Algoritma Go-Jek yang Terbalik

Kemarin malam saya berada di Ratu Plaza, daerah Senayan. Saya hendak ke suatu tempat di daerah Cidodol. Karena males kena macet, saya pesan lah Go-Jek. Setelah pesan saya tidak perhatikan lagi aplikasinya. Sibuk mengunyah makanan.

Tak lama saya mendapatkan panggilan telpon. Ternyata pengemudi Go-Jek. Saya belum cek lagi aplikasinya. Dia bilang paling lama 10 menit baru nyampe. Saya menduga dia di sekitar Senayan, tapi terjebak macet. Ya sudahlah.

5 menit kemudian, baru saya cek aplikasinya. Posisi si pengemudi di daerah Cidodol. Lah?? Itu tujuan saya toh. Saya mau batalkan kok kasihan juga dia sudah datang jauh-jauh.

Lebih dari 15 menit, pengemudi Go-Jek nya baru sampai. Dan dia mengkonfirmasi, benar dia tadi Cidodol. Duh.

Saya enggak ngerti logika aplikasi di Go-Jek ini. Seringkali saya melihat di depan mata saya paling tidak ada 10 orang pengemudi Go-Jek yang sibuk memperhatikan ponselnya, siap menunggu orderan. Tetapi ketika saya memesan jasa Go-Jek, yang mendapatkan pesanan malah berjarak 2 km dari lokasi saya.

Inilah sebabnya terkadang saya terpaksa membatalkan pesanan saya, dan coba pesan lagi. Apesnya, jika membatalkan pesanan sampai 5x dalam sehari, akun kita akan dibekukan sementara. Dan ini tanpa pemberitahuan. Saya sendiri pernah mengalami. Karena komplain via telponlah saya baru tahu penyebabnya.

Gak ngerti deh gimana sebenarnya algoritma yang digunakan Go-Jek. Semoga pengemudi UberMotor cepat bertambah banyak. Saya (dan mungkin banyak orang lainnya) butuh alternatif.

*Kenapa gak pakai GrabBike? Karena GrabBike harus dibayar tunai langsung. Saya malas berhadapan dengan “modus tidak ada kembalian”. Sekali dua kali tidak apa-apa, kalau berpuluh kali ya nyesek juga.

Pengemudi Uber Ini Ternyata Ayah dari Siti Saniyah (Kontestan The Voice Indonesia)

Hari ini Taksi BlueBird gratis 24 jam. Tapi tadi di Kuningan saya sulit sekali menemukan taksi yang kosong. Akhirnya kembali lagi naik Uber, tak sampai 5 menit sudah dijemput.

Singkat cerita. Setelah ngobrol soal heboh demo pengemudi taksi kemarin, tiba-tiba si pengemudi (namanya Pak Medi) loncat ke topik lain.

Pak Medi (PM): Suka nonton The Voice, Pak?

Saya: Nonton awal-awal doang sih, Pak. Di YouTube. Saya inget ada tuh yang nyanyi-nyanyi seru sama Agnez Mo pas audisi.

PM: Nah, anak saya lolos tuh, Pak. (Ujarnya dengan bangga)

Saya: Hah?! Serius, Pak? Siapa namanya? Read more Pengemudi Uber Ini Ternyata Ayah dari Siti Saniyah (Kontestan The Voice Indonesia)

Pengalaman Menggunakan Uber: Aplikasi Pemanggil Mobil Sewaan (Bukan Taksi)

[Foto: metro.news.viva.co.id]
Sudah lama dengar tentang Uber (aplikasi pemanggil mobil sewaan, BUKAN TAKSI), tapi akhirnya baru nyobain pertama kali minggu lalu. Bermodal kode promo, dapat nominal lumayan. Kebetulan mau ke bandara. Jadi langsung kepake promonya.

Total biaya dari daerah jalan Ciledug Raya sampai Terminal 2 Soetta (via Pakubuwono – Tol dalam kota) : 102.000 (sudah termasuk biaya tol). Menurut saya ini murah, karena 2 hari sebelumnya saya ke bandara juga dengan rute yang mirip menggunakan si burung biru, totalnya sekitar 165.000, belum termasuk biaya tol.

Penggunaan Uber sih cukup mudah ya. Saya install, bikin akun, terus masukkan info kartu kredit. Setelah itu masukkan kode promo, terisi lah voucher Uber saya. Oh iya, kalau mau kode promo, pakai punya saya aja: oktosue, lumayan nanti kalian dapat voucher 75rb.

Untuk pemesanan mobil gampang sih. Cukup jalankan aplikasinya, nanti kita pilih titik dimana kita minta dijemput. Untuk masukkan tempat tujuan opsional. Jadi misal belum tahu mau kemana bisa juga. Kalau sudah memasukkan lokasi tujuan akhir, kita bisa dapat perkiraan total biayanya. Ini penting sih.

Waktu memesan kita juga bisa melihat ada berapa banyak mobil sewaan yang tersedia di sekitar lokasi penjemputan yang kita pilih. Nah, Uber secara otomatis akan “memasangkan” kita dengan mobil yang berada paling dekat dengan kita. Jadi kita gak bisa pilih-pilih. Jika sudah “dipasangkan”, akan keluar informasi siapa pengemudinya, ratingnya, jenis mobil, dan foto pengemudinya.

Oh iya jenis mobilnya ada 2: uberX (Avanza, Xenia, dan sejenisnya), dan uberBLACK (Mercy, Camry, Innova) –ini lebih mahal. Kata pengemudinya sih ada juga SuperBLACK, mobilnya Aston Martin, buka pintu aja udah 1jt biayanya. Mungkin kartu kredit saya limitnya gak masuk kriteria kali ya, jadi gak ada opsi itu.

Setelah dipesan, kadang drivernya menelpon, memastikan lokasi kita dimana. Soalnya gini. Waktu kita milih lokasi penjemputan, walaupun sudah presisi koordinatnya, kadang nama jalan yang keluar membuat ambigu. Saya pernah minta jemput di sebuah gang yang nama jalannya Tanah Kusir, tapi posisinya bukan di daerah Tanah Kusir. Si pengemudi yang “dipasangkan”, gak nelpon saya. Dia yakin aja posisinya di Tanah Kusir, akhirnya malah dia melewati lokasi penjemputan, terus menuju arah Bintaro. Karena memang makam Tanah Kusir di daerah sana. Ya sudah, saya cancel. Pesan ulang lagi deh.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Seorang pengemudinya pernah cerita, dia gak baca nama jalan, tapi posisi penjemputannya diletakkan di hotel Peninsula (Slipi). Ternyata penumpangnya tidak di situ, tapi di hotel lain. Saya enggak tahu sih, pengemudinya dimodali pulsa juga gak ya buat telpon pelanggan setiap kali ada order?

Oh iya, setelah “dipasangkan”, kita bisa memantau posisi mobil di Uber. Hampir realtime. Jadi bisa kita perkirakan bakal nyampe kapan. Kalau estimasi waktu tiba di aplikasinya sih gak usah dipercaya lah. Dia bener-bener berdasarkan jarak kayaknya. Saya pernah lihat estimasi 4 menit, padahal gak mungkin. Karena mobilnya harus muter balik jauh dulu, plus macet luar biasa.

Setelah naik, saya sih berharap gak ada lagi pertanyaan ala-ala pengemudi taksi. “Mau lewat mana, Pak?”. Karena rutenya sudah dibuat oleh Uber, terlihat jelas di peta dalam aplikasinya. Tapi ya mereka masih nanya juga sih. Yaa.., kadang maklum juga. Soalnya kadang rute yang ditampilkan kadangkala tidak mewakili kondisi sebenarnya. Pernah saya minta pengemudinya ikutin aja persis rute yang diberikan Uber. Ternyata sampa di daerah Kemang, jalan tersebut ditutup karena ada acara festival apalah gitu.

Enaknya pake Uber ini, semua pembayaran cash-less. Jadi gak perlu pegang duit. Pembayaran tol pun akan dibayarkan oleh pengemudi. Jadi bener-bener tinggal naik, terus sampai di tujuan tinggal “Makasih bang”, terus pergi deh. Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan via email, lengkap dengan peta rutenya.

Catatan:

  • Yang dicover duluan oleh pengemudi adalah biaya tol, kalau biaya parkir sih tetap dari kita.
  • Setelah “dipasangkan” dengan pengemudi, perhatikan pergerakan posisi mobil. Kalau makin jauh, kemungkinan dia salah paham lokasi penjemputan kita di mana. Jadi bisa kita telpon, atau kita cancel.
  • Kalau kata pengemudinya, jika kita cancel lebih dari 3 menit setelah dipasangkan, kita akan kena biaya sekitar 30rb. Di pengalaman saya sih, sepertinya saya cancel setelah lebih dari 3 menit, tapi tidak ada notifikasi saya kena biaya. Entahlah, males googling.
  • Nah ini penting. Di jam-jam tertentu (dan sepertinya di lokasi tertentu), tariff Uber bisa naik luar biasa. Kemarin malam saya melihat tarif Uber naik 2.5x lipat di daerah JCC Senayan. Setelah 2 menit, turun jadi 2x lipat. Saya tunggu 15 menit, siapa tahu jadi normal. Ternyata malah naik jadi 3.7x lipat. Ya sudah.., tak Uber, Go-Jek pun jadi. 😀

Jangan lupa, kalau mau kode promo pakai: oktosue, anda dapat voucher senilai 75.000 rupiah. 😀