Xiaomi Redmi Note 3 – Tidak Perlu Earphone atau Headset untuk Mendengarkan Radio FM

Beberapa alasan sederhana membuat saya pindah dari Asus Zenfone 2 ke Xiaomi Redmi Note 3. Tentunya alasan selain 7x bolak-balik ke service center Asus sih.

Belakangan saya menemukan alasan lain kenapa saya menyukai ponsel ini. Ternyata tak saya tidak perlu mencolokkan headset/earphone ke ponsel ini untuk mendengarkan radio FM. (Bukan radio internet loh ya). Bukan fitur penting sih, tapi kadangkala saya ada di situasi di mana headset, earphone ataupun colokan speaker dengan jack 3.5mm susah dijangkau. Di saat seperti ini fitur ini sangat berguna.

Saya tidak tahu kalau fitur ini ada atau tidak di ponsel lain, tetapi pengalaman saya beberapa kali menggunakan Android, baru kali ini yang nemu begini. Bahkan di masa-masa jaya Nokia, semua yang saya temui harus menggunakan headset baru bisa dengerin radio FM nya.

Cuma emang tampilannya super polos gitu sih aplikasinya. Aselik.

Google Keep – Aplikasi Pencatat Sederhana Terbaik di Android

Selama beberapa tahun, saya menyimpan catatan-catatan pendek di ponsel Android saya di dalam sebuah file text. Setiap ada yang mau dicatat, diubah atau dilihat, saya membuka file itu dengan aplikasi teks editor. Ketika saya berganti ponsel, atau me-reset ponsel saya, file text ini saya pindahkan terlebih dahulu ke komputer, lalu saya transfer balik. Terus begitu.

Saya tahu ada aplikasi Evernote dan lain-lainnya yang bisa digunakan untuk fungsi ini. Canggih-canggih pula. Auto-sync ke cloud, bisa dibuka di mana saja. Sayangnya justru dari beberapa aplikasi yang saya coba, kebanyakan malah overkill. Kebanyakan fitur.

Sampai akhirnya suatu hari saya upgrade sistem operasi di Nexus 4 saya. Setelah restart, muncul aplikasi baru di Android saya. Google Keep. Saya buka, dalam hitungan detik saya langsung bisa menebak ini adalah aplikasi pencatat. Saya coba sedikit. Lalu saya tinggalkan. Entah mengapa saya masih tidak percaya dengan penyimpanan cloud, auto-sync, bla..bla..bla nya.

Sampai akhirnya saya pernah eksperimen mengganti ROM Nexus 4 saya ke MIUI. Dan apesnya, saya lupa membackup file catatan saya tadi itu. Hilanglah sudah. Di desktop saya backup terakhir adalah 3 bulan sebelumnya.

Dan sejak saat itu saya tobat, dan menggunakan Google Keep. Dan setelah rutin menggunakan saya baru sadar begonya saya, kenapa gak dari dulu pakai aplikasi ini. Karena fungsinya persis seperti yang saya butuhkan.

[Sumber: Google Play]
Di Google Keep hal-hal yang membuat saya betah:

  • Antarmuka nya sederhana dan gampang dipahami. Mau dipakai dengan sederhana (cuma nyatet teks), bisa banget gak keganggu. Tapi mau dipake ribet (ganti background warna, set reminder, kasih label, title, dll) juga bisa.
  • Karena dari Google, jadi gak usah khawatir lah dengan potensi server down, data hilang, dll.
  • Aplikasinya ringan dan ringkas.
  • Ada versi webnya: keep.google.com. Dan di web pun bisa digunakan seperti di aplikasinya langsung.
  • Bisa di-share (saya menggunakan akun Google yang berbeda untuk Android dan GMail)

Tips:

Saya sering menggunakan Google Keep ini untuk copy-paste teks dari ponsel Android saya ke desktop dan sebaliknya. Gampang sekali, copy teks yang anda mau (entah itu URL, tulisan, dll), paste di Google Keep. Langsung tersedia deh di ponsel maupun di website (desktop).

Oh iya, tidak semua ponsel Android menyertakan Google Keep secara default. Kalau anda memerlukan aplikasi seperti ini, jangan lupa install dulu dari Play Store.

Nexus 4 dan Beralih ke MIUI

Setahun lalu setelah kecewa dengan HTC Desire HD (yang katanya Androidnya bakal diupgrade ke ICS, ternyata gak jadi), saya memutuskan jika nanti saya membeli ponsel Android baru, saya hanya mau yang rilis dari Google aja, yaitu keluarga seri Nexus. Dan setelah “kebetulan” ponsel saya dijambret orang, akhirnya saya beneran milih Nexus 4.

Pertimbangannya sederhana saja, seri Nexus ini adalah ponsel standar Android, dengan kata lain jadi acuan dari sistem operasi Android. Semua fitur inti default Android harusnya paling bagus jalan di Nexus. Semua aplikasi Android yang ada di Google Play, seharusnya pasti bisa jalan di seri Nexus, karena (lagi-lagi) ini adalah acuan. Jadi saya tidak mau ambil pusing punya ponsel canggih tapi kepentok tidak bisa menjalankan fitur-fitur tertentu.

Kelebihan (dan mungkin sekaligus kekurangan) seri Nexus adalah tampilannya pun datar banget. Buat saya pribadi gak menarik. Bahkan dibandingkan ponsel-ponsel Android lain yang lebih murah, icon, template, dan theme Nexus ini jelek bagi saya.

Jadilah akhirnya saya ketemu dengan MIUI. Custom ROM, kalau istilah para pengoprek Android. Aslinya MIUI dibuat oleh Xiaomi untuk ponsel mereka sendiri. Tapi ROM nya dibuka untuk didownload dan dikembangkan. Dan (lagi-lagi) karena Nexus adalah acuan ponsel Android, pastinya ROM untuk seri Nexus tersedia, termasuk Nexus 4 yang saya pakai.

Jadilah saya pakai MIUI di Nexus 4 saya. Tampilannya cantik. Tidak sekadar theme, tapi sampai dengan tampilan detail di dalamnya. Ya.., ala-ala iPhone sih sebenarnya. Tapi setidaknya tampilannya konsisten. Tidak seperti default Android yang icon-icon dan keseluruhan UI nya terkesan tidak beraturan. Entah kenapa Xiaomi bisa membuat Android menjadi secantik ini, tetapi Google tetap bertahan dengan tampilannya yang tidak konsisten itu.

NOTE: Ini postingan draft bulan September 2014 lalu, baru diselesaikan sekarang -__-