
Saya merasakan sebuah hal yang cukup signifikan ketika mulai berkontribusi menulis di sana. Saya memang sudah biasa menulis, tapi tulisan “ala blog” saja. Di mana cara menulis, ketepatan aturan bahasa dan lainnya betul-betul suka-suka saya saja. Penebalan kata, kalimat, quote, bebas saja mau ditulis seperti apa. Apalagi dulu sejak diadopsinya emoticon secara luas.
Tidak demikian di Medium ini. Ada semacam tantangan sendiri. Seperti ada tuntutan untuk menulis dengan “benar”. Kaidah bahasa, cara penulisan, dan lainnya betul-betul membuat saya lebih keras berpikir. Lebih berat rasanya, terlebih di awal. Tapi tanpa sadar ini membuat saya menulis lebih “baik”. Atau paling tidak lebih “benar”. Akan sangat terasa kalau Anda membaca tulisan-tulisan lama saya di blog ini dibanding beberapa tulisan terbaru saya.
Buat saya ini signifikan perbedaannya. Selain soal cara menulis yang lebih baik, kebebasan berekspresi saya sepertinya menjadi lebih terbatas. Namun terbatas dalam artian positif, ya. Seperti banyak seniman bilang, batasan ruang itu justru seringkali malah membuat kreativitas kita semakin meningkat.
Contohnya, Capoera itu sejatinya adalah latihan bela diri. Tapi karena di masa itu latihan bela diri terlarang, masyarakatnya menjadi kreatif, membuatnya seolah-olah sebuah tarian.
Tulisan-tulisan kritik pemerintah yang otoriter, tidak bisa terlalu gamblang. Bisa terancam jiwa dan raga. Inilah batasan ruang kritik lewat tulisan. Maka dibuatlah cerita fiksi, kadangkala dalam bentuk analogi, tapi bisa tepat mengangkat isu sosial yang berkembang. Kreativitas yang tercipta karena keterbatasan.
Saya menikmati saja dulu. Mungkin kadang-kadang saya akan menulis di blog ini seperti dulu lagi, tanpa batas, tanpa aturan, ekspresif. Yang penting kembali rajin menulis saja dulu.