Pengemudi Ojek Berbasis Aplikasi yang Akhirnya Tertular Penyakit Ojek Pangkalan

[Ilustrasi: Justin Poliachik – justinpoliachik | flickr.com]
Beberapa waktu lalu banyak kita dengar cerita pengemudi Gojek yang menjadi korban kekerasan dari ojek pangkalan. Pasalnya sederhana, ojek pangkalan tidak terima Gojek mengambil penumpang di “wilayah mereka”.

Banyak masyarakat yang bersimpati dengan pengemudi Gojek. Menurut sebagian orang kelakukan ojek pangkalan itu tidak pantas. “Cari makan ya harusnya adil aja, tidak perlu mengaku-ngaku sebagai penguasa wilayah tertentu. Suka-suka konsumen mau menggunakan yang mana.” Kira-kira begitu pendapat mereka.

Sampai hari ini beberapa daerah dipasangi spanduk oleh pengemudi ojek pangkalan. Isi spanduknya jelas, melarang Gojek beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu yang cukup terkenal di daerah Apartemen Kalibata City, Jakarta. Tidak bisa dipungkiri kalau itu salah satu bentuk intimidasi terhadap ojek berbasis aplikasi.

Nah, dalam tulisan saya sebelum ini, saya mengulas bagaimana dugaan saya mengenai fase perubahan ojek berbasis aplikasi (Gojek dan GrabBike) secara sosial. Ternyata bukan isapan jempol. Salah satu dugaan saya itu sudah terjadi.

Kejadiannya di area seputar salah satu apartemen di daerah Jakarta Barat. Awalnya hanya pengemudi Gojek yang mangkal disitu. Lama kelamaan mulai ramai pengemudi GrabBike. Nah karena promosi GrabBike hanya Rp 5.000 (dibanding Gojek yang 15.000), akhirnya lambat laun penghuni apartemen memilih Grab Bike.

Dulu penghuni apartemen keluar pintu belok kanan (tempat pengemudi Gojek mangkal), belakangan hampir semua belok kiri (tempat pengemudi Grab Bike mangkal). Pengemudi Gojek pun cemburu. Akhirnya salah satu dari mereka ada yang mendatangi pengemudi Grab Bike yang mangkal. Meminta agar mereka tidak lagi mangkal di situ. Ujung-ujungnya ribut, hingga berkelahi. Untung ada satpam, sehingga berhasil dilerai. Kalah jumlah, akhirnya salah satu kelompok pindah mangkal ke area menara apartemen yang lain.

Jadi, kalau dulu pengemudi Gojek diintimidasi oleh ojek pangkalan, ternyata sebagian dari mereka sudah belajar dari situ, gimana cara mengintimidasi pengojek lainnya.

Taksi

Kejadian seperti ini tidak hanya di urusan ojek sih. Di dunia taksi juga sama. Banyak titik-titik yang sudah “dikuasai” kelompok pengemudi taksi tertentu.

Salah satu contohnya, sudah jadi rahasia umum kalau nunggu kita tidak akan berhasil naik taksi Blue Bird di salah satu area dekat gerbang keluar tol Pasteur, Bandung. Pengemudi burung biru ini tidak ada yang berani ambil penumpang di situ. Karena di area itu sudah banyak nangkring taksi lokal. Cerita-cerita dari sopir sih, kadang dipukuli kalau sampai berani ngambil penumpang di daerah situ.

Yang jelas penularan penyakit seperti ini harus dicegah. Apalagi mengingat jumlah pengemudi ojek berbasis aplikasi ini sudah di sekitar angka ratus ribuan. Kalau sempat banyak yang tertular, terlalu sulit untuk mengobatinya.

Pengalaman Menggunakan Uber: Aplikasi Pemanggil Mobil Sewaan (Bukan Taksi)

[Foto: metro.news.viva.co.id]
Sudah lama dengar tentang Uber (aplikasi pemanggil mobil sewaan, BUKAN TAKSI), tapi akhirnya baru nyobain pertama kali minggu lalu. Bermodal kode promo, dapat nominal lumayan. Kebetulan mau ke bandara. Jadi langsung kepake promonya.

Total biaya dari daerah jalan Ciledug Raya sampai Terminal 2 Soetta (via Pakubuwono – Tol dalam kota) : 102.000 (sudah termasuk biaya tol). Menurut saya ini murah, karena 2 hari sebelumnya saya ke bandara juga dengan rute yang mirip menggunakan si burung biru, totalnya sekitar 165.000, belum termasuk biaya tol.

Penggunaan Uber sih cukup mudah ya. Saya install, bikin akun, terus masukkan info kartu kredit. Setelah itu masukkan kode promo, terisi lah voucher Uber saya. Oh iya, kalau mau kode promo, pakai punya saya aja: oktosue, lumayan nanti kalian dapat voucher 75rb.

Untuk pemesanan mobil gampang sih. Cukup jalankan aplikasinya, nanti kita pilih titik dimana kita minta dijemput. Untuk masukkan tempat tujuan opsional. Jadi misal belum tahu mau kemana bisa juga. Kalau sudah memasukkan lokasi tujuan akhir, kita bisa dapat perkiraan total biayanya. Ini penting sih.

Waktu memesan kita juga bisa melihat ada berapa banyak mobil sewaan yang tersedia di sekitar lokasi penjemputan yang kita pilih. Nah, Uber secara otomatis akan “memasangkan” kita dengan mobil yang berada paling dekat dengan kita. Jadi kita gak bisa pilih-pilih. Jika sudah “dipasangkan”, akan keluar informasi siapa pengemudinya, ratingnya, jenis mobil, dan foto pengemudinya.

Oh iya jenis mobilnya ada 2: uberX (Avanza, Xenia, dan sejenisnya), dan uberBLACK (Mercy, Camry, Innova) –ini lebih mahal. Kata pengemudinya sih ada juga SuperBLACK, mobilnya Aston Martin, buka pintu aja udah 1jt biayanya. Mungkin kartu kredit saya limitnya gak masuk kriteria kali ya, jadi gak ada opsi itu.

Setelah dipesan, kadang drivernya menelpon, memastikan lokasi kita dimana. Soalnya gini. Waktu kita milih lokasi penjemputan, walaupun sudah presisi koordinatnya, kadang nama jalan yang keluar membuat ambigu. Saya pernah minta jemput di sebuah gang yang nama jalannya Tanah Kusir, tapi posisinya bukan di daerah Tanah Kusir. Si pengemudi yang “dipasangkan”, gak nelpon saya. Dia yakin aja posisinya di Tanah Kusir, akhirnya malah dia melewati lokasi penjemputan, terus menuju arah Bintaro. Karena memang makam Tanah Kusir di daerah sana. Ya sudah, saya cancel. Pesan ulang lagi deh.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Seorang pengemudinya pernah cerita, dia gak baca nama jalan, tapi posisi penjemputannya diletakkan di hotel Peninsula (Slipi). Ternyata penumpangnya tidak di situ, tapi di hotel lain. Saya enggak tahu sih, pengemudinya dimodali pulsa juga gak ya buat telpon pelanggan setiap kali ada order?

Oh iya, setelah “dipasangkan”, kita bisa memantau posisi mobil di Uber. Hampir realtime. Jadi bisa kita perkirakan bakal nyampe kapan. Kalau estimasi waktu tiba di aplikasinya sih gak usah dipercaya lah. Dia bener-bener berdasarkan jarak kayaknya. Saya pernah lihat estimasi 4 menit, padahal gak mungkin. Karena mobilnya harus muter balik jauh dulu, plus macet luar biasa.

Setelah naik, saya sih berharap gak ada lagi pertanyaan ala-ala pengemudi taksi. “Mau lewat mana, Pak?”. Karena rutenya sudah dibuat oleh Uber, terlihat jelas di peta dalam aplikasinya. Tapi ya mereka masih nanya juga sih. Yaa.., kadang maklum juga. Soalnya kadang rute yang ditampilkan kadangkala tidak mewakili kondisi sebenarnya. Pernah saya minta pengemudinya ikutin aja persis rute yang diberikan Uber. Ternyata sampa di daerah Kemang, jalan tersebut ditutup karena ada acara festival apalah gitu.

Enaknya pake Uber ini, semua pembayaran cash-less. Jadi gak perlu pegang duit. Pembayaran tol pun akan dibayarkan oleh pengemudi. Jadi bener-bener tinggal naik, terus sampai di tujuan tinggal “Makasih bang”, terus pergi deh. Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan via email, lengkap dengan peta rutenya.

Catatan:

  • Yang dicover duluan oleh pengemudi adalah biaya tol, kalau biaya parkir sih tetap dari kita.
  • Setelah “dipasangkan” dengan pengemudi, perhatikan pergerakan posisi mobil. Kalau makin jauh, kemungkinan dia salah paham lokasi penjemputan kita di mana. Jadi bisa kita telpon, atau kita cancel.
  • Kalau kata pengemudinya, jika kita cancel lebih dari 3 menit setelah dipasangkan, kita akan kena biaya sekitar 30rb. Di pengalaman saya sih, sepertinya saya cancel setelah lebih dari 3 menit, tapi tidak ada notifikasi saya kena biaya. Entahlah, males googling.
  • Nah ini penting. Di jam-jam tertentu (dan sepertinya di lokasi tertentu), tariff Uber bisa naik luar biasa. Kemarin malam saya melihat tarif Uber naik 2.5x lipat di daerah JCC Senayan. Setelah 2 menit, turun jadi 2x lipat. Saya tunggu 15 menit, siapa tahu jadi normal. Ternyata malah naik jadi 3.7x lipat. Ya sudah.., tak Uber, Go-Jek pun jadi. 😀

Jangan lupa, kalau mau kode promo pakai: oktosue, anda dapat voucher senilai 75.000 rupiah. 😀

Tembakan Tengah Malam di Perempatan Bulungan

[Ilustrasi Foto: says.com]

Saya kurang tahu nama persisnya apa. Pokoknya itulah, lampu merah perempatan PLN Bulungan.

Kejadiannya sudah lama, setahun atau dua tahun lalu. Waktu itu tengah malam, sekitar pukul 00.30. Saya naik taksi Bluebird, dalam perjalanan pulang. Datang dari arah Trunojoyo (Mabes POLRI). Kami berhenti di perempatan karena warna lampu sedang merah, dan tentunya karena ada pak polisi yang berjaga.

Di depan kami beberapa motor berhenti dengan tertib. Di sisi kanan depan saya sebuah GrandMax putih juga berhenti dengan tertib.

Tiba-tiba dari sisi kanan saya muncul Honda Jazz berwarna perak keabuan. Dua orang keluar dari sisi kanan dan kiri mobil. Tampilannya lusuh sekali. Pria yang keluar dari pintu kiri menggunakan semacam jaket, rambut kucal, dalemannya kaos, bawahannya celana panjang seperti celana gunung, dan tanpa alas kaki. Seperti sudah 3 hari tidak mandi. Pria yang keluar dari pintu kanan tidak terlihat jelas. Yang jelas tidak kalah lusuhnya. Tetapi saya bisa melihat jelas kedua pria ini masing-masing menenteng sebuah benda. Pistol jenis revolver. Read more Tembakan Tengah Malam di Perempatan Bulungan

Para Pawang Burung Biru

Saya sering mendapatkan para pawang burung biru (sopir taksi Blue Bird) yang punya latar belakang yang tidak umum. Ada yang sarjana, ada yang S2, ada yang freelancer di media, ada juga yang jadi reseller jasa dukun sih. Beneran. Sebagian saya masih ingat cukup detail. Ini sebagian itu:

S2 dan Konsultan UKM

Pawang yang terakhir mengobrol dengan saya punya latar belakang yang menarik. Waktu itu saya duduk di depan, saya melihat beberapa buku bertemakan strategic marketing di atas dashboard-nya. Sebagian bahkan berbahasa Inggris.

“Hobi baca buku, Pak?”

“Oh.. Itu kalau lagi istirahat aja, sambil-sambilan dibaca, Pak. Buat tugas kuliah.”

“Ambil S2, Pak?”

“Iya, Pak. Kuliahnya akhir pekan. Jadi waktunya gak ganggu waktu kerja. Hehe.” Read more Para Pawang Burung Biru