DetikComTulisan Part[1] ku dikutip sama Pak Nukman (CEO Virtual Consulting). Aku sendiri sebenarnya tidak berniat membuat part [2] nya, tetapi setelah baca komentar di blognya Pak Nukman, aku tergelitik untuk membuat tulisan keduanya. *Ceritanya nyambung komentar saya di Blog Pak Nukman nih. Jadi ada baiknya baca komentar itu dulu, baru sambung kesini..

Untuk OkeZone, Kompas, Perempuan.com, dll saya pernah dengar kabar dari temen2 kalo orang2 dibelakangnya juga mantan orang Detik. CMIIW deh.. Tapi tetap gak menang tuh?

Kalau saya bilang, memang butuh “figur” baru yang bisa mengalahkannya. Bukan mee-too dari Detik. Atau sekadar mengisi kelemahan Detik. Lalu bagaimana?

Lupakan Detik, buatlah konsep kita sendiri, yang original, fresh, yang sesuai dengan kebutuhan dan kriteria lain yang harusnya ada bagi media berita online. Terserah apakah Detik sudah/belum menerapkan itu.

Google sebagai search engine, *menang dari Yahoo, bukan karena mee-too nya Yahoo kan?

Detik pun “sepertinya” mencari wartawan bukan dari mereka yang sudah piawai jadi wartawan di dunia online. Tapi mereka yang bener – bener baru, belum teracuni habbit dunia online. *Eh.. iya enggak sih Pak Nuk?

Lalu mengapa portal berita baru juga tidak mencari orang baru?

Susah mencari orang baru? Nih ada saya.. *hua..ha…ha.. =D, baru teracuni Linux aja kok..