialnya).

Update Semua Akun dengan Email yang Baru

Yang kepikiran pertama kali, “Saya punya akun di mana saja ya?” Duh.. Banyak banget. Ok, saya urutkan dari mulai yang krusial, sampai ke seingatnya aja.

  1. Internet Banking. Nah.., untuk BCA gampang sekali. Untuk Bank Mandiri? Duhh.. *ngelus dada*. Butuh seminggu cuy. Nih detailnya.
  2. Twitter, Facebook, Path, Linkedin, Tumblr dkk (kalau ada), err.. apalagi ya? Oh iya Instagram (pas nulis ini baru inget), jarang pake sih.
  3. Go-Jek, Uber, Grab, Traveloka, AirAsia (all transportation)
  4. Credit Card! (ternyata ini kudu via telpon, beda “manajemen” dengan bank nya). Tapi cepet sih, sekitar 2 hari kalau gak salah.
  5. Akun di blog ini!
  6. Akun-akun teknis: Domain (saya pakai Name.com), Hosting (saya pakai 2 layanan berbeda), Cloud (Oh syit.., ini juga baru keingetan *brb*)
  7. Akun broker saham. Nah ini repot. Harus isi form, tanda tangan, kasih materai, lengkapi fotokopi KTP dan NPWP, lalu dikirim hardcopy-nya. Aselik, gak bisa online cuy.
  8. PayPal !
  9. DJP Pajak – e-filing. Sudah 3 tahun terakhir ini saya laporan SPT Pajak via online. Namanya DJP Online. Di bagian pengaturan profil ada 2 kolom email, “EMAIL DJPONLINE” dan “EMAIL” saja. Yang bisa diganti hanya “EMAIL DJPONLINE”. Saya gak tahu yang “EMAIL” itu buat apa, dan kenapa gak bisa diganti.
  10. Apple ID  (saya pakai Mac)
  11. Entah situs-situs apalagi yang pernah saya daftar. Biasanya baru inget dari email yang masuk. (IFTT, Feedly, AppAnnie, Wattpad, Medium, Financial Times, dsb).

Tips: Itulah gunanya mengaktifkan fitur forwarding dari email lama ke email baru. Jadi di email baru kita bisa tahu masih ada layanan-layanan yang dulu kita pernah daftar, tapi masih menggunakan email lama.

Jadi, sudah lebih siap untuk ganti alamat email?

Di Internet Banking Bank Mandiri Ternyata Tidak Bisa Mengganti Alamat Email

Mengganti alamat email itu implikasinya banyak. Karena di jaman sekarang ini biasanya kita punya akun di berbagai fasilitas online, dan kebanyakan menggunakan email sebagai acuan komunikasi utama. Salah satunya adalah Internet Banking. Kebetulan saya sendiri pakai Internet Banking dari Bank Mandiri.

Yang mengejutkan adalah, di Internet Banking Bank Mandiri ternyata kita tidak bisa mengganti alamat email kita sendiri. Aneh juga sih.

Ini menu yang tersedia di Internet Banking Bank Mandiri:

Sepertinya sih, dulu ada fiturnya. Karena sewaktu googling saya menemukan tutorialnya. Tapi entah kapan menu ini malah dihilangkan.

Solusi

Saya telpon ke Call Center Bank Mandiri, kata CS nya saya harus ke Kantor Bank Mandiri terdekat. Di situ bisa diganti. Gak dibilang sih Kantor Cabang, atau Kantor Cabang Pembantu (KCP).

Jadilah saya datang ke salah satu KCP Bank Mandiri. Awalnya CS di KCP ini bilang saya bisa ganti sendiri di Internet Banking Bank Mandiri. Lalu dia bersiap-siap mendemokannya. Daaan…, dia bengong. “Oh iya, gak ada ya Mas menunya?”

Penjelasan berikutnya malah bikin saya lebih bingung lagi. CS nya bilang mereka juga tidak bisa bantu penggantian alamat email. Saya harus ke kantor pusat. Lah…?

Saya bersikeras. Saya tanya, lalu kenapa ketika saya tanya ke Call Center, CS nya bilang bisa dilakukan di kantor Bank Mandiri terdekat?

Baru akhirnya CS di KCP ini menelpon seseorang. Mungkin superiornya. Akhirnya dia mengatakan hal ini bisa dilakukan dengan 2 opsi:

  1. Mengisi form pengajuan, nanti akan diteruskan ke kantor pusat. Tapi tidak ada SLA nya. Karena yang tahu hanya kantor pusat. Bisa jadi sampai seminggu atau lebih.
  2. Saya mengajukan penghapusan internet banking Mandiri, bisa di KCP ini atau via Call Centre. Setelah itu 2 hari kemudian, lakukan registrasi internet banking Mandiri lagi via mesin ATM. Lalu aktivasi lagi via website Bank Mandiri. Saat proses aktivasi nanti alamat email yang lama akan muncul, di situ bisa diganti.

Hmm, tidak ada satupun yang bisa dilakukan dengan cepat ya.

Saya tertarik opsi 2, karena paling enggak cuma butuh 2 hari. Masalahnya detail langkah-langkahnya ini yang kurang jelas. CS nya bilang ke saya “Ooo, tenang, Mas. Ada brosur petunjuknya kok. Lengkap di situ, tinggal ikuti saja.”

Saya lihat brosurnya. Ternyata beda. Ini adalah brosur untuk mendaftar Internet Banking pertama kali. Tidak ada satu bagian pun yang menjelaskan kapan memasukkan / mengganti email. Yang saya takutkan, nantinya ternyata malah prosesnya berbeda dengan yang diceritakan. Ujung-ujungnya saya yang repot. Ya sudah, saya pilih opsi 1 saja. Paling enggak di saya lebih ringkas.

Saya mencoba memahami mengapa fitur ini dihapus oleh Bank Mandiri. Pikiran pertama saya mengatakan mungkin demi keamanan. Kalau memang iya, lalu kenapa bank lain bisa? BCA misalnya. Di e-banking BCA saya cukup mengganti via websitenya saja menggunakan token.

Moga-moga fitur sederhana tapi krusial ini dihadirkan kembali oleh Bank Mandiri.

Himbauan tentang Film Deadpool yang Membuat Saya Teringat Kisah Mengharukan

Di social media sedang ramai tentang himbauan agar para orang tua tidak membawa anak-anaknya menonton film Deadpool di bioskop. Kenapa? Karena walaupun Deadpool adalah salah satu superhero keluaran Marvell, tapi ini bukan seperti superhero lainnya. Karena isi filmnya lumayan vulgar dan bahasanya tidak layak untuk anak-anak.

Himbauan ini mengingatkan saya pada sebuah kisah mengharukan tentang film lain di bioskop.

Masih ingat film Don Jon? Film ini juga diputar di bioskop-bioskop di Indonesia. Singkatnya film ini bercerita tentang seorang pria yang kecanduan menonton film porno. Jadi, bisa ditebaklah ya kira-kira seperti apa adegan-adegan di film ini.

Sewaktu saya menonton film Don Jon di bioskop, di sebelah saya ada pasutri (pasangan suami istri) yang ikut menonton, tapi mereka membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Tebakan saya keduanya masih duduk di bangku SD.

Saya heran. Lah ini gimana sih ortunya? Jelas-jelas ini film tentang apa, kok bawa anak kecil sih? Nanti gimana kalo pas “adegan-adegan penting” muncul?

Tapi ternyata saya malah terharu. Pasutri ini sangat bertanggung jawab. Sewaktu “adegan-adegan” penting muncul di layar, pasutri ini kompak buru-buru menutup mata anak-anaknya sampai adegannya selesai. Berulang kali. Konsisten. Beberapa kali bahkan sampai siomay si ibu terjatuh demi cepat-cepat menutup mata anaknya karena ada “adegan penting” yang tiba-tiba muncul.

Mengharukan sekali melihat pasutri ini. Saya yakin masyarakat Indonesia pasti bangga dengan mereka.

If you know what I mean…

Mengurus Perpanjangan SIM Online di Gerai Samsat Mall Gandaria City

Ini bulan Oktober, sudah jelas hari lahir saya di bulan ini. Cuma yang saya kurang jelas, atau lebih tepatnya lupa, bertepatan dengan ulang tahun, masa berlaku SIM saya pun habis. Sudah lewat beberapa hari. Saya panik, karena dulu-dulu saya harus balik ke kampung halaman cuma demi perpanjang SIM saja (SIM saya bukan terbitan Jakarta). Selain menghabiskan waktu, biaya apa lagi. Apalagi ini udah keburu habis masa berlakunya.

Lalu saya teringat bulan lalu ramai berita perpanjang SIM sekarang bisa online. Jadi walaupun SIM saya misal dari Medan, saya bisa perpanjang di Jakarta. Selain itu, katanya SIM yang sudah habis masa berlakunya, masih bisa diperpanjang sampai 3 bulan ke depan. Saya googling, kata berita sih begitu. Cuma biasanya kan berita dengan praktik di lapangan bisa beda jauh. Apalagi urusan sama aparat.

Gerai Samsat/SIM Mall Gandaria City

Jadi berangkatlah saya pagi tadi ke Gerai Samsat yang terletak di dalam Mall Gandaria City. Baca di blog ini, katanya harus persiapan bawa fotokopi KTP dan SIM. Saya nyari-nyari tempat fotokopi di luar Mall Gandaria City (Gancit), ternyata gak nemu. Kata satpam ada di Paperclip dan Bis Express (tauk dah ini bener gak nulisnya). Dan ternyata kedua tempat itu masih tutup. Saya datang pukul 9.30 sih. Read more Mengurus Perpanjangan SIM Online di Gerai Samsat Mall Gandaria City

Lapak DVD Bajakan

Ini poster yang terpasang di lantai dasar, mall Ratu Plaza, daerah Senayan. Padahal rata-rata orang juga tahu di lantai atas bertebaran lapak DVD bajakan.

Gak cuma di Ratu Plaza saja sih. Di Ambassador, Poins Square Lebak Bulus, ITC Permata Hijau, dll juga banyak kok yang terang-terangan buka lapak DVD bajakan. Ini artinya, pengelola gedung jelas-jelas tahu dan mengijinkan penggunaan gedungnya untuk jual beli ilegal.

Kalau terang-terangan begitu, kenapa gak ditindak? Nah, saya juga heran. Mungkin potongan tulisan dari neraca.co.id ini bisa sedikit memberikan petunjuk:

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Bigjen Pol Bambang Waskito mengatakan selama ini laporan tentang pembajakan ini hanya berupa surat dan tidak dilengkapi dengan alat bukti.”Kalau permasalahan yang tau Satgas ini, namun selama ini sering kali laporan yang masuk tidak memiliki alat bukti sehingga kami susah untuk mengusut pembajakan itu,” kata dia.

Saya gak ngerti hukum sih. Mungkin toko yang jelas-jelas menjual DVD bajakan di dalam mall itu dalam hukum gak bisa dijadikan bukti. Mungkin.. -_-

Nah, baru-baru ini pemerintah sudah membentuk Badan Ekonomi Kreatif, dikepalai oleh Triawan Munaf (ayahnya Sherina Munaf). Badan ini akhirnya membentuk Satuan Tugas Penanganan Pengaduan Pembajakan Karya Musik dan Film (Satuan Tugas Anti Pembajakan). Mari kita lihat, paling enggak, tahun 2016 nanti apakah mencari DVD bajakan makin susah, atau masih sama mudahnya?

Pengemudi Ojek Berbasis Aplikasi yang Akhirnya Tertular Penyakit Ojek Pangkalan

[Ilustrasi: Justin Poliachik – justinpoliachik | flickr.com]
Beberapa waktu lalu banyak kita dengar cerita pengemudi Gojek yang menjadi korban kekerasan dari ojek pangkalan. Pasalnya sederhana, ojek pangkalan tidak terima Gojek mengambil penumpang di “wilayah mereka”.

Banyak masyarakat yang bersimpati dengan pengemudi Gojek. Menurut sebagian orang kelakukan ojek pangkalan itu tidak pantas. “Cari makan ya harusnya adil aja, tidak perlu mengaku-ngaku sebagai penguasa wilayah tertentu. Suka-suka konsumen mau menggunakan yang mana.” Kira-kira begitu pendapat mereka.

Sampai hari ini beberapa daerah dipasangi spanduk oleh pengemudi ojek pangkalan. Isi spanduknya jelas, melarang Gojek beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu yang cukup terkenal di daerah Apartemen Kalibata City, Jakarta. Tidak bisa dipungkiri kalau itu salah satu bentuk intimidasi terhadap ojek berbasis aplikasi.

Nah, dalam tulisan saya sebelum ini, saya mengulas bagaimana dugaan saya mengenai fase perubahan ojek berbasis aplikasi (Gojek dan GrabBike) secara sosial. Ternyata bukan isapan jempol. Salah satu dugaan saya itu sudah terjadi.

Kejadiannya di area seputar salah satu apartemen di daerah Jakarta Barat. Awalnya hanya pengemudi Gojek yang mangkal disitu. Lama kelamaan mulai ramai pengemudi GrabBike. Nah karena promosi GrabBike hanya Rp 5.000 (dibanding Gojek yang 15.000), akhirnya lambat laun penghuni apartemen memilih Grab Bike.

Dulu penghuni apartemen keluar pintu belok kanan (tempat pengemudi Gojek mangkal), belakangan hampir semua belok kiri (tempat pengemudi Grab Bike mangkal). Pengemudi Gojek pun cemburu. Akhirnya salah satu dari mereka ada yang mendatangi pengemudi Grab Bike yang mangkal. Meminta agar mereka tidak lagi mangkal di situ. Ujung-ujungnya ribut, hingga berkelahi. Untung ada satpam, sehingga berhasil dilerai. Kalah jumlah, akhirnya salah satu kelompok pindah mangkal ke area menara apartemen yang lain.

Jadi, kalau dulu pengemudi Gojek diintimidasi oleh ojek pangkalan, ternyata sebagian dari mereka sudah belajar dari situ, gimana cara mengintimidasi pengojek lainnya.

Taksi

Kejadian seperti ini tidak hanya di urusan ojek sih. Di dunia taksi juga sama. Banyak titik-titik yang sudah “dikuasai” kelompok pengemudi taksi tertentu.

Salah satu contohnya, sudah jadi rahasia umum kalau nunggu kita tidak akan berhasil naik taksi Blue Bird di salah satu area dekat gerbang keluar tol Pasteur, Bandung. Pengemudi burung biru ini tidak ada yang berani ambil penumpang di situ. Karena di area itu sudah banyak nangkring taksi lokal. Cerita-cerita dari sopir sih, kadang dipukuli kalau sampai berani ngambil penumpang di daerah situ.

Yang jelas penularan penyakit seperti ini harus dicegah. Apalagi mengingat jumlah pengemudi ojek berbasis aplikasi ini sudah di sekitar angka ratus ribuan. Kalau sempat banyak yang tertular, terlalu sulit untuk mengobatinya.