
Saya sering mengalaminya. Apalagi ketika tulisannya dibuat di jaman masih lucu-lucunya. Sadarnya baru setelah semakin dewasa.
Kala itu banyak narablog yang menceritakan apa saja soal kehidupannya — dan mendapatkan banyak pembaca karena itu. Bahkan banyak konsultan digital di masa itu justru menyarankan demikian.
“Tulislah sesuatu yang personal, yang bisa menyentuh pembaca blogmu.”
Begitu sabda para konsultan kala itu. Ini bahkan berlaku untuk para eksekutif perusahaan.
Karena itulah saya pun ikut mengamini, merasa menulis dengan “sangat terbuka” itu wajar.
Tidak heran banyak blunder terjadi di masa itu. Dipikir-pikir mungkin ini malah jadi hal positif bagi konsultannya. Artinya jasa mereka semakin diperlukan. Bagaimana caranya tetap merilis tulisan yang terasa personal, tetapi tidak blunder.
Semakin tua —dewasa, sensitivitas saya soal ini semakin tinggi. Beberapa tahun lalu, ada beberapa tulisan saya di blog— yang dalam ukuran saya saat ini “terlalu jauh”, saya ubah menjadi mode privat. Memang tidak layak tayang sebenarnya. Sisanya masih ada yang malu-maluin, tapi masih layak tayang. Masih bisa kamu temukan di blog ini. Ya sudahlah, anggap saja bagian dari proses hidup.
Belakangan ini, karena saya mulai punya waktu menulis lagi, keinginan menulis yang terlalu personal itu kadang muncul. Tapi rem otomatis di kepala saya sekarang sudah lebih terasah. Banyak tulisan model begini yang akhirnya hanya menjadi draft saja. Menahan diri untuk tidak dirilis. Termasuk di blog ini.
Lalu apa jadinya tulisan yang tidak dirilis? Sayang bukan? Tulisannya tidak akan menemukan pembacanya. Kan banyak kutipan di Threads yang bilang:
Tidak ada tulisan yang buruk. Semua tulisan akan menemukan pembacanya.
Menurut saya memang tidak semua tulisan perlu pembaca —selain penulisnya sendiri. Bukankah jaman kita sekolah dulu —maaf, saya generalisir yang baca tulisan ini semua kelahiran 80–90 an— sangat populer kegiatan menulis buku harian (diary). Ini betul-betul menulis di buku, bukan jurnal daring.
Di masa itu, adalah suatu hal yang mengerikan kalau sampai buku harian kita sampai dibaca orang lain. Banyak rahasia di dalamnya. Biasanya sih soal orang yang ditaksir. Duh, kalau sampai terbongkar sampai lulus sekolah masih bisa jadi bahan olok-olokan.
Jadi memang wajar ada tulisan-tulisan yang tidak diperuntukkan untuk dibaca orang lain. Tulisan di buku harian memang ditulis untuk dibaca penulisnya sendiri di kemudian hari. Bukan untuk dipublikasikan.
Ini berbeda dengan blog. Blog saya ini menjadi tempat mencurahkan pikiran dan perasaan selama puluhan tahun. Saya menuangkan pemikiran dan perasaan saya di sini untuk dibaca orang lain. Dari kolom komentar saya bisa mendapatkan umpan balik. Apa opini orang lain terhadap pemikiran dan perasaan saya.
Belakangan ini saya punya motivasi lain untuk menulis lagi. Saya ingin berkembang dalam cara saya menulis. Saya ingin menulis yang “lebih benar”, walaupun belum tentu lebih baik. Jadi dibaca orang lain atau cukup saya sendiri bukan pertimbangan utama.
Satu-satunya cara untuk membuat saya menulis dengan lebih benar tentunya dengan sering-sering menulis. Saya ingin terus menulis sebisa mungkin setiap hari. Masalahnya, tidak setiap hari saya memiliki hal yang ingin saya buka ke publik. Saya tetap ingin menulis saja tapi tidak merilisnya. Karena tadi, ada yang terlalu sensitif, ada yang terlalu personal, terkadang ada juga yang —bisa jadi— berbahaya. Intinya, saya belum tentu membutuhkan pembaca.
Jadi yang saya butuhkan adalah layanan tempat saya bisa menulis dengan mudah, penyimpanan daring — jadi tidak takut hilang dan bisa diperbaharui dari mana saja, bisa diakses dari perangkat bergerak, tampilannya rapi baik di desktop maupun perangkat bergerak. Dan tentu saja fleksibilitas untuk membuatnya privat. Saya tidak mau ada risiko berkas tulisan saya tercecer dan dibaca orang lain.
Di Medium saya pernah menemukan salah satu penulis luar negeri — lagi-lagi saya lupa siapa namanya— yang membuat aplikasi khusus untuk tujuan seperti ini.
Intinya platform ini wujudnya seperti media sosial —X, Threads, dll. Platform ini mendukung tampilan ala lini masa dan format long form. Tapi uniknya, hanya si penulis lah yang bisa mengaksesnya. Persis seperti yang saya butuhkan sebenarnya. Dan lebih baik bahkan. Sayangnya layanan ini berbayar.
Hampir saja saya tergoda untuk membuat pesaingnya tapi versi gratis. Apalagi sekarang sudah ada Claude Code, Antigravity, GPT SOL dan berbagai perangkat AI lain untuk membuat perangkat lunak. Jauh lebih gampang membuat layanan seperti ini.
Tapi saya tersadar. Jika layanan ini saya buat gratis, lalu yang bayar servernya nanti siapa? Oh iya, itulah kenapa layanan tadi berbayar, ya?
Tentu saja ini bukan perkara sulit. Mungkin sedari tadi kamu juga sudah tahu solusinya. Betul, Google Docs lah solusinya. Semua kebutuhan saya tadi terpenuhi. Tampilan dalam bentuk linimasa tidak krusial buat saya. Yang penting saya bisa rajin menulis lagi.
Mari kita sama-sama rajin menulis lagi, walaupun tidak —atau belum— dirilis.
*Tulisan ini versi revisi dari tulisan aslinya di Medium