Review Film: 2014 – Siapa di Atas Presiden

Tadinya saya membaca ulasan film dengan judul 2014 ini di majalah Tempo. Ulasan film oleh Leila S. Chudori ini menyiratkan kesannya kurang puas dengan film ini. Tetapi buat saya, dengan adanya film Indonesia ber-genre seperti ini saja saya sudah cukup senang.

Karena judul filmnya “2014”, dan subjudulnya “Siapa di atas Presiden?” otomatis orang akan berpikir ini tentang pilpres yang lalu. Ya benar sih, nuansa itu terasa, tetapi paling hanya di 10 menit pertama. Sisanya tidak ada hubungan sama sekali.

Saya salah seorang penggemar film seri House of Cards. Ini film tentang politik dan kekuasaan. Plot ceritanya sangat bagus dan seringkali sulit ditebak. Tadinya saya mengira film besutan sutradara Rahabi Mandra dan Hanung Bramantyo ini akan seperti itu. Kuat di alur cerita, sedikit aksi laga. Ternyata tidak. Kalau tahu film seri The Blacklist, nuansanya arahnya lebih ke situ, tapi dengan latar belakang cerita pemilu 2014 lalu. Ya, intinya sih temanya seputar konspirasi dan politik, tetapi lengkap dengan bagian drama dan aksi laganya.

Saya mau bahasa yang positifnya saja ya:

  • Penokohan 3 calon presiden dalam film ini cukup membuat saya puas. 3 capres dengan 3 karakter. Ada yang negarawan, idealis, dan merakyat (ya sekilas agak-agak kaya Jokowi ya). Ada yang standar politikus Senayan, pinter ngomong, lihai lobi politik sana-sini, pragmatis. Dan yang terakhir, yang selalu membawa-bawa pesan agama. Khas banget Indonesia.
  • Tadinya saya khawatir permainan penyembunyian tokoh antagonisnya akan jelek, terlalu mudah ditebak. Ternyata tidak, film ini cukup lihai membuat saya tertipu menebak siapa tokoh antagonisnya, bahkan sampai akhir film. Ini oke banget sih, sudah seperti film-film politik di Amerika.
  • Dengan Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai detektif polisi, tadinya saya tidak berharap banyak juga dengan aksi laga yang akan dipertontonkan. Ternyata saya salah. Koreografi perkelahiannya lumayan oke lah. Kalau boleh saya kasih nilai, paling minimal 7 lah dari skala 1-10.
  • Mungkin supaya ada sisi komedi, ada tokoh waria dalam film ini. Bisa jadi karena semua tokoh yang lain perannya serius-serius banget, tokoh waria ini terkesan yang paling luwes aktingnya. Apalagi saat adegan dia diinterogasi di kantor polisi, jujur ini satu-satunya momen saya benar-benar tertawa selama menonton film ini.
  • Akting kedua tokoh remaja (anak sang capres dan putri sang pengacara) di bagian duka saat salah satu tokohnya meninggal juga cukup oke. Suasana haru, campur marah, campur sedihnya cukup baik. Kalau boleh kritik mungkin musiknya kurang menggigit sedikit lagi aja.

Sebelum menonton film ini, saya sama sekali belum melihat trailer ataupun deleted scene yang ada di TV, maupun yang banyak diunggah di YouTube. Takutnya terlalu banyak spoiler, sehingga film ini kehilangan kejutannya. Saya mengalami itu dengan film Demi Ucok.

Film produksi Dapur Film dan Mahaka Pictures ini saya tonton di bioskop XXI tadi malam, pukul 19.15. Satu studio itu penontonnya hanya 4 orang, sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, saya, dan seorang bapak-bapak di bangku paling belakang. Pasangan suami istri itu pun akhirnya meninggalkan studio saat film baru diputar 2/3 nya. Entahlah kenapa begitu.

Saya sendiri merekomendasikan film ini. Apalagi buat penggemar film seri ala-ala House of Cards. Karena selama menonton House of Cards saya selalu berpikir “Ahh.., coba ada sineas Indonesia yang bikin film ala-ala ini ya.” Dan akhirnya jadi kenyataan juga, walaupun tentunya banyak bagian yang masih bisa diperbaiki.

 

Link terkait: Ini Alasan Sebenarnya Menjadi Anggota DPRD

1 Comment

  • At 2016.04.30 16:06, Luthfi Annisa said:

    Izin copas buat ngelengkapin data laporan penelitian tentang film politik di indonesia ya, thankyou!

    (Required)
    (Required, will not be published)

    duku