Long Way to Yahoo Games

Yahoo Dominoes

Beberapa waktu lalu saya sempat menjadi pecandu. Menjadi pecandu game domino online di Yahoo Games. Jadi pecandu, karena arwah saya penasaran. Masa dari 20 kali main, saya 21 kali kalah (he..).

Tapi ada satu masalah. Dominoes di Yahoo Games (dan hampir semua game online nya) membutuhkan Java Applet untuk bisa berjalan. Sayangnya, Java Applet sepertinya belum berjalan sempurna di Firefox pada Linux (Ubuntu Ibex). Opera? Lebih parah lagi.. Appletnya terload, setelah itu HANG !.

Sebenarnya kalau untuk sekedar main domino nya saja, Java Applet pada Firefox di Ubuntu itu berjalan dengan baik. Tapi kadangkala saya harus bertemu dengan Message Box. Entah itu invitation, atau pemberitahuan bahwa saya di “boot” (diusir) dari meja permainan. Dan message box inilah yang membuat Firefox saya selalu beku.

Saya coba dengan Firefox di Windows, ternyata aman – aman saja. Tapi, masa saya harus pindah ke Windows demi bermain Domino? (bukan kenapa – kenapa, tools yang saya butuhkan buat bekerja semuanya ada di Linux). Akhirnya terpaksa deh pasang Windows di VirtualBox, pasang Firefox di Windowsnya itu, pasang JRE nya di Windows itu juga, baru main domino. Niat ya saya?

Dan tidak sia – sia kawan.., sekarang dari sekitar 54 game yang saya ikuti, saya kalah 63 kali.. (angry)plurk !

*Image idea taken from Ted Dziuba

Mencari Mp3 di YouTube dengan Linux

Saya pernah melihat sebuah klip lagu bagus di YouTube. Kadangkala saya begitu menyukai lagu di dalam video tersebut. Saya ingin menyetelnya berulang – ulang kali. Tapi rasanya tidak efisien jika setiap kali saya mau mendengarkan lagu tersebut saya harus kembali membuka YouTube.

Oh iya, donlot ajaah.. Kan bisa tuh di donlot file .flv nya. Udah sih.., udah di download. Tapi nanti kan playernya adalah player video. Jadi saya tidak bisa memutarnya dengan memasukkannya ke dalam player audio saya di Ubuntu Intrepid, yaitu Amarok. Iya sih.., Amarok bisa memainkan file flv juga (walaupun gambarnya tidak keluar). Tapi jika digabungkan dalam sebuah berkas playlist, seringkali file flv tersebut tidak dimainkan dengan benar. Read more Mencari Mp3 di YouTube dengan Linux

Beralih ke Ubuntu Intrepid, Pertahankan Java dan Eclipse Anda

Saya baru saja melakukan upgrade fresh install Ubuntu Intrepid tadi sore. Sayangnya, DVD repositorynya belum tersedia. Jadi terpaksa ritual pemasangan perangkat lunak setelah fresh install tidak bisa saya lakukan dengan mudah. Duuh.. sedih deh..

Gini nih, saya kan biasa pakai Eclipse (dengan PDT) untuk bercoding CakePHP ria.. Nah, ketika saya selesai install Ubuntu Intrepid, tentu saja saya perlu menginstal ulang Java SE nya. Mudah memang dengan apt-get, tetapi koneksi saya hanyalah 3G dari TelkomselFlash, yang kecepatannya.. (hmm.. takut OOT..). Jadi tidak mungkin saya melakukan apt-get install java, yang besar paketnya *sekian* MB itu.

Untungnya saya sangat jenius.. (keliatan kan?).  Sebelum pasang Intrepid, saya buat backup dari J2SE saya. Saya salinlah direktori /usr/lib/jvm/java-sun-6-sdk ke /media/adata/opt. Kebetulan Eclipse pun saya pasang (install) di direktori yang sama. (/media/adata/ saya symbolic link ke /home/laban/adata). Dengan begitu saya tidak perlu mengunduh ulang Java SE lewat apt-get.

Berikutnya saya coba jalankan perintah java di terminal. Dan muncul pesan error bahwa berkas jre/lib/i386/jvm.cfg tidak ditemukan. Ternyata berkas tersebut merupakan symbolic links dari /etc/jvm.cg. Sementara berkas tersebut terlupakan untuk saya salin dari Ubuntu Hardy sebelumnya.

Akhirnya saya buat sendiri berkas tersebut. Tapi isinya apa? Hmm.. butuh 10 googling untuk tahu apa isinya. Dan ternyata cukup dengan dua baris ini sudah bisa berjalan : Read more Beralih ke Ubuntu Intrepid, Pertahankan Java dan Eclipse Anda

Bagi – bagi Partisi di Linux

Langsung saja. Ini lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang partisi di Linux.

Partisi saya adalah sebagai berikut :

/dev/sda1 : Wincrot
/dev/sda2 : Linux
/dev/sda5 : ADATA
/dev/sda6 : BDATA
/dev/sda7 : EXTRA
/dev/sda8 : Swap

Partisi Linux dan Wincrot dibuat pada saat instalasi. Sedangkan partisi sisanya dibuat belakangan dengan program GParted (di Ubuntu Linux).

Tujuan : Saya mau punya partisi yang pemakainnya semudah di Windows (Drive D, Drive E, Drive G, dll).

Catatan : Semua isi tulisan ini berorientasi pada distro Ubuntu Linux dengan desktop GNOME.

Analogi dengan Windows Explorer, maka di GNOME file browser (Nautilus), saya rasa bentuknya akan menjadi seperti ini :

Nautilus Explorer

Nah agar bisa jadi seperti itu, caranya : Read more Bagi – bagi Partisi di Linux

Pentingnya Membagi Partisi di Linux

GParted LinuxSaya seringkali menemukan pengguna Linux yang hanya menggunakan 1 partisi untuk keseluruhan Linuxnya. Kemudian untuk menyimpan data, biasanya dilakukan dengan membuat direktori – direktori khusus di dalam direktori HOME nya. (Contoh : /home/laban/kerjaan, /home/laban/foto). Ada juga yang membaginya menjadi dua bagian : / (root) dan /home.

Apakah salah membagi partisi seperti itu?

Tentu saja tidak.. Tapi kalau bagi saya pribadi tidak aman.. Begini contoh kasusnya (pengalaman pribadi sih).

Contoh Kasus I

Saya menginstal Ubuntu Linux. Dan semua kerjaan saya di linux ini ya saya simpan di partisi Linux ini. Preview partisinya kurang lebih begini :

/dev/sda1 : Linux

/dev/sda2 : Swap

Di folder home user (/home/laban), saya buat direktori tempat saya menyimpan file – file saya : (/home/laban/web, /home/laban/gambar, /home/laban/surat-surat)

Suatu hari, saya bermain – main dengan compile kernel. Setelah selesai saya restart. Dan ternyata Kernel Panic..! Saya tidak bisa masuk ke Linux. Dan bodohnya, saya tidak punya backup image kernelnya yang lama..

Beberapa trik sebenarnya bisa dilakukan agar saya bisa kembali lagi menggunakan Linux itu. Tapi pengalaman saya sendiri, susah mencari dokumentasinya. Tanya di forum dan milis, belum tentu bisa dapat jawaban yang benar dalam waktu cepat. Percaya atau tidak, saya lebih memilih untuk melakukan instal ulang.

Tapi tunggu.., kalau install ulang, berarti /dev/sda1 di format semua dong? Gimana dong datanya?

> Hmm… tenang saja. Kan bisa pake Live CD. Dengan Live CD partisi di hardisk kan bisa dibaca.

Tapi di copy kemana?

> Oh iya ya.., kan partisinya cuma satu. Oh iya.., diburn aja ke DVD. LinuxMint itu kalo gak salah bisa ngeburn DVD kok.

Lha, kan DVD-ROM nya dipake buat jalanin Live CD nya..

> Ouchh…

Contoh Kasus II

Saya menginstal Ubuntu Linux. Dan semua kerjaan saya di linux ini ya saya simpan di partisi Linux ini. Preview partisinya kurang lebih begini : Read more Pentingnya Membagi Partisi di Linux

AADX : Xorg Boros Prosesor di Hardy

Ini salah satu kekecawaan saya pada Daryna saya yang telah menjadi Hardy. Sewaktu masih di Daryna (Linux Mint 4.0), prosesor saya normalnya pada kondisi idle hanya menghabiskan 5 – 8% resource prosesor. Tetapi sekarang setelah upgrade ke Hardy, prosesor saya (Intel Core Duo 1,66 Ghz) terpakai 25 – 36% dalam kondisi idle..! Dan setelah dilihat dengan command “top”, ternyata aplikasi Xorg lah biang keladinya.

AADX (Ada Apa Dengan Xorg)?
Tidak berjodohkah Daryna dengan Hardy? Lalu apakah Konde (BlankOn 2.0) juga tidak berjodoh dengan Hardy? Apakah memang hati Hardy hanya untuk Feisty? Jawab…!! Jawab.. ! Daryna butuh kepastian darimu.. Atau harus kupecahkan saja gelasnya, biar ramai (terus disuruh bayar di kasir??!).. *halah.. mulai gak nyambung lagi nih..

Menyambung Hardy dari Daryna

Sebelum ini saya pakai Linux Mint 4.0 (Daryna).. *Jadi inget tentang kawin cerai saya sebelum menikah dengan Daryna dulu..

Seperti biasa, saya selalu tidak sabar ketika muncul rilis baru dari Ubuntu (& Debian). Dan kebetulan Ubuntu pun baru saja menelorkan versi 8.04 nya, yang bernama Hardy Heron. Yang jadi masalah, adalah saya ingin mencicipi Hardy, tanpa harus fresh install.. Sementara saya sendiri sekarang pakai Linux Mint Daryna (= Ubuntu + Multimedia). Jadi simpelnya saya ingin mengupgrade Linux Mint 4.0 Daryna di notbuk ku ke Ubuntu Hardy Heron, secara langsung.. tanpa fresh install..

Akhirnya nekat sajalah.., lakukan tiga langkah mujarab ini :

1. sudo apt-get update

2. sudo apt-get upgrade (yang di repo gutsy diupgrade dulu)

2. sudo pico /etc/apt/sources.list

3. Ctrl+w  (cari teks di Pico / Nano), isi dengan gutsy, Ctrl+r (replace teks), isi dengan hardy

4. Ctrl+o, Ctrl+x

5. sudo apt-get update

6. sudo apt-get dist-upgrade

Dalam waktu sekitar 45 menit (disambi download iso Ubuntu alternate buat jaga – jaga), semua paket selesai didownload.. (45 menit buat upgrade semua paket + download 1 buah ISO images itu tergolong cepat kan ya? Soalnya aku dapet kecepatan akses ke kambing.ui.edu naik turun antara 150kB/s – 900kB/s ! He…he..he mumpung masih mahasiswa manfaatin fasilitas kampus UGM tercinta ini..)

Proses instalasi paket *deb yang ada di cache nya APT berjalan sekitar kurang lebih 2 menit, sebelum akhirnya notbuk ini harus mati suri karena habisnya batre.

Pulang ke kos, dan melanjutkan proses tadi (+ memperbaiki beberapa error). Akhirnya setelah ditinggal makan mie di burjo depan pos kamling, proses ini selesai. Sejauh ini berjalan normal.. Horee..  bisa juga ternyata menyambungkan Daryna ke Hardy.

Detail ceritanya ntar aja, ini juga belum tidur..

*) btw, banyak juga kekecewaan yang kudapatkan.. ntarlah dilanjutin

Lebih dalam Tentang Ubuntu

UbuntuPada awalnya saya sedang mencari dokumentasi tentang MEPIS. Tetapi akhirnya malah kesasar pada tulisan tentang Ubuntu. Ada beberapa hal yang saya baru tahu (lebih detail), mungkin para ubuntuers juga ada yang belum tahu :

1. Ubuntu LTS (Long Term Support)

Rilis Ubuntu dengan label LTS (seperti : Dapper Drake), berarti rilis ini akan disupport oleh Canonical selama 3 tahun untuk desktop, dan 5 tahun untuk server. Tetapi support ini hanya untuk update security, jadi bukan update aplikasi. Inilah yang menyebabkan MEPIS yang sempat mengganti basisnya dari Debian ke Ubuntu, tetapi akhirnya kembali menggunakan Debian sebagai basis distronya. Read more Lebih dalam Tentang Ubuntu

Canonical Inspirasi Model Perusahaan OpenSource bagi Drupal (dan Kita?)

Drupal CMSDries Buytaert, pencipta dari Drupal CMS (Content Management System) baru saja mendirikan perusahaan startup, Acquia. Bidang perusahaan ini tentunya masih di seputar Drupal. Lebih lengkapnya bisa dilihat di FAQ nya.

Drupal sendiri berlisensi GPL, sama seperti Linux. Dan Drupal juga mempunya varian (distro), salah satunya (dan satu – satunya yang saya tahu) CivicSpace. Jika di Linux distro satu dengan yang lainnya yang membedakannya adalah paketan software – software yang dibawanya (termasuk manajemen paketnya), di Drupal pun seperti itu. Perbedaan CivicSpace dan Drupal adalah paketan modul – modul yang menyertainya.

Saya sendiri dulu juga sempat bertanya – tanya, banyak perusahaan pengembang web & Drupal Support yang berkembang dan telah terbukti menghasilkan bisnis yang bagus. Di antaranya adalah Lullabot, yang mengembangkan web MTV Inggris dengan CMS Durpal. Tetapi mengapa si penciptanya sendiri tidak membuat perusahaan serupa, dan tetap asyik saja menjalani kuliah PhD nya. Dan pertanyaan saya terjawab sudah. Bukannya tidak, tetapi belum (walaupun tidak serupa).

Canonical (Ubuntu Linux)

UbuntuCanonical Ltd. sendiri sebuah perusahaan di bidang opensource yang cukup unik. Berbeda dengan pendahulunya yang telah sukses RedHat dan Novell, perusahaan yang digawangi oleh Mark Shuttleworth ini tidak membuat edisi enterprise dan edisi umum (public). Tetapi Read more Canonical Inspirasi Model Perusahaan OpenSource bagi Drupal (dan Kita?)