Plugin WordPress Jahanam

Lama saya baru sadar kalau tulisan-tulisan lama di blog ini tidak lagi bisa diakses. Baru sadar setelah iseng-iseng baca tulisan-tulisan lama saya sendiri. Secara naluri otomatis saya menyalahkan plugin-plugin baru yang saya pasang. Termasuk menyalahkan update WordPress terbaru.

Utak-atik sana-sini, lama baru ketemu apa penyebabnya.

Ternyata karena plugin Facebook OpenGraph, Twitter Card, dkk. 😐

Ulasan Novel Negeri Para Bedebah dan The Circle

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye. Saya suka genre nya. Saya bahkan baru tahu ada genre seperti ini di novel Indonesia. Saya bukan pembaca novel aktif sih, jadi harap maklum kalau kurang update. Bayangkan saja, novel ini sudah terbit 3 tahun lalu, dan saya baru tahu beberapa hari lalu. Teman-teman saya sudah tahu lama. Ada yang sudah baca sejak awal terbit. Ada yang malah kenal dengan penulisnya, Darwis (nama asli Tere Liye). Darwis dulu menjadi asisten dosen teman saya ini sewaktu kuliah.

Beberapa bulan sebelumnya saya juga membaca novel, setelah 6 tahun lebih tidak membaca novel. Novel yang saya baca berbahasa Inggris, judulnya The Circle, karya Deve Eggers. Itupun tertarik baca karena diceritakan oleh seorang teman saya.

Berawal dari ngomongin digital communication buat internal company, lalu ngalor ngidul ngomongin startup, internet dan privasi di internet lalu tersebut lah buku ini. Akhirnya teman saya itu meminjamkan novel bersampul pink ini. *Belakangan saya malah baru tahu dari internet kalau teman saya itu ternyata penulis novel juga. :O

The Circle ini berlatar belakang cerita tentang privasi di dunia internet, atau tepatnya di “Internet of Things” (IoT). Novelnya agak mengecewakan bagi saya karena alurnya terlalu lambat di depan. Saya paling malas kalau sudah baca bagian si Mae (tokoh utama) bergalau-galau ria, apalagi saat bergalau plus berkayak di teluk. Entahlah, bagi sebagian pembaca mungkin ini bagian yang disebut “pendalaman tokoh”, bagi saya sih membosankan aja.

The Circle menurut saya benar-benar mengambil Google sebagai latar perusahaan yang jadi cerita utama. Saya mengikuti cerita The Circle ini dengan membayangkan kantor Google yang sering saya lihat di foto-foto, video dan cerita-cerita. Mungkin Googleplex (kantor pusat Google di Mountain View, California) itu bukan visualisasi yang dimaksud Dave Eggers. Tapi saya memilih begitu saja. Jadi saya bisa tidak terlalu serius membaca detail deskripsi setiap bangunan yang diceritakan.

Kalau The Circle berbasis cerita tentang ribut-ribut soal privasi di Internet (yang masih sering mencuat sampai sekarang), Negeri Para Bedebah menurut saya benar-benar mengambil latar kejadian kisruh Bank Century yang heboh di sekitar 2009 itu. Untungnya saya cukup familiar dengan berbagai konsep dan istilah di dunia perbankan, ekonomi, investasi -setidaknya dalam cakupan yang disebut di novel ini. Dengan begitu saya cukup lancar mengikuti alur cerita ini.

Plot cerita Negeri Para Bedebah cukup memuaskan bagi saya, walaupun sejak awal saya sudah bisa menduga siapa tokoh pengkhianat dan musuh besarnya. Tokoh utamanya si Thomas pun to good to be true.

Tetapi tidak demikian dengan plot cerita The Circle. Tokoh utamanya sih realistis. Tetapi terlalu banyak bagian yang membuat jalan ceritanya menjadi banyak lubang. Tetapi saya cukup senang endingnya tidak seperti yang diharapkan sebagian besar orang.

Dalam Negeri Para Bedebah, menurut saya Tere Liye banyak menitipkan opini-opini pribadinya. Atau lebih tepatnya agak menggurui. Berbeda dengan Dave Eggers, yang menurut saya (tentu saja) ikut menyampaikan opini pribadinya, tetapi membuat pembacanya untuk berpikir sendiri. Singkatnya Eggers membuat kita jadi bertanya-tanya, sedangkan Darwis seperti sedang ceramah. Dan dari yang saya baca-baca di GoodReads.com, novel lanjutan Darwis itu -judulnya “Negeri di Ujung Tanduk”- lebih kental lagi dengan “ceramah” Tere Liye. Saya belum baca sih.

Nah, ada yang tahu gak novel Indonesia yang isinya bukan soal cinta-cintaan, dan plot twist-nya “sesadis” Game of Thrones? Boleh dong tinggalin komentar kalau ada ide.

Ulasan 10 Tahun Blog Ini

2 tahun lalu saya bikin janji, sekarang waktunya saya penuhi.

Blog ini dimulai sejak November 2004, jadi usinya sudah 10 tahun lebih. Tetapi Google Analytics-nya baru dipasang sejak 2007. Jadi data yang saya punya hanya statistik kunjungan blog ini 8 tahun terakhir.

Apa saja yang yang bisa dilihat dari data 8 tahun terakhir? Begini.

Mobile

Seperti terlihat di chart di atas, awalnya pengunjung blog ini di dominasi pengunjung yang menggunakan desktop (desktop users -warna biru). Lalu sejak penghujung tahun 2012 perlahan-lahan pengunjung yang menggunakan perangkat ponsel naik (mobile users –warna hijau). Dan menyusul di bawahnya, pengunjung pengguna tablet (tablet users –kuning). Sekarang, mayoritas blog saya ini dikunjungi menggunakan ponsel.

Minggu lalu sewaktu iseng membuka Google Analytics, saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa 60% lebih pengunjung blog saya ini adalah mobile users. Bulan sebelumnya sekitar 53%, bulan sebelumnya lagi juga 50-an persen. Setelah melihat overview secara keseluruhan jadilah chart di atas. Desktop user yang mengunjungi blog ini persentasenya turun drastis. Juni 2014 jadi titik balik perubahan profil pengunjung blog ini. Di Juni 2014, mayoritas pengunjung blog ini berubah, dari desktop users ke mobile users.

Agak mengejutkan buat saya, karena di Juni 2014 saya tidak melakukan perubahan apapun di blog ini. Bahkan, saya gak nulis satu artikel pun di Juni 2014.

Tadinya saya menduga karena jumlah pengguna smartphone di Indonesia sudah lebih besar daripada pengguna feature phone. Nyatanya tidak, dari data di swipe.to/9646k, di Juni 2014, pengguna smartphone di Indonesia masih 23% dari total pengguna ponsel se-Indonesia. 77% sisanya masih menggunakan feature phone. Kalau dilihat dari jenis browser & OS nya (sejak Juni 2014 hingga Juni 2015), pengguna Opera Mini jumlahnya cukup signifikan, sama besarnya dengan jumlah pengguna browser Chrome (Android). Jadi mungkin selain jumlah pengguna smartphone memang meningkat (walaupun belum mayoritas), pengguna smartphone ini juga lebih sering browsing -daripada sekadar menggunakan media sosial. Mungkin ya.

Tulisan Terpopuler

Inilah 10 tulisan saya paling populer di blog ini selama 8 tahun terakhir:

  1. http://labanapost.com/2008/02/website/imediabiztv-nonton-tv-dari-internet/
    Untuk beberapa tahun, sepertinya banyak sekali orang yang mencari cara menonton TV via internet. Dan ternyata blog saya ini muncul di top 5 hasil pencarian di Google untuk beberapa lama.  Tapi beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi sih.
  2. http://labanapost.com/2005/08/general/wawancara-kerjamenjawab-dengan-cerdas-taktis-dan-optimis/
    Setahun terakhir ini jadi tulisan paling populer di blog ini. Padahal ini ditulis tahun 2005, hampir sepuluh tahun yang lalu, copy paste pulak. Saya dapat dari sebuah milis. Gak ingat lagi sumber aslinya. Dari data Google Analytics, banyak yang menemukan tulisan ini dengan kata kunci “contoh wawancara kerja” (dan variasinya) di Google. Walaupun saya coba googling dengan kata kunci itu (dan variasinya), blog saya gak muncul di 20 top resultnya. Hmm..
  3. http://labanapost.com/2007/10/general/mengetes-dominasi-otak-kanan-atau-otak-kiri/ Ini juga image nya dari milis. Saya gak tahu sumber aslinya dimana.
  4. http://labanapost.com/2008/01/general/20-gambar-yang-luar-biasa-dari-google-map/
  5. http://labanapost.com/2008/06/linux/hati-hati-buat-pengguna-indosat-im3/ Mudah-mudahan yang baca tulisan ini di tahun 2015 paham ya kalau tulisan ini dibuat tahun 2008.
  6. http://labanapost.com/2015/03/website/seperti-inilah-sulitnya-membuat-halaman-website/
    Nah ini agak-agak fenomenal buat saya. Setelah menulis ini, saya share link-nya di Twitter dan Facebook saya. Responnya sedikit. Di Twitter yang re-twit gak sampai 4 orang seingat saya. Di Facebook juga comment nya gak sampai 10 kayaknya. Tapi dalam 2 hari, ada 2 ribu orang lebih yang share tulisan saya ini di Facebook mereka. Di Twitter ada beberapa juga yang share ternyata (tapi tanpa mention saya @labanux). Hampir semua saya gak kenal siapa. Selama hampir sebulan tulisan ini sangat populer. Bahkan sampai bulan ini (sudah 3 bulan), tulisan ini masih mendatangkan banyak kunjungan. Mungkin memang banyak sekali yang merasakan apa yang saya tulis itu ya. Masih misteri bagi saya, darimana berawalnya “viral” ini.
  7. http://labanapost.com/2007/11/website/facebookcom-terancam-ditutup/
    Ditulis tahun 2007, tetapi populer di tahun 2010 kalau gak salah. Waktu jaman-jaman ada wacana dari Kominfo untuk menutup akses ke Facebook. Orang menemukan tulisan ini sebagian besar dari Google, dengan kata kunci “facebook tutup” dan variasinya.
  8. http://labanapost.com/2007/11/general/internet-berbayar-im3-vs-internet-gratisan-three/
  9. http://labanapost.com/2008/02/linux/download-video-youtube-tanpa-downloader-di-linux/
  10. http://labanapost.com/2007/11/general/lion-air-atau-wings-air-sih/

Oh iya, di bulan ini (Juni 2015), tulisan paling populer adalah http://labanapost.com/2014/03/general/silverqueen-gede-sih-tapi-rela-bagi-bagi-sama-ulat-bukan-hoax/ Entah kenapa, tiba-tiba banyak yang mencari “ulat silverqueen” di Google. Dan blog ini masuk salah satu top resultnya. Padahal tulisan itu dibuat setahun yang lalu.

Perubahan

Blog ini hampir 7 tahun tidak berubah themenya. Selama 7 tahun itu hanya perubahan-perubahan minor saja yang dilakukan. Tapi akhirnya di 2014 saya memutuskan untuk menggantinya dengan theme WordPress yang responsive, jadi lebih ramah di mobile. Di 2015 saya sempat ganti lagi beberapa kali, hingga akhirnya menggunakan theme yang sekarang ini. Tentunya dengan modifikasi minor di sana – sini.

Tahun 2015 ini saya memutuskan untuk mengganti tempat hosting. Tadinya betahun-tahun hostingnya di DreamHost, disediakan secara cuma-cuma oleh saudara saya, Charly Silaban. Thanks amang Charly..!

Bersamaan dengan ganti hosting, saya juga mengganti domain blog ini dari okto.silaban.net ke LabanaPost.com, dengan “branding” lucu-lucuan, The Labana Post.

Rutin

Tahun 2015 ini saya kembali rutin menulis (setidaknya 4 bulan terakhir). Bahkan saya sempat bereksperimen dengan membuat blog baru, Labana.ID. Ini jadi tahun ke-3 saya menulis paling aktif (54 tulisan sejak Januari 2015). Kalau frekuensi menulis saya tetap seperti 4 bulan terakhir, bisa jadi tahun ini bakal jadi tahun teraktif saya menulis, mengalahkan tahun 2008 (147 tulisan).

Eh iya, jadi inget. Dulu, tahun 2009, sempat ada rame-rame di kalangan para blogger, perdebatan apakah blog itu cuma trend sesaat atau tidak. Sampai sekarang saya gak tahu kesimpulan dari perdebatan itu. Kalau kata Christin sih -mengutip dari @chiw-, “Namanya trend ya mesti sesaat sih. Kalo berkepanjangan namanya habit”. Padahal kita sama-sama tahu, namanya yang berkepanjangan itu, pasti ujung-ujungnya minta kepastian status. Iya kan?

Mudah-mudahan 10 tahun lagi blog ini masih ada.

The Labana Post

Sudah lama sih sebenarnya kepikiran buat mindahin blog ini ke domain lain. Cuma kok rasanya sayang, nama saya, alamat blog dan alamat email sudah konsisten semua selama bertahun-tahun: Okto Silaban, okto.silaban.net, okto@silaban.net. Tuh, keren gak? Haha.

Dan secara teknis juga sayang, karena PageRank nya (yang ajaibnya) lumayan, 3. Dulu malah sempat naik ke-4 jaman blog lagi rame-ramenya. Ya, bukan sesuatu yang penting sih. Untuk keren-kerenan aja ini mah.

Selain itu, rasanya agak gimana gitu ganti alamat blog. Karena blog ini usianya sudah 11 tahun. Dan (kalau tidak salah), sejak 8 atau 9 tahun terakhir konsisten menggunakan alamat okto.silaban.net.

Lalu kenapa alamatnya LabanaPost.com?

Ini gak sengaja sebenarnya. Tadinya saya sedang eksperimen membuat satu blog lagi yang isinya mirip-mirip dengan di blog pribadi saya ini, tapi lebih serius. Saya maunya namanya Labana.com. Tapi berhubung domainnya tidak tersedia, akhirnya memilih Labana.ID. Tetapi setelah blog itu live, malah baru kepikiran kenapa namanya bukan LabanaPost.com saja? Ala-ala nama media-media besar gitu.

Akhirnya domain itu saya beli. Labana.ID sempat dipindah ke domain itu. Tapi cuma sehari. Dipikir-pikir kayaknya biarin aja lah brand nya jadi Labana.ID, akun twitternya juga konsisten @LabanaID.

(Labana.ID ini statusnya memang masih eksperimen. Jadi harap maklum kalau belum ada konten baru lagi di sana).

Karena itulah, jadinya domain LabanaPost.com nya nganggur. Nah karena saya emang mau pindah alamat blog ke domain sendiri, ya sudah dimanfaatkanlah domain ini.

Pergantian alamat blog ini juga statusnya eksperimen. Bisa jadi nanti saya malah balik lagi pakai domain lama: okto.silaban.net. We’ll see..

Blogception

Ini cukup mengganggu. Beberapa kali membuat blog post di email client, untuk di post ketika ada waktu luang. Tapi yang terjadi, setiap membuat tulisan baru, malah kepikiran ide untuk membuat tulisan baru lainnya. Ya kaya tulisan yang anda baca ini. Tadinya saya lagi nulis tentang budget development website, di tengah – tengah akhirnya bikin tulisan baru “Musik Bajakan vs Software Bajakan”, dan akhirnya malah kepikiran buat nulis ini. Dan tulisan tadi itu menggantung di tengah.

Ya, eniwei, selamat tahun baru. Padahal ceritanya cuma pengen posting perdana di 2013 aja gitu.

TechCrunch diakusisi AOL

Anda – anda yang sering memperhatikan dunia bisnis online pasti tak asing dengan TechCrunch. Sebagai sebuah blog, TC ini terkenal dengan independensinya. Berita baik ataupun buruk dari seputar Sillicon Valley, masuk disitu. Termasuk gosip – gosip hangat di antara orang – orang dibelakang nama – nama besar sekelas Google, Facebook, Twitter, MySpace, Yahoo, dll.

Nah, 2 jam lalu TechCrunch mengumumkan bahwa mereka sekarang diakuisisi oleh AOL. Cukup mengagetkan buat saya. Karena setelah ini sepertinya independensinya jadi berkurang (setidaknya menurut saya).

Pendiri blog ini adalah Michael Arrington, terkenal juga sebagai sosok yang kontroversial.

Link terkait :

TechCrunch di mata eks-karyawannya : http://www.readwriteweb.com/archives/what_the_techcrunch_deal_means_to_me.php

Michael Arrington di Inc.com : http://www.inc.com/magazine/20101001/the-way-i-work-michael-arrington-techcrunch.html

Kali Ini, Jangan Mati Dulu

Dulu waktu kecil banget (sekitar umur 3 tahun *kata nyokap), di rumah ada kucing, tepatnya kucing betina. Nah nih kucing akhirnya punya anak, tanpa tau siapa bapak anak – anaknya (one night stand kali ya?). Salah satu dari anak kucing itu akhirnya gue pelihara. Dalam waktu beberapa minggu, tu anak kucing mati. Karena…, gue cemplungin ke sumur.. *yee namanya juga anak umur 3 tahun kan.

Sekitar kelas 2 SD, di sekolah waktu itu lagi musim banget temen – temen melihara ikan hias. Banyak abang – abang yg jual di pinggir pagar sekolah waktu itu. Gue akhirnya dibeliin bokap juga. Gue pelihara tu ikan, gue taruh di toples.. *maklum orang susah, kagak punya akuarium. Dan dalam waktu sebulan tu ikan mati.

Berikutnya waktu gue kelas 4 SD. Gue melihara kura – kura kecil. Gue beli di pasar ikan waktu habis main – main di pasar. Tapi gue ngeboong ke bokap, bilangnya tu kura – kura dikasih sama si penjual. *gue takut dimarahin karena ngeluarin duit buat beli kura – kura. Ya bokap gue jelas tau tabiat anaknya yg suka ngeboong *tapi ngegemesin* ini. Dan iya.., selang 2 bulan kura – kuranya juga mati. Karena gue taruh di kolam bebek di belakang rumah (maksudnya biar refreshing, berenang di kolam alami). Alhasil si kura – kura jadi mainan kawanan bebek tak berhati nurani itu, sampe mati..!

Waktu SMP ganti lagi. Salah seorang guru di SMP ngasih anak anjing kecil. Di rumahnya udah banyak soalnya. Anjingnya lucu. Gue kasih nama Pasven.. Dan sebenarnya punya piaraan anjing itu impian gue banget dari kecil. Cuma ortu gak ngasih. Berhubung ini dikasih guru gue, ortu gak enak kan mo nolak..

Dan ini yang paling sakit. Udah sekitar 6 bulan tuh gue main – main sama Pasven. Tiba – tiba suatu siang dia diem aja di samping rumah. Terus ngeluarin suara kaya kesakitan gitu. Lah gue juga bingung kan dia kenapa. Walopun gue kadang dikatain anjing *ehm*, bukan berarti gue bisa ngomong sama anjing beneran. Jadi ya gue liatain aja tuh anjing ngerang – ngerang. Makin lama makin pelan. Sampe akhirnya dia mati.. Man..! gue sedih banget waktu itu. Kata tetangga gue sih si Pasven diracun. Gak tahu deh siapa yang ngeracun. *jaman itu belum musim bikin TPF man.., apalagi Tim 8 !  Dan sumpah gue gak pernah melihara buaya..

Gitu deh, waktu kecil, semua yang gue rawat, gue pelihara pada gak berumur panjang. Nah waktu awal tahun kuliah akhirnya gue punya *piaraan* baru. Kata orang – orang namanya blog. Dan baru kali ini sesuatu yang gue rawat dan urusin, bisa bertahan selama ini. Gak nyangka udah 5 tahun umurnya, tepat 19 November kemaren. Met ultah ya blog…

Beberapa minggu lalu gue juga sempet kelimpungan gara – gara terjadinya error pada web dan domain silaban.net *IDWebhost tidak memberi kompensasi atas kesalahan mereka itu..:( * Gue pikir blog gue bakal mati di usianya yang masih balita. Untungnya domain silaban.net nya akhirnya selamat dari masa kritis, dan blog gue kembali nongol.

Moga – moga tetep bisa terus ngeblog, walaupun isinya makin hari makin gak jelas. *bangga*

// Hari ini saya menulis menggunakan sebutan orang pertama GUE, karena belakangan itu yang sering terdengar..

Ke Twitter Lagi

Sewaktu lagi heboh – hebohnya Twitter, saya sempat bikin akun. Terus nyobain nge-tweet. Habis itu ditinggalkan.
Setelah itu muncul Plurk. Setelah disentil Mas Yahya, akhirnya saya bikin akun. Dan terjerumuslah saya di dunia plurknista itu. (and it did fun.. (dance)plurk )

Belakangan fitur karma (yang tadinya asyik) kok malah terasa mulai mengganggu. Kalo ndak diupdate seharian karmanya turun. Ya ndak apa – apa sih, ndak masalah sebenarnya. Tapi entah kenapa ada semacam efek psikologis untuk mengembalikan lagi karma tersebut. Akhirnya mulai deh nge-junk demi mempertahakan karma.. 🙁 *ya.. saya lakukan dengan sadar kok.

Plurk bilang : Say something interesting..

Terus gimana kalo seharian ndak ada yang interesting? Berarti hidup kita sucks.. Karena itu kena karma…

*cuma analogi bercanda saja kok.., ndak usah ditanggepin serius ya.. 😀

Kemarin saya denger podcast dari PasarMalem.com (situs ini udah lama launching ya?). Temanya tentang microblogging. Dan mbak.. errr.. *kalo ndak salah* Ica, dari Bandung, ngasih analogi yg saya suka :

“Twitter itu kaya semua orang ngobrol di satu meja.., Plurk itu kaya orang – orang berkelompok ngobrol di meja – meja tertentu.”  (CMIIW).

Bung Thomas juga membuat salah satu pernyataan yang cocok dengan tipikal saya : “Intinya adalah pada teksnya itu kan?”

Ntah kenapa, setelah mendengar podcast itu saya pengen make Twitter lagi.. Hebat nih podcast.. 😀

NB : Tadinya saya sempat berpendapat negatif tentang podcast di PasarMalem ini. Di plurk saya sempat bilang : It sucks..!. Tapi ternyata, kebetulan saja waktu pertama kali buka dapet episode yg ndak sesuai harapan saya. So buat PasarMalem.., lanjuuuutt…! 🙂  (put rock icon here)plurk

Link : PasarMalem : Micro Blogging

Gojek Lokal 2.0 dan Geng 2.0

Sewaktu kita sekolah ataupun kuliah, seringkali kita temui kelompok anak – anak muda. Ada yang terkelompok dengan sengaja, ada yang tidak. Ada yang lebih *menggigit* dengan menamakan dirinya Geng Ini, Geng Anu, Geng Peranu, dan anu – anu lainnya..

Proses seleksi masuk geng – geng / kelompok – kelompok anak – anak muda ini juga samar – samar. Ada yang ngalir aja, kaya misalnya anak – anak yang tiap sore nongkrong di kantinnya Mas Anu, atau anak – anak yang waktu SMP dah pada bawa mobil sendiri. Ada yang karena sama – sama anak band. Ada juga yang terbentuk karena gaya bercanda mereka dan topik pembicaraan mereka yang punya kesamaan. Jadi kelompok ini terbentuk secara otomatis, siapa yang punya kesamaan dalam suatu (atau beberapa) hal secara otomatis masuk dalam geng tersebut. Tapi ada juga yang pake seleksi ketat macam geng – geng motor di Bandung yang sempat mbikin heboh kemarin.

Di setiap kelompok – kelompok anak muda ini, karena saking seringnya bareng, lama kelamaan gaya bercandanya pun terbentuk dengan sendirinya. Tak jarang istilah – istilah baru pun muncul. Semakin lama istilah ini tentu semakin banyak. Tapi gak masalah, toh pada kenyataannya jarang sekali ada penambahan anggota baru. Jadi yang masuk dalam kelompok ini asyik – asyik saja dengan gaya bercanda mereka, dan *gojek lokal* mereka. (*gojek lokal : becandaan yang cuma dimengerti anggota kelompok tersebut).

2.0

Karena teknologi berkembang, model kelompok ini juga berkembang. Sekarang naik ke dunia online. Kelompok – kelompok yang terbentuk juga macem – macem bentuknya, ada yang berupa forum, ada yang milis, ada yang group di Facebook, dll (geng 2.0). Alasan terbentuknya pun macem – macem. Tapi proses masuknya anggota baru ke kelompok / geng ini lah letak perbedaan mendasarnya.

Di contoh kelompok ataupun geng di atas tadi, biasanya orang – orang di luar kelompok tersebut segan untuk masuk ke geng / kelompok tersebut. Pertama, karena memang dirasa “Oh.. itu kan emang geng mereka..”. Selama gak ada anggota geng yang membawa masuk, hampir mustahil ada yang tiba – tiba datang dan bilang “Nama saya Alien, saya boleh gabung kelompok kalian enggak?”. Kebanyakan akhirnya ada yang ikut bergabung karena dia udah sering berkumpul, nongkrong, hang out atau ngangkring bareng mereka.

Dengan dunia online banyak hal jauh lebih mudah. Kita sangat mudah untuk “berteman”, tinggal klik “Add as friend” maka kita sudah “berteman” dengan seseorang, ntah memang kenal atau tidak. (definisi kenal disinipun samar – samar, antara memang kenal atau pernah tahu). Begitu juga dengan geng / kelompok tadi. Tinggal klik “join this group”, atau “subscribe” ke milisnya, berarti kita sudah menjadi “anggota” geng / kelompok tersebut.

Kenyataanya, kelompok yang sudah berjalan lama tersebut juga memiliki fenomena yang tidak jauh berbeda dengan dunia offline. Mereka punya istilah – istilah sendiri, gaya bicara sendiri, dan mereka punya gojek lokal sendiri (gojek 2.0). Contoh : cuma anak – anak Mbah Gendong yang tahu istilah *PUR…! Panganan pitik…! – dengan gaya megang bola bowling..* (cuma contoh lho ya..). Read more Gojek Lokal 2.0 dan Geng 2.0

Happy Anniversary !

Fiuhh.. hampir saja lupa. Udah 4 tahun ya.. Jadi inget pertama kenalan dulu. Waktu itu malem – malem, sekitar jam 11, di ruangan KMTF, hanya kita berdua. Hanya dari pandangan pertama, sejak saat itu aku tidak bisa berpaling darimu.

Sekarang kamu sudah banyak berubah. Kebiasaanmu juga berubah. Dulu seneng ngomongin topik itu, sekarang sukanya ngomongin ini. Gayamu aja udah berubah banyak. Dulu kalo ngomong sempat berusaha sok imut gitu. Padahal jadinya njijiki.. Tapi pernah juga jadi sangat jujur dan terbuka, seperti saat itu. (sesuatu yang jarang kamu lakukan sekarang).

Inget gak, kita juga sempat putus beberapa kali, Januari 2005, Juni – Juli 2006, November – Desember 2006, dan terakhir Februari 2007. Habis itu kita belum pernah putus lagi.. Dan walaupun kita sempat ngobrol seru tentang kawin cerai, tak pernah sekalipun aku terpikir untuk melakukannya kepadamu. *memegang kedua tangan OSN, menatapnya dengan sungguh – sungguh.

Mari kita jalani hari – hari ke depan bersama.. (*kecup kening OSN). Sekali lagi, happy anniversary !

OSN itu bukan Okto Sex Network lho ya..