Sekarang Saya Baru Paham Apa itu Storial.co

Baru saja kemarin saya nulis tentang Wattpad. Dan ini beneran loh, saya itu bener-bener baru tahu tentang Wattpad beberapa hari lalu. Sementara itu, lucunya, saya sudah tahu (dengar) Storial dari beberapa waktu lalu.

Jauh sebelum saya tahu Wattpad, saya mendengar kabar ada “startup” baru lagi di Indo, namanya Storial.co. Sekilas baca deskripsinya ada kata “penulis” dan “online”. Langsung saja saya teringat NulisBuku.com. Dan benar ternyata, Ollie (pendiri NulisBuku.com) ternyata juga adalah pendiri Storial.co.

Sekilas baca, saya gak benar-benar ngerti detail apa sebenarnya Storial.co itu. Yang tertangkap di kepala saya adalah “Ini tempat penulis cerita untuk bisa dapatkan uang. Jadi kaya NulisBuku.com, bedanya di sini bacanya bener-bener online, bukan beli PDF dulu.” Hingga akhirnya saya ketemu Wattpad (ya seperti ulasan saya kemarin).

Nah, tadi sebenarnya saya sedang mencari komunitas/grup pengguna Wattpad Indonesia. Dan ketemu lagi lah sama Storial. Nah.., sekarang saya baru paham apa itu Storial. Setelah kemarin beberapa hari menggunakan Wattpad, bagi saya, pada dasarnya Storial.co ini adalah versi Indonesia nya Wattpad. Seriusan, UI/UX nya aja mirip banget.

Di satu sisi saya cukup gembira, karena ternyata sudah ada Wattpad versi lokal, sehingga gak pusing cari tulisan-tulisan original dari penulis lokal. Tapi di satu sisi agak sedih karena mirip banget sama Wattpad. Tapi.. yaaa.., saya cuma pengguna aja. Terserah daaah..

Politik & Jualan

Kekhawatiran saya cuma satu. Di Indonesia itu, platform media UCG (User Generated Content) seringkali berubah wujud jadi 2 jenis: Tempat Jualan dan/atau Tempat Kampanye Politik.

Facebook, Whatsapp, Twitter sudah jadi contoh nyata. Di Storial, saya beberapa kali melihat tulisan yang menjurus ke politik. Karena isinya bukan lagi karangan fiksi, tapi potongan-potongan dari artikel dari media lain. Entahlah, apa tujuannya. Mudah-mudahan Ollie dkk bisa antisipasi ini.

***

Eh iya, ini dia tulisan cerpen pertama saya di Storial. 10 menit sebelumnya baru saya publish di Wattpad juga sih. 😛 Judulnya “Rumah Siapa”.

P.S: Ini gak ada yang mau bikin SoundCloud versi lokal juga sekalian? Saya dukung looh. Susah tau cari karya-karya musik original dari Indonesia.

Ulasan Novel Negeri Para Bedebah dan The Circle

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye. Saya suka genre nya. Saya bahkan baru tahu ada genre seperti ini di novel Indonesia. Saya bukan pembaca novel aktif sih, jadi harap maklum kalau kurang update. Bayangkan saja, novel ini sudah terbit 3 tahun lalu, dan saya baru tahu beberapa hari lalu. Teman-teman saya sudah tahu lama. Ada yang sudah baca sejak awal terbit. Ada yang malah kenal dengan penulisnya, Darwis (nama asli Tere Liye). Darwis dulu menjadi asisten dosen teman saya ini sewaktu kuliah.

Beberapa bulan sebelumnya saya juga membaca novel, setelah 6 tahun lebih tidak membaca novel. Novel yang saya baca berbahasa Inggris, judulnya The Circle, karya Deve Eggers. Itupun tertarik baca karena diceritakan oleh seorang teman saya.

Berawal dari ngomongin digital communication buat internal company, lalu ngalor ngidul ngomongin startup, internet dan privasi di internet lalu tersebut lah buku ini. Akhirnya teman saya itu meminjamkan novel bersampul pink ini. *Belakangan saya malah baru tahu dari internet kalau teman saya itu ternyata penulis novel juga. :O

The Circle ini berlatar belakang cerita tentang privasi di dunia internet, atau tepatnya di “Internet of Things” (IoT). Novelnya agak mengecewakan bagi saya karena alurnya terlalu lambat di depan. Saya paling malas kalau sudah baca bagian si Mae (tokoh utama) bergalau-galau ria, apalagi saat bergalau plus berkayak di teluk. Entahlah, bagi sebagian pembaca mungkin ini bagian yang disebut “pendalaman tokoh”, bagi saya sih membosankan aja.

The Circle menurut saya benar-benar mengambil Google sebagai latar perusahaan yang jadi cerita utama. Saya mengikuti cerita The Circle ini dengan membayangkan kantor Google yang sering saya lihat di foto-foto, video dan cerita-cerita. Mungkin Googleplex (kantor pusat Google di Mountain View, California) itu bukan visualisasi yang dimaksud Dave Eggers. Tapi saya memilih begitu saja. Jadi saya bisa tidak terlalu serius membaca detail deskripsi setiap bangunan yang diceritakan.

Kalau The Circle berbasis cerita tentang ribut-ribut soal privasi di Internet (yang masih sering mencuat sampai sekarang), Negeri Para Bedebah menurut saya benar-benar mengambil latar kejadian kisruh Bank Century yang heboh di sekitar 2009 itu. Untungnya saya cukup familiar dengan berbagai konsep dan istilah di dunia perbankan, ekonomi, investasi -setidaknya dalam cakupan yang disebut di novel ini. Dengan begitu saya cukup lancar mengikuti alur cerita ini.

Plot cerita Negeri Para Bedebah cukup memuaskan bagi saya, walaupun sejak awal saya sudah bisa menduga siapa tokoh pengkhianat dan musuh besarnya. Tokoh utamanya si Thomas pun to good to be true.

Tetapi tidak demikian dengan plot cerita The Circle. Tokoh utamanya sih realistis. Tetapi terlalu banyak bagian yang membuat jalan ceritanya menjadi banyak lubang. Tetapi saya cukup senang endingnya tidak seperti yang diharapkan sebagian besar orang.

Dalam Negeri Para Bedebah, menurut saya Tere Liye banyak menitipkan opini-opini pribadinya. Atau lebih tepatnya agak menggurui. Berbeda dengan Dave Eggers, yang menurut saya (tentu saja) ikut menyampaikan opini pribadinya, tetapi membuat pembacanya untuk berpikir sendiri. Singkatnya Eggers membuat kita jadi bertanya-tanya, sedangkan Darwis seperti sedang ceramah. Dan dari yang saya baca-baca di GoodReads.com, novel lanjutan Darwis itu -judulnya “Negeri di Ujung Tanduk”- lebih kental lagi dengan “ceramah” Tere Liye. Saya belum baca sih.

Nah, ada yang tahu gak novel Indonesia yang isinya bukan soal cinta-cintaan, dan plot twist-nya “sesadis” Game of Thrones? Boleh dong tinggalin komentar kalau ada ide.