Platform Ketiga Bagi Pemilik Konten Online

[Ilustrasi: Mark Hunter – tartanpodcast | Flickr.com]
Kalau dulu kan platform media digital (online) itu bisa dibilang cuma satu, desktop.Walaupun cuma satu, tapi secara teknis PR nya cukup besar, karena di masa-masa itu kompatibilitas antar browser masih sangat jauh berbeda. Ya, dosa terbesarnya memang karena waktu itu IE 6 masih mayoritas sih. Pokoknya di masa-masa itu, sebelum website dipublikasikan, harus memastikan dulu tampilannya konsisten di semua browser. Ribet lah. (sekarang sih masih, tapi sudah mendingan).

Lalu belakangan platform yang mayoritas menjadi dua: desktop (website) dan mobile (aplikasi mobile/mobile site). Jadi para pemilik konten melakukan optimalisasi agar kontennya bisa disajikan dengan mudah di kedua platform tersebut. Harus sigap mengatur strategi bagaimana agar delivery konten di masing-masing platform jadi optimal. Memutuskan apakah membuat mobile-apps atau cukup mobile-site saja? Atau justru cukup website yang sudah responsif? Read more Platform Ketiga Bagi Pemilik Konten Online

Akun Twitter Satu Arah (Update)

Bulan Maret 2012 lalu saya menulis tentang Twitter Satu Arah. Intinya, menurut saya tidak semua akun social media (dalam hal ini Twitter) bisa digunakan untuk komunikasi dua arah. Ada yang memang cocok untuk satu arah saja (broadcast).

Di tulisan saya itu saya mengambil contoh akun @kompasdotcom (sekarang berganti jadi @kompascom). Kesimpulan saya rasanya lebih pas kalau akun seperti @kompascom punya akun terpisah untuk komunikasi dua arah.

Nah, sepertinya tim Kompas.com juga sepikiran dengan saya. 17 Juni 2012 lalu, meluncurlah twit pertama dari akun @OrangeDotterz . Ini adalah akun resmi dari Kompas.com yang fokusnya lebih ke kuis, kontes, promo dan aktifitas lainnya. Bahasanya pun sangat casual, dinamis, dan sangat khas para pengguna Twitter Indonesia.

image

Well done Kompas.com

*Kalau saya boleh usul, mungkin lebih baik  lagi kalau nama OrangeDotterz nya diganti dengan yang lebih mudah diucapkan lidah Indonesia dan lebih gampang diinget. Misal : Oranger, TimOranye, Horanye (hore oranye *hahaha..), atau apalah gitu.. 😛

Tentang Twitter Satu Arah

Saya sering membaca tulisan dari orang – orang yang berkecimpung di dunia digital, yang “mengecam” maraknya perusahaan yang menggunakan asset digital (Facebook, Twitter, YouTube), dll tetapi hanya satu arah. Menurut mereka, social media itu harusnya dua arah. Penggunaan satu arah itu, salah kaprah.. Perusahaan – perusahaan ini harusnya aktif menggunakan Facebook, Twitter dan YouTube nya untuk merespon komunikasi yang datang dari user.

Menurut saya tidak begitu. Tidak semua social-media harus dua arah. Ada beberapa tipe penggunaan social media yang satu arah saja sudah cukup. Saya fokuskan disini untuk Twitter.

Sebagai contoh, saya mengikuti akun @kompasdotcom. Alasan saya mengikuti akun ini, karena ketika saya melihat timeline Twitter saya, pada dasarnya saya ingin tahu apa yang terjadi “saat ini”. Entah itu dari lingkungan teman – teman saya, atau dunia yang saya sukai (musik, open source, dll). Nah, jika saya mengikuti akun @kompasdotcom, harapannya saya juga bisa mendapatkan informasi apa yang terjadi “saat ini” di taraf lebih luas. Saya sendiri memang berasumsi bahwa twit dari @kompasdotcom memang bertujuan untuk “hanya” menyampaikan berita saja.

Analogi saya adalah seperti ketika ada rekan kantor yang nyolek saya sambil bilang “Eh.., tau gak, tadi ada pesawat alien jatuh di Sulawesi”. Kalau saya tertarik, saya akan tanya, info darimana? Lalu rekan saya itu memberitahukan darimana dia dapat infonya. Kalau dikembalikan ke contoh akun @kompasdotcom tadi, jika saya ingin tahu lebih lanjut, saya klik link yang diberikan.

Dengan jumlah pengikut (follower) yang sampai 1juta lebih, dan dengan sistem Twitter yang “menerima input” nya hanya via “mention”, secara praktis, tidak mungkin akun Twitter @kompasdotcom tersebut menjadi media komunikasi dua arah. Semua twit yang me-mention akun @kompasdotcom akan masuk ke “tab mention”, sulit dibedakan, mana yang memberi input, cuma komentar sambil numpang RT, atau sekadar mention iseng. (para “social-media-admin” pasti mengerti ribetnya hal ini). Kecuali, kalau bentuk Twitter seperti Plurk, dimana setiap “status” ditanggapi dalam kolom komentar masing – masing “status”, ini masih agak masuk akal.

Lalu bagaimana jika ada user yang mau memberikan input ke Kompas.com via Twitter? Anggap saja, misal selama 1 jam terakhir semua link yang di-twit @kompasdotcom error semua (beneran pernah kejadian), maka akun mana yang bisa digunakan untuk menyampaikan info ini? Hmm..,kalau dulu sih saya mention akun bosnya Kompas.com, om @etaslim 😛 (maaf ya om, kalau habis ini jadi banyak yg mention).

Nah, mungkin untuk kasus di atas ini perlu dibuatkan akun satu lagi, misal : @kompas_admin. Akun @kompas_admin ini yang bertugas sebagai akun yang me-respon input dari user. Setiap mention ke akun ini, masuk ke sebuah sistem (bisa saja sesederhana forward ke email Corporate Affairs Kompas.com). Dari sistem ini, tim internal Kompas.com bisa mengekskalasi ke bagian – bagian terkait, untuk kemudian direspon lagi via Twitter. (sepertinya ribet memang, tetapi biasanya perusahaan – perusahaan besar itu memiliki protokol komunikasi yang cukup ketat, jadi maklum saja). Bagaimana pengikut akun @Kompasdotcom bisa tahu ada akun @kompas_admin? Ya selama beberapa waktu harus sering dipromosikan lewat akun @kompasdotcom. Setelah pengikutnya aware, maka tinggal diinfokan secara periodik (misal sehari 1 kali).

Jadi, Kompas.com maintain 2 akun dong? Ribet beneeeerr.. Ya dengan kondisi seperti di atas, setidaknya ini menjadi solusi. Mungkin teman – teman punya solusi yang lebih baik? Silahkan share di bawah.

CATATAN : Akun @kompasdotcom ini cuma contoh, untuk akun portal berita lainnya pun kurang lebih sama.

[disunting kembali barusan, postingnya via email, pemisah alinea nya berantakan tadi]

Kapan Negara boleh Blok Twitter / Facebook?

Ya maksudnya gak cuma Twitter & Facebook aja sih.., semua social media lah.. (Plurk, Yahoo Mim, Koprol, dsb).

Bisa ditebak, tulisan saya ini berhubungan dengan keadaan di Mesir sekarang. Kalau boleh saya bilang keadaan di Mesir sekarang mirip kaya Indonesia di bulan Mei tahun 1998 dulu. Rakyat ingin reformasi. Masyarakat bentrok dengan aparat. Yel – yel yang menyerukan agar presiden segera turun terdengar di mana – mana. Nah, untuk membuat situasi tidak makin carut – marut (setidaknya menurut pemerintah Mesir), akses informasi pun diperketat, hingga akhirnya internet pun diblok (!). Saya tidak tahu apakah hasil dari strategi ini sesuai keinginan pemerintah Mesir atau tidak.

Yang menjadi pemikiran saya. Jika saja.., waktu jaman tragedi Ambon, Poso dan Sampit dulu Twitter, Facebook dsb sudah ada,  kira – kira Pemerintah Indonesia bakal memblok social media ini atau tidak ya?

Ya..ya.., saya tahu, sebagian dari penggiat dunia online akan berkata (kurang lebih) : “Saya rasa masyarakat kita di dunia maya sudah cukup pintar. Mereka tahu mana yang harus disebarkan, mana yang tidak.. Mereka tahu bagaimana sebaiknya bersikap. Toh sebagian besar pengguna internet kita biasanya pendidikannya sudah cukup”.

Saya agak ragu. Di milis – milis yang isinya banyak orang – orang yang berpendidikan tinggi pun, seringkali saya masih mendapat forward-an HOAX tentang berbagai hal, mulai dari kesehatan, produk, agama, politik, sejarah dst. Dahulu, saat terjadi tragedi kemanusiaan itu, jika saja arus informasi sudah seperti sekarang, saya rasa saya pun bakal banyak menerima forward-an email – email HOAX yang (notabene) di forward mereka – mereka yang pendidikannya sudah bagus. Kalau seperti era sekarang, mungkin bakal banyak yang ReTwit tanpa pikir panjang. Karena pada dasarnya memang manusia itu cenderung “mempercayai apa yang ingin dia percaya”.

Dalam kondisi seperti itu, bolehkah negara akhirnya memblok layanan social media tadi? Atau mungkin di level yang lebih tinggi, memblok internet sama sekali?

Aaah.. mungkin juga saya yang terlalu menilai rendah pengguna internet kita.. Saya harap saya salah.

NB: Tulisan ini bukan angin segar buat Om TIffy biar bisa tiba – tiba nge-blok ini itu ya.. Saya cuma penasaran apa pendapat anda – anda sekalian.

Ke Twitter Lagi

Sewaktu lagi heboh – hebohnya Twitter, saya sempat bikin akun. Terus nyobain nge-tweet. Habis itu ditinggalkan.
Setelah itu muncul Plurk. Setelah disentil Mas Yahya, akhirnya saya bikin akun. Dan terjerumuslah saya di dunia plurknista itu. (and it did fun.. (dance)plurk )

Belakangan fitur karma (yang tadinya asyik) kok malah terasa mulai mengganggu. Kalo ndak diupdate seharian karmanya turun. Ya ndak apa – apa sih, ndak masalah sebenarnya. Tapi entah kenapa ada semacam efek psikologis untuk mengembalikan lagi karma tersebut. Akhirnya mulai deh nge-junk demi mempertahakan karma.. 🙁 *ya.. saya lakukan dengan sadar kok.

Plurk bilang : Say something interesting..

Terus gimana kalo seharian ndak ada yang interesting? Berarti hidup kita sucks.. Karena itu kena karma…

*cuma analogi bercanda saja kok.., ndak usah ditanggepin serius ya.. 😀

Kemarin saya denger podcast dari PasarMalem.com (situs ini udah lama launching ya?). Temanya tentang microblogging. Dan mbak.. errr.. *kalo ndak salah* Ica, dari Bandung, ngasih analogi yg saya suka :

“Twitter itu kaya semua orang ngobrol di satu meja.., Plurk itu kaya orang – orang berkelompok ngobrol di meja – meja tertentu.”  (CMIIW).

Bung Thomas juga membuat salah satu pernyataan yang cocok dengan tipikal saya : “Intinya adalah pada teksnya itu kan?”

Ntah kenapa, setelah mendengar podcast itu saya pengen make Twitter lagi.. Hebat nih podcast.. 😀

NB : Tadinya saya sempat berpendapat negatif tentang podcast di PasarMalem ini. Di plurk saya sempat bilang : It sucks..!. Tapi ternyata, kebetulan saja waktu pertama kali buka dapet episode yg ndak sesuai harapan saya. So buat PasarMalem.., lanjuuuutt…! 🙂  (put rock icon here)plurk

Link : PasarMalem : Micro Blogging