Lapak DVD Bajakan

Ini poster yang terpasang di lantai dasar, mall Ratu Plaza, daerah Senayan. Padahal rata-rata orang juga tahu di lantai atas bertebaran lapak DVD bajakan.

Gak cuma di Ratu Plaza saja sih. Di Ambassador, Poins Square Lebak Bulus, ITC Permata Hijau, dll juga banyak kok yang terang-terangan buka lapak DVD bajakan. Ini artinya, pengelola gedung jelas-jelas tahu dan mengijinkan penggunaan gedungnya untuk jual beli ilegal.

Kalau terang-terangan begitu, kenapa gak ditindak? Nah, saya juga heran. Mungkin potongan tulisan dari neraca.co.id ini bisa sedikit memberikan petunjuk:

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Bigjen Pol Bambang Waskito mengatakan selama ini laporan tentang pembajakan ini hanya berupa surat dan tidak dilengkapi dengan alat bukti.”Kalau permasalahan yang tau Satgas ini, namun selama ini sering kali laporan yang masuk tidak memiliki alat bukti sehingga kami susah untuk mengusut pembajakan itu,” kata dia.

Saya gak ngerti hukum sih. Mungkin toko yang jelas-jelas menjual DVD bajakan di dalam mall itu dalam hukum gak bisa dijadikan bukti. Mungkin.. -_-

Nah, baru-baru ini pemerintah sudah membentuk Badan Ekonomi Kreatif, dikepalai oleh Triawan Munaf (ayahnya Sherina Munaf). Badan ini akhirnya membentuk Satuan Tugas Penanganan Pengaduan Pembajakan Karya Musik dan Film (Satuan Tugas Anti Pembajakan). Mari kita lihat, paling enggak, tahun 2016 nanti apakah mencari DVD bajakan makin susah, atau masih sama mudahnya?

Mengapa Tampilan Aplikasi Website untuk Enterprise Jelek?

Mungkin anda familiar dengan beberapa aplikasi website yang dibuat untuk enterprise (red: big corporate). Biasanya tampilannya jelek. Seperti dibuat jaman Geocities.com masih beredar. Padahal mungkin aplikasi tersebut dibuat tahun 2014. Cukup aneh ya? Di saat banyak sekali desainer web yang bisa membuat tampilan yang indah dengan tanpa menghilangkan aspek kemudahan penggunaannya, ternyata desain norak bin cupu masih saja digunakan. Dan dibayar mahal pulak. Kalah sama startup-startup yang baru seumur jagung.

Sebelum saya masuk ke dunia enterprise, saya juga heran. Tetapi setelah berada di dalamnya saya mengerti. Pada dasarnya banyak pertimbangan sebuah perusahaan enterprise untuk membeli software atau aplikasi website. Dan desain, bukan jadi prioritas utama. Hal – hal seperti berikut lebih jadi pertimbangan:

  • Siapa vendor / pihak yang mengembangkan aplikasi tersebut? Siapa saja client nya selama ini? Secara legal status perusahaannya bagaimana?
  • Support nya bagaimana? Apakah bersedia “fleksibel”, atau justru kaku? SLA (Service Level Agreement) nya bagaimana? On Site support tersedia?
  • Fitur-fiturnya apa saja? Apakah bisa diintegrasikan dengan sistem yang sudah digunakan saat ini oleh perusahaan?
    • Single Sign On dengan Active Directory
    • Centralize Administration
    • Fitur Delegation (Jika ada yang cuti, akun-nya bisa didelegasikan sementara)
    • Integrasi ke database internal perusahaan
  • Security. Apakah sudah teruji? Sudah pernah disertifikasi? Memenuhi standar OWASP kah?
  • Sistem maintenance nya bagaimana? Auto-update? By subscription? Manual visit?
  • Sistem backupnya bagaimana? Secepat apa bisa di-restore jika dibutuhkan? Up Time nya bagaimana?
  • Semudah apa memindahkannya dari satu server ke server lain? Kalau di-cloud gimana?
  • Bisa trial? PoC (Proof of Concept) bisa dilakukan?
  • Fitur reporting nya bagaimana? Bisakah melihat report siapa saja employee yang rajin akses, chart komparasi trend kenaikan penggunaannya dalam beberapa periode, atau report-report data lainnya di dalam aplikasi website ini?
  • dll…
  • Berapa biayanya? (dan seringkali jadi faktor penentu tunggal)

Jika aplikasi website untuk enterprise memenuhi prasyarat di atas, tetapi desainnya jelek, masih sangat mungkin digunakan oleh client enterprise. Sebaliknya, jika desain tampilan website nya bagus sekali, tetapi prasyarat di atas banyak yang tidak lengkap, 90% kemungkinannya bakal ditolak. Silahkan cari target market lain (mungkin UKM, atau middle class company, atau startup).

*Yang dimaksud di sini tentunya aplikasi website untuk internal perusahaan ya. Bukan aplikasi website untuk digital marketing, atau corporate site standar.

*Akibat barusan baca ini.

Skrinsut Kembali Menyenangkan

Dulu waktu buka – buka blog- blog orang – orang keren – keren *fiuhh.. 2 kata semua – semua* :P. Saya ulangi.., dulu sering nemu blog yang kadang di dalemnya ada skrinsut (screenshot) dari suatu halaman web, ataupun skrinsut dari desktopnya. Tapi skrinsutnya tidak standar, diedit gitu. Jadinya bagus. Kebanyakan sih dibuat jadi berbayang model Compiz atau MacOS. Ada juga yang dimiringin dikit.

Dulu aku heran, ni orang niat banget tiap skrinsut digitukan. Lumayan repot juga kan ngeditnya. Kepikiran sih mungkin mereka pake plugin tertentu atau skrip tertentu biar lebih cepat. Eh ndak tahunya emang ada softwarenya. Namanya Shutter.  *halah.., kemana aja Ban…!* .  Shutter ini jalan di Linux, ndak tahu kalau di OS lain).

Nih contoh skrinsut dari blog ini :

shutter-blog

Sekarang skrinsut kembali menyenangkan bagi saya.. 😀

[update]

Selanjutnya bisa diedit dengan Screenie : http://ariya.blogspot.com/search/label/screenie (Thanx om Ariya).

Software yang Beli Pasti Lebih Bagus Daripada yang Gratis

“Logikanya aja lah.., sesuatu yang beli itu pasti lebih bagus daripada yang gratisan.. Iya kan? Jadi, .Net itu lebih bagus daripada Java”, ujar salah seorang pembicara pada acara Sunday Sonten ke-8 yang waktu itu bertempat di kampus Informatika UPN Yogyakarta. Saya tidak tahu *hacker* ini sedang bercanda atau serius, tapi lihat mimik wajah dan gaya bicaranya, kayaknya sih emang lagi serius.

Tapi…., ahh.. serius lo..?

Google Health, Solusi Software Kesehatan yang Murah

Google HealthDulu saya sering lihat iklan dari perusahaan software yang menyediakan jasa pembuatan software pelacak jenis penyakit dan obatnya. Selain itu saya sempat melihat software sejenis, buatan salah satu temen kampus.

Cara kerja software ini pada dasarnya seperti ini : User memasukkan kata – kata kunci gejala – gejala yang diderita. Software ini kemudian menganalisa kata – kata kunci ini, jika belum ditemukan data spesifik software akan meminta beberapa keterangan lain. Dan biasanya gejala – gejala atau keluhan si user ini dikelompokkan dalam beberapa bagian.

Google pun menangkap peluang ini. Dari hasil analisa penggunaan search enginenya, terbukti sangat banyak orang yang mencari informasi mengenai sejumlah penyakit menggunakan Google. Dan dikembangkanlah Google Health untuk memenuhi kebutuhan ini. Google Health sendiri direncanakan baru akan benar – benar diluncurkan tahun 2008.

Suatu langkah yang sangat bagus memang. Kini jika ada orang yang merasa mengidap beberapa gejala penyakit tetapi sulit menemui tempat praktek dokter (misal karena jadwal kegiatan yang padat), tetapi punya akses internet, Google Health bisa menjadi tujuan pertama untuk mencari informasi tentang penyakit tersebut. Dan informasi ini tersedia secara gratis. Silahkan lihat screenshotnya disini.