Tag: dokter

Dokter 5-Menitan

[Ilustrasi: pixabay.com]

Saya jarang-jarang ke rumah sakit. Rata-rata setahun cuma 2 atau 3 kali. Tapi selama beberapa tahun ini, saya menyadari pola yang sama setiap datang ke rumah sakit. Ini rumah sakit-rumah sakit top di Jakarta.

  1. Sampe rumah sakit, registrasi di bagian pendaftaran. Biasanya ada antrian. Sampai selesai sekitar 10 menit.
  2. Dateng ke ruang poliklinik si dokter. Baik itu dokter umum, maupun dokter spesialis. Biasanya lapor dulu ke suster di poli tersebut lalu diukur berat badan dan tekanan darah. Nah di sini bisa nunggu sampa 30 menit lebih. Saya pernah sampai 1 jam lebih.
  3. Ketemu dokter, ditanya apa keluhannya. Tapi ketika saya jawab, dia sibuk nulis-nulis, atau kalau rumah sakitnya udah modern, dokternya sibuk ngetik-ngetik sendiri di komputer, sambil jawab pendek “Ooh.. Hmm.. Gitu ya..” Terus lanjut disuruh baring, atau “coba duduk, matanya lihat atas”, atau “coba buka mulutnya”. Dipegang bentar, atau disenter bentar, terus sudah. Kurang lebih cuma 5 menitan.
  4. Dokter balik ke mejanya. Sibuk lagi nulis, atau ketik-ketik di komputer. Bisa 5 menitan. Ujungnya bilang “Jadi, saya resepin ini ya.. bla..bla..bla. Diminum aja seminggu dulu, terus nanti kontrol lagi ke sini.” Sudah.
  5. Keluar ruangan, laporan ke suster. Disuruh ke kasir. Sampai kasir kadang nunggu lagi, kadang enggak. Tergantung rumah sakitnya, pengaturan kasirnya bagus atau enggak. Ada lho rumah sakit yang untuk bayar di kasirnya saya harus nunggu 30 menit lebih. Sebabnya? Karena hanya ada 1 orang kasir untuk SEMUA pasien di rumah sakit itu.
  6. Selesai bayar di kasir, ke bagian farmasi/apotek. Ada yang sudah pake sistem komputer, nomor antrian ada di layar, ada juga yang dipanggil manual satu-satu. Nah kalau obatnya racikan, siap-siaplah bawa power bank buat mainan henpon. Biasanya lama banget baru jadi obatnya. Bisa 1 jam, bahkan saya gak jarang sampe 2 jam.

Read more →

Mampu Bayar Pun Belum Tentu Bisa Konsultasi dengan Dokter Terkenal

[Foto: aeu04117 | flickr.com]

Suatu waktu saya pernah diberi saran yang bertolak belakang dari dua dokter spesialis di sebuah rumah sakit terkenal di daerah Jakarta Selatan. Anehnya, kedua dokter ini ruangannya hanya bersebelahan. Dokter yang pertama langsung suruh operasi, lengkap dengan penjelasan biaya-biaya dan opsi paket yang tersedia. Sementara dokter yang kedua bilang tidak apa- apa, rileks aja. Bahkan cuma dikasih obat beberapa butir saja.

Tentu saja saya tidak datang ke kedua dokter itu secara bersamaan. Saya datang ke dokter kedua untuk mencari pendapat kedua (second opinion) setelah dokter pertama tanpa blabliblu dengan super excited bilang mau memberikan tindakan operasi. Read more →