SE G502*peringatan : ini postingan curhat*

Kronologi

Jadi gini ceritanya. Saya sama temen naek dari Halte Busway Kebon Jeruk, hendak menuju Pondok Indah Mall (PIM). Sebelum memutuskan naik, dua busway kami biarkan lewat, karena memang itu jam padat banget, sekitar jam 6 sore. Tapi karena niatnya mau nonton di XXI, daripada telat nekat aja naik busway yang sudah penuh sesak itu.

Sewaktu di busway, seperti biasa ada sedikit dorong – mendorong kecil di dalam. Ada yang persiapan mau turun, ada yang mencari posisi lebih nyaman, (dan belakangan saya ketahui, ada yang sedang berusaha mencopet hengpon saya).

Halte berikutnya, Kelapa Dua Sasak, beberapa orang turun. Karena saya berdiri pas nempel di kaca pintu busway, otomatis saya tersenggol beberapa penumpang, hal yang biasa terjadi. Setelah selesai, saya mengambil posisi lagi. Di halte berikutnya, Pos Pengumben, ada beberapa penumpang yang turun lagi, tapi kali ini tidak berdesak – desakan.

Saya mempunyai kebiasaan setiap beberapa saat memeriksa barang – barang yang saya bawa. Ketika menyadari kantong kiri bagian depan celana jins saya kosong, pikiran pertama saya hengpon saya itu jatuh. Meminjam hengpon temen saya, saya telpon HP saya. Masih ada nada sambung.., lama.. dan tidak diangkat. Saat itu busway sudah sampai lagi ke halte Medika Permata Hijau. Ketika saya coba telpon kedua kalinya, sudah tidak ada jawaban. Sah.. HP saya sudah dimatikan.

Kecurigaan pertama sebagai manusia, tentu tertuju orang – orang yang berada di sekitar saya. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian satu persatu penumpang mulai angkat bicara. Mereka curiga dengan satu orang pria yang dari tadi gerak – geriknya mencurigakan. Dengan kondisi busway yang padat penumpang seperti itu, dia bolak balik hilir mudik di dalam, dan *nempel – nempel* dengan penumpang lainnya. Tapi mau bagaimana, mereka tentu tidak mau menuduh orang sembarangan. Apalagi belum melihat langsung aksinya. Terakhir yang mereka lihat dia memang berdiri mepet saya, dan langsung turun di halte Kelapa Dua Sasak (halte pertama setelah halte tempat saya naik).

Sikap Petugas Busway

Begitu melihat gelagat saya yang seperti orang kehilangan barang, petugas di dalam busway cepat tanggap. Dia segera bertanya, dan setelah mendengar bahwa HP saya hilang, dia segera berkoordinasi dengan teman – temannya. Dengan menggunakan HP nya, dia menelpon petugas – petugas lain di halte berikutnya dan halte yang telah kami lewati.

Di perhentian halte berikutnya, setiap penumpang mau turun, ditahan dulu. Si petugas langsung meminta bantuan petugas dari halte tersebut untuk memeriksa satu persatu penumpang yang akan turun.Di halte berikutnya lagi, satu petugas keamanan TransJakarta ditambahkan, dan naik ke dalam busway. Walaupun mereka telah mendengar dugaan pelaku sudah turun di Kelapa Dua Sasak, prosedur tetap mereka lakukan. Selain itu, petugas keamanan tadi juga segera menghubungi teman – teman lainnya lagi untuk persiapan pemeriksaan di halte – halte berikutnya. Sayangnya, petugas di halte Kelapa Dua Sasak tidak bisa dihubungi, sehingga tidak bisa dilakukan pemeriksaan ke penumpang yang dicurigai tadi.

Sampai di daerah Bungur (kalau tidak salah), busway berhenti di tengah jalan. Dan pintu dibuka. Ternyata ada 2 personil keamanan lagi ditambahkan, dan segera mengambil posisi di pintu depan dan pintu belakang. Setelah itu, di setiap halte berikutnya, setiap penumpang turun dilakukan pemeriksaan.

Saya (dan para petugas) itu sepertinya memang sama – sama merasa HP saya itu sudah tidak mungkin lagi ditemukan. Pemeriksaan itu mungkin juga dilakukan karena memang mengacur pada standar operasi yang berlaku.

Asumsi

Saya termasuk cukup *ketat* menjaga ,barang – barang saya ketika naik kendaraan umum. Tetapi ketika saya sudah menaikinya berkali – kali, dan hampir rutin, ‘ke-ketat-an’ itu berkurang. Karena saya juga belum pernah mendengar ada yang kecopetan di sepanjang koridor 8 (jalur Harmoni – LebakBulus). Apalagi di sekitar jam 6 sore, hampir semua penumpang isinya adalah pegawai kantor yang pulang kerja, kalau tidak ya anak – anak muda yang mau ke PIM.Sangat kecil kemungkinan ada copet di dalam busway. Jadi saya mengambil asumsi : AMAN.

Tapi namanya tindak kriminal, kata Bang Napi : Tidak cuma karena niat pelaku, tapi karena ada kesempatan. Dan mungkin saat itu dia memang sudah niat, ditambah saya tanpa sengaja memberi kesempatan. Terjadilah.

*Siap2BacaKolomBuyersGuideTabloidPulsa* 🙁

[link]

Cerita lain soal copet dari lae Sirait.. (LOL) : http://julius.sirait.net/post/21135804/biased