Kita Juga Menikmati Hasil Korupsi Pajak Loh

Malam itu Bulha dan Haran hanya tinggal berdua di salah satu pojok Hard Rock Cafe. Teman-teman mereka yang lain sudah pulang duluan. “Faktor U” kalau kata orang-orang. Sementara Bulha dan Haran masih menunggu penampilan band di cafe ini sekali lagi.

Seperti biasa, bulan Maret adalah bulan pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Sambil menunggu band kembali naik panggung, kedua warga Jakarta “kelas menengah ngehe” ini berbincang soal Pajak Penghasilan.

Bulha (B), Haran (H)

B: Lo udah kirim SPT bro?

H: Udah lah. Via online aja. Sekarang gampang kok. Lo udah?

B: Ah.., kalo gue sih gak mau laporin. Gak sudi gue. Gak rela gue gaji gue dipotong pajak. Toh ujung-ujungnya dikorupsi juga sama orang pajak.

H: Loh? Lo mau lapor ato enggak, ya tetep aja gaji lo udah dipotong.

B: Hah?? Kok bisa udah dipotong duluan? Ya gak bisa gitu dong Ran.

(Iya, ini yang sering orang salah kaprah. Dikira kalau habis laporin SPT, baru duitnya dipotong)

H: Yee.. Kan lo kerja di perusahaan nih. Tiap bulan gaji lo kan dipotong pajak penghasilan, dengan hitungan asumsi tahunan. Potongan PPh ini disetorin ke Dirjen Pajak oleh perusahaan atas nama lo. Perusahaan yang bantuin lo setorin pajak. Nah buktinya apa? Itu, lembar Bukti Potong Pajak. Form A apalah itu namanya. Itu yang dilaporin di SPT. Gitu loh Bul..

B: Ooo.. iya juga ya. Ahh.. tapi tetep aja gue benci sama mereka. Duit gue dipotong tiap bulan. Eh dikorupsi juga ujung-ujungnya. Kita-kita ini yang kerja mati-matian, mereka yang nikmatin. Ngehe lah.

H: Eh jangan salah. Bisa jadi, kita juga nikmatin hasil korupsi Bul.

B: Ya kagaklah.. Gue kan gak kerja di Pajak. Begimane caranye gue bisa ngorupsi duit pajak?

H: Emang lo pikir mereka korupsinya dengan ngambil duit orang-orang yang disetorin ke pajak?

Read more Kita Juga Menikmati Hasil Korupsi Pajak Loh

Sapi Ungu di Jalan Lintas Sumatra

imageAwal kasus korupsi Gayus terungkap : "Gilaaak..! Parah nih korupsinya orang Pajak..!!"
Ketika akhirnya bermunculan kasus yang mirip : "Ohh.., kasus korupsi kaya Gayus itu ya."

Awal kasus Hambalang terungkap : "Gilaaak..! Parah nih petinggi – petinggi partai..!"
Ketika akhirnya ditemukan banyak petinggi partai yang bermain di proyek negara: "Ohh, petinggi partai yang main proyek negara ya?"

Awal ada tempat ibadah yang diserang lalu ditutup oleh mereka yang intoleran : "Gilaaak..! Hak beribadah orang kok dirampass?!! Ini pelanggaran HAM..!!"
Ketika akhirnya banyak tempat ibadah lain ditutup paksa oleh mereka yang intoleran : "Ohh.., ada tempat ibadah ditutup lagi ya?"

Awal ada berita rekening gendut petinggi POLRI : "Gilaaak..! Duit darimana nih jendral – jendral? Pasti duit gak bener.!!"
Ketika akhirnya ketahuan banyak petinggi yang melakukan hal yang sama : "Ohh.., kaya oknum petinggi POLRI kemarin itu ya?"

Awal ada berita penumpang wanita diperkosa di dalam angkot : "Bajingaan..!! Manusia biadab..! Mati aja nih orang..!"
Ketika akhirnya makin banyak berita tentang wanita diperkosa di angkutan umum : "Ohh.., ada yang diperkosa lagi di angkot?"

..dan seterusnya.

Kalau di salah satu buku teori marketing dari Seth Godin ada istilah "The Purple Cow". Terjemahan langsungnya : Sapi Ungu.

Ilustrasinya begini : Anda sedang di bis dalam perjalanan lintas Sumatra dari Aceh menuju Lampung. Di perbatasan Riau, tiba – tiba anda melihat ada ada sapi berkulit ungu di pinggir jalan. Anda pasti heboh, mungkin anda pun akan membangunkan penumpang lain di bis yang sedang tidur agar melihat sapi ungu ini. Karena sapi ungu itu unik, langka, dan menarik perhatian, yang jelas tidak wajar.

Jarak 30 meter kemudian, anda melihat ada lagi sapi ungu. Anda masih heboh. Tetapi ketika sepanjang perjalanan anda dari Riau hingga Jambi anda selalu melihat sapi ungu tiap 40 m, ketika memasuki Bengkulu kemungkinan anda akan memilih tidur saja ketika anda melihat sapi ungu lagi. Sudah tidak menarik lagi. Sudah basi. Dan kemungkinan anda sudah berpikir, "Ohh.. sapi ungu itu sudah biasa. wajar – wajar saja kok". Dan kita sudah tidak peduli lagi kenapa sapi itu berwarna ungu. Kita juga tidak lagi mempertanyakan : Berbahayakah? Perlu disembuhkan kah? Apakah nanti juga akan ada kucing hijau? Kita memilih untuk tidur saja.

Dalam konteks di atas, anggaplah si sapi ungu inilah kejadian – kejadian di awal tulisan ini tadi.

Saya sih berharap, kita jangan tertidur lagi di bis ketika melihat sapi ungu lagi, betapapun terbiasanya kita, betapa pun bosannya kita.