
Saya sudah tahu sebelumnya kalau novel ini populer, terutama di genre CTM (Crime, Thriller, Mistery) –saya baru tahu istilah ini di Threads. Beberapa kali menemani anak saya mencari buku di Gramedia saya menemukan contoh buku ini terbuka dipajang di rak. Jadi sambil menunggu anak saya bereksplorasi, saya iseng saja membacanya.
Tidak disangka, beberapa kali berkunjung ke toko buku Gramedia yang berbeda saya terus menemukan contoh novel yang terbuka, jadi saya bisa melanjutkan membaca. Sudah seperti perpustakaan rasanya. Haha. Sampai akhirnya saya sadar sudah membaca sekitar 15% halaman. Akhirnya saya memutuskan membelinya saja, tapi di toko Gramedia yang ada di lokapasar (marketplace) –yang anehnya harganya jauh lebih murah daripada di toko fisiknya.
Kembali ke ulasan novelnya. Sewaktu membacanya di toko buku Gramedia, saya terhanyut dengan misteri yang ditampilkan. Halaman demi halaman membuat semakin penasaran. Istilahnya kalau tidak salah “page turner“. Membuat kita ingin terus berlanjut ke halaman-halaman berikutnya. Walaupun menurut saya, cerita soal penyusunan gambar-gambar misterius di novel itu hanya terjadi di dunia khayalan saja, tidak nyata. Rasanya tidak mungkin ada orang yang meninggalkan jejak dengan jalan pikir begitu. Tapi saya terhibur, jadi tidak masalah buat saya. Film super hero pun khayalan semua, kan. Tapi tetap menghibur juga.
Setelah saya memiliki bukunya, ini jadi bacaan pengantar tidur. Seru sekali membacanya.
Sayangnya, semakin mendekati ujung, saya merasa semakin patah ceritanya. Rangkaian cerita dan tokoh –yang dibangun terpisah-pisah– mulai terhubung. Namun, menyisakan keganjilan bagi saya. Seperti cerita yang dipaksakan agar sesuai dengan premis-premis yang sudah dibangun sebelumnya.
Ini berlangsung hingga akhir novel yang menurut saya anti klimaks. Cenderung dipaksakan. Membuat saya merasa ini menjadi novel aneh, seru dan menarik di depan, tapi patah di ujung. Sayang sekali.
Saya juga setuju dengan beberapa ulasan di Goodreads soal novel ini. Penjelasan dengan diagramnya berlebihan. Seperti takut sekali pembacanya tidak mampu membayangkannya. Saya tidak tahu ini ulah editornya saja, atau memang sedari awal sudah begini.
Secara keseluruhan menurut saya skor novel ini 3.5/5 nilainya. Bukan 3, tapi tidak sampai 4.
Satu lagi hal “aneh” dari soal novel ini. Waktu itu sebelum tidur, saya kebetulan melihat ada flash sale di loka pasar. Saya buru-buru menyelesaikan transaksi. Seingat saya saya sudah memilih novel yang benar, Gambar Aneh.
Tidak disangka yang datang malah novel karya Uketsu satu lagi, Teka Teki Rumah Aneh. Duh. Setelah itu baru saya membeli novel yang benar, Teka Teki Gambar Aneh. Tidak mengapa, saya punya pengatar tidur baru lagi.
Mudah-mudahan Teka Teki Rumah Aneh ini tidak jadi novel aneh lagi.