Saya batasi dulu, yang saya maksud bisnis online (website) dalam tulisan ini : Bisnis yang pemasukan utamanya adalah dari online (misal : dari iklan di webnya, membership berbayar, dsb). Jadi yang bisnisnya utamanya adalah jualan produk dan online-nya “cuma” jadi tempat promosi saja dan transaksi tetap offline bukanlah yang saya maksud. Untuk yang berjualan di online (e-commerce, tiket, jasa reservasi, dll) juga bukan yang saya maksud. Kalau contoh riilnya, bisnis online yang saya maksud : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, Koprol.com, Flickr.com, YouTube.com, Twitter.com, Facebook.com, Pinboard.in.

Nasihat

Oke, lanjut.. Nah jadi, sejak sekitar 5 tahun lalu, saya sering mengamati dunia bisnis online baik lokal maupun luar (tulisan2 jaman itu masih ada di blog ini). Beberapa “sabda” yang dari jaman itu hingga sekarang selalu saya dengar adalah : “Jangan ragu – ragu masuk ke bisnis online di Indonesia… Marketnya sangat besar.., potensi bisnisnya juga sangat besar.. bla..bla..”. (1)

Kemudian biasanya diikuti dengan nasihat : “Inget, bisnis online itu tidak melulu sumber pendapatannya dari iklan, masih banyak model bisnis lainnya, misal : layanan berbayar (seperti 37signals.com), konten premium (seperti DetikPortal.com), and the bla.. and the bla..” (2)

Anehnya, paradoks dengan nasihat di atas, pihak – pihak yang sama (luar negri maupun lokal) juga mempopulerkan ini : “Budget beriklan di online itu sekarang naiknya pesat sekali.., sudah naik jadi _sekian_ persen.” Atau yang seperti ini : “Ada sekian Milliar rupiah budget iklan dari perusahaan – perusahaan di Indonesia dan tiap tahun makin besar nilainya. Hampir semuanya masuknya kesitu – situ juga (portal berita), jadi peluang nya masih besar..” (3)

Skeptis

Teman – teman saya mungkin menganggap saya selalu pesimis soal dunia bisnis online Indonesia. Tapi, saya sendiri sebenarnya merasa saya mengambil sikap skeptis, tapi tetap optimis. Nah berhubungan dengan 3 poin di atas, ini yang mau saya bahas :

(1) Iya.. benar.. marketnya besar.. ada 30-40jt-an pengguna internet di Indonesia (di tahun 2006 dulu diperkirakan baru ada 18jt). Untuk poin ini saya setuju.

(2) Nah untuk poin ini saya masih skeptis. Saya jaman dulu sempat memegang teguh nasihat (2), sehingga sebegitu bencinya saya dengan banner-ads. Seperti di film The Social Network itu, mereka juga anti banget dengan banner ads toh.. (waktu nasihat itu saya dengar, Friendster masih jadi raja soc. network). Tapi nyatanya memang sumber pemasukan paling real itu ya iklan (ads), entah apapun itu bentuknya : tulisan berbayar, banner image, teks, contextual text, link dsb.  (Facebook pun sekarang memasang ads toh… Twitter juga menampilkan ads (dalam bentuk promoted hashtag)).

Iya saya tahu.. kalau efektifitas banner ads itu (katanya) cuma sekitar 2,8%, tapi itu bukankah kalau usernya nggak targeted?  Kalau ngiklan obat diabetes di situs komunitas penderita diabetes lebih efektif dong harusnya ya.. Toh.. situs e-commerce juga (katanya) tingkat konversinya juga paling pol cuma 2%.. bahkan untuk yang sekelas Bhinneka.com yang sudah dipercaya.

Pertimbangan lainnya, situs yang secara trafik memang luar biasa : Detik.com, Kaskus.us, KapanLagi.com, LintasBerita.com dll, sumber pemasukannya dari iklan juga bukan? Kompas.com (yang dibackup group sebesar Kompas Gramedia) pun 70% pemasukannya disumbang oleh halaman depannya (saya lupa baca soal ini dimana), yang berarti 70% nya itu sudah pasti ads (atau saya yang salah tangkap?).

(3) Benar memang sabda no (3) ini, budget iklan di online itu naik terus.. apalagi di target market SES A dan B yang notabene lebih banyak menghabiskan waktu di online daripada media cetak, TV ataupun radio. Nah.. tapi.. ini jadinya kebalik dong dengan nasihat (2) ..??  Katanya jangan befokus pada penghasilan dari iklan, tapi bikin webnya karena tahu budget iklan di online sangat besar.. Nah looo..

Jadi kalau alasan saya, anda atau mereka masuk ke bisnis online adalah karena sabda no (3) ini.., ya sudahlah.. jelas argumen no (2) tadi lewat.. Jelas bahwa model bisnisnya memang harus di seputar iklan.

Model bisnis lain ?

Jadi apakah memang enggak ada model bisnis lain selain dari iklan (untuk di Indonesia)? Nah itulah pertanyaan dengan jawaban termahal. Percaya tidak percaya.., mereka yang berada di belakang tim business-development website – website gede itu pun masih belum punya jawaban pasti, walaupun pengalaman mereka sudah bertahun – tahun berkecimpung di jagad online ini.

Saat ini alternatifnya ya kombinasi bisnis online (ads) dan offline (kegiatan seminar, berjualan offline, kegiatan komunitas, kopdar, dsb yang bisa mendatangkan pemasukan dari sponsor). Untuk sementara ini memang seperti ini yang masuk akal. Salah satu yang sudah menerapkan kombinasi offline dan online ini (yang saya tahu) : OtomotifNet Group (Kompas Gramedia). Ada beberapa yang lainnya, tapi saya tidak tahu dengan pasti.

Tidak mungkinkah mendapatkan pemasukan dari user langsung?

Mungkin saja. Setahu saya DetikPortal.com itu harus subscribe untuk bisa akses kontennya. Tapi seberapa besar pemasukannya, atau seberapa besar jumlah orang yang berlangganan saya tidak tahu. Perkiraan saya sih masih sulit diterapkan di Indonesia. Kultur kita belum terbiasa untuk mau membayar layanan dari sebuah website. Berbeda dengan di luar negri.

Investor

Ah iya.. ada satu hal lagi yang agak lucu.. Ada beberapa orang yang terjun ke bisnis online (website) bukan karena melihat potensi market, kue iklan yang masih gede, dsb… Tapi karena sekarang banyak investor yang mau mendanai web-startup dengan angka investasi yang lumayan.. 😀

Jadi.., kenapa anda terjun ke bisnis online (website)? Karena budget iklan online yang besar? karena anda percaya user mau membayar untuk layanan anda? karena sekarang banyak investor? atau karena iseng aja? 😀