Teknologi di Indonesia di Mata Ahli Ekonomi

[Foto: superamit | flickr.com]
Mungkin kalian juga sudah baca tulisan Rhenald Kasali tentang “Sharing Economy”? Tulisan ini diforward dari milis ke milis, Facebook, group WhatsApp, dll. Cukup menggugah. Karena memang di tahun 2014 pun, ulasan Wired* tentang “Sharing Economy” juga cukup menggugah.

*Tulisan Wired itu menekankan bahwa Sharing Economy itu maju karena dasarnya adalah rasa saling percaya (trust). Tapi kemudian dibantah oleh NY Magz, yang menyatakan sebenarnya dasarnya adalah terdesak kebutuhan ekonomi. It’s all about money, not trust.

Read more Teknologi di Indonesia di Mata Ahli Ekonomi

-769208400 hingga 1250478000

Menurut Epoch Converter,  -769208400 sama dengan 17 Agustus 1945 pukul 10:00 WIB dalam format waktu timestamp. Dan 1250478000 adalah hari ini, tepat ketika tulisan ini ditampilkan, 17 Agustus 2009 pukul 10.00 WIB.

Hari ini 64 tahun sudah Indonesia merdeka. Merdeka dari penjajahan asing.., tapi belum merdeka dari penjajahan oleh sebagian dari kita sendiri. Entah penjajahan hak asasi manusia, penjajahan kemampuan dan ilmu yang kita miliki, maupun penjajahan atas rasa aman untuk hidup bermasyarakat..

Perjuangan belum usai.., kita jalani atau nanti kita sesali.. #IndonesiaUnite

Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih …”

(G 5.13)

Related Post :

……………….. ……………………………. ……… *1 tahun lalu

……………….. ……………………………. ………

Mungkin sebagian orang mulai meragukan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, sebagian lagi mempertanyakan landasan ideologi negara ini, dan bahkan ada lagi sebagian yang berusaha mengingkari atau menggantinya.

Walau pembangunan di Indonesia belum merata, walau kesempatan mengecap pendidikan masih dipertanyakan, walau investor asing ragu masuk ke Indonesia, walau vandalisme merajalela.., walau negara kita kadang dihina, walaupun kaum intelektual negri ini tak kembali dari luar sana..

Saya masih warga negara Indonesia..

Saya masih berpegang pada Pancasila..

Indonesia

Judul post ini adalah 63 titik, yang mewakili Dirgahayu ke 63 Indonesia.  Spasi berada di antara titik ke 20 dan 21, serta titik ke 54 dan 55, mewakili lembaran hitam sejarah Indonesia tahun 1965 dan 1998. Semoga tidak ada lagi spasi untuk titik – titik berikutnya..

MERDEKA.. Merdeka.. M3rd3k4…!!

Catatan :
– foto diambil dari internet, tapi lupa URL nya

Indonesia Memenangkan Mondialogo Engineering Award 2006/2007

KAMASE @ Mondialogo Engineering AwardThomas Ari Negara baru saja pulang dari Mumbai, India sewaktu saya menemuinya di kos – kosannya yang hanya berjarak sekitar 50m dari kos saya. Dia mewakili tim dari KAMASE (Komunitas Mahasiswa Sentra Energi) – Jurusan Teknik Fisika UGM untuk mempresentasikan proposal hasil penelitiannya mengenai potensi penggunaan Tenaga Surya sebagai pembangkit listrik untuk daerah Panggang, Bantul, Yogyakarta. Tim KAMASE ini terdiri dari : Thomas Ari Negara, Bayu Utomo, Eri Wijaya, Ahmad Fajar – (Fisika Teknik 03) dan Elsa Melfiana (Teknik Nuklir 03).

Proposal hasil penelitian tim KAMASE ini diikutkan dalam ajang tahunan Mondialogo Engineering Award. Untuk seleksi awal, tim KAMASE berhasil masuk dalam 30 nominasi terbaik dari seluruh dunia. Dan setelah melalui berbagai tahap seleksi, termasuk presentasi di Mumbai – India tersebut, akhirnya tim KAMASE berhasil masuk dalam 10 yang terbaik, dan berhak mendapatkan dana proyek sebesar 20.000 Euro.

KAMASE tentunya tidak bekerja sendiri. Mondialogo Engineering Award ini mensyaratkan tim yang dibentuk harus merupakan kerjasama dari negara berkembang dan negara maju. KAMASE akhirnya mendapatkan partner dari Curtin University of Technology, Australia dengan fasilitasi dari Ahmad Agus, ST, M.Sc (dosen Jurusan Teknik Fisika – UGM) yang sedang melanjutkan studi PhD nya di Australia. Tim dari Australia selain Ahmad Agus, ST, M.SC adalah : YU Zhao, Susanne Sugiarto, Richard Barnett dan satu orang dari Iraq, Hussam Khalaf.

Hal menarik yang ditekankan Thomas adalah penelitian yang masuk dalam Mondialogo Engineering Award bukanlah teknologi yang super modern dan futuristik seperti dalam jurnal – jurnal ilmiah (nanoelektronik, bioelektronik, astronomi modern, teknologi internet, nuklir, dll). Melainkan teknologi – teknologi sederhana, tetapi yang berpengaruh langsung pada masyarakat luas. Seperti penelitian tim KAMASE yang mengambil lokasi daerah Panggang, Bantul. Daerah ini kesulitan sumber listrik dan suplai air setelah pasca Gempa Jogja Mei 2006 lalu.

Penelitian KAMASE ini adalah merancang bagaimana menggunakan energi terbarukan (energi angin, mikrohidro dan tenaga surya) untuk menyediakan sumber energi dan suplai air yang berkelanjutan bagi daerah Panggang, Bantul, Yogyakarta. Dengan begitu proses recovery daerah ini setelah Gempa Mei 2006 Jogja lalu bisa berjalan dengan baik.

Tentang India

“Ahh.., jebule India ki podho wae karo Indonesia. Malah ketoke isih mendingan Indonesia.. Tenan..”. Begitu ujar Thomas ketika ditanyakan apa kesannya tentang India. Dalam Bahasa Indonesia kurang lebih terjemahannya “Ah, ternyata India itu sama aja dengan Indonesia. Malah kayanya masih mendingan Indonesia.. Beneran..”. Saya akhirnya percaya setelah melihat rekaman di handycam yang dia bawa saat ke India.

Lebih lanjut dia bercerita “Aku bingung lihat orang – orang disana. Aku sempat ngelewatin satu daerah. Jadi di satu jalan panjang itu, ada orang – orang banyak boker di pinggir jalan itu gitu aja.. “. Hah?!! Anda tidak percaya.., coba saja tanya kenalan anda yang pernah ke Mumba, India.

Terlepas dari “kebiasaan” orang India yang aneh tersebut, mulai sekarang sepertinya kalangan akademisi di Indonesia harus kembali disadarkan tentang pentingnya teknologi sederhana dan penerapannya. Teknologi maju seperti Mainframe, Clustering multi PC, Reaksi Fusi, MicroRobotic, Hydroelectric, dsb akan menjadi tidak berguna ketika anda berada di daerah pedalaman Indonesia. Dimana jangankan listrik, atau baju, kain saja tidak ada. 20 km dari Kota Mojokerto saja banyak daerah yang belum tersentuh listrik. Di Propinsi Jambi, masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir. Kita memang harus berjalan, tetapi sebelum berjalan pastikan anda punya kaki..

Foto : Thomas (baju batik), Ahmad Agus, ST, M.Sc (memegang mic) . Foto diambil dari situs Mondialogo.org