Kuota Internet dan Program Sarjana

[Ilustrasi: Quinn Dombrowski – flickr.com/quinnanya]
Anto (nama samaran) sekarang kebetulan menggunakan ponsel yang bisa menggunakan 2 sim card. Seorang teman Anto, sebut saja namanya Luba Noto Gejayan, biasa disingkat Luba N.G, memiliki ponsel yang sama. Menurut Luba, sim card utama (untuk telpon dan SMS) mending dipisah saja dengan sim card khusus internetan. Jadinya bakal lebih murah katanya.

Tergiur cerita Luba, Anto mencoba mencari sim card prabayar lain khusus untuk paket internet. Mulailah Anto mencari informasinya di internet.

Selama ini Anto menggunakan kartu Halo Telkomsel (pascabayar). Informasi biaya paket internetannya cukup mudah dipahami. Bayar sekian, kuotanya maksimal sekian sebulan. Selesai. Tetapi tidak seperti itu di kartu prabayar. Anto baru tahu, ternyata untuk paket internet kartu prabayar, skemanya sangat rumit. Dan ini berlaku rata di semua operator (Telkomsel, XL, Indosat, Tri).

Begini contoh ilustrasinya:

  • Ada yang terlihat harganya lumayan, kuota (misal) 4,5 GB. Tapi ternyata 3GB nya untuk akses via ponsel, 1,5GB nya untuk akses via WiFi si operator, 2GB kuota hanya berlaku di jaringan 4G, sisanya di jaringan 3G/3.5G.
  • Ada yang harganya berbeda-beda di tiap lokasi. Dan sewaktu Anto membuka websitenya, lokasi Jakarta Selatan tidak ditemukan. Identifikasi menggunakan Geolocation di browser pun tidak berjalan, jadi Anto sama sekali tidak bisa cek harganya.
  • Ada yang berbeda berdasarkan waktu penggunaan. Kuota terlihat besar, tetapi ada pembagian waktu. Misal, total kuota 10GB. Jam 9-12 siang 2GB, jam 12 siang sampai jam 6 sore 1 GB, jam 6 sore sampai jam 12 malam 500 MB, sisanya jam 12 malam sampai jam 9 pagi, 6.5GB.
  • Dan ini yang paling pamungkas, ada yang gabungan dari 3 skema di atas. Luar biasa !

Skema ini makin diperumit dengan pilihan paket dengan nama berbeda-beda, dan masing-masing paket, beda-beda skema harga. Informasi ini pun susunan informasinya di website masing-masing bisa dibilang berantakan.

Memang ada saja orang yang dengan senang hati merangkum informasi ini dan menuliskannya di blog atau forum. Tapi ini tidak begitu membantu juga, karena skema paket dan harganya itu cepat sekali berubah. Informasi yang dirangkum di bulan Februari, sangat mungkin di bulan September sudah tidak berlaku.

Begitu Anto mencoba menyampaikan keluhannya ke para operator, jawaban mereka adalah “Ini hal yang bagus, Pak Anto. Justru dengan begitu banyaknya pilihan paket internet ini, pelanggan bisa bebas menentukan mana paket yang paling tepat bagi mereka.”

Anto merasa sedih. Dengan begitu banyaknya pilihan, bagaimana caranya dia bisa memilih mana paket internet yang paling pas untuknya. Akhirnya Anto berkonsultasi kembali dengan Luba.

Tips dari Luba singkat. Kuliah lagi saja. Program Studi S1 Ilmu Internetan, dengan gelar sarjana Sarjana Ilmu Internetan. Luba dulu mengambil kuliah ini. Ikut kelas malam, demi bisa mengerti dan menjadi ahli paket-paket internet dari operator telekomunikasi.

Awalnya Anto tidak percaya, sampai akhirnya Luba menunjukkan ijazah Sarja Ilmu Internet-nya. Ternyata Luba tidak bohong. Ijazahnya benar-benar ada. Nama Luba tertulis di situ, lengkap dengan gelarnya: Luba.NG, S.Ilit.

[Update] Beli Aplikasi Android di Google Play Store Lebih Murah dengan Kartu Kredit daripada Telkomsel Billing

Lengkap sudah. Developer aplikasi Android Indonesia bisa menjual aplikasinya di Play Store. Pengguna Android dari Indonesia juga sudah bisa membeli aplikasi dengan cara potong pulsa. Ekosistemnya sudah lengkap.

Setahu saya ada 2 operator yang menyediakan fitur ini: Indosat dan Telkomsel. Kemarin sempat terdengar kabar di Twitter kalau untuk Indosat sempat di-stop. Saya enggak tahu sekarang sudah bisa lagi atau belum.

Untuk Telkomsel Billing, saya sudah coba sendiri. Saya beli aplikasi game Kingdom Rush, dengan label harga Rp 12.000. Kata Google sih ini sudah termasuk pajak dan GST. Tetapi total biaya yang dikenakan oleh Telkomsel adalah Rp 13.440. Dari penjelasan akun Twitter Telkomsel ternyata memang harga tertera di Play Store masih belum mencakup biaya pajak PPN 10% dan biaya jasa 2%.

Saya sebelumnya pernah juga membeli aplikasi game di Play Store, namanya Game Dev Story, buatan studio game di Jepang. Seingat saya harganya waktu itu Rp 20.000. Menggunakan Google Wallet (yang terkoneksi ke kartu kredit saya). Sewaktu transaksi seingat saya tidak ada biaya tambahan lain.

Selain itu bulan lalu juga saya subscribe Majalah Tempo di Google Newsstand. Harga yang tertera adalah Rp 129.000. Informasi dari Google Wallet yang saya terima, saat transaksi biayanya tetap Rp 129.000, tanpa biaya tambahan.

Saya kurang tahu sih, apakah nanti di billing statement kartu kredit saya baru keluar biaya tambahan lain-lain terkait pembelian dengan Google Wallet ini. Asumsi saya sih tidak. Jika benar, maka kesimpulannya, kalau pertimbangannya adalah biaya, lebih murah membeli aplikasi di Play Store dengan kartu kredit (via Google Wallet) ketimbang Telkomsel Billing.

Tapi itu baru pengalaman dan info saya yang terbatas. Mungkin ada yang mau share pengalamannya?

[Update]
Carrier Billing Indosat masih aktif. Hampir sama seperti Telkomsel, Indosat mengenakan biaya tambahan 10% dari harga tertera di Play Store. Tapi saya tidak tahu apakah ada biaya jasa juga atau tidak.

Analogi TV Kabel dan AdPop dari Telco Samakah?

imageIni adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya mengenai AdPop Telkomsel. Thanks to Ari Wahyuutami, sekarang saya tahu istilah resminya adalah “interstitial ad” 😀

Ringkasan dari tulisan saya sebelumnya itu adalah “Tidak adil bagi pengguna telco jika mereka harus dikenai AdPop ini. Pengguna sudah bayar untuk mengakses internet.”  Lalu kemudian sebagian berargumen : “Bukankah analogi nya sama saja dengan TV Kabel. Kita sudah bayar untuk berlangganan, tetapi tetap saja acaranya yang kita tonton harus diselingi iklan? Atau analoginya seperti nonton di Bioskop, sudah membayar tiket, tetap aja harus melihat iklan sebelum film mulai”.

Sepintas analogi di atas terlihat benar ya? Oh iya ya.., di TV kabel nyatanya kita terima aja, di bioskop juga. Sama ya analoginya? BEDA.

Analogi di atas tidak pas dibandingkan dengan AdPop ini. Di TV Kabel dan Bioskop, betul kita memang bayar untuk berlangganan, dan tetap saja melihat iklannya. Tetapi ini karena “pemilik” film (content)-nya adalah TV kabel dan bioskop ini.

Pada dasarnya TV Kabel dan Bioskop ini memang menjual “konten”, bukan menjual jaringan. Adanya jaringan mereka (TV Satelit & Jaringan bioskop) adalah untuk memudahkan ke akses pilihan konten “milik” mereka ini. Dan konten ini pun sudah ada pilihan “menunya”. Kalau cuma langganan AXN, ya tidak bisa melihat film dari HBO. Kalau cuma beli tiket Iron Man, ya gak bisa nonton Star Trek. Kita tidak bebas memilih konten sesuka kita seperti halnya kita bebas memilih website apa yang ingin kita buka di internet

Sementara telco (operator seluler) dan juga ISP, mereka bukanlah pemilik kontennya. Jasa yang mereka jual memang jaringannya, bukan kontennya. Apalagi, dengan AdPop ini, si pemilik konten justru tidak dapat apa – apa. Sementara di Bioskop dan TV Kabel, pemilik konten sebenarnya (production house) memang sudah dapat bayaran dari mereka atas lisensi menampilkan konten ini.

Kalau TV Kabel mau dianalogikan sama dengan Telco, berarti di TV Kabel seharusnya kita pun bebas mengakses film apa saja. Karena di internet, kita bebas mengakses situs apa saja.

Kalau telco mau berbisnis dengan cara AdPop ini, sebaiknya mereka menganalogikan dirinya seperti TV biasa (TransTV, RCTI, SCTV, dll). Caranya (misal) :

  1. Berikan akses gratis ke situs tertentu (katakanlah Kompas.com, Detik.com, Facebook, dan Twitter).
  2. Silahkan jejali iklan di-sela sela perpindahan halaman tersebut.
  3. Silahkan ambil profit dari iklan – iklan tersebut.

Toh ini yang dilakukan Esia dulu bukan? Dengan paket ponsel dan pulsa yang dijual “terlalu murah”, tetapi setelah itu akan dikirimi SMS (bahkan ditelpon) iklan secara bertubi – tubi. *CMIIW

Jadi, sekali lagi, analogi TV Kabel dan Bioskop untuk mendukung praktek AdPop itu adalah salah menurut saya.  Kata kuncinya adalah : konten dan jaringan.

**istilah “pemilik” di atas memang kurang tepat, saya sulit menemukan kata pengganti yang tepat. Intinya yang disebut “pemilik” ini adalah mereka yang punya lisensi resmi untuk menerbitkan konten tersebut.

Misteri AdPop Telkomsel (Berikutnya XL ?)

imageSaya pengguna kartu Halo dari Telkomsel, dan berlangganan paket TelkomselFlash. Beberapa minggu terakhir setiap saya browsing di ponsel saya, ketika pindah dari satu halaman ke halaman lain seringkali diarahkan dulu ke AdPop Telkomsel. Ini adalah page dari Telkomsel yang isinya iklan. Di ponsel saya sih, bisa dibilang tak pernah muncul iklannya. Tapi saya baca di internet sebagian besar melihat iklan KakaoTalk disitu.

Saya mengerti cara kerja iklan di media digital (saya pernah bekerja di bidang itu *sort of*). AdPop di Telkomsel ini (awalnya), saya duga seperti jaman iklan di Friendster. Ketika itu jika anda berada di satu halaman (katakanlah halaman profil anda), kemudian anda klik profil teman anda. Sebelum anda sampai di halaman profil teman anda, anda akan dibawa dulu ke satu halaman yang berisi iklan. Biasanya bentuknya berupa sebuah banner-ads full satu halaman (bisa JPG ataupun Flash). Di pojok atas ada tombol “skip”, untuk melanjutkan langsung ke halaman yang dituju. Banyak pengunjung Friendster yang awam tidak mengerti ini. Sampai di halaman iklan mereka bingung, jadinya mereka akan klik banner yang muncul tersebut. Ini praktek pemasangan iklan yang sangat mengganggu menurut saya.

Saat ini pun, jika saya membuka website Forbes di ponsel, masih ada model iklan seperti di atas. Walaupun saya sendiri belum pernah melihat iklannya. Biasanya hanya berupa halaman kosong, lalu ada tombol skip. Nah, AdPop Telkomsel juga bekerja dengan cara ini.

Jenis iklan seperti di atas, biasanya disediakan oleh Media Agency. Pada dasarnya seperti ketika menggunakan Google AdSense. Media agency akan memberikan satu script untuk dipasang di website client mereka. Secara otomatis sistem iklan di atas akan bekerja. Si pemilik web tentu akan mendapatkan bayaran dari iklan tersebut (bisa per-klik, per transaksi, berdasarkan jumlah tampilan, dll).

**Ya, tidak selalu media agency juga sih. Kalau website nya besar, bisa jadi mereka akan develop sendiri platform itu di situs mereka.

Nah, untuk dua kasus di atas (Forbes dan Friendster), iklan tersebut “terselip”, memang karena Friendster dan Forbes memasang iklan jenis tersebut di website mereka. Jadi, kalau kita merasa kesal ketika menemukan iklan tersebut, kita bisa protes ke masing – masing website.

Nah, kembali ke AdPop Telkomsel. Sejauh yang saya ingat, AdPop Telkomsel muncul ketika saya membuka Kompas.com di ponsel. Asumsi awal saya.. “Oh.., Ok, berarti Kompas.com yang memang memasang AdPop Telkomsel di mobile-site mereka”.  Tetapi kemudian di internet saya menemukan ada yang menemui AdPop Telkomsel ini ketika membuka Facebook Apps. Dan ada yang menemukannya juga ketika membuka situs dari US (saya lupa apa).

Ini membuat saya penasaran, jangan – jangan AdPop Telkomsel ini “diselipkan” oleh Telkomsel sendiri. Jadi situs apapun yang kita buka, Telkomsel bisa “menyelipkan” AdPop ini ketika berpindah halaman. Di akun Twitter mereka sendiri, Telkomsel menyatakan AdPop ini dipasang oleh situs yang kita kunjungi. (1. http://storify.com/amasna/conversation-with-barkah-and-telkomsel 2. https://twitter.com/Telkomsel/statuses/321514134787203072)

Saya akhirnya mengirim email resmi ke CS Telkomsel. Saya tanya seperti ini : “Saya bingung, ini AdPop Telkomsel muncul karena website yang saya tuju memasang ini, atau karena dari jaringan Telkomsel nya ya?”

Lalu jawaban mereka malah membuat saya lebih penasaran : Read more Misteri AdPop Telkomsel (Berikutnya XL ?)

Masalah pada TelkomselFLASH Unlimited dari Kartu HALO

Sekitar tanggal 21 Juli lalu, tiba – tiba saya tidak bisa mengirim SMS dan melakukan panggilan. Saya biarkan hingga tanggal 23. Tetap tidak bisa. Akhirnya call 111, ternyata saya belum bayar tagihan bulan itu.., makanya kartu saya diblokir (salah saya…, he..he..)

Tanggal 23 Juli, saya bayar tagihannya. SMS dan telpon sudah kembali normal. Tetapi saya masih belum bisa konek internet. Mas – mas dari 111 bilang karena trafik sedang sangat berat di tempat saya. Ya sudah, saya bersabar..

Hari -hari berikutnya tidak jauh beda. Kadang bisa konek satu jam, setelah itu tidak bisa konek lagi satu hari. Saya “curhat” lagi ke Mas 111, dia bilang kalo Telkomsel lagi upgrade jaringan. Mungkin dalam 1 – 2 hari ini sudah selesai.

Saya sabar, dan tunggu lagi. Dan mulai tanggal 27 Juli, setiap dial up (dengan wvdial – di Ubuntu 8.04), selalu bisa “terkoneksi” (karena saya sudah dapat IP Address). Tetapi masalah belumlah selesai. Seringkali (hampir selalu) terjadi error : “Address not found”. Saya coba nslookup beberapa domain umum (google.com, ugm.ac.id, techcrunch.com, dll) hasilnya juga nihil. Ternyata DNS nya bermasalah. Coba trik lain, saya ganti DNS nya secara manual dengan mengedit (/etc/resolv.conf) ke IP address dari OpenDNS : 208.67.222.22. Dan akhirnya bisa browsing.

Belakangan saya ketahui, kalau setelah dial up DNS yang kita dapat adalah 10.x.x.x, maka error ini terjadi, tapi kalau DNS nya 203.x.x.x bisa resolve. Berikutnya jika saya dial up dan tidak dapat DNS dengan IP 203.x.x.x, maka saya redial sampai dapat.

Ternyata ini pun bermasalah. Dalam 4 hari berikutnya, walaupun DNS (baik dari TelkomselFLASH nya, maupun dari OpenDNS) bisa resolve domainnya, tapi tetap tidak bisa browsing semua situs. Saya ingat waktu itu Google, Detik, ReadWriteWeb, Republish.web.id, dan OkeZone bisa diakses. Tetapi Yahoo, Planet Terasi, TechCrunch, dan WebWare tidak bisa dibuka. Di status bar Firefox tertulis “Connecting to yahoo.com ….”, atau “Connecting to planet.terasi.net …”, dst.

Hari – hari berikutnya semakin parah. Buka situs apapun tidak bisa.Walaupun DNS nya sudah bisa resolve dengan benar. Di status bar Firefox hanya tertulis “Connecting to namasitus.tld …”.

Menyerah? Tidak.. Masa saya bayar 125rb/bulan untuk kecepatan maksimum 256kbps, tapi tidak bisa browsing sama sekali? No way..!

Sekarang akhirnya saya pake tunelling (SOCKS proxy). Untung punya account SSH di beberapa tempat. Soalnya seringkali SSH pun gagal ke berbagai alamat domain. Jadi saya harus coba satu – satu bikin tunelling ke account ssh saya di berbagai tempat.

Dan akhirnya saya bisa browsing dengan “sedikit” tenang, dan bisa menuliskan “curhat” ini..

Apa kata Mas 111? “Koneksi 3G di wilayah anda dari pemantauan kami memang tidak stabil. Coba Bapak pindah ke jaringan GPRS, memang jadi lebih lambat, tetapi lebih stabil”.

Ah.. tidak juga. Di GPRS pun hasilnya sama persis..

UPDATE : (8 – 8 – 08)  Ntah karena angkanya cantik di tanggal ini, TelkomselFLASH sekarang sudah balik normal. (Oh iya saya juga baru sadar kalau salah tulis harusnya TelkomselFLASH bukan TelkomFLASH).