
Dari sekian rekomendasi buku, saya pilih judul ini, karena alasan sederhana, ceritanya bermula dari ruang tunggu bandara.
Ruang tunggu bandara itu adalah tempat melamun terbaik. Karena kita cuma bisa duduk, tidak bisa pergi jauh, dan harus selalu waspada ketika ada pengumuman. Di ruang tunggu inilah saya seringkali membuat ide-ide cerita sambil mendengarkan lagu di ponsel. Salah satu ide yang pernah terbersit, “Gimana ya, kalau pas ngambil bagasi eh gak sengaja ketuker dengan laptop petinggi negara? Terus di dalamnya isinya rahasia tingkat tinggi pula.”
Dan ternyata itulah basis cerita novel The Switch ini. Ada seseorang yang tidak sengaja mengambil laptop yang salah saat keluar dari bandara. Dan laptop itu milik seorang petinggi negara. Isinya sangat rahasia, dan berbahaya. Wah, sangat kebetulan sudah ada yang menuliskan ide cerita yang sama.
Saya menikmati membaca buku ini. Genrenya saya suka, pemilihan diksinya juga cukup sederhana, referensi-referensi yang diselipkan di dalam cerita hampir semua saya familiar, dan plot ceritanya cukup rapi.
Bumbu-bumbu ceritanya standar film konspirasi sebenarnya. Ada agen NSA dengan teknologi super canggih –yang tidak dijelaskan cara kerjanya dengan detail, ada permainan kekuatan politik, wartawan yang dibunuh, kejar-kejaran, dll.
Satu hal lagi yang membuat saya semakin dekat adalah latar belakang tokoh utama di cerita ini. Dia adalah seorang pecinta kopi, bahkan bisnisnya adalah coffee roastery. Saya sendiri sudah berapa tahun belakangan ini menjadi pecinta kopi juga. Jadi cukup nyambung ketika ada bagian-bagian yang membahas soal kopi.
Saya sempat agak curiga di dua pertiga cerita kalau akhir ceritanya akan berakhir datar, dan sangat bisa ditebak. Ternyata tidak begitu, walaupun tidak ada “plot twist” penuh kejutan, tetap menurut saya diakhiri dengan cukup baik. Tidak “Wow”, tapi tidak juga “Oke lah”. Di antara keduanya kalau menurut saya. Menghibur. Cocok dibaca di ruang tunggu bandara, atau di dalam penerbangan. Tidak bikin ngantuk, tapi tidak bikin terngiang-ngiang hingga beberapa hari juga.
Satu hal yang saya sangat rasakan, alur cerita dan susunannya “sangat Hollywood”. Sewaktu membaca ceritanya saya bisa membayangkan kalau novel ini difilmkan, atau dibuat limited series ala Netflix, sangat cocok. Mungkin untuk yang familiar, jadinya seperti Limited Series di Netflix yang diambil dari novel-novel Harlan Coben. Dengan catatan plot twist-nya tidak seheboh Harlan Coben, tentunya.
Secara keseluruhan saya puas dan terhibur. Buat yang suka genre yang sama, bisa baca novel ini juga.