IPDN (dulu bernama STPDN) seharusnya mencetak calon – calon pemimpin bangsa di masa depan.., pada kenyataannya terjadi hilangnya nyawa salah seorang praja akibat ulah dari sebagian oknum – oknum senior mereka.
Media massa seharusnya menjadi penyampai berita apa adanya tanpa memihak, tanpa beropini, jujur dan seimbang, pada kenyataannya belum pernah mengangkat sisi positif dari IPDN. Apakah memang sudah tidak ada?
Related Post
Kita Juga Menikmati Hasil Korupsi Pajak Loh
Malam itu Bulha dan Haran hanya tinggal berdua di salah satu pojok Hard Rock Cafe. Teman-teman mereka yang lain sudah pulang duluan. “Faktor U” kalau kata orang-orang. Sementara Bulha dan…
Wawancara Kerja: Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis
Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua pintu perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab kenyataannya, para tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam…
Alasan Mengapa Masih Banyak yang Pilih Calo
Oke, memang panjang kali lebarnya gak bakal cukup buat ngomongin per-calo-an. Karena pembicaraannya bisa jadi tak berujung (tak berhingga). Nah, karena tak berhingga ditambah satu tetap tak berhingga, jadi gak…
Linux dan Sebuah Kebohongan
“Jadi mengapa kita harus ragu – ragu untuk pindah ke sistem operasi Linux? Perusahan besar seperti A, B, X, dan Y saja sekarang sudah mulai pakai Linux kok. Kampus –…
Mengurus Perpanjangan SIM Online di Gerai Samsat Mall Gandaria City
Ini bulan Oktober, sudah jelas hari lahir saya di bulan ini. Cuma yang saya kurang jelas, atau lebih tepatnya lupa, bertepatan dengan ulang tahun, masa berlaku SIM saya pun habis.…
Di Indonesia Blokir Situs, Bagaimana Di Amerika?
Kita sama – sama tahu di Indonesia terjadi pro kontra yang begitu besar terhadap keputusan pemerintah untuk memblokir situs – situs tertentu. Baik situs pornografi, berbau kekerasan, maupun yang mengandung…
Misteri AdPop Telkomsel (Berikutnya XL ?)
Saya pengguna kartu Halo dari Telkomsel, dan berlangganan paket TelkomselFlash. Beberapa minggu terakhir setiap saya browsing di ponsel saya, ketika pindah dari satu halaman ke halaman lain seringkali diarahkan dulu…
7 Kali ke Service Center Asus, Akhirnya Berganti ke Xiaomi
Saya sempat pakai Asus Zenfone 2 (yang RAM 4GB, memori 32 GB). Saya cukup puas dengan ponsel ini. Selain harganya tergolong lumayan (saya beli gak sampai 4 juta rupiah), spesifikasinya…
Wanita di Perempatan Lampu Merah
Kemarin sore, sekitar pukul 4 sore, saya berhenti di perempatan lampu merah Gramedia, dari arah Stadion Kridosono menuju Boulevard UGM. Mata saya tersangkut pada sebuah pemandangan aneh. Di salah satu…
Minor Redesign LABANA.id
Belakangan saya lebih banyak menulis di LABANA.id ketimbang di blog ini. Sudah lama memang saya kepingin memisahkan tulisan yang memang personal dengan tulisan yang rada serius. Setahun lalu, proyek eksperimen…
emang ada positifnya? bukankah mereka selama ini “diam” dan “tutup mulut” ?
Sebuah kampus yang telah berdiri belasan tahun, dan dengan pendidikan yang “keras” dan “berilmu tinggi” apakah memang tidak bisa menghasilkan output yang positif _sama_sekali_ ?
Apakah selama ini “diam” dan “tutup mulut” bisa menjadi parameter positif tidaknya suatu institusi?
Bangsa Indonesia ini selama 32 tahun diam dan tutup mulut, apakah selama 32 tahun itu Indonesia tak ada positifnya?
Sekarang di tahun ke 33, justru Indonesia terus membuka mulutnya.., tak bisa direm..
*duh.., jadi berbau politis gini.. , males ah nerusinnya.. 😀