Orang-Orang Makin Sadis di Internet Walaupun dengan Identitas Asli

[Sumber: imgur.com]
Ini meme yang paling pas menggambarkan situasi bagaimana orang-orang berkomentar di internet sekarang.

Dulu orang-orang dengan identitas online (pseudonim) saja yang berkomentar sadis di internet. Maksud saya di sini komentar yang mem-bully orang lain, ujaran kebencian SARA, ataupun pernyataan jahat (misal: ngaku pengen membunuh orang lain). Kini orang-orang dengan identitas asli (di Facebook, Path, Twitter, Linkedin, dll) gampang saja berkomentar sadis di internet. Sebagian bahkan bangga.

Walaupun saya pernah baca yang terjadi di internet itu hanya mewakili tak sampai 5% yang ada di dunia nyata, tapi 5% dari 100 juta orang itu juga banyak sih.

Kuota Internet dan Program Sarjana

[Ilustrasi: Quinn Dombrowski – flickr.com/quinnanya]
Anto (nama samaran) sekarang kebetulan menggunakan ponsel yang bisa menggunakan 2 sim card. Seorang teman Anto, sebut saja namanya Luba Noto Gejayan, biasa disingkat Luba N.G, memiliki ponsel yang sama. Menurut Luba, sim card utama (untuk telpon dan SMS) mending dipisah saja dengan sim card khusus internetan. Jadinya bakal lebih murah katanya.

Tergiur cerita Luba, Anto mencoba mencari sim card prabayar lain khusus untuk paket internet. Mulailah Anto mencari informasinya di internet.

Selama ini Anto menggunakan kartu Halo Telkomsel (pascabayar). Informasi biaya paket internetannya cukup mudah dipahami. Bayar sekian, kuotanya maksimal sekian sebulan. Selesai. Tetapi tidak seperti itu di kartu prabayar. Anto baru tahu, ternyata untuk paket internet kartu prabayar, skemanya sangat rumit. Dan ini berlaku rata di semua operator (Telkomsel, XL, Indosat, Tri).

Begini contoh ilustrasinya:

  • Ada yang terlihat harganya lumayan, kuota (misal) 4,5 GB. Tapi ternyata 3GB nya untuk akses via ponsel, 1,5GB nya untuk akses via WiFi si operator, 2GB kuota hanya berlaku di jaringan 4G, sisanya di jaringan 3G/3.5G.
  • Ada yang harganya berbeda-beda di tiap lokasi. Dan sewaktu Anto membuka websitenya, lokasi Jakarta Selatan tidak ditemukan. Identifikasi menggunakan Geolocation di browser pun tidak berjalan, jadi Anto sama sekali tidak bisa cek harganya.
  • Ada yang berbeda berdasarkan waktu penggunaan. Kuota terlihat besar, tetapi ada pembagian waktu. Misal, total kuota 10GB. Jam 9-12 siang 2GB, jam 12 siang sampai jam 6 sore 1 GB, jam 6 sore sampai jam 12 malam 500 MB, sisanya jam 12 malam sampai jam 9 pagi, 6.5GB.
  • Dan ini yang paling pamungkas, ada yang gabungan dari 3 skema di atas. Luar biasa !

Skema ini makin diperumit dengan pilihan paket dengan nama berbeda-beda, dan masing-masing paket, beda-beda skema harga. Informasi ini pun susunan informasinya di website masing-masing bisa dibilang berantakan.

Memang ada saja orang yang dengan senang hati merangkum informasi ini dan menuliskannya di blog atau forum. Tapi ini tidak begitu membantu juga, karena skema paket dan harganya itu cepat sekali berubah. Informasi yang dirangkum di bulan Februari, sangat mungkin di bulan September sudah tidak berlaku.

Begitu Anto mencoba menyampaikan keluhannya ke para operator, jawaban mereka adalah “Ini hal yang bagus, Pak Anto. Justru dengan begitu banyaknya pilihan paket internet ini, pelanggan bisa bebas menentukan mana paket yang paling tepat bagi mereka.”

Anto merasa sedih. Dengan begitu banyaknya pilihan, bagaimana caranya dia bisa memilih mana paket internet yang paling pas untuknya. Akhirnya Anto berkonsultasi kembali dengan Luba.

Tips dari Luba singkat. Kuliah lagi saja. Program Studi S1 Ilmu Internetan, dengan gelar sarjana Sarjana Ilmu Internetan. Luba dulu mengambil kuliah ini. Ikut kelas malam, demi bisa mengerti dan menjadi ahli paket-paket internet dari operator telekomunikasi.

Awalnya Anto tidak percaya, sampai akhirnya Luba menunjukkan ijazah Sarja Ilmu Internet-nya. Ternyata Luba tidak bohong. Ijazahnya benar-benar ada. Nama Luba tertulis di situ, lengkap dengan gelarnya: Luba.NG, S.Ilit.

Website belum akan Mati

Beberapa waktu lalu seorang teman mengirimkan link artikel dari WIRED Magz. Itu memang artikel kontroversial di jagad maya. Artikel itu mengatakan intinya “Website is Dead, Welcome Apps”. Alasannya sederhana, dengan ilustrasi seperti ini : Ketika anda bangun di pagi hari, anda buka Facebook. Tapi bukan website nya kan? Di tengah jalan menuju kampus atau kantor, anda kadang check-in di Foursquare (lagi – lagi bukan di websitenya juga kan?), tapi melalui aplikasi mobile yang tersedia.

Lalu.., ketika anda terjebak macet di jalan, anda chatting dengan teman anda, via Yahoo Messenger, ataupun Blackberry Messenger. Ya kedua aplikasi ini juga menggunakan internet, tapi bukan website. Sampai di kantor, atau kampus, mungkin anda masih melanjutkan aktifitas dengan membuka laptop, dan mengecek account Twitter anda. Tapi tidak dengan mengunjungi webnya langsung, melainkan menggunakan aplikasi TweetDeck, Echofon, ataupun DestroyTwitter.

*eh, anda tidak melakukan aktifitas seperti di atas? Hmm.. ok, kebanyakan orang Indonesia memang tidak. Tapi sepertinya di luar negri seperti itu.

Seorang teman saya yang lain, setuju dengan artikel tersebut. Menurutnya orang – orang akan tetap menggunakan internet, dan penggunanya makin besar, tapi via aplikasi, bukan websitenya.

Menurut Saya

Menurut saya sih tidak. Website belum akan mati. Ia akan tetap hidup dalam jangka waktu yang cukup panjang (kecuali ada penemuan baru di bidang teknologi internet). Paling mungkin sih, berevolusi jadi bentuk lain. (mungkin website yang lebih interaktif seperti layaknya Flash. Apalagi sekarang sudah gencar HTML5).

Ilustrasi paling sederhana menurut saya begini :

Jika anda pengguna internet (aktif ataupun tidak), pasti anda pernah menggunakan layanan search engine. Katakanlah, Google, atau Yahoo. Bayangkan jika setiap website akhirnya menjadi aplikasi. Ketika anda mengklik suatu hasil pencarian, anda harus menginstall aplikasi nya dulu baru bisa menggunakannya dengan mudah. Nyamankah?

Contoh lebih mudah. Kalau web akhirnya mati. Hapuslah web browser dari perangkat mobile anda. Silahkan menjelajah internet..  Susah? Kenapa? Karena akses anda menuju internet terkungkung pada aplikasi yang tersedia. Dengan kata lain, kita membalik lagi yang dulu mudah, sekarang menjadi susah.

Jadi, website itu tidak akan mati, walaupun apps semakin bermunculan. Dia hanya akan mencari titik seimbang. Sama seperti waktu televisi diciptakan, orang – orang meramalkan radio akan mati. Kenyataannya tidak. Begitu juga saat portal berita online “mewabah”, orang – orang bilang koran akan mati. Tentunya tidak. (memang ada beberapa penerbit koran yang mati), tapi secara umum koran tidak mati. Tetapi sedang mencari titik keseimbangan.

Hukum Keterbalikan

Hal – hal yang tadinya berwujud aplikasi, akhirnya dibikin web based (Email, Chat, Game, Project Management Software, dll). Dan sekarang apa – apa yang ada di website, dibikin aplikasi (Facebook, Twitter, dll).

Di Indonesia Blokir Situs, Bagaimana Di Amerika?

Kita sama – sama tahu di Indonesia terjadi pro kontra yang begitu besar terhadap keputusan pemerintah untuk memblokir situs – situs tertentu. Baik situs pornografi, berbau kekerasan, maupun yang mengandung nuansa SARA. Saya sempat berpendapat, “Lama – lama Indonesia bisa jadi seperti RRC. Pemerintah yang memutuskan mana yang boleh tampil di internet, mana yang tidak”.

Tetapi kenyataannya di Amerika pun terjadi hal yang mirip, tetapi ini bukan dari pemerintah, tetapi malah dari pihak swasta, yaitu para penyedia layanan internet (ISP). Banyak masyarakat Amerika yang “curiga”, pihak ISP mempunyai kontrak tertentu dengan penyedia konten (website). Dengan kontrak ini maka situs ini akan lebih cepat diakses di dalam jaringan ISP mereka. Dan otomatis dengan kontrak tersebut, ISP ini pun akan memperlambat akses ke website kompetitor mereka.

Itu hanya untuk kasus kontrak sederhana. Tentunya masih ada berbagai jenis kontrak lainnya. Karena memang pada akhirnya ISP lah yang memutuskan situs mana yang bisa diakses dengan cepat, mana yang diperlambat, dan mana yang sama sekali tidak akan pernah bisa selesai loadnya (tanpa di blok !).

Model bisnis seperti ini cukup menarik untuk ISP. Karena pelanggan ISP tidak tahu apa yang terjadi, Read more Di Indonesia Blokir Situs, Bagaimana Di Amerika?

Sudah Saatnyakah Berganti ke Handphone 3G?

CPH : Calon Pembeli HP

SP : Si Penjual

CPH : “Mas, mau liat Motorola V3 RAZR dong. Berapa harganya?”

SP : “Oh.., itu sekitar 1,5-an lah mas..”

CPH : “Hmm.., lumayan.. ”

SP : “Mending LG KU250 aja mas. Harganya 1,2. Udah ada 3G nya.. Kamera juga ada..”

CPH : “Emang kalo ada 3G kenapa?”

SP : “Wah.. mas ini masa gak tau. Kalo pake 3G, bisa video call mas. Jadi telpon – telpon-an tapi bisa saling lihat. Keren kan..” (dengan senyum yang super ramah..)

CPH : “Mau video call sama sapa mas.. Temen – temen sama sodara saya gak ada yang HP nya 3G.”

SP : “Ya, itu kan sekarang. Bentar lagi orang – orang pasti pada ganti 3G kok mas.. Jadi hitung – hitung investasi.” (gayanya udah kaya Tung Desem Waringin saking pede-nya)

CPH : “Masa sih? Dulu yang jual HP juga pada sibuk promo-in fitur MMS. Orang – orang pada beli.. Terus yang make MMS berapa orang? Berapa kali mas ngirim ato nerima MMS dalam sehari?

SP : (diem aja.., kaget)

CP : “Kira – kira kenapa? Ya pulsanya mas.. Orang kita (Indonesia) ini, bisa beli HP seharga 5 juta, tapi cuma bisa ngisi pulsa 25ribu.. Mau dikasih fitur apa aja, orang tetep paling banyak make SMS. Apalagi mahasiswa kost kaya saya. Boro – boro mau video call, mau nelpon aja mikir dua kali..”

SP : (mencari ide lain) “Gini, mas.. Mas kan mahasiswa. Pasti sering cari bahan – bahan di internet. Daripada bolak – balik ke warnet, pake fasilitas 3G ini mas bisa ngenet di kamar. Biayanya lebih murah juga.. Pake Indosat M3, per menitnya cuma Rp.100,- Padahal kecepatan 3G kan sampe 384kbps.. Wuihh.. kenceng mas. 1 menit udah bisa download 20-an Mb mas. Coba di warnet.., sampe subuh juga paling belum selesai downloadnya. Mahal juga toh..” (dengan senyum kemenangan)

CPH : “384 kilo bit/second lho mas, bukan 384 kilobyte/second. 384kbps = 48kB/s. Padahal ukuran file di internet itu satuannya byte, bukan bit. Lagian emang mas yakin tempat tinggal saya dapet sinyal 3G? BTS 3G di Jogja kan cuma dikit mas.. Setahu saya cuma ada 12 BTS 3G mas di Jogja..” (meng-counter dengan sok ilmiah) Read more Sudah Saatnyakah Berganti ke Handphone 3G?

Internet Berbayar (IM3) vs Internet Gratisan (Three)

Sekitar bulan Agustus 2007 lalu sempat mencicipi GPRS gratisan dari GSM Three (caranya lihat dibawah) . Dapet infonya dari seorang teman. Yang menarik perhatianku, kecepatannya justru lebih tinggi daripada GRPS IM3 yang berbayar (walaupun murah). Bandingkan saja kecepatannya dari kedua gambar di bawah. Read more Internet Berbayar (IM3) vs Internet Gratisan (Three)

Bidang Pekerjaan yang Harus Dihindari untuk Abad 21

Anda sedang mencari pekerjaan? Di bidang apa? Dimana? Kalau anda mencari pekerjaan di Amerika, menurut Forbes.com hindarilah bidang pekerjaan berikut ini :

  1. Manufaktur

    Dulu hampir semua bagian di manufaktur membutuhkan banyak campur tangan manusia, kini hampir semuanya kalah oleh teknologi komputer, mesin dan robot. Pengurangan tenaga kerja dan mengganti dengan mesin otomatis tentu sangat menguntungkan bagi perusahaan.

  2. Programmer Komputer

    Programmer komputer semakin hari semakin banyak. Menurut Forbes sendiri dengan penambahan programmer sekitar 2% dari tahun 2004 – 2014, perusahaan Amerika lebih suka melakukan outsorcing (coba saja lihat Bangalore, India yang biasa menjadi tujuan outsource pertama). Bahkan sampai berkembang istilah Bangalored, sebagai pengganti kata outsourced. Bagi mereka outsourcing ini biayanya lebih murah. Untuk bisa bersaing dengan hal ini, maka para programmer harus punya spesialisasi, misal : programmer keamanan jaringan.

  3. Jurnalis Read more Bidang Pekerjaan yang Harus Dihindari untuk Abad 21

Koneksi internet di Linux dengan GPRS IM3 menggunakan Motoral C650

Sebelum ini aku pernah nulis tentang hal yang sama. Tapi waktu itu ada yang lupa kutuliskan. Kalo mo baca artikel sebelumnya yang bahas ini silahkan liat di post sebelumnya, atau kalo gak ketemu search aja.

Ok, aku ulang dikit ya. Handphone yang digunakan adalah Motorola C650. Kabel datanya original, waktu aku beli harganya Rp 175rb. Kartu GSM yang kupake IM3. Di Motorola C650 ku ini, setingan GPRS IM3 nya kesetting otomatis. Apa memang gitu ya??. Linux yang kupake ada 2, Ubuntu 6.06 (dapper drake) dan Debian Sarge (stable). Program yang dibutuhkan adalah Wvdial, kalo gak salah defaultnya belum ada di kedua Linux tadi. Kalo gak yakin coba aja kasih perintah wvdial di terminal.

Setingan untuk wvdialnya terletak pada file /etc/wvdial.conf. Isi file wvdial.conf punyaku seperti ini :
Read more Koneksi internet di Linux dengan GPRS IM3 menggunakan Motoral C650