MatahariMall.com – Bocoran Tampilan (Lagi), Engine dan Kisah Masa Lalunya

[MatahariMall.com – 22 Juni 2015, 23:50]
Beberapa waktu lalu sempat diberitakan tentang “bocoran” tampilan MatahariMall.com di Techinasia dan DailySocial. Sempat “live” sebentar, tapi link-link nya masih gak jalan. Lalu sebentar kemudian kembali ke halaman “coming soon”-nya.

Nah malam ini barusan saya iseng buka situsnya, dan keluarlah tampilan di atas. Saya sempat mengira MatahariMall.com sudah live. Tetapi ketika saya buka masing-masing link di atas, kembali ke halaman “coming soon” lagi. Ternyata beda di protokolnya. Kalau menggunakan HTTPS muncul halaman di atas, kalau hanya HTTP muncul page default nya.

Kalau diperhatikan dari screenshot di atas harusnya sih MatahariMall.com ini tampilan live saat ini ya. Karena jelas ada pesan “Selamat Berpuasa”, lalu banner gede iklan “Ramadhan Fashion Week”.

[MatahariMall.com – 22 Juni 2015, 23:50]
Kalau scroll ke bawah juga bisa dilihat ada promo Hot Deals Zenfone 2. Dan para penggemar gadget pasti paham kalau Zenfone 2 ini lagi hot-hotnya. Di toko-toko gadget populer setahu saya belum tersedia. Baru tersedia di gerai-gerai online saja. Jadi harusnya ini website yang sudah live dong ya. Hmm..

Engine MatahariMall.com

Nah, tentang engine di belakang MatahariMall.com ini sempat muncul beberapa spekulasi. Jauh-jauh hari saya dengar kabar kalau engine-nya pakai Magento, salah satu CMS E-Commerce yang populer, dan tersedia versi open-source nya. Engine ini berbasis Zend Framework (PHP). Tapi sewaktu Techinasia memberitakan tampilan MatahariMall.com yang “bocor” itu, ada yang melaporkan bahwa dia sempat melihat source code HTML nya. Dari source code nya itu terlihat bahwa engine yang dipakai adalah WordPress. Nah loh..

Ya, tidak masalah sebenarnya kalau WordPress dijadikan engine E-Commerce, banyak kok yang pakai, dan lancar-lancar aja. Tapi kalau untuk sekelas MatahariMall.com (yang di-backing-i oleh Lippo, bahkan dipegang langsung oleh trah Riyadi, ditambah dukungan dana setidaknya USD 500 juta), kayaknya gimana gitu ya kalau pakai WordPress. 😀

Nah, yang saya lihat di source code HTML-nya malam ini ternyata beda lagi. Dari pattern path nya sih sangat mirip Drupal. Sampai saya lihat ada satu line yang jelas-jelas menunjukkan mereka menggunakan CMS Drupal.

Tapi, kalau memantau dari lowongan MatahariMall.com yang beredar sih, mereka sedang mencari Senior PHP Developer dengan kualifikasi paham Magento, Zend, atau Symfony framework. Nah.. Jadi apa sebenarnya mereka memang maunya pake Magento, tapi resource SDM nya masih kurang? Atau gimana sih sebenernya?

Magento di Plasa.com

Tentang Magento ini saya perlu kasih catatan. Seingat saya, dulu, Plasa.com (waktu jadi e-commerce), sempat dibangun dengan engine custom. Frameworknya pun kalau tidak salah bikin sendiri *colek Toni ahh..*. Lalu, gegerlah berita Plasa.com mau revamp, dipimpin Shinta “BUBU” bersama Andi S. Boediman. Gelontorin dana sekian juta dollar. Dan ujung-ujungnya, engine yang sudah spesifik untuk Plasa.com itu (gosipnya) diganti dengan Magento. Daaaan.. tak lama kemudian kita sama-sama tahu Plasa.com gagal kembali.

Dulu Plasa gagal jadi email service, gagal jadi portal ala Yahoo, gagal jadi e-commerce jilid 1, gagal lagi jadi e-commerce jilid 2. Kemudian akhirnya aset milik Telkom Indonesia ini sepertinya pecah jadi 2 entiti. Plasa join dengan MSN menjadi semacam portal berita bernama PlasaMSN -belakangan berubah jadi UMSN, yang ini sepertinya lancar jaya. E-commerce nya join dengan eBay menjadi Blanja.com. Kurang heboh sih Blanja.com nya, tapi saya gak tahu detailnya gimana.

**hoiii temen-temen gue yang di UMSN dan Blanja.com, comment dong kalau baca ini. Haha.

Akankah LIPPO Mengulangi Sejarah Kelamnya?

Dulu Lippo pernah bikin LippoMall.com, ceritanya mau jadi Amazon.com kali yee. Kan se-jaman tuh. Di jaman itu jugalah gembar-gembor Astaga.com (yang walaupun pindah tangan beberapa kali, ternyata masih idup loh.., walaupun gak seheboh dulu). Nah saya kurang tahu persis kenapa, yang jelas akhirnya LippoMall.com waktu itu gagal total. Proyek bakar duit kalau kata orang. Dia bubar bersama dotcom bubble yang melanda US di sekitar tahun 2000-an.

Kali ini Lippo mengusung MatahariMall.com. Kalau kata John Riady sih, bedanya dia dengan pemain kakap lainnya yang sudah besar (Lazada.co.id, Blibli.com, Elevenia.co.id, dll), mereka punya beberapa keunggulan. Di antaranya:

  • Mereka lebih mengerti pasar Indonesia (karena sudah menjalan Matahari Dept. Store sejak kapan tahun kali ye)
  • Mereka punya katalog lebih lengkap (ya iyalah, selain Matahari Dept. Store, Lippo juga punya Hypermart)
  • Mereka mengusung konsep O2O (Online to Offline).

Nah poin 1 dan 2 sih bisa diperdebatkan lah ya. Lazada tanpa punya 1 dan 2 itu bisa gede kok. Nah soal nomor 3 ini yang saya malah jadi ragu.

Iya memang konsepnya menarik. Dengan O2O ini, kita bisa pesen barang online, terus ambil barangnya di Matahari terdekat. Saya kurang paham, apakah ini artinya barang yang bisa kita beli online tersebut hanyalah barang yang tersedia di gerai Matahari yang kita pilih? Atau kita bisa bebas beli barang apa saja, nanti pokoknya barang itu bakal bisa diambil di gerai Matahari yang kita tuju?

Kalau yang kedua yang benar, ini bukannya jadi problem logistik ya. Mereka akan kerepotan mengatur sistem logistik mereka. Ya.., bisa jadi ini sudah tertangani, toh dengan dana segede itu, plus “kabarnya” punya tim superstar di belakangnya, bukan tidak mungkin mereka mengeksekusinya dengan rapih.

Tapi tetep aja sih. Ini proyek ambisius. Sepertinya dari gembar-gembornya sampai target launching cuma sekitar 1 tahun ya? Atau saya kurang update? *padahal males googling..

Tim oke, dana oke, marketing oke, teknologi.. errr.. masih abu-abu, dan berujung pada eksekusi yang menurut saya juga masih abu-abu. Ya aku mah apalah, cuma denger gosip kanan kiri doang.

Oh iya, John Riady bilang kalau konsep O2O nya dia itu jadi andalan karena ini sudah terbukti sukses dijalankan oleh Walmart di US. Tapi dari hasil googling saya, Walmart sepertinya gak menjalankan O2O sih di US. Walmart memang menjalankan strategi O2O, tapi di China, bukan di US.

Mari kita lihat apakah LIPPO nantinya akan mengulangi sejarah kelamnya atau kali ini bakal sukses.

**Harusnya sih MatahariMall.com jadi launching tahun 2015 ini, tapi kalau ternyata MatahariMall.com gagal launching sampai akhir tahun 2015, anda saya kasih hadiah deh, voucher belanja di MatahariMall.com sebesar 50 ribu rupiah. Lumayan kan? Masa berlaku vouchernya masih panjang kok, sampai Desember 2015.

Review eZ Publish CMS

Sudah 2 bulan ini saya berkutat dengan CMS eZ Publish ini. CMS ini free, sama seperti Drupal, WordPress ataupun Joomla. Bedanya karena tidak berbasis pengembangan oleh komunitas, dokumentasi terkait relatif sulit didapatkan.

Beberapa perbedaan eZ Publish dengan CMS opensource lainnya :

  1. Dikembangkan oleh perusahaan (eZ Systems AS, berbasis di Norwegia)
  2. Extension (modul/plugin) yang masuk ke situs resmi eZ direview dulu dengan ketat oleh eZ Systems. Jadi tidak semua extension kiriman dari komunitas otomatis di approve dan masuk situs resmi mereka.
  3. Fitur yang disediakan secara default sangat banyak (Custom Field *sejenis CCK kalau di Drupal*, Polling, Newsletter, Multiple Site, Single sign on, dll).
  4. Secara default memang bisa digunakan sebagai satu CMS untuk beberapa situs. Tapi arti satu CMS disini tidak cuma scriptnya. Jadi bukan cuma satu script untuk beberapa situs sekaligus, melainkan satu CMS itu secara sistem bisa mencakup beberapa situs sekaligus.
  5. Secara default support multiple database (*mmm.. database cluster kali ya istilahnya).
  6. Secara default Cache nya aktif.. *ehm.. super duper aktif malah gan..!
  7. Banyak konfigurasi yang disimpan tidak di database, melainkan di file INI.
  8. Templating menggunakan *bahasa* sendiri, yang mirip – mirip Smarty.
  9. Secara default ada fitur *social network* (saya belum telusuri lebih jauh, tapi setahu saya sangat basic)
  10. Advance user access limitation
  11. Secara default menyediakan fitur Drafting dan Versioning content
  12. Fitur RSS Import tersedia secara default
  13. Semua konten adalah node.. (bahkan user dan kategori *dalam eZ istilahnya Folder* pun adalah node)
  14. Fitur auto resize image sesuai konfigurasinya sangat membantu (Berbahagialah jika anda menggunakan Linux, ImageMagick adalah kuncinya disini)
  15. Menyatakan diri sebagai CMS yang enterprise.. *bagi saya Drupal dan WordPress sih enterprise juga…, apalagi sangat banyak situs besar yang menggunakan kedua CMS ini (eZ Publish justru sangat jauh jika dibanding kedua CMS itu)

Yang saya rasa kurang pas :

Demi kemudahan manajemen sistem, fitur custom field secara default tersedia. Tapi tidak seperti Drupal yang CCK nya menggenerate table baru, eZ Publish memasukkannya dalam field – field di table MySQL. Akibatnya, setiap query content melakukan query SQL yang cukup berat, karena JOIN query berlapis – lapis yang dihasilkan. Read more Review eZ Publish CMS

Astaga.com Reborn..!

astagaSaya ndak pernah tahu lagi kabar Astaga.com (salah satu portal yang dulu sempat besar di Indonesia) sampai salah seorang awaknya (Aan Afdi) memberi komentar di blog ini. Dan Astaga.com (yang sekarang dipegang PT. IMT) ternyata sudah di-redevelop dan diluncurkan kembali pada tanggal 5 Oktober lalu. Tentu saja ada beberapa fitur yang *berbau web 2.0*, seperti ‘7circles’ (digg-like) dan ‘yournews’. Review lengkapnya bisa dibaca di blog Aan Afdi ini.

Astaga.com baru ini menggunakan CMS Drupal, dan dikerjakan dalam waktu 1 bulan 15 hari.. (wow..!), dengan menggunakan clustering server. Menurut komentar bung Aan Afdi, Astaga.com ini dikembangkan oleh satu orang programer, satu orang orang webmaster, satu orang desainer dan satu orang sysadmin.

Menanggapi pertanyaannya di bagian komentar :
Saya mo komen ahh… kalo bang okto bilang lupakan detikcom bikin yang beda, maka akan muncul pertanyaan baru tuh bang ” apa sih yang belum ada di jagad maya ini?”

Maksud saya di tulisan itu sebenarnya adalah, kalau mau bikin portal berita baru jangan “copy-paste” detikcom. Ya bikin yang beda (tampilan, model penulisan, cara pemaparan, cara berinteraksi, marketing, dst.. dst..). (itu cuma pemikiran, saya sendiri juga blm bisa mempraktekkan kok.. he..he..)

Kalau soal apa yang beluma ada di jagad maya, pertanyaan yang sama selalu ada setiap saat. 10 tahun yang lalu, kalau saya ditanya, saya tidak tahu. Tapi hari ini kita tahu.. Ternyata yang belum ada waktu itu : Twitter, Facebook, LinkedIn, StumbleUpon, Flickr, Politikana, dst.. dst..

Terus, kalau sekarang yg belum ada apa? Banyak.. terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Kalau boleh saya ganti pertanyaannya harusnya menjadi “Yang dibutuhkan di dunia maya sekarang apa?” Nah kalau ini saya sendiri tidak berani menjawab. Kalau saya dapat jawabannya, kemungkinan besar sudah saya buat duluan.. hee.. 😛

Kalau pertanyannya ganti jadi “Yang dibutuhkan di dunia maya sekarang apa” kan berarti ndak harus sesuatu yang baru. Selama memang itu dibutuhkan, ya kemungkinan besar pasti sukses. Dan kalau Astaga.com bisa memberi jawaban atas pertanyaan itu, niscaya portal ini bisa sukses.. (*serasa motivator..*)

[catatan]

Tulisan ini cukup memberi pencerahan tentang apa yang bisa dibuat di dunia maya. (via Rama Mamuaya)

Menggunakan CMS atau Framework?

Saya termasuk orang yang mengembangkan website tanpa pernah membuatnya dari nol. Maksudnya, saya tidak membuat komponen dari website itu secara manual satu demi satu. Mulai dari arsitektur website, komponen modul, file uploader, user access, image manager, dll. Biasanya semua dilakukan dengan menggunakan CMS yang OpenSource, seperti WordPress dan Drupal (jaman dulu juga termasuk PHPNuke). Biasanya memang saya melakukan modifikasi disana – sini agar website ini bisa bekerja sesuai keinginan. Umumnya akhirnya website tersebut akhirnya bisa berjalan sesuai harapan.

Tetapi kemudian datang masalah seperti berikut ini :

  1. Website tersebut membutuhkan galery foto dengan fasilitas slideshow.
  2. Website tersebut membutuhkan katalog produk.
  3. Website tersebut ingin mengimplementasikan fasilitas social network.
  4. Website itu ingin menyediakan fasilitas bagi membernya untuk bisa mengupload file MP3. Dan tiap member nantinya bisa mengatur level akses terhadap file MP3 yang dia upload.
  5. Website tersebut ingin mempunyai form yang terintegrasi untuk arsip wawancara.
  6. dll

Jika saya menggunakan CMS seperti Drupal. Mungkin hal ini masih bisa ditangani dengan ketersediaan modulnya yang sangat banyak. Atau jika memang modulnya belum tersedia, kita bisa membuat sendiri. Selain itu jika kurang puas, kita masih bisa melakukan oprek lebih dalam dengan menggunakan API yang disediakan Drupal. Dengan tujuan agar website ini sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Tetapi, hal ini bisa jadi merupakan masalah baru. Tentunya kadangkala hal ini bisa menjadi solusi untuk satu masalah tetapi bukan tidak jarang malah menimbulkan masalah baru. Beberapa skenario yang sering terjadi : Read more Menggunakan CMS atau Framework?

Drupal 6.0 Telah Tersedia

Drupal CMSSetelah lama menanti, akhirnya Drupal 6.0 keluar juga. Silahkan download di Drupal.org. Keterangan lengkap tentang fitur baru apa saja yang tersedia, silahkan lihat di berita resminya disini.

*Drupal adalah salah satu Content Management System (CMS) yang OpenSource. Berbasis PHP, dan support database MySQL maupun PostgreeSQL. Contoh website di Indonesia yang menggunakan CMS ini adalah : Ubuntu-ID.org (Komunitas Ubuntu Linux Indonesia), AugustinoRosary.com, WartaEGov.com, SantaMaria.or.id, SuaraTransJakarta.org, dll.

Website Komunitas Drupal Indonesia : Drupal-ID.com

OkeZone.com – Redesign

OkeZone.comMelanjutkan postingan sebelumnya (tentang redesign situs Kompas.com). Ternyata OkeZone.com juga sudah meredesign situsnya (argh… saya baru tahu). Padahal di tulisan saya sebelumnya tersebut saya sempat menuliskan bahwa OkeZone.com masuk dalam desain yang belum sekelas media berita online luar negri.

Sama seperti Kompas.com, OkeZone.com pun memiliki tipikal desain yang tak jauh beda dengan situs – situs luar yang saya jadikan perbandingan di tulisan sebelum ini. Sepertinya memang desain seperti ini menjadi standar desain media berita online. Dan sampai kapankah Detikcom bertahan dengan desainnya yang sekarang ini? Ia memang memberikan website dengan desain yang lebih bersih dan rapi, tetapi untuk mengaksesnya anda harus berlangganan. Bukan masalah biaya yang saya tekankan, tetapi kalau media berita online lainnya memberikannya secara gratis, mengapa harus bayar?

Satu hal lagi yang saya suka dari OkeZone adalah setting kanal (channel) nya. Memang dari awal saya tahu untuk setiap kanal ada subdomainnya. Misal, kanal Techno (techno.okezone.com), kanal Economy (economy.okezone.com), dst. Tetapi dulu subdomain tersebut hanya merupakan redirect ke dalam OkeZone.com sendiri. Jadi halaman yang anda tuju tidak benar – benar berada pada subdomain tersebut.

Lain halnya dengan sekarang. Tiap subdomain dari kanal – kanal OkeZone, memang berada pada subdomain tersebut (dari sisi user). Memang di sisi server sendiri belum tentu isi dari tiap kanal (subdomain) berada pada masing – masing web folder dari subdomain. Hal ini umum dan cukup mudah dilakukan dengan CMS Drupal. Tetapi berhubung OkeZone.com (dulu) menggunakan Joomla , saya sendiri tidak tahu bagaimana teknik yang mereka gunakan. (update : Sepertinya OkeZone.com tidak menggunakan Joomla lagi sekarang, tetapi membangun sendiri, dengan basis Framework CodeIgniter).

Tidak sampai disitu saja, sekarang OkeZone sudah Search Engine Friendly (SEF). Jadi sepertinya bakal lebih mudah di index oleh search engine. Suatu hal yang (ternyata) belum diterapkan oleh Kompas.com. Kita lihat saja nanti, sepertinya Kompas.com juga tidak mau ketinggalan. Apalagi statusnya sekarang masih Beta.

Kompas.com dan OkeZone.com semakin memperbaiki diri untuk bersaing di dunia media berita online. Tetapi bagaimana dengan “raja”-nya media berita online Indonesia saat ini? Saya yakin mereka juga berbenah, tetapi bukan di sisi yang bisa dilihat langsung oleh user. Kita lihat saya bagaimana persaingan ini akan berlangsung.

Note : Artikel ini sudah 3 kali diupdate, menyesuaikan dengan beberapa informasi yang dicross-check.

Canonical Inspirasi Model Perusahaan OpenSource bagi Drupal (dan Kita?)

Drupal CMSDries Buytaert, pencipta dari Drupal CMS (Content Management System) baru saja mendirikan perusahaan startup, Acquia. Bidang perusahaan ini tentunya masih di seputar Drupal. Lebih lengkapnya bisa dilihat di FAQ nya.

Drupal sendiri berlisensi GPL, sama seperti Linux. Dan Drupal juga mempunya varian (distro), salah satunya (dan satu – satunya yang saya tahu) CivicSpace. Jika di Linux distro satu dengan yang lainnya yang membedakannya adalah paketan software – software yang dibawanya (termasuk manajemen paketnya), di Drupal pun seperti itu. Perbedaan CivicSpace dan Drupal adalah paketan modul – modul yang menyertainya.

Saya sendiri dulu juga sempat bertanya – tanya, banyak perusahaan pengembang web & Drupal Support yang berkembang dan telah terbukti menghasilkan bisnis yang bagus. Di antaranya adalah Lullabot, yang mengembangkan web MTV Inggris dengan CMS Durpal. Tetapi mengapa si penciptanya sendiri tidak membuat perusahaan serupa, dan tetap asyik saja menjalani kuliah PhD nya. Dan pertanyaan saya terjawab sudah. Bukannya tidak, tetapi belum (walaupun tidak serupa).

Canonical (Ubuntu Linux)

UbuntuCanonical Ltd. sendiri sebuah perusahaan di bidang opensource yang cukup unik. Berbeda dengan pendahulunya yang telah sukses RedHat dan Novell, perusahaan yang digawangi oleh Mark Shuttleworth ini tidak membuat edisi enterprise dan edisi umum (public). Tetapi Read more Canonical Inspirasi Model Perusahaan OpenSource bagi Drupal (dan Kita?)